Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 32


__ADS_3

Rika memasuki kamarnya dan langsung melemparkan diri ke atas kasur dengan posisi tengkurap. Dia memeluk bantal guling sambil menelungkupkan kepala di antara dua lengan.


"Apa bagus nya sih kak Farhan. Mah, Ika tidak menyukai Kak Farhan tapi Jojo yang Ika sukai." Gumamnya, lalu ia melirik mantel panjang Jhon yang teronggok di atas kasur dekat bantal, tangannya terulur meraih mantel itu dan mencium bau nya. "Jojo, aku harus bagaimana?"


------------------------------


Di Rumah Annisa.


Annisa keluar dari pintu kamar mandi, dengan mengena kan pakaian dress tidur berwarna merah maroon tanpa lengan, yang rok nya di atas lutut. Ia berjalan mendekati ranjang, yang dimana suami nya tengah duduk menyila berkutat dengan laptop di pangkuan.


"Egi," panggil Annisa menaiki kasur, dan tidur menyamping menghadap ke arah sang suami dengan lengan memeluk bantal.


"Iya sayang," sahut Egi tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop.


"Remote Ac mana?"


Egi meraba-raba sekitar diri nya, dan tangannya bertabrakan dengan benda yang di cari, ia mengambil dan menyodorkan ke Annisa tanpa melihat orangnya.


Annisa menerima remote Ac tersebut, lalu memencet tombol untuk mengatur suhunya. Sehingga suhu dalam ruangan kamar berubah menjadi lebih dingin dari sebelumnya.


"Sayang, kenapa jadi dingin sekali?" tanya Egi mengusap tengkuk lehernya yang merinding dingin.


"Tapi, aku gerah banget." Annisa menyahuti, sembari menselonjorkan kedua kaki.


Puk... puk.


Dia menggerak-gerakan kedua kakinya sampai kasur pun ikut bergerak menggembul. "Hmm pegel dan sakitnya kaki ku." Rengek Annisa manja. Memperlihatkan kaki jenjangnya yang putih mulus bergerak di atas kasur sekitar laptop.


Melihat kaki jenjang istrinya yang terbuka tanpa kain apa pun, seketika pergerakan jemari di atas keyboard terhenti. Egi menggerakkan bola mata nya menelusuri setiap inchi kulit putih mulus itu.


Glekk.


Dia menelan ludahnya dengan kasar, melihat pemandangan yang menggoda membangunkan naluri hasrat seorang suami terhadap istrinya.


"Sa-sayang," ucap Egi tercekat dalam tenggorokan. "Ke-kenapa berpakaian mini seperti ini? Dan darimana kamu mendapatkan pakaian mini ini, sayang?"


Annisa mengubah posisi tubuhnya menjadi terlentang, sehingga rok yang sudah di atas lutut itu tersingkap memperlihatkan bagian kaki atas.


"Sudah lama aku membeli nya, karena aku gerah maka nya aku pakai dress ini sekarang. Kenapa? Apa kamu nggak suka? Tapi biarkan aku pakai ini malam ini saja, rasanya benar-benar gerah."


Egi menutup laptop dan meletakkannya ke atas meja nakas. Dengan pandangan tak lepas menatap Annisa, ia bergerak mendekati istrinya, dan langsung memerangkap tubuh Annisa. "Benarkah kau kegerahan, atau memang sengaja ingin menggoda ku, sayang."


"Egi! Aku... aku bener merasa gerah, bukan ingin menggoda mu," kaget Annisa menatap intens pada suaminya yang sekarang berada di atasnya.

__ADS_1


Egi menatap sayu dengan sorot mata berkabut penuh minat. Jemarinya bergerak, menyingkirkan anak rambut di wajah Annisa, dan menelusuri pipi mulus itu. "Sayang, kau sangat cantik," tersenyum mendekatkan wajahnya hingga hembusan napas kedua nya bertemu.


"Eg-egi, aku sedang-"


Cup.


Egi dengan cepat membungkam bibir Annisa dengan bibirnya, tanpa mau mendengar lanjutan dari kalimat yang akan di ucapkan istrinya.


Cukup lama, ia mencumbu Annisa. Dan ketika jemari pria itu hendak menarik tali pita di perut gaun untuk melucuti, tiba-tiba kedua tangan Annisa mendorong kedua bahu nya.


"Egi. Aku sedang hamil muda, bisakah jangan melakukan hal itu."


Seketika Egi terdiam, ia menatap tak terbaca. "Aaarrgh," geramnya sambil bangkit dan duduk dengan sebelah kaki tertekuk. Ia menundukkan pandangan dan menghembuskan napas beberapa kali menetralkan emosinya.


Annisa ikut bangkit dari tidurannya, ia menatap merasa bersalah pada suaminya. "Maaf karena kehamilan ku yang masih muda dan rentan, jadi tidak bisa memenuhi kewajiban ku untuk beberapa bulan ke dep-"


"Sayang," seru Egi menghentikan penuturan Annisa. Ia dengan cepat menutup bibir gadis cantik itu dengan jemari nya. Lalu ia menangkup sisi wajah istrinya, sehingga tatapan kedua nya bertemu. Dan Egi mengecup seluruh bagian wajah Annisa dengan lembut dan penuh perasaan. "Jangan berkata lagi, seharusnya aku yang meminta maaf karena hilang kendali hampir menyakiti anak kita."


