
Selesai makan malam.
Annisa mengambil satu kotak buah strawberry sebagai pencuci mulut karena sehabis makan makanan yang pedas dan asam. Sementara egi sudah menyenderkan punggung nya di sofa panjang dengan pandangan fokus menatap layar tv.
Memakan satu buah strawberry, alis annisa mengernyit dan mata nya melebar menatap buah strawberry di kotak nya.
Manis banget sih buah nya, pantas s egi suka dengan buah ini.
Annisa terus memakan dan menikmati buah strawberry itu, dengan menempatkan kotak nya di atas pangkuan.
Eh, s egi nggak bakal nanyain kan. Nih buah nya aku makan.
Lalu annisa melirik ke arah egi yang terdiam tetap fokus menonton tv.
Egi yang merasa di perhatikan oleh annisa, ia mendelik. "Kenapa lihat lihat?" Tanya egi.
"Cih, siapa juga yang melihat mu. GeEr banget sih." Ketus annisa sembari menyuapkan satu buah strawberry ke mulut nya.
Melihat apa yang di makan annisa lalu turun melirik ke sebuah kotak yang ada di pangkuan annisa.
"Kau memakan buah ku," seloroh egi.
"Bukan lah, aku kan ngambil nya dari mangkuk buah. Jadi jelas ini bukan milik mu," jawab annisa acuh sembari kembali lagi memakan buah strawberry.
Egi melirik ke mangkuk buah yang ada di atas meja yang tersisa tinggal jeruk dan apel merah saja.
"Nggak, itu strawberry ku brandal, kenapa kau memakannya."
"Hey bocah, saat kotak strawberry ini di mangkuk buah berarti belum jadi milik siapa pun. Dan siapa yang cepat mengambil nya jadi dia yang memiliki, aku duluan yang mendapatkan kotak nya. Jadi sekarang ini milik ku," menyembunyikan kotak buah ke samping badan yang tak terlihat egi.
"Baiklah, tapi bagi sedikit, aku tidak suka apel dan jeruk."
Menyuapkan satu buah lagi ke mulut dan mengunyah cukup keras agar terdengar jelas oleh egi, "kamu mau?" Tanya annisa di sela kunyahan.
"Hemm.." gumam egi mengiyakan.
"Ambil ndiri ke dapur sono," ucap nya beranjak dari duduk untuk menghindari egi.
Egi ikut beranjak dari duduk nya dan memegang sebelah lengan annisa lalu merebut kotak buah "aku malas ke dapur nya," ucap egi hendak membuka kotak buah.
Mata egi terpaku melihat isi kotak buah yang hanya menyisakan satu buah strawberry, melirik annisa yang tampak menahan senyuman.
"Kau menghabiskan nya," tanya egi.
Mengangguk mengiyakan kemudian tersenyum menunjukkan deretan gigi nya yang rapih, "habis gimana lagi, rasa nya manis sekali sih jadi nya tak sadar deh kalau buah nya habis," ucap annisa.
Egi menggelengkan kepala dan menatap annisa sekilas lalu hendak mengambil strabwerry yang tinggal satu buah lagi dari kotak nya.
__ADS_1
Namun gerakan tangan nya kalah cepat oleh gerakan annisa.
"Hey.. " tersentak egi.
Tersenyum menang, "karena tinggal satu lagi dan untuk menggenapkan agar menjadi 30 buah di dalam perut ku, jadi ini untuk ku saja yah," ucap annisa sembari mengacungkan strawberry ke hadapan egi.
Hendak merampas namun annisa dengan sigap menjauhkan nya. "Eits.. tidak bisa." Tertawa pelan.
"Kau mau main main dengan ku." Ucap egi kemudian tersenyum miring.
Annisa mengangguk kecil dan menggoda egi dengan terus menunjukkan strawberry itu ke egi. "Nih, kata nya mau." Ucap nya kemudian annisa gigit strawberry itu dan membiarkan ada di bibir nya dengan setengah di dalam mulut nya.
"Hmm.. kete nye meu..hmm." tersenyum puas mengedikkan dagu ke arah egi.
"Seperti nya kau benar benar ingin menggoda ku brandal," ucap Egi tersenyum misterius lalu mendekat ke annisa.
Annisa mundur beberapa langkah karena egi terus mendekat ke arah nya.
Eh, ada yang aneh dengan senyuman nya. Membuat bulu kuduk ku berdiri semua..
Dan saat annisa hendak berbalik untuk menghindar, namun egi menarik lengan annisa dan merangkul pinggang nya mendekatkan tubuh annisa dengan diri nya agar berhadap hadapan, sehingga tampak mereka sangat dekat sekali.
Mata annisa melebar kaget dan tubuh nya kaku seketika.
Degh..degh..degh. jantung kedua nya saling bersahutan.
