
Annisa telah selesai melaksanakan shalat dzuhur. Setelah menyuapi dan meminumkan obat ke egi, annisa ikutan memakan makanan nya.
Sementara egi tertidur kembali hingga sekarang ia masih setia memejamkan mata nya dengan napas teratur di atas ranjang.
Menatap egi yang terlelap pulas di atas kasur.
Annisa mendekati dan duduk di kursi kecil dekat rajang. Lalu Ia menempelkan telapak tangan nya di atas dahi egi untuk memeriksa demam nya.
Bernapas lega. "Syukurlah demam nya sudah tidak setinggi tadi, dan wajah nya juga tidak sepucat tadi pagi. Sebaiknya aku ke dapur untuk menyiapkan makan siang, karena kan dia dari tadi mengigau terus gak jelas ingin memakan kimbap dan jus. Lebih baik aku memasakkan nya sekarang mumpung dia masih tertidur." Ucap annisa dan beranjak dari duduk nya membereskan alat makan yang berserakan di atas meja sofa ke nampan.
Annisa keluar dari kamar egi dengan mendorong troli berisi alat makan kotor bekas makan egi dan diri nya tadi, ia hendak menuju dapur.
"An an." Panggil seseorang yang annisa sangat kenal dari arah belakang.
Annisa menoleh yang mendapati romisa bersama cesa berdiri tidak jauh dari nya.
"Mbak misa," sahut annisa menghampiri.
Romisa dan annisa cipika cipiki sebagai sambutan temu kangen. "Bagaimana keadaan nya egi? Mbak denger dia tengah jatuh sakit," tanya romisa.
Memegang kedua tangan romisa. "Dia hanya terkena demam saja, dan sekarang tengah istirahat di kamar." Jelas annisa.
"Syukurlah, maaf mbak tidak bisa menjenguk nya sekarang. Karena suami mbak tidak mengizinkan jika menjenguk tanpa diri nya, jadi mungkin nanti sepulang dia, baru bisa menjenguk nya." Tutur romisa.
"Tidak apa mbak, tenang saja kita kan serumah jadi mau malam atau pagi, kan tidak masalah."
Tersenyum dan mengusap pipi annisa. "Mbak kangen sama kamu An. Kenapa selama di kesibukan mu tidak menyempatkan menghubungi mbak atau datang kemari An?"
"Maafkan Annisa mbak, karena terlalu sibuk annis tidak sempat berkunjung. Dan soal menghubungi mbak, annisa lupa jika nomer mbak tidak ada di kontak."
Mengangguk paham dan tersenyum.
"Nona." Panggil cesa yang sedari tadi diam memperhatikan kedua nya.
"Sudah waktu nya nona meminum vitamin dan suplemen," ucap nya mengintruksi.
Romisa menoleh ke cesa lalu beralih menatap Annisa kembali. "An an, mbak mau ke kamar lagi yah. Kamu mau kemana sekarang?"
"Annisa mau ke dapur mbak, mau membuatkan makanan untuk egi." Jawab nya.
"Ya sudah sebaik nya mbak kembali lagi ke kamar, dan jaga keponakan Annisa dalam perut mbak." Sambung annisa mengusap perut buncit romisa.
"Pasti An an. Hati hati memasak nya An." Ucap romisa tersenyum sebelum melangkah pergi.
Annisa mengangguk mengiyakan.
Setelah melihat romisa dan cesa hilang di balik pintu kamar, annisa mendorong troli dan melangkah kan kaki nya kembali untuk menuju dapur.
__ADS_1
Seperti biasanya annisa akan memasak di bagian dapur samping karena di dapur utama sedang di gunakan oleh para koki.
Sesampai nya di dapur, annisa mulai di sibukkan dengan peralatan dapur untuk menyiapkan makan siang yang di minta egi.
---------
Dan selang beberapa waktu kemudian.
Di dalam kamar Egi.
Egi mengerjapkan mata nya perlahan, menggerakkan kepala pelan lalu melirik sekitar nya.
"Uh.. hmm.. aku ternyata di kamar. Kapan aku di bawa kemari, bukannya tadi pagi aku akan menemui s brandal," ucap egi dan dengan gerakan pelan bangkit dari tidur nya untuk menyender ke kepala ranjang.
Alis nya berkerut dan memegangi kepala yang masih terasa pening. "Hah bermimpi dengan s brandal membuat kepala ku sakit," ucap nya. Dan tersadar melirik tangan nya yang di infus.
"Kenapa tangan ku benar benar di infus? Bukannya tadi hanya mimpi saja, apa semua itu..." teridam sejenak memikirkan kenyataan dan mengingat kejadian yang terjadi pada diri nya.
"Jika itu bukan mimpi, berarti kejadian tadi pagi.. hah sungguh memalukan jika benar nyata. Tapi kemana dia sekarang?" Mengedarkan pandangan nya ke setiap sudut kamar untuk mencari annisa.
Ceklek.
Pintu kamar egi terbuka. Seketika egi mengalihkan pandangan nya dan terjatuh pada sesosok yang di cari yaitu annisa yang tengah mengangkat sebuah nampan cukup besar di kedua tangan sebagai penyangga nya.
