
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan kemeja putih dan celana jeans biru. Egi tengah berjalan di koridor untuk menuju kamar inap Annisa. Sementara Jhon entah telah pergi kemana.
Egi memasuki kamar inap yang pandangan nya langsung di hadapkan dengan Annisa yang tengah berdiri membelakangi nya, menghadap ke arah kaca jendela besar yang terbuka.
Egi tersenyum, Kemudian berjalan ke arah Annisa setelah mengunci pintu. Ia memeluk tubuh Annisa dari belakang dan memberikan kecupan di bahu Annisa.
"Egi," kaget Annisa melirik ke wajah Egi yang kepala Egi sudah di bahu nya.
Memeluk leher Annisa. "Kenapa di sini? Cuaca nya dingin," ucap Egi.
Annisa menatap lurus pada langit pagi yang terhiasi semburat matahari yang perlahan muncul, dengan sebondong burung tengah terbang bebas berpencar menambah kesan enak di pandang. "Aku suka melihat ke warna langit nya, sangat indah," jawab nya di akhiri senyuman.
Egi mengikuti arah pandang Annisa. "Hemm, lumayan." Mengiyakan, lalu kembali menatap wajah cantik natural Annisa. "Sejak kapan kau terbangun? Dan berapa lama kau berdiri di sini?" tanya nya.
Annisa tidak mengalihkan pandangan nya dari menatap langit. "Baru sebentar Egi...Aku terbangun oleh suara nyaring ponsel mu yang terus berbunyi. Dan ternyata itu video call dari kak Arga, karena berisik aku mengangkat panggilan itu, dan keterusan mengobrol sama Mbak Misa dan Asyila, mereka menanyakan kabar tentang kesehatan ku karena tidak bisa berkunjung ke rumah sakit yang aku tahu penyebab nya karena duka lama keluarga mu. Selain itu juga, Mbak Misa habis lahiran dan punya tanggung jawab terhadap si dede fatih, dan Asyila tengah menghadapi ujian akhir sekolah jadi wajar saja jika mereka tidak bisa menjenguk ku." tutur nya terjeda, lalu melirik ragu ke raut wajah Egi.
"Tidak apa kan aku tadi mengangkat dan membuka ponsel mu?" tanya Annisa penuh ke hati hatian.
Tersenyum dan mengecup pipi Annisa. "Tidak apa sayang, tidak perlu ragu, karena milik ku adalah milik mu juga," tutur Egi.
Annisa tertegun mendengar ucapan Egi.
Dia tidak marah, bahkan berkata seperti itu. Sungguh dia telah berubah, dulu berkata seperti ini pun rasa nya tidak mungkin mengingat dulu dia sangat membenci ku.
Melihat Annisa terdiam tidak menjawab ucapan nya, Egi mengusap wajah Annisa dan mengarahkan nya agar menoleh ke arah nya. "Apa yang kau pikirkan Annisa?" tanya Egi, lalu melepaskan pelukan nya namun tetap merangkul pinggang Annisa, berganti posisi untuk saling berhadap hadapan.
Sejenak Annisa menundukkan pandangan nya tidak berani menatap Egi. "Aku hanya berpikir, rasanya seperti mimpi mendapati mu bisa bersikap lembut penuh kasih sayang seperti ini pada ku...," ucap nya.
__ADS_1
Egi mengangkat dagu Annisa dengan jemari nya, agar mendongak menatap fokus pada nya. "Dulu memang aku bodoh yang selalu menyakiti mu dengan kata kata tajam bahkan prilaku kasar...," ucap nya terjeda sejenak, Egi mendekatkan wajah nya ke wajah Annisa.
"Tapi setelah mengerti perasaan ku, ternyata hati ku begitu menggila menyukaimu. Tapi wajar saja jika kau tidak memaafkan atas sikap ku yang dulu," tutur Egi dengan tatapan penuh kelembutan dan nada suara yang sedikit sedih.
"Siapa bilang aku tidak memaafkan mu Egi!" Sergah Annisa cepat, menatap Egi. "Aku berkata seperti itu, karena rasa nya bagaikan mimpi mendapatkan kasih sayang dari suami yang pernah membenci ku sebelum nya, juga keluarga mu yang begitu peduli dan sayang pada ku," lanjut nya menatap.
