Pejuang Move On

Pejuang Move On
Berkunjung


__ADS_3

Pagi itu. Annisa berniat akan berangkat untuk ke kampus sejenak untuk bertemu rika dan dosen pembimbing nya karena jam 9 nanti ia sudah di tugaskan untuk masuk dinas. Dan selama dari bangun tidur hingga sarapan Egi masih saja bungkam soal Romisa yang telah melahirkan. Annisa yang telah siap dengan pakaian dinas dan tidak lupa balutan mantel panjang berwarna peach yang di paksa oleh egi agar Annisa memakai nya.


Kedua nya tengah berjalan ke arah garasi samping halaman rumah nya.


Egi membuka kan pintu mobil untuk Annisa yang masih berdiri mematung di samping mobil. "Masuklah Annisa," titah nya.


Yang langsung di turuti, Annisa memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang depan.


Egi ikut duduk di kursi kemudi samping Annisa. Kemudian ia menaruh paper ke dashbord tengah, lalu mendekat hendak menarik seat belt untuk melingkarkan nya ke tubuh Annisa.


Memundurkan kepala sampai mentok ke senderan kursi. "Egi biar aku saja," ucap Annisa meraih tali seat belt.


Egi tetap bersikeras memakaikan seat belt itu. "Diamlah," sahutnya menekan annisa.


Menghela napas pelan lalu mata annisa melirik sebuah paper bag di dashboard tengah. "Egi kau bawa bekal, bukannya sudah nggak sekolah lagi?" tanya Annisa heran karena diri nya tidak merasa membuatkan bekal untuk egi.


"Untuk makan siang mu," ucap egi yang sudah duduk kembali di kursi kemudi. Dan mulai menyalakan mesin mobil lalu melajukan nya melewati gerbang rumah yang telah di buka kan oleh pak satpam.


Kini mobil putih itu telah melaju di jalanan dengan kecepatan sedang.


"Makan siang ku? Kan bisa jajan di kantin egi, kenapa harus bawa bekal segala," balas Annisa


"Bukannya kau juga dulu selalu membuatkan bekal untuk ku. Jadi sekarang giliran mu membawa bekal, meskipun bukan aku yang membuatnya," tutur nya tetap fokus ke depan.


"Hah... baiklah, kau memang paling pintar membalikkan," pasrah Annisa lalu kembali menatap lurus. Lagi lagi Alis Annisa berkerut heran karena mobil yang di lajukan egi berbelok bukan ke kiri ke arah kampus nya melainkan ke kanan entah ke arah mana.


"Eh, kenapa mobil nya berbelok ke arah sini? Aku kan hendak ke kampus egi?" heran Annisa menoleh ke egi.


"Kita akan ke rumah Ayah, lewat jalan cepat," ucap Egi tenang dan tetap fokus mengemudi.


Annisa menghembuskan napas pelan lalu akhirnya mengangguk kecil. "Hemm... jika begitu aku akan kabari Rika dulu, kalau pertemuan nya tidak akan jadi," tutur Annisa lalu mengeluarkan ponsel dari tas gendong yang ada di pangkuan dan mulai mengetikkan sesuatu di layar nya.

__ADS_1


Hening sejenak suasana di dalam mobil, karena masing masing fokus dengan kesibukan nya. Egi fokus menyetir dan Annisa fokus berkirim chat dengan Rika.


"Annisa," panggil Egi dengan pandangan fokus ke depan.


"Iya," Sahut nya tanpa mengalihkan dari ponsel.


"Kau tahu kita hendak apa ke rumah Ayah?" tanya Egi.


"Bertemu keluarga di sana kan," jawab Annisa masih fokus berkirim pesan dengan Rika.


"Bukan hal itu saja," ucap Egi lalu melirik sekilas ke arah Annisa yang sibuk dengan ponsel. "Tapi untuk melihat keponakan kita juga."


