Pejuang Move On

Pejuang Move On
Darah


__ADS_3

Di Minimarket Rumah Sakit.


Egi memilih minimarket rumah sakit yang berada di lantai 5 karena minimarket itulah yang paling lengkap dari minimarket yang lainnya di gedung itu.


Kaki Egi melewati pintu geser otomatis, dan berjalan ke arah rak khusus perlengkapan wanita.


Pembalut kewanitaan? Yang mana? Mendengar nama nya saja, baru kali ini.


Mata Egi terus menyeleng mencari benda yang di cari nya di antara susunan rak perlengkapan wanita. Diri nya yang di tinggalkan sang ibu masih saat kecil di tambah setiap perlengkapan kebutuhan nya yang selalu siap sedia oleh para pelayan rumah, kini Egi di harapkan Annisa untuk membeli benda yang padahal diri nya belum pernah mengetahui nya.


Pegawai wanita minimarket yang melihat gerak gerik Egi yang tampak bingung, pegawai itu menghampiri. "Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya nya.


Egi melirik sejenak, dan akhirnya kembali menatap susunan rak.


Jika aku meminta bantuan pada nya, akan terlihat sekali jika aku tidak pernah memperdulikan tentang kebutuhan Annisa.


Pegawai itu tersenyum ramah. "Jika tuan butuh bantuan, panggil saya saja. Saya berdiri di dekat sini." Ucap nya tanpa mendapat respon apa pun dari Egi.


Karena tidak mendapat jawaban atau pergerakan dari Egi. Pegawai itu menunduk salam, lalu berbalik dan berlalu.


Egi masih sibuk memidai setiap susunan rak yang ada di hadapan nya.


Aku tidak tahu ukuran yang di pakai Annisa, lebih baik aku membeli setiap ukuran.


Ia mengambil beberapa set celana dalam wanita dari setiap ukuran, dan mengambil beberapa pack bungkusan benda dari jajaran yang berbeda, yang dia pikir itu adalah benda yang di butuhkan Annisa. Lalu berjalan menuju kasir.


Meletakkan barang beli an nya ke atas meja kasir.


Kasir wanita itu tersenyum melihat benda yang di beli Egi dan menengadah menatap wajah Egi. "Buat istri?" tanya nya menatap terpesona oleh ketampanan Egi.


Egi menyodorkan kartu debit untuk membayar, tanpa menjawab pertanyaan pegawai itu dan memasang wajah dingin tanpa ekspresi.


Mata kasir wanita tersebut terus menatap terpana oleh ketampanan Egi, sedang tangan bergerak menyelesaikan transaksi. "Memang suami pengertian," ucap pegawai wanita itu kagum, sambil menyodorkan kembali kartu debit.


Egi menerima kartu debit nya kembali dan menyambar kantung plastik, lalu melangkah menuju pintu keluar.


Sepeninggalan Egi, beberapa wanita yang sebagai pegawai penjaga minimarket terus memandang kepergian Egi sampai hilang dari balik pintu, dan akhirnya saling berbisik bisik menggosip.


---------------------------


Egi memasuki kamar rawat Annisa, dan mengisyaratkan dua bodyguard yang di tugaskan nya di dalam kamar agar keluar.


Annisa tersenyum senang menoleh menyambut Egi. "Kau mendapatkan nya?" tanya nya yang melihat Egi membawa tentengan.


Egi mengangguk, berjalan menghampiri. "Tentu saja," ucap egi duduk di kursi hadapan Annisa, lalu menyodorkan kantung plastik.


Menerima kantung plastik, dan membuka melihat isi nya. Alis annisa mengkerut terlongo mengambil satu pack besar bungkusan. "Ini bukan pembalut Egi, tapi ini pampers. Kau pikir aku sudah melahirkan membelikan ku barang seperti ini." Seloroh Annisa menunjukkan satu pack pampers untuk ukuran orang dewasa.


Egi memiringkan kepala mengambil pack pampers. "Apa itu tidak bisa di pakai? Aku mendapatkan nya dari jajaran perlengkapan wanita," tanya nya.


