Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 45


__ADS_3

Suasana begitu mencekam seakan mencekik tenggorokan gadis manis yang terduduk di kursi samping kemudi, sementara pria si pengeluar hawa dingin bercampur tegang itu tampak terdiam fokus mengemudi menatap lurus ke depan. Setelah Rika di seret keluar dari restoran yang langsung di suruh masuk ke dalam mobil.


Keduanya tak berbicara sepatah kata pun, hanya Rika sesekali melirik pada pria tampan di sampingnya dengan pikiran juga hatinya sudah di penuhi oleh tanda tanya menumpuk.


Banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan padanya? Tapi bagaimana pun aku sangat senang dengan kedatangan dia yang tepat waktu.


Mobil yang di tumpanginya telah melaju lambat dan akhirnya berhenti tepat di depan rumahnya. Rika yang masih menatap Jhon, ia mengalihkan pandangannya ke arah depan lurus.


Cepat sekali sampe nya? Aku kan belum bertanya apa pun. Gadis manis itu melepaskan seat belt bersiap untuk turun.


Sreet.


Jhon menurunkan kaca jendela mobil yang ada di sampingnya namun tetap menutup rapat kaca jendela di samping Rika. Lalu...


Klik.


Mengunci pintu mobil bagian samping Rika agar tidak bisa keluar.


"P-pak Jhon." Rika menoleh menatap heran. "Ke-kenapa di kunci?" tanyanya, namun tak dapat jawaban apa pun dari yang di tanya.


Keheningan dalam beberapa menit, dengan kebungkaman dari bibir keduanya sibuk dengan pikiran hingga akhirnya Jhon bersuara memulai obrolan.


"Maaf aku mengacaukan dinner mu, dan bahkan merusak lamaran dia." Terjeda sejenak, Jhon menatap gadis manis tersebut. "Apa kau akan menerima lamarannya, jika aku tidak mengacaukan?"


Sejenak Gadis manis itu tertegun diam, kemudian dia menatap lurus ke depan dengan kedua tangan memegang tas kecil di pangkuannya. Rika menghela napas pelan sebelum berucap. "Aku sangat berterimakasih dengan kedatangan Pak Jhon, karena jika tidak ada Pak Jhon saat itu, mungkin aku akan bingung untuk menolaknya."


"Aku tahu kau tidak akan menerimanya." Jhon mengusap puncuk kepala Rika dengan pelan dan tersenyum kecil. "Bisakah kau jangan memanggil ku dengan sebutan 'Pak' lagi. Panggil lah aku seperti biasanya."


Tersenyum tipis nan pahit. Rika menatap Jhon dengan tatapan dingin. "Kenapa aku harus memanggil mu seperti panggilan dari mantan calon istri mu itu? Apa karena aku mirip dengannya? Aku bukan Sanny...," putusnya terjeda sejenak, menghembuskan napas kasar dan menundukkan pandangan. "Jangan samakan aku dengannya, itu sangat menyakitkan."


"Akhirnya kau mengeluarkan pikiran bodoh mu." Tangan Jhon dari atas kepala turun menarik sebelah tangan gadis manis itu dan saling menautkan jemarinya. "Benar kata mu, kau bukan dia. Kau adalah kau, dia adalah dia. Kalian tidak sama, siapa yang bilang kau mirip dengan Sanny. Di lihat dari sisi mana pun kalian jauh berbeda, kau hanyalah gadis bodoh dan ceroboh sedang dia kebalikan dari mu."


Rika menarik tangannya dari genggaman tangan Jhon namun genggaman itu terlalu kuat hingga tidak bisa lepas, ia kembali menundukkan pandangan meremas kuat tas yang di pegang oleh sebelah tangan lain. "Iya aku memang bodoh." Ucapnya lemah, dan parau. "Tapi dia mengatakan semuanya tentang mu dan Sanny. Dan menceritakan kemiripan ku dengan Sanny."


