
Tiga minggu kemudian.
Annisa dan Egi telah pulang kembali ke rumah Putra. Kedua nya, baru saja pulang dari bulan madu di pulau pribadi.
Pagi itu, kedua nya selesai melaksanakan shalat subuh berjamaah. Annisa tengah melipat alat shalat, mukena dan sarung yang di kenakan untuk di kembalikan ke lemari. Sedang Egi sedari tadi pandangannya tidak lepas menatap wajah cantik Annisa yang tanpa menggunakan kerudung.
Egi memajukan diri nya mendekati Annisa. "Sayang," ujar Egi dengan suara serak namun lembut.
"Hemm...," sahut Annisa sibuk melipat.
Egi merangkul pinggang Annisa dan duduk di sampingnya. "Annisa, kau tidak melihat ku," ucap Egi, menopang dagu nya di bahu Annisa.
Pergerakan tangan Annisa yang tengah melipat terhenti. Ia melirik wajah Egi yang tengah menatap nya. "Ada apa Egi? Kau tidak lihat aku sedang apa?" Jawab Annisa, dan kembali melanjutkan melipat sarung.
Egi menyibak rambut panjang Annisa untuk di selipkan ke belakang telinga. "Aku menginginkan mu lagi," Egi berucap, sambil mengecup lembut lekuk leher Annisa.
Annisa mengedikkan bahu karena geli. "Egi, semalam kan sudah. Aku... maksud ku sekarang sudah pagi."
Egi terkekeh senang, memberikan kecupan kilas beberapa kali di pipi Annisa. "Apa yang kau pikirkan sayang? Aku menginginkan jus strawberry buatan mu," ucap Egi membuat kedua pipi Annisa seketika merona merah.
"Oh itu ba-baiklah akan ku buatkan," gugup Annisa, mengalihkan tatapan ke arah lain.
Mata Egi menyipit menggoda Annisa. "Sepertinya pikiran mu sedang memikirkan ke arah lain. Apa kau ingin melakukan itu lagi sayang?" tanya Egi dengan suara serak, setengah berbisik di telinga Annisa.
Seketika tubuh Annisa bergetar, dan dengan segala keberanian, Annisa menoleh menatap wajah Egi yang dekat sekali dengan wajahnya. "Aku...aku simpan ini dulu," ujar Annisa cepat, kemudian beranjak dari duduk nya sehingga membuat kepala kedua nya beradu.
Dugh..
kepala Annisa dan hidung Egi terbentur cukup keras.
"Aww," celetuk Annisa memegang kening nya yang terasa panas.
Egi segera ikut berdiri memeriksa kening Annisa yang merah. "Kau tidak apa apa sayang? Kalau berdiri bilang dulu jangan seperti tadi, lihat kening mu jadi merah gini," omel Egi mengusap lembut kening Annisa.
Alis Annisa beradu, dan menoleh. Mata Annisa melebar terkejut, begitu melihat darah keluar dari hidung Egi. "Hidung mu berdarah Egi! Pasti tadi ke pentok kepala ku kan?" Panik Annisa menaruh mukena yang di pegang nya ke atas ranjang, dan beralih mengambil kerudung lalu menempelkan ke hidung Egi untuk menekan darah nya.
"Tekan, dan bernapas dari mulut dulu." Instruksi Annisa menatap cemas.
"Obati sayang," ucap Egi manja menatap harap ke Annisa.
Annisa menghela napas pelan, dan mengusap lembut pipi Egi. "Kau duduk dulu di ranjang. Aku simpan ini sekalian ambil obat nya," titah Annisa menarik kedua tangan Egi dan menuntunnya untuk di dudukkan ke sisi ranjang.
Egi menurut, Ia mengangguk dan tersenyum senang.
Annisa berjalan ke arah lemari menyimpan semua alat shalat. Lalu berganti arah menuju bufet dimana tempat kotak p3k terletak. Ia mengambil kotak p3k dan duduk di samping Egi.
Gadis itu, membuka kotak p3k mengambil kapas dan plester. Annisa mengambil kerudung dari pegangan tangan Egi, Ia menangkup sebelah sisi wajah Egi untuk memudahkan mengobati hidungnya.
"Untung lecet nya hanya sedikit," ucap Annisa setelah menghentikan pendarahan dan membersihkan hidung Egi. Ia beralih mengambil satu buah plester.
Egi tersenyum, menatap lekat wajah Annisa. "Aku ingin di sembuhkan dengan kelembutan istriku," seru Egi.
Sontak gerakan tangan Annisa yang tengah mengupas plester terhenti, Ia tertawa pelan menatap Egi. "Kau pintar ngegombal juga yah," Annisa menangkup wajah Egi dengan kedua tangan. Kemudian menundukkan kepala Egi dan melabuhkan ciuman lembut di hidung yang terlihat lecet itu. "Sudah, gimana masih sakit?" tanya Annisa menempelkan plester.
Egi tertegun, menggelengkan kepala pelan. Lalu dengan gerakan cepat Egi menarik, merengkuh tubuh Annisa untuk di dekap nya.