Jadi benar kejadian tadi pagi adalah nyata bukan mimpi. Memalukan sekali, bagaimana aku harus bersikap pada nya sekarang.. pasti dia akan mengejek ku dan meledek bahwa aku benar benar seorang bocah ingusan.
Tersenyum manis dan duduk di kursi kecil dekat ranjang. "Rupa nya kau sudah bangun, bagaimana masih pusing kepala nya?" Tanya annisa lembut.
Egi masih menatap dingin pada annisa dan alis nya berkerut bingung.
Melihat respon egi, "biar ku periksa," ucap annisa lalu menempelkan satu telapak tangan nya ke dahi egi juga satu nya ke dahi nya sendiri untuk menyamakan suhu tubuh.
Sedang egi masih memasang wajah tanpa ekspresi mengamati, apa yang di lakukan annisa pada nya.
"Syukurlah, suhu badan mu sepertinya sudah sama dengan ku, jadi artinya sudah normal," ucap annisa.
"Kapan kau kemari?" Pertanyaan itu meluncur dari bibir egi membuat annisa sedikit terpaku dan memicing mata nya heran.
Menghela napas. "Kau ini hilang ingatan atau pura pura linglung. Kau sendiri yang menculik ku kemari, masih tanya kapan aku kemari. Dasar aneh," ucap annisa.
Memasang wajah heran, "menculik mu? Hah tidak mungkin, aku akan melakukan hal seperti itu. Kau mengarang!!" Seloroh egi.
Dia ini kenapa sih, aneh banget. Seperti baru bangun dari koma saja, dia kan hanya sakit demam kenapa sampai lupa begini..
"Dih!!" Membuang muka ke arah lain dan tersenyum kecil, "buat apa juga aku mengarang cerita, jelas jelas kau yang menarik paksa tangan ku untuk memasuki mobil dan sekarang aku sudah di sini, kau masih saja tidak mengaku." Ketus annisa.
Tersenyum miring. "Benarkah, aku tidak ingat pernah melakukan hal seperti itu pada mu," ucap egi masih tidak mau mengaku, padahal jelas dia mengingat nya.
__ADS_1
Benar benar deh nih bocah jika sudah sehat nya, pasti bikin darting ku kumat..
Mendelik sinis ke egi. "Ya sudah jika tidak ingat, tanyakan saja pada pak supir yang kau bawa waktu menculik ku, jika kau tidak percaya." Ketus annisa, dan bangkit dari duduk nya.
Menarik sebelah tangan annisa. "Mau kemana kau?" Tanya egi dengan nada tajam.
Annisa menoleh ke egi. "Bukannya kau tidak menginginkan aku ada di sini, jadi aku mau kembali lagi ke asrama," jawab annisa dan hendak melepaskan pegangan tangan egi.
Belum tangan nya terlepas dari cekalan, egi menarik kuat tangan annisa sehingga terjatuh dan terduduk di pangkuan nya.
"Egii..." pekik annisa karena kaget di tarik tiba tiba.
Pandangan mata kedua nya bertemu dan saling pandang sejenak.
Degh...degh.. jantung kedua nya berdetak sangat cepat saling bersahutan.
Kenapa jantung ku berdetak tak karuan lagi.
Dan. 'Glek' egi menelan ludah kasar.
Tersadar dengan posisi nya annisa menurunkan tangan nya yang berada di kedua pundak egi. "Apa...apa yang kau lakukan egi.." ucap annisa di hadapan wajah egi.
Tersenyum miring. "Apa yang ku lakukan? Seharusnya pertanyaan itu aku ajukan untuk mu, apa yang sedang kau lakukan di pangkuan ku? Apa kau sedang merayu ku brandal? " Goda nya.
Seketika ada rona merah di kedua pipi annisa, dan segera Ia bangkit dari duduk nya dan merapihkan pakaian nya lalu annisa mendelik menatap egi sinis.
"Kau.. kau sengaja menarik ku agar duduk di pangkuan mu," geram annisa.
"Buat apa aku sengaja menarik mu, aku menarik mu karena kancing lengan baju ku terkait di gelang tangan mu, maka nya aku menarik cukup kuat tadi." Alasan egi.
Lebih baik aku menghindar sejenak dari nya... lama lama di sini semakin di bikin jengkel saja oleh sikap nya, dan... hah kenapa aku bisa merasa gugup dan malu seperti ini..
"Dih, sudah jelas jelas kau menarik ku dengan sengaja. Sudahlah capek berdebat dengan mu," ucap annisa dan kembali berbalik hendak menuju sofa.
"Kau mau kemana!!" Teriak egi menggema di ruangan kamar.
Menoleh dan menatap egi. "Sudah ku bilang aku akan kembali ke asrama," jawab annisa dan berbalik kembali.
Annisa menyembunyikan senyuman nya saat mengambil tas gendong di atas sofa tunggal,
"Jangan pergi.." ucap egi karena melihat annisa mengambil tas gendong nya.
Cih!! kau bilang begitu, tapi akhirnya tetap mengusir ku.
Namun annisa tidak menggubris ucapan egi. Dan setelah mengambil tas nya, annisa berjalan ke arah yang menuju pintu keluar.
Egi yang melihat annisa hendak melangkah ke arah pintu keluar. "Aku bilang jangan pergi.." teriak keras egi sukses membuat langkah kaki annisa terhenti dan berdiri terpaku di tempat nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...