"Humph...," mendengus dan tersenyum. Jhon mengusap pelan punggung tangan yang di genggamnya. "Kesukaan bisa saja sama, seperti Nona Annisa menyukai jus melon yang sama dengan kau. Kembar identik saja masih banyak perbedaannya meskipun wajah mereka sama, apa lagi kau dan Sanny. Wanita yang lahir dari rahim berbeda jelas berbeda. Jika ada kemiripan pun, itu masih di bilang hal wajar. Jadi jangan membebani otak bodoh mu dengan pikiran-pikiran aneh. Aku yang merasakan, jadi kau jangan mendengar apa kata orang lain kecuali ucapan dari mulut ku sendiri karena ini tentang dia, aku dan kau."


Rika menatap masih dengan alis tertaut penasaran. Ucapannya sama dengan kata Annisa. Namun dia tak kunjung bicara, hanya menatap dan bungkam.


"Gadis bodoh." Jhon memainkan jemari tangan Rika. "Pertanyaan di otak mu sudah terjawab bukan? Jadi bisakah kau memanggil ku dengan panggilan seperti biasanya?"


"Ah." Rika tertegun menatap diam. Benar, sudah tidak ada alasan lagi aku marah padanya, karena bagaimana pun hati ku tidak bisa membenci dia.

__ADS_1


Lalu dia tersenyum kecil melirik Jhon. "Jojo." Ucapnya, pelan nan jelas.


Seketika senyuman merekah di bibir pria tampan di hadapannya. Jhon menangkupkan tangan Rika ke pipinya untuk di usapkan ke wajah. "Aku senang kau mengatakan apa yang mengganjal di pikiran mu."


"J-jojo." Rika menarik tangannya, menundukkan pandangan menyembunyikan pipi nya yang sudah panas memerah merona tersipu malu serta debaran jantungnya sudah tak karuan. "Aku... sudah malam. Aku harus segera masuk."


Terkekeh geli, Jhon memajukan sedikit badannya sehingga membuat Rika memundurkan diri mentok ke senderan kursi. Pria itu mengambil sebuah kotak kue berukuran cukup besar dari kursi belakang. "Kau sepertinya sangat menikmati dessert tadi, makanlah." Meletakkan kotak kue itu ke atas pangkuan Rika.


Rika sedikit terlongo takjub, menelan ludahnya dengan kasar. Kemudian menatap Jhon dan tersenyum gugup. "Makasih, Jojo. Kamu tahu aku memakan dessert ini, berarti kamu datang sebelum kejadian cincin itu?"


Mengusap puncuk kepala Rika dengan gemas. "Benar, bahkan aku tahu saat si pria gila itu menyembur mu."


"Kamu...," menutup bibirnya yang terbuka sedikit dengan mata melebar. Jadi dia sudah ada di sana sejak awal.


"Jika kejadian memalukan itu nggak mau terulang lagi, maka jangan sampai aku melihat kau memakai jenis gaun seperti ini di depan pria lain." Menyeringai Jhon membukakan kunci pintu mobil.


Senyuman itu. Apa dia mengancam ku? Rika terpaku diam menatap tak berkedip. "Ba-baiklah." Gagap Rika hendak meraih handle pintu untuk keluar.


"Gadis bodoh." Jhon berucap menghentikan pergerakan tangan Rika.


Gadis manis itu menoleh. "Iya, kenapa?"


Jhon menghela napas pelan, kemudian tersenyum dan mengusap pipi lembut putih kemerahan yang sudah terasa panas dengan ibu jarinya, terlihat sorot matanya yang serius namun bibirnya bergetar untuk membuka mengeluarkan suara. "Aku me-"


Sebuah ketukan keras dari kaca mobil membuat Rika terlonjak dan menoleh ke arah jendela samping. Seketika mata nya melotot dengan mulut menganga. "P-Papa." Celetuknya.


Jhon mendesah kecewa menundukkan kepala dan memukul dashboard tengah. Aargh... gagal.


Rika beralih menoleh pada Jhon. "Jojo aku.. aku harus keluar sekarang, Papa... Papa-"


"Keluarlah, dan segera masuk ke dalam rumah." Menangkup sebelah sisi wajah dan mengusap lembut pipi Rika.


Rika mengangguk. "Ba-baiklah. Cepatlah pulang dan hati-hati di jalannya." Kemudian dia membuka pintu mobil dan keluar yang langsung di sambut wajah garang sang Papa.