"Hey, kau ini masih senang menarik ku seperti ini tanpa aba aba yah," oceh Annisa membalas pelukan Egi.
Egi tidak menjawab ucapan Annisa, Ia memilih mendekap erat tubuh Annisa dan menghirup aroma khas dari rambut dan tubuh Annisa.
-----------------------------------
Annisa tengah menyiapkan makanan di atas meja makan, Ia baru selesai memasak untuk sarapan. Tangan dan kaki nya sibuk berbolak balik mengambil masakan dari dapur untuk di bawa ke meja makan, di bantu oleh pelayan.
"Sayang, duduklah. Jangan mondar mandir begitu, biar pelayan saja yang mengambilkan nya." Ujar Egi yang baru memasuki ruang makan melihat Annisa yang sibuk.
__ADS_1
Annisa meletakkan teko berisi jus strawberry dan melon ke atas meja. "Tidak apa, kan olahraga kaki," sahut Annisa tanpa menoleh ke Egi.
Egi bergerak mendekat, Ia memegang tangan Annisa yang hendak menuangkan jus ke dalam gelas. "Duduk, aku ingin kau duduk!" Tegas Egi memerintah.
Melepaskan tangan Egi dari tangannya. "Setelah menuangkan jus, aku akan duduk." Annisa kembali melanjutkan gerakannya untuk menuangkan jus ke setiap gelas.
Egi menghembuskan napas pelan, Ia menurut duduk di kursi yang biasa di duduki Fatih.
"Pagi pengantin baru, semangat amat sih sudah ada di meja makan aja. Biasanya kan pengantin baru semangat nya di kamar aja," goda Asyila yang baru memasuki ruang makan, dan duduk di kursi nya.
Pipi Annisa merona, dan pura pura tidak mendengarnya. Ia meletakkan gelas jus strawberry ke hadapan Egi dan Asyila.
"Syila, pagi pagi jangan menggoda kakak ipar mu." Jawab Egi menatap sebal.
"Ah, cieee... lihat kak. Kakak ipar kedua pipi nya merah. Kak Egi main nya lembut kan?" Asyila semakin menggoda sambil meneguk jus nya.
Annisa tersenyum gugup, Ia memilih duduk di kursi nya menyembunyikan wajah nya agar tidak terlihat Asyila.
Asyila senang sekali menggoda ku.
Egi menangkup sisi wajah Annisa yang kebetulan menoleh ke arahnya. "Syila, kau masih anak kuliah sudah tahu hal itu. Darimana kau tahu itu hah?"
"Tahu dong, syila kan kuliah jurusan sama kayak kakak ipar kedua." Syila mendekat memajukan diri nya ke Annisa dan Egi. "Kalian tidak berencana menunda kehamilan kan?" Kepo Asyila menatap penasaran.
"Eh, ti...tidak," gagap Annisa kaget di tatap dekat seperti itu oleh syila.
"Asyila!" Sentak Egi kesal. Ia merangkul bahu Annisa untuk di rapatkan pada tubuhnya dan agar menjauh Asyila.
Asyila tertawa puas, berhasil menggoda dua sejoli itu.
"Ada apa ini, pagi pagi udah ribut?" Ayah putra, dan keluarga yang lainnya memasuki ruang makan.
Egi melepaskan rangkulan di bahu Annisa, Ia menoleh pada Ayah putra. "Tidak ada apa apa," jawab Egi.
Romisa, Arga dan Ayah putra menduduki kursi nya.
Egi menunduk menatap Fatih. "Siapa bilang ini tempat mu? Ini tempat Om, kau duduk di sisi papa mu sana!"
Fatih menarik kuat jas yang di gunakan Egi. "Pokoknya ini tempat Atih, Om Egi yang pindah."
"Nggak mau, Om lebih awal di sini. Dan ini biasa tempat duduk Om!" Sangkal Egi tak mau ngalah.
"Kakek, tolong usir Om Egi. Dia sudah merebut Ateu cantik sekarang merebut kursi Atih." Rengek Fatih beralih pada Ayah putra.
"Terus aja ngadu ke Ayah. Tapi tetap saja Om tidak akan pindah," cibir Egi.
"Uh, cucu kakek, memang itu tempat duduk nya Om Egi. Kamu duduk di samping papa mu yah," ucap Ayah putra mengusap puncuk rambut Fatih.
"Kakek sama aja, Om Egi minggir!" Teriak Fatih.
"Tidak!" Sahut Egi cepat tak kalah tegas.
"Makhluk kecil!" Seru Arga tegas. "Kemari kau, duduk di samping papa."
Fatih memberenggut sebal. Ia menggelengkan kepala cepat. "Nggak mau, Atih mau duduk dekat Ateu cantik. Nggak mau dekat papa yang galak."
"Sayang, kemari sama mama, jangan nakal gitu." Ucap Romisa lembut.
"Nggak mau, Atih mau nya sama Ateu cantik." Sangkal Fatih memberenggut seakan menangis sambil menarik kaki Egi.
Annisa memegang lengan Egi. "Egi, biarlah mengalah, dia kan masih anak kecil jadi mengalahlah," ucap Annisa lembut.