Dia ini benar benar polos.


Annisa menghela napas pelan, meletakkan kantung plastik itu ke atas kasur. "Jelas tidak bisa egi... itu pampers, bukan pembalut. Jelas beda kegunaan nya," ucap Annisa menggerutu, lalu merangkakkan tubuh nya mendekat ke arah tombol untuk pemanggil perawat.


"Sudahlah, biar aku panggil perawat saja. Jika kau tidak tahu, jangan memaksakan diri membelikan ku...," oceh nya mengulurkan tangan hendak meraih tombol.


Belum sampai tangan annisa ke tombol itu, Egi mencekal lengan Annisa. "Aku bisa membelikan benda itu jika kau memberitahukan aku seperti apa bentuk nya, aku akan kembali ke sana... jangan memanggil perawat," cegah Egi.


Dasar bocah sangat keras kepala...


Annisa menoleh dan mendesah panjang. "Baiklah," pasrahnya. Lalu menengadahkan sebelah tangan. "Kemarikan ponsel mu," pinta annisa.


"Buat apa?" Bingung Egi sambil meletakkan ponsel nya ke atas telapak Annisa.


Mendapatkan ponsel Egi, Annisa segera mencari nama barang di google. "Menunjukkan barang nya, biar kau tidak salah lagi," sahut Annisa.


"Kenapa tidak dari tadi?"


"Karena ku pikir kau sudah tahu. Nah, seperti ini Egi, dan aku butuh yang ada sayap nya," tunjuk Annisa menyodorkan layar ponsel ke hadapan wajah Egi.

__ADS_1


Melihat gambar yang terpampang di layar ponsel, lalu kembali melirik Annisa. "Jadi benda ini yang kau butuhkan, baiklah aku kembali lagi ke sana." Ucap Egi beranjak dari duduk nya.


Annisa mengangguk kecil. "Semoga kali ini kau tidak mengecewakan ku lagi Egi, jika masih salah. Biarkan perawat saja yang membawakan untuk ku," tutur Annisa.


Egi tersenyum. "Kali ini pasti benar sayang," mengusap pipi Annisa. Lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar kamar.


Annisa menghembuskan napas panjang, melirik kantung plastik melihat isi nya kembali. "Bocah ini, setidak nya dia susah berusaha ingin memenuhi kebutuhan ku. Bahkan membeli celana dalam begitu banyak begini... hah. Mengapa begitu polos sekali suami bocah ku," gumam Annisa mengobrak abrik isi kresek.


Annisa melihat sprei putih yang di duduki nya. "Nah kan, bocor. Untung pakaian rumah sakit ini berwarna biru gelap jadi tidak terlihat," gumam nya lagi, lalu bangkit dan berdiri di samping ranjang, menutupi kasur dengan selimut..


Selang beberapa waktu.


Egi kembali lagi memasuki kamar, dengan membawa sekantung plastik berukuran besar yang entah apa saja isi nya.


Dia membeli apa saja sampe memakai kantung palstik jumbo.


Menatap heran ke arah Egi yang tengah berjalan menghampiri nya.


"Ka...kau membeli apa saja Egi?" tanya Annisa gagap.


Brak.


Egi menjatuhkan kantung palstik itu ke lantai, bawah kaki Annisa sehingga tampak lah isi dari dalam nya karena terbuka lebar. "Membeli benda yang kau inginkan," jawabnya lalu duduk di kursi.


Annisa terlongo begitu melihat isi dari kantung palstik, menutup mulut nya yang sedikit terbuka. "Ka...kau me..mebeli semua nya?" Menengadah menatap Egi.


"Iya, aku bingung harus membeli yang mana dan seperti apa yang cocok untuk mu." Bersedekap tangan di depan, menatap Annisa. "Karena ternyata pembalut kewanitaan itu banyak jenis dari berbagai macam merek, membuat ku pusing memilih nya," ucap nya.


Dengan gerakan perlahan, Annisa merunduk duduk berjongkok membongkar isi palstik. "Kau benar benar membeli semua nya dari berbagai merek. Apa kau mau berjualan Egi!" Mendelik sebal ke Egi.