Jhon tidak langsung tancap gas untuk pulang, tapi malah ikut menyusul keluar mobil, menghampiri anak dan bapak itu.


Pak Adi menatap sangar pada sejoli di hadapannya dengan kedua tangan di lipat di depan. "Ngapain kalian berduaan di dalam mobil dengan kaca gelap dan tertutup?"


Rika menundukkan kepala tak berani bersitatap langsung, tangannya sudah gemetar meremas tali pita pada kotak kue yang di pegangnya. "Ika... ika-"


"Masuk!" Sentaknya menunjuk ke arah pagar rumah, membuat gadis manis itu terperanjat. "Papa ingin bicara dengan pria yang tak tahu etika menghargai anak gadis ku." Tegas Pak Adi menatap tajam pada Jhon.

__ADS_1


Rika melirik cemas ke arah Jhon yang terlihat tenang. "Jojo kamu kan sudah aku suruh pulang, kenapa malah ikut keluar segala?" Bisiknya yang di balas senyuman kecil dan kedipan sebelah mata dari Jhon.


"Neng!" Sekali lagi Pak Adi menyentak dengan intonasi peringatan.


Rika menghela napas pelan, tanpa berkata lagi ia melangkah pergi ke arah pagar untuk masuk ke dalam rumah.


Sepeninggalan Rika.


Pak Adi masih menatap sangar, tajam menunjukkan kewibawaannya melewati raut wajah dan sikap tubuhnya. Sedangkan Jhon yang di hadapinya menunjukkan sikap tenang dan santai tanpa rasa takut atau tegang.


"Aku akan bertanya dan kau hanya cukup menjawab dengan jujur." Pak Adi berucap dengan nada dingin.


Mengangguk paham. "Saya tidak suka kebohongan sama seperti Om. Jadi apa yang akan Om tanyakan, saya akan menjawab apa adanya."


Pak Adi mendengus tersenyum kecil. "Kau sudah menyentuh apa saja pada bagian tubuh anak ku?"


"Pipi, tangan dan puncuk kepala."


Menyeringai mengangguk tipis dan mengusap dagu. "Di apain?"


"Di elus."


Sontak matanya melotot dan menatap tajam, pak Adi menghembuskan napas kasar, kembali menatap Jhon dengan penuh selidik. "Kau menyukai si Neng?"


"Eh," Jhon terdiam sejenak menghela napas pelan, ia menundukkan kepala menyembunyikan semburat rona merah di pipi nya. "I-iya." Gugupnya, lemah nan jelas.


"Kau sudah berani menyentuh anak gadis ku bahkan mengelus nya bukan menyentuh saja." Tutur Pak Adi, terjeda sejenak. Ia menepuk keras sebelah pundak Jhon. "Nikahi anak ku." Sambungnya tegas.


"Hah!" Kaget Jhon mengangkat wajah dengan mata melebar terkejut menatap bengong pada pria paruh baya di hadapannya. "Nik-nikah?"


Mengangguk mantap menepuk beberapa kali pundak Jhon. Pak Adi menyipitkan mata menatap menyelidik kemudian menyeringai.


Jhon menghembuskan napas kasar menundukkan kembali kepala nya. "Lamar juga belum bagaimana secepat itu Nikah?" Gumamnya yang masih terdengar jelas Pak Adi. Bahkan menyatakan perasaan pun gagal.


Menghela napas panjang, Pak Adi melepaskan pegangan tangan di bahunya. "Rupanya laki-laki pengecut, bahkan tidak berani melamar."


Lalu dia berbalik memiringkan kepala untuk melirik pria tampan yang masih mematung di belakangnya. "Sudahlah lupakan soal menikahinya. Aku tak akan menyerahkan anak gadis tersayang ku pada laki-laki tak bertanggung jawab dan pengecut seperti mu." Dan pak Adi berlalu pergi menuju pagar rumah.


Degh... bagai pukulan keras untuk harga diri Jhon. Tak bertanggung jawab? Pengecut?


Jhon mengangkat wajahnya menatap punggung tegap Pak Adi yang sudah melangkah pergi memasuki rumahnya. "Hah... gadis bodoh, kenapa Papa mu sangat to the point." Jhon berbalik berjalan pelan untuk memasuki mobilnya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2