
Langit mulai gelap, dan telah memasuki waktu magrib. Annisa usia melaksanakan shalat magrib dan tengah membaca al-Qur'an.
Di dalam rumah itu, Annisa di tinggalkan seorang diri hanya di temani pak satpam yang berjaga di luar rumah, di pos nya samping taman. Sementara Egi masih belum pulang juga dari tempat kerja nya.
Ting...Tong. Bunyi bell pintu.
Begitu mendengar bunyi bell pintu yang di pencet beberapa kali, Annisa menghentikan bacaan nya dan menutup, menyimpan al-Qur'an ke atas meja kecil. Lalu bangkit dari duduk nya setelah melepaskan mukena yang di kena kan.
"Itu pasti si Egi, apa dia nggak punya kunci duplikat sehingga memencet tombol bell dengan terburu begitu," oceh Annisa sambil berjalan cepat untuk keluar kamar dan menuruni anak tangga menuju pintu utama.
Ceklek.
Annisa membuka kunci pintu rumah.
Dan benar memunculkan Egi dari balik pintu.
"Egi," sapa Annisa dan tersenyum manis menyambut Egi yang berdiri di ambang pintu luar.
Egi menatap Annisa dengan tatapan dingin tanpa senyuman, kemudian memasuki rumah. Annisa mengulurkan tangan untuk menyalami Egi. Begitu tangan Annisa hendak terlepas dari pegangan, tiba tiba Egi menarik tangan annisa, lalu...
Brak.
Egi menutup pintu rumah dengan kasar dan mengunci kembali.
Annisa terperanjat dengan mengusap dada karena kaget. "Egi, kau mau buat jantung ku copot! Pelan pelan tutup pintu nya," omel Annisa.
Egi tidak menjawab ucapan Annisa. Ia kembali menarik tangan Annisa dan menghalau nya untuk ikut duduk di sofa ruangan utama.
"Ada apa Egi?" Bingung Annisa yang telah duduk di samping Egi.
Tanpa menjawab pertanyaan Annisa. Egi menarik dengan cepat tubuh annisa untuk di rangkul dan di peluk nya.
Lagi lagi annisa di buat kaget oleh tingkah yang tiba tiba nya. "Aku pernah memperingati mu, jangan menarik tubuh ku secara tiba tiba seperti ini. Emang aku boneka," oceh Annisa dalam pelukan Egi.
Egi mempererat pelukan nya, dan mengendus di sekitar tengkuk leher Annisa yang kebetulan, annisa tidak memakai kerudung. "Diamlah, kau berisik sekali," bisik Egi di telinga Annisa.
Seketika tubuh Annisa memanas tegang dan pipi nya merona merah. Dan diam kaku tidak membalas pelukan Egi.
"Kenapa kau keluar kamar tidak memakai kerudung? Jika saja orang yang datang bukan aku, melainkan pria asing dan melihat rambut indah mu. Aku akan langsung menghukum mu Annisa. Karena aku tidak suka milik ku di pandang ketertarikan apalagi pandangan cinta oleh pria lain," tutur Egi dengan nada rendah dan jelas sambil mengusap rambut Annisa.
"Aku...aku tadi terburu buru soalnya kau memencet bell nya berkali kali, jadi tidak sempat memakai kerudung," jawab Annisa.
Egi melonggarkan pelukan nya namun masih merangkul erat pinggang annisa, agar ada jarak di antara kedua nya. Mengusap pipi annisa dengan jemari. "Meskipun kau terburu buru jangan pernah lupa menjaga aurat mu hanya untuk dilihat oleh ku seorang...," tegas nya lalu mendekatkan wajah nya ke wajah Annisa dengan dahi saling menempel.
Glek.
Annisa menelan ludah nya karena gugup.
Annisa menatap kedua manik mata Egi yang ada di depan nya. "Ba...baiklah, aku mengerti. Ta..tapi bisakah kau jangan terlalu dekat seperti ini jika berbicara dengan ku," gugup Annisa yang jantung nya sudah berdegup tak terkendali akibat posisi intim nya dengan Egi.
