Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bersiap Pesta


__ADS_3

Hari telah berganti. Pagi itu, setelah shalat subuh. Tanpa berdandan atau berpakaian gaun pesta. Keluarga besar putra segera bergegas untuk berangkat ke sebuah pulau tempat dimana pernikahan Sekertaris Tang dan Cesa di selenggarakan. Pulau yang akan di adakannya pernikahan itu, merupakan pulau pribadi milik keluarga putra dan jaraknya cukup jauh dari kota tinggal, keluarga putra menggunakan beberapa helikopter sebagai kendaraan untuk membawa mereka ke sana.


Beberapa helikopter yang membawa mereka, telah mendarat satu persatu secara berurutan dengan mulus di atap bangunan tempat diadakannya pernikahan. Mereka keluar dari dalamnya yang langsung di giring oleh bodyguard ke sebuah koridor untuk menuju ke ruangan khusus yang sudah di sediakan.


Annisa yang merasa ini pertama kali nya, melihat pernikahan semewah dan semegah itu, Ia terlongo memidai sekitar. Mata nya tak henti berbinar takjub, bibir nya tak henti memuji untuk setiap ruangan dan hiasan dekorasi yang di lewati nya.


Sekertaris Tang benar benar, luar biasa bisa mengadakan resepsi pernikahan yang semewah, dan semegah ini.


Pasti yang datang ke acara ini bukan orang orang orang biasa, dan bahkan tadi saat aku masih di helikopter melihat, jika di luar gedung sudah di penuhi wartawan dan orang orang yang berpakaian dari kalangan atas.


"Kita mau kemana mbak?" Heran Annisa, menatap Romisa di depannya yang membawa dirinya entah kemana, karena sedari tadi Ia berjalan di giring di koridor.


Romisa tersenyum lalu menggandeng lengan Annisa. "Kita mau di rias An an, masa ke pesta sekertaris Tang memakai baju santai seperti ini."


Annisa melihat penampilannya, yang memang hanya memakai gamis santai yang biasa di pakai di rumah nya.


Iya juga, tadi buru buru berangkatnya, jadi lupa ganti baju.


"Asyila, kak Arga, Ayah sama Fatih kemana mbak? Kok Annisa nggak lihat sejak tadi di pisahkan saat turun," bingung Annisa melihat ke belakang yang ternyata hanya beberapa bodyguard.


"Mereka sedang bersiap siap di ruangan lain, sekarang kita pun harus bersiap siap, kan acara nya sebentar lagi." Sahut Romisa masih menggandeng lengan Annisa.


Annisa ber-oh ria menjawab ucapan Romisa.


Benar juga, acara pernikahan semegah ini harus bersiap siap sebaik mungkin.


Romisa dan Annisa melewati pintu kembar geser otomatis, lalu masuk ke sebuah ruangan yang dimana di dalamnya sudah berjejer sekitar sepuluh pelayan dan seorang wanita cantik berambut panjang lurus yang memakai rok di bawah lutut namun terlihat anggun dan sopan, wanita itu terlihat seatas usia Romisa, Ia berdiri di tengah tengah pelayan yang menunduk membungkukkan setengah badan.


"Selamat pagi Nona Romisa, Nona Annisa," sapa wanita cantik itu, menunduk hormat.


Annisa terdiam hanya mengangguk kaku menatap mereka.


Kenapa aku merasa dejavu yah? Begitu banyak pelayan nya.


Romisa tersenyum ramah, menepuk pelan bahu Annisa. "Pagi, kak Aliya. Tolong lakukan yang terbaik yah," ucap Romisa.


Wanita cantik yang di panggil kak Aliya itu melirik Annisa dari atas sampai bawah, lalu beralih menatap Romisa dan akhirnya mengangguk, tersenyum. "Tentu Nona Romisa, saya akan melakukan yang terbaik untuk Nona keluarga putra."


Annisa melihat kak Aliya dan Romisa secara bergantian. Alis nya tertaut bingung.


Kenapa aku merasa mereka sedang merencanakan sesuatu?


"An an, mbak ke ruangan sebelah yah. Kamu akan di dandani oleh kak Aliya, jangan gugup dia perias muslimah terbaik di negeri kita, dan pasti hasilnya tidak akan mengecewakan," tutur Romisa menepuk pelan pundak Annisa, kemudian berbalik keluar ruangan, tanpa mau mendengar jawaban dari Annisa.


"Mbak! Mbak kenapa pergi?" Annisa menatap terbengong melihat pintu yang sudah tertutup rapat.


Perias terbaik? Dan kenapa harus berbeda ruangan untuk di rias nya? Aku pikir bakal satu ruangan melihat begitu banyak pelayan di sini.