Tersenyum dan mengusap wajah Annisa. "Jangan marah begitu, yang terpenting aku membelikan apa yang kau butuhkan sayang."


"Ta...tapi ini nama nya pemborosan egii! Mubadzir!" Geram Annisa sambil mengambil salah satu pack pembalut yang di pilih nya.


"Tidak akan mubadzir, itu persediaan untuk mu selama satu tahun," jawab Egi.


Annisa menggelengkan kepala beberapa kali. Mengambil plastik yang berisi celana dalam dan meraih botol infusan. "Ya, setidaknya ada stock untuk di rumah," gumam Annisa berjalan ke arah kamar mandi.


Egi menatap kepergian Annisa ke kamar mandi lalu melihat ke arah atas kasur. "Kenapa harus di ganti sprei segala? Dan memang ada ap...," ucapan Egi terhenti seiring pergerakan tangan nya terhenti.


Mata Egi melotot kaget melihat darah di sprei berwarna putih berada di bawah selimut yang di singkap nya. Beralih menatap ke pintu kamar mandi. "Annisa, Kau terluka!" Seloroh nya panik dan berhambur melangkah menuju pintu kamar mandi.


Tok...tok...tok.


Egi mengetuk cepat pintu kamar mandi. "Annisa! sayang kau terluka lagi?" Panik Egi.


"Egiii... diam! Aku baik baik saja," teriak Annisa dari dalam kamar mandi.


"Kau bohong! Buktinya di kasur ada darah nya. Buka pintu nya Annisa!" Terus menggedor gedor pintu kamar mandi dengan keras.


"Aku bilang aku baik baik saja Egi!" Sahut Annisa dari dalam.


"Cepat buka pintu nya! Sebelum aku memastikannya sendiri jika kau baik baik saja!" tegas Egi dan terus menggedor.


Jhon yang tengah tertidur lelap, mendengar keributan yang di buat Egi. Terusik dari tidur nya yang memaksa nya untuk ketarik ke kehidupan yang nyata.


"Hemm..., tu..tuan Egi. Ada apa malam malam bertengkar?" tanya nya dengan nada suara serak dan mengucek mata.


Egi menoleh ke Jhon. "Diam Jhon!" Sentak Egi ke Jhon. Lalu kembali menggedor pintu kamar mandi. "Annisa terluka lagi, tapi dia tidak mau membuka pintu dan ingin menyembunyikan luka nya dari ku," ucap Egi di sela ketukan tangan.


Seketika mata jhon yang semula setengah ngantuk melebar terkejut dan sontak bangkit mendudukkan diri. "Nona? Dia terluka lagi? Cepat panggil petugas medis tuan Egi! Dan dobrak pintu kamar mandi!" Ujar Jhon menyingkap selimut, dan beranjak dari duduk nya berjalan ke arah Egi.


"Kau yang tekan tombol darurat, biar aku yang dobrak pintu ini," instruksi Egi yang langsung di turuti Jhon.


Jhon segera berlari ke arah samping ranjang tempat tombol darurat. Dan tidak sengaja mata nya melihat darah di sprei ranjang Annisa. "Darah?" Kaget nya melotot lalu berhambur kembali ke arah Egi.


"Nona berdarah lagi? Apa yang terluka nya tuan Egi? Apakah kepala nya terluka lagi?" Pertanyaan beruntun dari bibir Jhon karena panik.


"Aku tidak tahu apa nya yang terluka karena dia langsung masuk ke kamar mandi dan melarangku menyingkap selimut itu," jawab Egi gusar, dan kembali menggedor pintu kamar mandi.

__ADS_1


"Pintu ini harus kita dobrak sekarang juga tuan," ucap Jhon.


Egi menatap sejenak ke Jhon, lalu beralih mengetuk pintu kamar mandi. "Annisa! Sayang cepat buka pintu nya!" tegas Egi.


"Diam! Egiii," teriak Annisa dari dalam.