Egi menangkup sebelah wajah Annisa dan semakin menarik pinggang annisa agar lebih dekat. Tersenyum kecil. Dan...
Cup.
Egi mencium kening annisa cukup lama.
"Aku senang dengan posisi seperti ini," ucap Egi setelah memberi jarak wajah nya dengan wajah Annisa. Lalu menjatuhkan kepala nya ke pundak Annisa, dengan kedua tangan memeluk melingkar di pinggang annisa.
Baiklah, biarkan saja... lakukan sesuka mu.
Annisa menghela napas panjang, dan mengangkat tangan untuk mengusap rambut Egi yang kepala nya ada di pundak annisa. "Ada apa? Kau terlihat lesu dan lelah. Apa pekerjaan di kantor menyulitkan mu?" tanya Annisa lembut.
"Hari ini banyak sekali yang membuat ku marah, sehingga tenaga ku habis karena emosi," sahut Egi dengan nada suara pelan.
Pantas wajah mu terlihat lesu.
Annisa masih mengusap lembut rambut dan punggung Egi. "Apa aku termasuk orang yang membuat mu marah? Bahkan tadi sore pun saat kau menyuruh ku pulang kedengaran nya suara mu sangat marah terhadap ku," tanya Annisa.
Egi menghembuskan napas kasar, sehingga hembusan napas nya terasa menerpa kulit leher annisa. Seketika tubuh annisa bergetar tegang akibat hembusan napas egi yang terasa hangat menjalar di kulit nya.
"Kau alasan utama yang membuat ku marah, karena hari ini kau melanggar beberapa aturan yang aku tidak sukai," jawab Egi sambil mempererat pelukan nya di pinggang annisa.
Seketika elusan tangan annisa yang ada di rambut egi terhenti. Alis annisa menaut bingung. "Melanggar aturan? Aturan mana yang kau maksud Egi?" tanya Annisa.
Egi mengangkat kepala nya, dan mengalihkan pandangan ke arah lain. "Kau cari sendiri kesalahan mu, dan tebus saat setelah aku selesai mandi," tegas Egi kemudian melepaskan pelukan nya di pinggang annisa.
"Apa susah nya sih tinggal kasih tahu saja dimana letak kesalahan ku, jangan membuat ku bingung Egi," ucap Annisa.
Egi bangkit dari duduk nya, dan mengusap pelan puncuk rambut annisa. "Kau cari kesalahan mu sendiri. Jika aku selesai mandi kau masih belum menemukan letak salah mu, terimalah hukuman mu, Annisa," tegas Egi lalu berjalan melangkah menuju tangga.
Bocah ini...
__ADS_1
"Egi!" Panggil Annisa, namun yang di panggil mengabaikan nya dan tetap melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamar.
Annisa menghentakkan kaki kesal dan ikut beranjak dari duduk nya untuk menyusul Egi. "Dasar bocah. Egi air hangat nya belum aku siapkan untuk mandi mu!" teriak Annisa sambil melangkah kan kaki.
Beberapa waktu kemudian.
Annisa menyiapkan pakaian rumah untuk Egi dan meletakkan ke sofa tunggal yang ada di walk in closet. Setelah nya, ia keluar ruangan kemudian memakai kerudung lalu berjalan menuju pintu keluar kamar.
"Mumpung dia masih mandi, sebaiknya aku memasak makanan untuk makan malam dan merenungkan apa sebenarnya kesalahan ku, bocah ini memang senang sekali membuat ku bingung," oceh Annisa di sela langkah kaki nya yang berjalan menuju ke arah dapur.
Sesampainya di dapur.
Annisa langsung memakai apron dan menyiapkan bahan bahan masakan yang hendak di olah nya. Lalu ia mulai memotong sayuran untuk membuat sup, tangan annisa bekerja dan pandangan mata nya fokus melihat apa yang di kerjakan, namun pikiran annisa telah melayang memikirkan kegiatan seharian ini yang di lalui nya, untuk mencari titik kesalahan yang membuat egi marah pada nya.
"Apa dia salah paham lagi terhadap ku dengan si Ray teman nya itu?" gumam Annisa sembari memotong wortel.