"Nona Annisa, silahkan ikuti kami untuk melakukan perawatan awal." Instruksi kak Aliya menyadarkan Annisa ke dunia kenyataan.


Annisa berbalik, menatap ke Aliya dan tersenyum canggung masih berdiri mematung.


Perawatan pertama apa? Bukannya di rias tinggal di rias aja yah.


"Nona Annisa," panggil kak Aliya menyadarkan Annisa kembali.


"Eh, i..iya kak," gugup Annisa.


"Mari sebelah sini," menginstruksi dengan gerakan tangan untuk mempersilahkan Annisa agar mendekat.

__ADS_1


Annisa menghela napas pelan. Baiklah, ikuti saja. Dan dengan ragu melangkah maju mendekat ke hadapan para pelayan.


"Kalian, lakukan langkah pertama sampai tahap ketiga pada nona Annisa, dan kerjakan dengan baik," titah Kak Aliya pada dua pelayan.


Kedua pelayan itu mengangguk mengerti. "Baik nona," jawab keduanya, lalu melangkah maju dan mencekal lengan Annisa dari samping kiri dan kanan.


Annisa melirik bingung dan kaget, ke kedua pelayan itu. "Ini...ini kenapa harus seperti ini?"


"Mohon nona Annisa menurut saja," ucap Kedua nya, kemudian menggiring Annisa untuk menuju kamar mandi.


"Eh, ke...kenapa kalian membawa ku kesini?" Kaget Annisa karena di tarik secara kuat menuju pintu kamar mandi.


"Nona tolong kerja sama nya, mereka akan membantu membersihkan tubuh nona," ucap kak Aliya.


Annisa speechlees mengerjap beberapa kali, menatap kak Aliya. "Ma..maksudnya di...di mandikan?" Gagap Annisa menelan ludah nya kasar.


Kak Aliya tersenyum dan menganggukkan kepala. "Iya nona Annisa."


"Tidak perlu! Saya bisa mandi sendiri, tolong jangan macam macam kak," panik Annisa memasang siaga dengan kedua tangan di depan dada.


Kak Aliya tertawa pelan. "Baiklah nona, jika tidak mau melakukan perawatan layanan mereka, namun nona lihatlah ke dalam kamar mandi dan silahkan tetap membersihkan diri hanya di bantu dari luar oleh mereka."


Annisa yang sudah ada di ambang pintu kamar mandi, melongokkan kepala melihat ke dalam. Alis annisa berkerut, mata nya memidai isi kamar mandi.


Kenapa banyak kelopak mawar merah? Juga apa itu di bathub cairan warna putih dengan campuran bunga. Apa aku mau mandi kembang? Tapi cairan putih nya apa?


Kak Aliya mengisyaratkan mata pada kedua pelayan tadi. "Silahkan nona mandi susu, kami akan melayani nona di depan tirai." Ucap salah satu pelayan menunjuk ke dalam.


Annisa masih terpaku menatap ke dalam kamar mandi.


"Mandi susu? Melayani?" Beo Annisa melirik ke kedua pelayan.


Sejenak Annisa menatap ragu. Padahal aku sudah mandi di rumah... Annisa menghela napas pelan. Tapi ya sudahlah sepertinya akan sulit menghadapi mereka.


Annisa akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Di ikuti dua pelayan berdiri membelakangi di depan tirai.


Beberapa waktu kemudian.


Annisa telah selesai membersihkan diri. Ia menggunakan handuk kimono yang panjang nya di bawah lutut, juga handuk rambut membelit di kepala nya, Annisa melangkah membuka tirai di kamar mandi.


"Aaaa...," teriak Annisa kaget, karena melihat bukan dua pelayan saja yang berdiri membelakangi di balik tirai nya, tapi 7 orang pelayan berdiri berjejer menundukkan kepala.


"Ke...kenapa kalian ada di..di sini?" Kaget Annisa lemas.


Dua pelayan yang melayani nya tadi, berbalik dan maju melangkah mendekat di sisi samping kiri dan kanan Annisa. Mereka memakaikan handuk kimono berukuran besar yang sampai mata kaki ke tubuh Annisa untuk mendobel dengan handuk kimono yang sudah di pakai Annisa.


"Mau apa kalian?" Siaga Annisa.


Kedua nya mencekal cukup kuat lengan Annisa. "Maaf jika kami lancang, tapi mohon untuk nona kerja sama nya," ucap kedua nya, dan dengan gerakan cepat, kedua pelayan itu menyeret Annisa agar keluar dari kamar mandi.


Annisa berontak dari cekalan dan mencoba melepaskan diri. Namun karena diri nya memakai handuk kimono jadi merasa tidak leluasa bergerak. "Kalian mau apakan aku lagi!" Teriak Annisa.


