
Annisa tengah menata kimbab hasil memasak nya ke dalam kotak bekal, rencana annisa kimbab itu akan di bekal kan untuk Egi makan siang di sekolah.
"Cantiknya hasil karya ku, awas saja jika tuh bocah tidak memakan masakan ku," celoteh Annisa melihat hasil karya nya. Lalu menutup kotak bekal itu dan memasukkan ke dalam paper bag.
Annisa berjalan membawa nampan berisi satu piring penuh pancake untuk sarapan Egi ke meja makan sedangkan paper bag bekal, Ia meninggalkan nya di dapur samping.
Menata piring di atas meja makan.
"Kenapa belum ada yang datang kemari yah, padahal sudah jam setengah 7." Gumam Annisa sambil merapihkan menu masakan di atas meja.
"Pagii kakak ipar kedua," sapa Syila dan mendudukkan diri di kursi.
Menoleh ke arah syila dan tersenyum.
"Pagi juga syila," balas Annisa.
"Kakak ipar kedua, Kak Egi nya mana. Kok belum ke sini?" Tanya syila sambil membalikkan piring.
"Sebentar lagi ke ...," ucapan Annisa menggantung karena orang yang di tanyakan nya tengah berjalan ke arah meja.
Tersenyum."Tuh orang nya," tunjuk Annisa dengan mengedikkan dagu nya ke arah Egi.
Egi memasang wajah dingin nya dan menatap Annisa lalu duduk di kursi dekat kursi putra. Karena sudah melihat Egi duduk di kursi nya, annisa ikut duduk di samping kiri Egi dekat syila.
Tidak lama kemudian semua anggota keluarga Putra telah datang ke meja makan dan duduk di kursi nya masing masing.
Melihat Romisa menyiapkan makanan ke piring Arga. Annisa berinsiatip menaruh pancake yang di buat nya ke atas piring Egi.
Egi melirik Annisa dan menatap dingin tanpa berkata. Sedang annisa memasang senyuman manis nya."Kau suka pancake kan? Rasa nya lumayan enak, cobalah." Ucap annisa.
"Iya Kak Egi rasa nya beda loh dari biasanya, bener bener enak." Celetuk syila sambil mengunyah pancake.
Menatap Annisa sejenak lalu menghela napas dan akhirnya memotong pancake itu lalu menyuapkan ke mulutnya."Lumayan," pendapat Egi.
Masa hanya kata itu saja yang keluar dari mulut mu sih, tidak kah kau memuji nya dengan kata enak, hanya lumayan. Menyebalkan.
Annisa mengambil roti bakar dan memolesnya dengan selai cokelat lalu dengan rasa dongkol annisa langsung menyuapkan roti itu ke mulutnya dengan suapan penuh.
Putra yang melihat tingkah kedua nya hanya tersenyum."Ekhem.." dehem putra membuat pasang mata Annisa melirik nya.
"Nak Annisa."
Annisa menghentikan kegiatan menyuapkan roti ke mulut nya dan menoleh ke arah putra.
"Iya Ayah."
Menaruh garfu dan pisau ke piring lalu menautkan jemari dan menyiku ke atas meja.
"Nak Annisa hari ini hendak ke asrama yah?" Tanya putra menatap annisa.
__ADS_1
Mengangguk mengiyakan."Iya Ayah, karena ada kelas pagi ini," ucap Annisa.
"Barang barang mu yang ada di asrama, kemaslah yang penting nya saja. Selebihnya biar kebutuhan mu di sini di siapkan." Ucap putra.
"Baik Ayah."
"Dan Nak Annisa, Egi kan sekolah nya di SMA Pelita jadi akan melewati kampus mu, barenglah berangkat nya agar tenang ayah melihatnya," tutur Putra.
Seketika Egi menghentikan kegiatan memotong pancake lalu menatap Annisa dan beralih menatap Putra.
"Tapi ayah, Egi kan berangkat bareng dengan Ray," sanggah nya.
"Kau kan bawa mobil, jadi cukuplah untuk tiga orang di dalam nya. Apa kau tega membiarkan istri mu menaiki kendaraan umum panas panasa an dan dempet dempet an sedang kau menaiki mobil lengang dan ber-AC," tegas Putra.
"Betul tuh kata Ayah, syila setuju dengan ayah. Jika saja arah sekolah syila searah dengan kakak ipar kedua. Mungkin akan bareng syila," mengiyakan ucapan putra.
Egi menghela napas kasar menatap Annisa sejenak."Baiklah, Egi bareng Annisa." Ucap pasrah nya.
Sementara Romisa yang melihat raut wajah egi seperti terpaksa. Ia menautkan kedua alis heran. "Kenapa Egi seperti enggan sekali mengajak An an, bukannya kalian menikah atas dasar saling suka?," tanya Romisa.