"Egi," ucap Annisa tercekat, ia sejenak terdiam tertegun dengan ucapan suaminya. Kemudian Annisa berhambur memeluk tubuh Pria tampan di hadapannya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Egi membelai lembut rambut panjang istri nya, dan menundukkan kepala menghirup aroma khas tubuh Annisa di sekitar lekukkan leher juga mengecup beberapa kali di sekitar bahu yang terbuka. "Kata nya kaki mu pegal dan sakit, biar aku pijitin."


Mengangguk kecil, Annisa melonggarkan pelukannya. "Tidak apakah? Tapi aku juga bisa sendiri."


Annisa menselonjorkan kedua kaki nya, dan menatap ragu pada pria yang sudah bergerak duduk menyila, mengulurkan kedua tangan menyentuhkan jemari ke kaki jenjangnya.


Apa dia akan baik-baik saja menahan hasratnya. Hah, sebaiknya aku menutupi tubuhku saja.


Sret.


Annisa menyingkap selimut sehingga menutupi kaki nya.


"Sayang." Egi terkekeh geli. "Bukannya kau merasa gerah, kenapa di tutup." Dia hendak membuka selimut.


Namun Annisa menahan tangannya sehingga selimut itu masih tetap menutupi diri nya. "Kau akan tersiksa melihatnya."


Lagi-lagi Egi terkekeh geli, ia melepaskan tangan Annisa dengan lembut dari tangannya, lalu membuka selimut yang memperlihatkan kembali kaki putih istrinya. "Aku bisa menahannya, jika itu demi kebaikan mu juga anak kita."


Egi mulai memijit betis Annisa dengan pelan dan lembut.


Gadis cantik itu tertegun memperhatikan wajah tampan suaminya, terbesit senyuman bahagia dari bibir tipisnya. "Makasih, Egi sayang."


Egi menoleh dan tersenyum. "Berbaringlah, dan istirahatkan."

__ADS_1


Annisa mengangguk pelan, ia menurut merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepala nya dia atas bantal sembari pandangan menatap lekat wajah suaminya yang sedang fokus memijit kaki yang terasa pegal itu.


"Egi."


"Hemm," sahutnya menoleh.


"Aku merasa jika si Ray, benar-benar menaruh hati pada Rika. Menurut mu bagaimana?"


Egi kembali menatap pada pergerakan tangannya yang sedang memijit. "Melihat dari cara menatap dan perhatiannya, dugaan mu benar sayang."


"Jika begitu, bagaimana dengan kak Jhon? Juga perasaan Rika terhadapnya?"


"Tenang saja, sayang. Aku sudah menyiapkan rencana sedari awal dan rencana itu sedang berjalan sekarang, bahkan sesuai dengan apa yang aku pikirkan."


Annisa yang sedang memeluk bantal guling, sedikit mengangkat kepala nya menatap tanya. "Rencana apa?"


"Kamu akan tahu nanti pada akhirnya. Yang terpenting sesuai apa yang kamu inginkan seperti tujuan awal, mencomblangkan mereka dan berusaha membuka gembok kunci hati si Jhon."


Annisa tertawa pelan, mendusel kepala nya di antara bantal guling juga bantal. "Aku percaya pada mu."


Egi tersenyum, mengusap pelan rambut Annisa. "Tidurlah, sudah malam sayang." Yang di balas anggukkan kecil.


Keheningan sesaat menyelimuti ruangan kamar itu. Annisa yang sudah memejamkan mata, meram-meram ayam, sedang Egi masih setia memijit dengan perasaan sayang dan lembut, pada kaki istrinya.


"Pijatan mu sangat nyaman," gumam Annisa di sela pejaman mata nya.


Egi terkekeh geli. "Kau harus membayar ku mahal sayang."


"Hemm," igau pelan Annisa yang sudah senyap lelap ke alam mimpi.


Selama beberapa menit, Egi menghentikan pergerakan jemari nya yang sedang memijit. Ia melirik ke arah wajah Annisa yang sudah terlihat tertidur pulas.


Dia tersenyum, menarik selimut untuk menutupi seluruh bagian tubuh istrinya hingga batas leher, lalu mengecup kening Annisa cukup lama. "Nice dream, sayang." Ucapnya, mengusap lembut pipi mulus Annisa.


Kemudian ia menegakkan badannya untuk duduk setengah terbaring, masuk ke dalam selimut yang sama. Egi meraih remote Ac juga laptop. Memencet tombol untuk mengatur suhu nya ke suhu normal. "Apa efek kehamilannya juga, padahal serasa mau beku begini dia masih tahan dengan suhu dingin bagai di kulkas."


Egi melirik kembali wajah lelap Annisa, ia mengusap lembut pipi nya. "Sayang, tingkah mu selalu berubah-ubah sejak kehadiran anak kita dalam perut mu. Tapi aku menyukainya, karena kau setiap saat akan bermanja pada ku."


Egi kembali membuka laptop untuk mengerjakan pekerjaan yang sempat tertunda tadi, sembari duduk menyender di samping tubuh Annisa yang terlelap.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2