Saat tengah fokus memotong wortel, tiba tiba ada sebuah tangan melingkar memeluk perut annisa dari belakang.
"Hey!" Pekik Annisa kaget dan menoleh melirik ke belakang.
"Kau melamunkan apa?" tanya Egi sambil merapatkan diri memeluk tubuh Annisa.
Annisa kembali menggerakkan tangan untuk memotong wortel. "Bukannya kau menyuruhku untuk merenungkan kesalahan ku, dan lagi kau kebiasaan selalu mengagetkan ku seperti ini," omel Annisa dengan nada kesal.
Egi menunduk menaruh dagu nya di pundak Annisa. "Sudah ketemu titik salah mu?" tanya Egi.
Menghela napas pelan dan meletakkan pisau lalu annisa melepaskan tangan Egi yang melingkar di perut nya. "Sudah," jawab Annisa, kemudian membalikkan badan menatap penampilan Egi yang sehabis mandi dengan rambut masih basah dan handuk tersampir di bahu.
Annisa menarik handuk itu. "Kemari kau duduklah di kursi, rambut belum kering tapi sudah masuk dapur. Apa kau tidak takut masuk angin," omel Annisa menghalau lengan Egi untuk di duduk kan ke kursi pantry.
Tanpa menjawab atau memberontak, Egi menuruti Annisa dan menduduk kan diri di kursi. Sedang Annisa berdiri di depan Egi dan mulai mengusak pelan rambut basah egi.
"Apa yang kau temukan dari hasil renungan mu?" tanya Egi, dan kembali memeluk pinggang annisa dan memerangkap di antara kedua kaki nya.
Sejenak annisa menghentikan pergerakan tangan nya dan menghela napas. "Sepertinya kesalahan ku karena bertemu Ray teman mu kan? tapi jujur saja, kejadian sore tadi itu tidak di sengaja. Aku memasuki kafe yang kebetulan teman mu kerja di sana, terus mengobrol. Lagian di sana ada teman ku seorang wanita yaitu Rika," jelas Annisa yang memang Egi sudah mengetahui nya.
"Hemm...," gumam Egi tersenyum kecil.
Alis annisa terangkat sebelah. "Hanya itu jawaban mu? Dih menyebalkan," ucap nya sambil mengusak rambut.
"Memang jawaban seperti apa yang kau inginkan?" tanya Egi mengangkat kepala menatap Annisa.
Annisa menggerakkan kepala Egi agar sedikit menunduk. "Ya setidak nya bilang jika kau sudah tidak marah lagi pada ku. Dan kenapa harus marah juga pada ku, padahal itu kan bukan kesalahan!" ucap Annisa.
Annisa bersikeras berdiri. "Aku sedang mengeringkan rambut mu," tolak nya.
Egi dengan kasar merebut handuk di tangan Annisa dan melemparkan nya ke kursi kosong. Lalu menarik tubuh annisa agar duduk di pangkuan nya, dan memerangkap memeluk nya.
Annisa mencekal lengan egi yang melingkar di pinggang nya untuk di lepas. "Egi! Ini di dapur, dan aku sedang memasak. Jangan berbuat seperti ini di dapur!" tegas Annisa memberontak ingin turun.
Menekan dan memeluk erat tubuh Annisa yang ada di pangkuan nya. "Diam! Kau senang sekali menolak keinginan ku, Annisa. Ingat aku adalah suami mu, jadi turuti saja keinginan ku jika tidak ingin di sebut istri pembangkang oleh ku!" tegas Egi telak membuat annisa diam.
Annisa tertegun dan cekalan tangan nya melemas terlepas di lengan Egi. "Ba...baiklah," pasrah annisa menunduk. "Kau paling bisa mengancamku dengan kata kata seperti itu egi," ucap Annisa pelan.
Huft... kenapa harus di posisi seperti ini lagi. Jantung ku semakin kencang tak karuan. Dan pipi ku pasti sudah merah seperti tomat.