Egi membalas memegang tangan Annisa. "Nggak mau Annisa, aku nggak mau jauh dari mu."
"Om Egi," Rengek Fatih menarik kaki Egi.
__ADS_1
"Egi," seru Ayah putra menatap.
Egi menghela napas panjang. "Baiklah, Egi akan pindah. Tapi Annisa juga harus pindah," pasrah Egi bangkit dari duduknya dan menarik tangan Annisa.
"Kau ini tidak mau ngalah sama anak kecil, yasudah. biarkan cucu ku duduk di kursi dan cepat sarapan." Ayah putra menyahuti sambil mengambil pancake dari menu lain.
Egi beranjak dari duduknya, menarik lengan Annisa untuk ikut berdiri dan berpindah duduk. "Sayang, pindah ke sebelah Asyila." Titah Egi pada Annisa.
Fatih memeluk kaki Annisa. "Ateu cantik mau kemana? Ateu cantik harus duduk di samping Atih." Rengek Fatih.
Annisa terdiam membeku di tempat nya, menatap serba salah pada Fatih yang memeluk kaki nya dan Egi yang memegang tangannya.
Aku harus bagaimana? Kenapa kedua nya bisa begini.
"Hey bocah, bukannya kau ingin duduk di kursi Om. Jadi lepaskan tangan mu dari kaki wanita ku!" Kesal Egi mengibaskan tangan sebagai isyarat pengusiran.
Fatih semakin mempererat pelukannya di kaki Annisa. "Nggak mau, Atih mau duduk di situ karena ada Ateu cantik."
Egi menghembuskan napas kasar, menatap Arga yang sedang anteng memakan sarapan bersama Romisa dan yang lainnya. "Ck," decak Egi sebal. "Kakak anak mu bikin rusuh, kenapa kau malah enak enakkan makan sarapan? Singkirkan anak mu kak!"
Arga menyuapkan satu sendok omlete ke mulutnya dengan santai. "Susah bujuk nya," sahutnya tenang.
"Ateu cantik duduk lagi di kursi Ateu," pinta Fatih mendongak menatap melas.
Annisa menatap Fatih dan menatap Egi secara bergantian.
Mau sampai kapan mereka bersitegang, aku ingin makan sarapan ku dengan tenang.
"Kakak ipar kedua, udah gini aja. Biar syila yang pindah duduk nya. Kakak ipar kedua duduk di kursi kakak ipar, biar dek Fatih duduk di kursi Syila. Kan adil kalau kakak ipar kedua ada di tengah tengah mereka." Usul Syila beranjak dari duduk nya dan berpindah.
"Bukannya dari tadi Syila mengajukan bantuan untuk dua petarung itu, sudah berdebat parah baru kau mengeluarkan usul cemerlang," tutur Ayah putra tersenyum miring.
"Syila suka aja lihat dua bocah ini Ayah," balas Syila tertawa senang.
Egi menatap tajam ke Fatih. "Kau dengar itu bocah, singkirkan tangan mu dari kaki istri Om."
Fatih menurut melepaskan pelukannya di kaki Annisa dan berjalan mendekati kursi bekas Egi untuk di duduki nya.
Sementara Annisa kembali duduk di kursinya, dan Egi berada di kursi bekas Asyila, sehingga tampak Annisa di tengah tengah Fatih dan Egi.
Annisa mengambilkan pancake selai strawberry dan menaruhnya ke piring Egi. "Cepat sarapan Egi, bisa telat kamu berangkat ke kantor." Ucap Annisa.
"Iya sayang," jawab Egi mengusap gemas puncuk kepala Annisa.
"Ateu cantik, untuk Atih mana. Kenapa Om Egi yang di ambilin," pinta Fatih tangan mungil nya memegang tangan Annisa.
Annisa menoleh dan tersenyum. "Baiklah Dek Fatih mau makan...," ucapan Annisa terpotong oleh Egi.
"Hey bocah singkirkan tangan mu dari tangan istri ku," tegas Egi menepis tangan Fatih dari tangan Annisa.
Fatih kembali memegang tangan Annisa. "Nggak mau, Ateu cantik kan istri Atih juga."
"Dia wanita ku, dan istri ku," Egi menyahuti tidak mau kalah.
"Ateu cantik istri Atih," Fatih berseru cepat, dan memeluk tangan Annisa.
"Hey, lepaskan tangan mu jangan menempeli wanita ku," menarik tangan Fatih yang bagai gurita menempel erat di tangan Annisa.
Annisa menghembuskan napas kasar. Memejamkan mata mengontrol emosi nya.
Kapan mereka berdamai. Aku ingin makan...hiks..hiks.
Lalu Annisa menatap Romisa yang menahan senyuman geli, tengah menyaksikan perdebatan itu. "Mbak...," melas Annisa.
Dan terlibatlah perdebatan Fatih dan Egi yang tidak mau kalah, sementara anggota keluarga yang lain hanya bisa menonton sambil menikmati sarapannya.
__ADS_1
Jika masih belum bosen Thor akan lanjut ke Season 3 nya.