Mereka tetap menyeret paksa Annisa yang kemudian di dudukkan di sebuah sofa tunggal.


"Kalau mau nyuruh duduk bilang dari tadi, jangan secara paksa kayak ginii, kalian membuat ku salah paham." Omel Annisa menatap geram ke salah satu pelayan yang mencekal nya tadi.


"Maaf nona," menundukkan kepala. Lalu kembali menengadah memberikan isyarat mata ke setiap pelayan yang mengelilingi Annisa.


Annisa kembali terdiam menatap parno pada sekeliling nya. Apa lagi yang akan mereka lakukan pada ku.

__ADS_1


"Lakukan!" Isntruksi salah satu pelayan.


7 pelayan yang mengelilingi Annisa tadi segera berhambur mendekat ke posisi nya masing masing mengkrubungi Annisa. Mereka langsung melakukan tugas nya untuk manicure pedicure, mengeringkan rambut, membuat henna, dan bahkan melakukan pijatan refleksi di bahu juga wajah Annisa.


Apa yang mereka lakukan? Ada apa sebenarnya ini?


Annisa hanya bisa pasrah, melihat sekitar nya, yang dimana kedua kaki, kedua tangan dan kepala tengah di kuasai oleh para pelayan.


Mata Annisa terpejam, gigi nya gemertak geram. "Mbaaak misaaa apa yang mbak perintahkan pada mereka!" Teriak Annisa menggema di ruangan.


Sementara di ruangan santai.


Romisa dan Arga, yang mendengar teriakan Annisa tertawa geli. Kedua nya telah memakai pakaian pesta dengan warna senada.


"An an pasti bingung dengan situasi saat ini," ucap Romisa yang sudah terbalut gaun pesta.


"Dia akan tahu setelah beberapa jam nanti," sahut Arga yang terduduk santai.


Fatih berlari ke ruangan santai. "Mama, Ada apa dengan Ateu cantik? Tadi Atih dengar suara teriakan. Pasti ada yang jahat pada Ateu, Atih cari Ateu cantik dulu," seru bocah kecil yang sudah mengenakan pakaian tuxedo berwana putih tulang.


Arga yang dekat dengan Fatih berdiri, Ia mencekal lengan Fatih. "Mau kemana kamu makhluk kecil, jangan mengganggu mereka."


Romisa mengulurkan tangan pada Fatih agar mendekat. "Sini Fatih sayang duduk sama mama."


"Ck, kenapa dia selalu di panggil sayang! Sedang kau tidak pernah memanggil ku sayang," Rajuk Arga sebal.


Romisa tersenyum dan tetap mengulurkan tangannya ke arah Fatih. "Sini."


"Nggak mau, Atih ingin cari Ateu cantik," Fatih menggelengkan kepala cepat dan tetap dalam posisi nya.


"Makhluk kecil, apa mau papa hukum? Kembali pada mama mu! Sudah untung kau di panggil sayang oleh mama mu!" Gertak Arga menatap kesal.


Fatih memberenggut sebal, menghampiri Romisa. "Papa jahat kayak singa, mata nya galak. Atih takut," celetuk Fatih memeluk Romisa.


Seketika Arga mendelik sebal menatap Fatih. "Kau bilang apa tadi? Papa mu kau bilang singa?"


Romisa menahan tawa nya, mengusap rambut Fatih yang kepala nya bersembunyi memeluk leher Romisa.


"Iya papa singa, papa galak kayak singa," ujar Fatih dalam pelukan Romisa.


Arga mengulurkan tangan menggelitik pinggang Fatih hingga membuat Fatih tertawa terbahak.


"Haha...ampun papa singa, ampun..,"


"Coba bilang sekali lagi, papa Apa tadi?" tanya Arga sambil terus menggelitik Fatih.


"Hahaha...ampun papa, papa singa, ampun hahaha," Fatih terbahak menggeliat kesana kemari dalam pelukan Romisa.


Romisa yang ikutan tertawa, memegang tangan Arga. "Suamiku, sudah cukup bisa kehabisan tenaga anak mu nanti," isntruksi Romisa menghentikan gelitikan Arga.


Arga berhenti menggelitik, tersenyum membenarkan dasi. "Dia mengataiku singa, romisa," rajuk Arga.


Romisa mengulas senyum geli, dan mengusap sisi wajah Arga. "Memang suamiku persis singa jantan," sahut Romisa dan beranjak berdiri menjauh dari Arga sambil menggendong Fatih.


"Romisa, kau sama saja seperti makhluk kecil," geram Arga ikut bangkit dari duduk nya hendak menerjang Romisa.


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2