"Jika tidak mengancam, bagaimana bisa aku menaklukan wanita brandal seperti mu," ucap Egi kemudian mengangkat dagu annisa dengan jemari agar menatap fokus ke arah nya. "Annisa, aku meminta jatah madu ku, yang tiga kali sehari. Dan hari ini aku belum mendapatkan jatah satu pun," tutur Egi mengusap lembut bibir Annisa.
Seketika tubuh annisa kaku, dan menatap dengan mata sedikit melebar ke Egi.
Dia meminta kiss di dapur? Meskipun di rumah ini hanya kita berdua tapi kan rasa nya tidak pantas jika melakukan hal seperti itu di dapur.
"Eg...egi tapi...tapi ini di dapur," ucap Annisa terbata.
Tersenyum tipis dan menangkup sebelah wajah Annisa. "Apa masalah nya di dapur. Kita di rumah pun hanya berdua," tukas Egi dan menekan menarik tengkuk leher annisa agar wajah annisa menunduk mendekat ke wajah nya.
Annisa masih menatap kaku dan perlahan memejamkan mata nya rapat rapat saat egi semakin mendekatkan wajah nya, dan deru napas Egi terasa terendus oleh nya.
Bagaimana ini... dia benar benar akan melakukan nya! Disini! Hah... baiklah, aku bisa apa lagi. Bagaimana pun aku tidak bisa menolak ajakan dia karena dia suami ku.
Egi memiringkan kepala agar bibir nya melabuh tepat ke bibir annisa, namun belum juga bibir kedua nya menempel hanya tinggal beberap inci saja untuk menempel, tiba tiba...
Ting... Tong... Ting... Tong.
Suara bell pintu berbunyi membuat annisa terhenyak dan membuka mata lebar. Reflek annisa mendorong keras bahu Egi sehingga diri nya yang berada di pangkuan egi hampir terjungkal ke belakang.
"Annisa!" Bentak Egi kaget, dan merangkul kembali pinggang annisa agar tidak terjatuh. "Kau mendorong ku!" geram Egi menatap tajam.
Aku mendorong nya. Dia tidak akan marah kan?
Tangan Annisa memegang ke bahu Egi, dan menatap tepat dekat dengan wajah egi. "Ma..maf aku nggak sengaja," ucap Annisa.
__ADS_1
"Jangan lakukan seperti itu lagi jika kau masih dalam pangkuan ku. Kau bisa saja terjatuh jika aku tidak segera memeluk mu tadi," omel Egi.
"I...iya," ucap Annisa dan hendak bangkit dari duduk nya. "Di luar sepertinya ada tamu, bell pintu dari tadi berbunyi terus," sambung nya.
Egi menurunkan Annisa dari pangkuan nya agar berdiri dan diri nya pun ikut berdiri di samping annisa. "Biar aku yang lihat, kau teruskan memasak," ucap nya.
"Baiklah," mengangguk mengiyakan.
Egi menangkup wajah annisa dengan kedua tangan nya dan mendongakkan agar menatap ke arah nya lalu...
Cup.
Egi Mencium sekilas bibir annisa. "Masih sisa dua madu ku hari ini," ucap nya tersenyum tipis, kemudian berjalan meninggalkan annisa yang berdiri mematung.
"Egii," geram Annisa memegang bibir nya. "Hah... dia bilang masih ada dua kali, jika seperti ini terus dia akan membuat jantung ku benar benar keluar," oceh Annisa lalu berbalik melangkah mendekati bahan masakan untuk meneruskan acara memasak nya yang sempat tertunda tadi.
------------------
Di ruang utama.
Ceklek.
Egi membuka pintu.
"Jhon!" Celetuk Egi saat melihat siapa yang ada di balik pintu.
Jhon menundukkan kepala sejenak sebagai salam. "Tuan Egi, selamat malam," ucap nya menatap Egi.
Mata egi menyipit selidik lalu pandangan nya turun melihat ke sebuah kotak besar yang bertengger di sisi tubuh Jhon. "Kau mau apa kemari malam malam? Dan buat apa kau membawa koper segala?" tanya Egi dengan nada tajam.