"Jadi kau sudah memaafkan ku yang dulu?" tanya Egi yang mendapat anggukan kecil dari Annisa.
Egi mengusap bibir Annisa lembut dengan jemari nya, tersenyum penuh minat. "Annisa, entah kenapa saat situasi seperti ini. Aku ingin madu," ucap nya serak nada rendah, dengan tatapan hasrat ke mata Annisa.
Glek.
Annisa menelan ludah nya kasar karena gugup, pipi nya merona menahan jantung nya yang sudah mulai berperang keras di dalam rongga dada. Ia menundukkan pandangan kembali untuk menyembunyikan rona pipi nya.
Egi menggerakkan dagu Annisa dengan jemari nya agar tatapan annisa terarah pada nya. "Sepertinya aku tidak dapat jatah madu ku sekarang," ucap nya kecewa.
Tersenyum senang, Egi menarik tali yang menggantung di kaca jendela untuk menutup gorden jendela. Lalu merengkuh pinggang Annisa memeluknya erat dan mendekatkan bibir nya ke bibir Annisa sebelum akhirnya mengecup, mencecap memuaskan dahaga yang dia tahan sejak annisa terluka. Dan Annisa mengalungkan tangan nya ke leher Egi saat ciuman Egi berlangsung lama.
Selang beberap waktu.
Egi masih memeluk pinggang Annisa. "Sebenarnya ada satu hal yang belum aku beritahukan pada mu," ucap Egi.
Annisa menatap penasaran ke Egi. "Apa itu? Kau tidak menyembunyikan wanita lain di belakang ku kan?" Curiga Annisa.
Terkekeh mencubit ujung hidung Annisa. "Tidak sayang, karena aku takut di tinju istri pencemburu ini," jawab Egi merayu.
"Egi, jangan menggoda ku. Cepat katakan apa yang kau sembunyikan dariku?" tidak mempan oleh rayuan Egi.
__ADS_1
"Kau ingat cafe brandal yang pernah kau kunjungi?"
Annisa memicingkan mata nya mengingat ingat, lalu mengangguk setelah terlintas dalam pikiran nya. "Yang si Ray kerja jadi bartender di sana kan?"
"Dia bukan bartender Annisa, tapi manajer ku dari beberapa cafe dan showroom yang ku kelola," tutur Egi.
Seketika Annisa menatap sedikit melebar, mencerna pengakuan Egi. "Manajer? Cafe? Kelola?" Beo Annisa kaget.
Egi tertawa, mencubit pelan pipi Annisa. "Kenapa kau jadi mesin pengulang kata?" Ucap nya sambil mencubit terus pipi Annisa dan memberikan kecupan beberapa kali di pipi. "Benar, nama brandal di cafe itu adalah nama panggilan mu saat itu. Dan cafe itu, aku hadiahkan untuk mu sayang," tutur nya.
"Untuk ku?" Melebarkan mata tak percaya. "Tapi...tapi aku hanya ingin fokus jadi bidan, bukan jadi pengusaha," sanggah Annisa.
"Hanya untuk tempat main mu Annisa, di saat kau bosan. Bukan untuk di kelola, aku tahu mengenai cita cita mu yang ingin menjadi bidan sejak kecil. Jadi mana mungkin aku tega menghentikan impian mu sayang."
Annisa tersenyum menatap hangat lalu berhambur memeluk tubuh Egi. "Kau pengertian sekali suami bocah ku, terimakasih."
Mengelus punggung Annisa dengan sayang. "Apa pun itu untuk kebahagiaan mu, aku akan selalu mendukung mu Annisa ku sayang, asal kewajiban sebagai istri ku jangan kau telantarkan," jawab Egi merapatkan pelukan di tubuh Annisa.
"Hemm...," gumam nya, Annisa semakin memeluk erat tubuh Egi dan mendengarkan degup jantung Egi yang terdengar berirama indah di telinga nya.
"Egi kau tidak pergi ke kantor?" tanya Annisa karena melihat pakaian santai yang di pakai Egi.
Mengusap turun naik punggung Annisa. "Kau terluka, mana mungkin ada semangat kerja," jawab nya.
BERSAMBUNG...
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa... Agar Author tambah semangat.
__ADS_1