"Jika kau tidak mau membuka nya, kami akan mendobrak pintu ini sekarang juga." Ancam Egi.


Dan tidak mendapat jawaban dari dalam.


Sejenak Egi dan Jhon saling pandang. "Apa nona pingsan di dalam?" Bingung Jhon karena tidak mendapat jawaban dari annisa.


"Kita dobrak sekarang Jhon." Instruksi Egi yang mendapat anggukkan kecil dari Jhon.


Kedua nya telah memasang kuda kuda untuk bersiap mendobrak dan tiba tiba...


Ceklek.


Pintu kamar mandi terbuka memunculkan Annisa yang terlihat baik baik saja, memegang botol infusan dan menatap kedua nya dengan tatapan heran.


"Sedang apa kalian?" tanya Annisa.


Serentak Egi dan Jhon berhambur mendekat ke Annisa.


Egi memeriksa semua bagian tubuh, dan memeriksa kepala annisa. Sementara Jhon hanya mengamati dengan pandangan seakan menusuk menguliti Annisa.


"Kau tidak terluka sayang?" tanya Egi sambil sibuk menangkup wajah dan menggerakkan kepala Annisa.


"Aku baik baik saja Egi. Kenapa kau dari tadi sejak saat aku masuk kamar mandi bertanya aku terluka saja? Memang nya ada apa?" Heran Annisa memegang sebelah tangan Egi yang tengah menangkup wajah nya.


"Bagaimana kita tidak cemas nona, di sprei ada darah. Itu artinya nona terluka," sahut Jhon cepat.


Annisa terpaku dan melirik ke kedua nya yang tampak memasang wajah panik dan kecemasan terhadap nya. "Itu...itu bukan darah luka Egi," ucap Annisa menunduk.


Alis Egi terangkat sebelah lalu saling pandang dengan Jhon. "Lalu," serempak kedua nya.


Kenapa mereka sangat polos? Bukannya si Egi sudah tahu jika aku sedang menstruasi, kenapa harus bertanya segala. Membuatku malu saja. Bahkan kak Jhon juga ikut terlibat.


Wajah Annisa merona malu, dan menundukkan pandangan. "Darah menstruasi ku," ucap Annisa pelan namun jelas


Jhon menutup bibir nya menahan tawa, dan memalingkan muka ke arah lain.


Sementara Egi masih menatap menyelidik ke Annisa. "Kau tidak membohongi ku Annisa?" tanya nya yang masih tidak percaya.


Annisa menggelengkan kepala pelan. "Tidak," lalu mendongak menatap Egi. "Dan aku sudah bilang pada mu jangan menyingkap selimut itu, kenapa kau singkap selimut nya?"


"Aku penasaran Annisa! Dan Apakah darah menstruasi bisa sebanyak itu?" tanya nya polos.


Puk...puk. Jhon menepuk bahu Egi beberapa kali. "Sepertinya tuan Egi harus tahu lebih dalam tentang wanita," ucap nya di akhiri tawa.


Egi mendelik sinis ke Jhon. "Diam kau Jhon!" Ketus nya.


Dan bersamaan itu...


Ceklek.


Pintu kamar rawat Annisa terbuka. Memunculkan dokter Erika dan dua perawat wanita memasuki kamar dengan wajah panik.


"Dimana nona Annisa? Kami mendapat peringatan panggilan darurat dokter," tanya dokter Erika menatap Jhon dan Egi secara bergantian karena tidak mendapati Annisa.


Egi dan Jhon terdiam menatap terpaku.


"Ekhem...," dehem Egi memecah kecanggungan. Lalu menggeser posisi berdiri nya sehingga memperlihatkan Annisa yang berdiri tertutupi tubuh Egi.


"Eh, dokter," sapa Annisa tersenyum ramah.


Alis dokter Erika menaut heran, melihat keadaan Annisa yang terlihat baik baik saja. Bahkan bisa tersenyum manis. Kemudian beralih menatap Egi dan Jhon yang tampak membuang muka ke arah lain.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Sempatkan Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...


__ADS_2