Tersenyum tipis, lalu Jhon memegang tarikan koper. "Bolehkah saya masuk dulu tuan Egi? Apa begini cara anda memperlakukan tamu nya berdiam di luar rumah cukup lama?" sindir Jhon.
Egi bersikukuh berdiri di ambang pintu menghalangi Jhon dengan tangan masih memegang pintu. "Tidak! Kau bukan tamu ku, siapa juga yang mengundang mu kemari! Pulang sana, aku tidak mengizinkan tamu seperti mu kemari," usir nya.
Jhon tersenyum miring. "Bukan tuan Egi yang mengundang saya, tapi tuan besar yang menyuruh saya kemari," ucap Jhon dengan nada santai, terus melongokkan kepala melihat ke dalam rumah. "Nona Annisa kemana? Kalau nona Annisa pasti akan segera menyuruh saya masuk karena tidak akan membiarkan seorang kakak nya berdiam diri di luar begitu lama," sambung Jhon mulai menyulut emosi Egi.
Egi menatap tajam ke Jhon dan mendengus kesal. Lalu...
Brakk.
Egi menutup pintu dengan keras.
Jhon yang di luar rumah tertawa pelan sambil menutup bibir nya. "Seperti nya misi dari tuan besar kali ini sangat menyenangkan," gumam nya. Lalu kembali menatap pintu tertutup yang ada di hadapan nya.
Sementara di dalam rumah.
Annisa yang dari dapur langsung berjalan setengah berlari kecil menghampiri egi yang berada di ruang utama.
"Egi, ada apa? Kau tidak apa apa kan? Suara apa tadi?" tanya Annisa karena panik dan cemas.
Egi yang masih berdiri di depan pintu membalikkan badan menatap annisa. "Bukan apa apa," ucap Egi.
Menghela napas lega. "Syukurlah, Oh iya tamu nya mana? Bukannya tadi bell pintu berbunyi," tanya annisa menautkan Alis heran.
Ting... tong. Bell pintu kembali berbunyi.
"Sial!" umpat Egi kembali berbalik ke arah pintu. "Kau kembali lagi ke dapur, biar tamu ini aku yang temui," titah Egi menolehkan sedikit kepala nya melirik annisa.
Seperti ada yang aneh. Tapi ya sudahlah...
Annisa masih berdiri menatap Egi. "Baiklah," sahut annisa dan berbalik melangkahkan kaki menuju ke dapur.
Sepeninnggalan Annisa.
Egi membuka kembali pintu utama.
"Berisik!" Bentak Egi begitu membuka pintu nya. Lalu menatap tajam ke Jhon yang masih berdiri di tempat nya. "Jangan tekan bell lagi, kau membuat istri ku panik Jhon!" Kesal Egi.
Jhon tersenyum kecil. "Jangan salahkan saya tuan Egi, tapi salahkan jemari saya yang tidak mau berhenti menekan tombol nya. Mungkin reflek juga karena sudah rindu ingin bertemu nona Annisa, adik saya tersayang," goda Jhon.
"Kau mau ku lempar dan suruh keamanan mengusir mu, Jhon," geram Egi mengepalkan tangan.
"Boleh, silahkan," ucap Jhon santai. "Tuan Egi melapor ke pihak keamanan, saya akan melapor ke tuan besar jika saya tidak bisa memenuhi titah nya karena ada yang mengusir saya," sambung nya mengancam.
Alis Egi terangkat sebelah menatap Jhon. "Ayah? Titah? Apa maksud mu?" tanya Egi.
"Saya akan menjelaskan nya, tapi bolehkah saya masuk dahulu. Di luar sangat dingin, bisa bisa lidah saya beku duluan sebelum menjawab pertanyaan tuan Egi," jawab Jhon meminta persetujuan.
Egi masih menatap tajam dan diam sejenak menelisik raut wajah Jhon. Lalu akhirnya berbalik melangkah kan kaki menuju sofa, tidak menghalangi lawang pintu lagi. Dan Jhon yang mengerti, ia langsung menyeret koper nya, dan memasuki rumah Egi lalu duduk di sofa yang bersebrangan dengan Egi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.