Seketika gerakan jemari Annisa di atas layar ponsel terhenti dan menoleh ke Egi. "Keponakan? Maksud mu, mbak Misa melahirkan?" tanya Annisa antusias.


Mengangguk kecil, "pagi dia melahirkan tepat pukul. 4," jawabnya.


"Egi..." suara tegas Annisa. "Kenapa kau tidak memberitahukan ku dari tadi, kenapa baru sekarang?" Dengan sedikit memicingkan mata geram ke arah egi.


"Yang terpenting aku menyampaikan nya. Aku memberitahukan nya baru sekarang, karena jika aku memberitahukan sejak pagi, kau pasti akan segera pergi kesana tanpa peduli dengan sarapan mu."


Menghela napas pelan lalu melirik Annisa dan tersenyum. "Tidak apa yang penting kita masih sempat ke sana."


--------------


Egi dan Annisa telah sampai di rumah putra.


Kedua nya berjalan beriringan menuju kamar Romisa. Dan tepat di depan pintu kamar romisa, kedua nya langsung di pertemukan dengan sekertaris Tang yang baru saja keluar dari kamar Romisa.


Tersenyum ke arah Annisa. "Eh, nona Annisa. Bagaimana kabar mu Nona, setelah pindah rumah?" tanya Tang berdiri di depan pintu.


Annisa membalas senyuman Tang dengan senyuman ramah lalu Annisa hendak menjawab pertanyaan Tang namun egi dengan cepat menyela apa yang akan annisa ucapkan.

__ADS_1


"Mari kita masuk Annisa, orang nggak penting," ucap Egi merangkul pundak annisa dan menggiring nya agar masuk ke dalam kamar Romisa. Melewati sekertaris Tang yang mematung begitu saja.


"Hey, nggak sopan tau di tanya malah kita mengabaikan nya begitu saja," bisik Annisa mendongak menatap Egi.


Menunduk membalas tatapan mata annisa dengan tatapan dingin. "Diam, dan turuti," tegas nya.


Annisa menghela napas pelan.


Ada apa dengan s egi. Hah sudahlah, tujuan utama ku kan ingin bertemu mbak misa. Jadi nggak sabar ingin melihat dedek bayi.


Sementara sekertaris Tang yang merasa di abaikan begitu saja, hanya mengulas senyuman kecil dan pergi berlalu menuju tempat yang di tuju nya.


Annisa dan egi memasuki kamar Romisa, yang di mana di dalam kamar itu terlihat dua orang suster yang tengah berdiri di samping sebuah box bayi dan Romisa tengah tertidur pulas dengan Arga duduk di samping nya.


Mencubit lengan egi pelan membuat egi menunduk menoleh ke Annisa dengan alis berkerut tanya. "Apa?" tanya Egi heran.


"Sepertinya kita datang di waktu yang kurang tepat," bisik Annisa.


Arga yang menyadari kehadiran Annisa dan egi memasuki kamar nya. Ia menghampiri kedua nya dan memberikan isyarat mata pada egi, agar mengikuti langkah kaki nya.


Egi yang mengerti isyarat kakak nya menarik tangan Annisa untuk mengikuti nya berjalan di belakang Arga, yang membawa ke sofa tv.


Arga duduk di sofa tunggal menatap ke arah Annisa dan egi yang duduk di sofa panjang. "Maaf adik ipar, istriku baru saja teridur. Jadi sepertinya bisa lain waktu lagi kemari," tutur Arga dengan nada dingin dan tenang.


Tersenyum canggung. "I-ya kak Arga tidak apa. Annisa bisa ke sini lagi, tapi kalau lihat dedek bayi nya boleh kan?" tanya Annisa.


Mengangguk mengiyakan sebagai jawaban Iya.


"Oh iya kak Arga, nama dedek bayi nya siapa kak?" tanya Annisa.


"Alfatih galuh putra," jawabnya singkat dan cepat.

__ADS_1


"Nama yang bagus. Pasti setampan wajah nya," ucap Annisa kemudian tersenyum.


BERSAMBUNG...


__ADS_2