Tersenyum kecil dan semakin mengeratkan rangkulan di pinggang annisa untuk mengunci nya agar tidak ada pergerakan dari annisa. "Aku akan tanggapi permainan mu wanita brandal," ucap egi.
Kemudian egi mendekatkan dan memiringkan wajah nya perlahan sehingga deru napas kedua nya bertemu, ia hendak menggigit strawberry yang ada di bibir annisa.
Mata annisa semakin melotot kaget, dengan apa yang akan egi lakukan.
Tidak..tidak..dia akan mengambil strawberry ini dengan mulut nya, berarti itu artinya dia akan mencium ku, tidak.. aku belum siap melepaskan first kiss, ku. Aku harus menghindar dan menjauh dari nya.
Annisa menelungkup kan bibir nya agar strawberry yang di gigit, masuk sepenuh nya ke dalam mulut. Lalu mendorong dada egi dengan kuat sehingga rangkulan tangan egi terlepas, annisa segera berbalik menghindar dari nya.
"Hey.. kau." Teriak egi yang kaget dengan gerakan annisa.
Menoleh, "apa!! Kau sengaja mendekati ku seperti tadi, karena ingin mencium ku kan," tuduh annisa.
Egi tersenyum miring, "kau narsis mu mulai datang lagi, tak sudi bibir suci ku menempel dengan bibir mu," ejek egi.
"Hah bocah, sok suci kau. Hmm tapi wajar lah kau masih suci kan masih bocah, dan lagian mana ada yang mau mencium mu, yang seorang pria bermulut pedas dan tajam, lalat saja tak sudi menjejakkan kaki nya di bibir mu," mendekati egi kembali.
"Kau ..." geram egi menatap annisa geram..
Tok..tok..tok.
__ADS_1
Pintu kamar egi di ketuk dari luar. Serentak annisa dan egi menoleh ke arah pintu.
Menghela napas kasar dan menatap annisa. "Kau buka kan pintu nya," titah egi lalu beranjak ke arah sofa tv.
"Baiklah bocah." Jawab nya dan menuju pintu.
Ceklek.
Pintu kamar egi di buka annisa.
"Mbak misa, kak Arga.." sapa annisa setelah melihat siapa yang ada di balik pintu.
Tersenyum hangat, "iya An an. Mbak dan suami mbak ingin menjenguk egi karena belum sempat melihat nya tadi siang," tutur romisa.
Mengangguk, "masuk mbak, kak arga. Tuh egi nya lagi nonton tv di sofa." Tunjuk annisa dengan gerakan kepala ke arah sofa.
Romisa dan arga memasuki kamar dan berjalan menghampiri egì.
Plaakk.
Arga menimpuk kepala egi cukup keras.
Menoleh dan mengusap kepala nya yang di timpuk arga. "Kakak.." teriak egi.
Duduk di samping egi, "kata nya kau tengah jatuh sakit, tapi di lihat kau sangat sehat sehat saja, bahkan masih bisa berteriak pada ku." Ucap arga.
Egi menatap tajam ke arga dan melirik ke annisa juga romisa secara bergantian yang kedua nya duduk di sofa dekat arga.
Misa.. brandal. Ada apa dengan ku? Seharusnya perasaan hangat ini hanya akan muncul jika melihat misa, tp kenapa sekarang berbeda bahkan berkebalikan.
"Bagaimana keadaan mu egi, sudah sehat kah?" Tanya romisa.
Arga melihat romisa dan menggenggam jemari nya yang kebetulan duduk romisa bersampingan dengan nya, yang hanya terhalang oleh lengan sofa.
"Romisa tidak lihatkah, dia tadi berteriak sangat keras pada ku, jadi dia sehat sehat saja. Buat apa menanyakan keadaan nya segala." Jawab arga.
Menghela napas pelan, "benar kata kakak, aku sudah sehat karena annisa merawatku dengan sangat baik jadi aku cepat pulih." Tutur egi kemudian tersenyum ke romisa.
"Ekhem... i..iya kak, mbak. Egi sudah cukup pulih," sahut annisa yang sedari tadi terdiam memperhatikan.
Bernapas lega, "syukurlah.. " ucap romisa.
Annisa melirik egi yang saat itu pandangan mata egi terfokus memperhatikan romisa. Alis annisa terangkat melihat pemandangan tersebut.
Kenapa aku merasa ada yang tidak biasa dari tatapan s egi ke mbak misa. Dari sejak pertama mbak duduk dia terus memperhatikan dan menatap mbak dengan tatapan yang seperti nya ada ketertarikan. Ah, tapi masa sih s egi suka sama mbak yang jelas jelas kakak ipar nya.
Hah pikiran ku seperti nya sudah gila, kenapa aku bisa kepikiran sampe ke situ. Tidak mungkin lah cewek yang membuat s egi susah move on itu adalah mbak misa. Iya.. nggak mungkin, karena bagaimana pun mbak kan sudah menikah dengan kak arga.
__ADS_1
BERSAMBUNG...