Nih anak dia yang bikin kesepakatan, dia juga yang bersikap mencurigakan di depan keluarga nya. Jika sudah begini aku juga yang harus menetralkan nya. Benar benar bocah memang bocah.
Tersenyum canggung. "Itu mungkin... malu sama teman nya, iya malu sama temannya. Jadi Egi masih sungkan untuk mengajak Annisa kemana pun mbak." Tutur Annisa mencari alasan.
Mengangguk paham. "Iya mbak lupa An, jika pernikahan kalian kan belum di resepsikan dan belum di ketahui teman teman nya Egi. Maaf An, mbak bukan menyinggung mu." Ucap romisa.
"Ah, tidak apa mbak. Memang iya itu kebenarannya."
Sedang Egi yang jadi pokok permasalahan nya, malah makan santai menikmati sarapan nya dan tersenyum miring ke arah annisa.
---------------
Selesai sarapan. Semua anggota keluarga mulai berpencar ke tempat nya masing masing. Putra telah kembali ke kamar nya, Romisa dan arga menuju teras depan, syila telah berangkat ke sekolahan nya dan Egi masih berdiri di dekat pintu ruang makan menunggu Annisa yang tengah mengambilkan tas di kamar nya.
Annisa setengah berlari kecil menghampiri Egi sambil memegang dua tas gendong di tangan nya.
Huh...huh. Annisa menetralkan napas nya yang terengah lalu menyodorkan tas Egi ke orang nya.
Menerima tas gendong dari annisa. "Lama sekali, hanya mengambil tas saja sampai harus sejam." Ucap egi dengan nada dingin.
Menatap geram ke Egi. "Hanya dua menit kau bilang sejam, mata mu katarak yah melihat jam saja tidak jelas." Cerocos annisa.
Egi berbalik berjalan pelan hendak menuju ruang bawah tanah tempat mobil nya di parkir kan.
Menarik sebelah lengan Egi.
"Hey, sebentar dulu ada yang ketinggalan di dapur," ucap Annisa menghentikan langkah kaki egi.
Egi menatap lengan nya yang di pegang oleh annisa.
__ADS_1
Tersenyum cengengesan.
"Maaf, tidak apalah kita kan sudah sah jadi nggak bakal dosa." Tutur annisa polos.
Mengedikkan dagu nya. "Kau bilang akan ke dapur.1 menit waktu mu," tegas Egi.
"Pelit sekali 1 menit 10 menit lah, jarak dari sini ke dapur samping tuh cukup jauh jadi 10 menit."
"1 menit." Kekeh egi.
"5 menit."
"2 menit atau tidak sama sekali." Tegas egi telak.
Mengepalkan kedua tangan kesal. "Oke dua menit, tunggu di sini."
Annisa berbalik dan berlari menuju dapur samping untuk mengambil bekal Egi.
Dengan langkah tergesa annisa memasuki dapur samping dan menyambar paper bag yang sempat di taruh nya di atas meja pantry.
Lalu annisa berlari kembali hendak menuju tempat egi menunggu nya.
"Brandaall.." teriak Egi dari kejauhan.
Langkah tergesa sehingga tidak memperhatikan jalan. "Iya bocah, baru juga 1 menit udah teriak aja," gerutu Annisa.
Brukk..
Annisa menabrak tubuh bi ane yang baru keluar dari sebuah pintu sehingga annisa akan terjungkal ke belakang untung bi ane dengan sigap memegangi lengan Annisa sehingga annisa berdiri tegak kembali.
"Maaf bi, saya tidak sengaja. Soalnya saya buru buru tadi." Ucap annisa merasa bersalah sambil menunduk.
"Tidak apa dek Annisa. Sebenarnya apa yang membuat adek berlari begitu?" Tanya bi ane.
"Ah, itu karena...," ucap Annisa menggantung.
"Brandaaall..." teriak Egi dari kejauhan memanggil Annisa.
"Iya sebentar bocah. Lagi jalan nih," sahut Annisa dengan suara nyaring menggema di ruangan itu.
Annisa beralih menatap bi ane yang tampak bingung dengan yang di dengar nya.
"Maaf bi saya permisi dulu, Egi sudah menunggu saya. Assalamualaikum," tutur Annisa lalu kembali berlari menghampiri Egi.
"Walaikumsalam."
Sepeninggalan Annisa, bi ane tersenyum dan menggelengkan kepala nya beberapa kali.
"Pasangan anak muda, memang ada ada saja panggilan kesayangan nya saja aneh aneh. Hah jadi pengen muda lagi," gumam bi ane dan berlalu.
__ADS_1
Tekan tombol LIKE dan komentar nya yaaa jangan lupa.
BERSAMBUNG...