Pejuang Move On

Pejuang Move On
Di Jenguk 2


__ADS_3

Di luar kamar.


Jhon menghampiri Rika, menghela napas pelan dan masih menatap dingin.


"Kau kembali pada posisi." Instruksi nya pada bodyguard penjaga pintu lift.


Bodyguard itu menunduk hormat dan berbalik berlalu.


Jhon menatap Rika yang sama sama tengah menatap nya. "Anda masuk, Nona telah menunggu," titah pada Rika.


Rika mendengus sebal, dan melangkah melewati Jhon untuk masuk kamar inap Annisa.


Jhon menggeleng beberapa kali. "Wanita aneh," umpat nya, lalu melirik salah satu bodyguard yang berdiri tidak jauh dari pintu. "Berikan perintah ke ruang pengawas, untuk menyalakan kamera cctv di kamar inap nona dan penyadap suara juga, sambungkan ke ruang privasi," titah Jhon yang di balas anggukkan kecil dari bodyguard itu, setelah nya Ia menyusul mengikuti masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar.


Annisa tersenyum ceria menyambut Rika yang memasuki kamar. "Rika," panggil Annisa.


Rika tersenyum senang ke arah Annisa, dan melirik Egi yang ada di samping Annisa. Seketika senyuman di bibir Rika memudar, dan langsung menunduk hormat sebagai salam. "Maaf kedatangan saya mengganggu waktu anda, tuan Egi, saya Rika sebagai teman Nona Annisa berkunjung untuk melihat keadaan nya, dan maaf jika saya lancang datang dalam keadaan seperti ini," ucap nya sopan.


"Eh...," Alis Annisa berkerut heran, menatap Rika yang tampak formal.


Ada apa dengan nya? Kenapa dia sangat sopan sekali? Bahkan memanggil ku Nona.


Egi mengangguk kecil menyambut salam dari Rika. Lalu kembali menoleh ke Annisa. "Kau habiskan waktu santai pagi dengan teman mu. Aku keluar dulu sebentar, ingat habiskan sarapan mu juga," tutur Egi yang mendapat anggukkan kepala dari Annisa.


"Tapi kau juga belum habis sarapan nya," sahut Annisa memegang tangan Egi.


Menangkup wajah Annisa dengan sebelah tangan. "Sarapan akan ku teruskan di luar nanti bersama Jhon," Egi beranjak dari duduk nya dan mengecup puncuk kepala Annisa. Kemudian berjalan ke arah pintu keluar, Ia memberikan isyarat mata ke Jhon yang masih berdiri di belakang Rika, agar mengikuti nya.


Jhon yang mengerti, segera berputar arah melangkah mengikuti langkah kaki Egi yang membawa nya keluar kamar.


Sepeninggalan Jhon dan Egi.


Rika yang masih menundukkan kepala, mengangkat wajah nya, dan segera berhambur berjalan ke arah Annisa. "Umii," ujar nya memeluk tubuh Annisa.

__ADS_1


Annisa membalas pelukan Rika. "Ada apa dengan mu Rik? Kenapa tadi bersikap formal terhadap suami ku? Bahkan memanggilku dengan sebutan Nona. Kau tidak sedang latihan drama kan?" tanya Annisa bingung.


Rika melepaskan pelukan nya, tersenyum cengengesan dan duduk berhadap hadapan ke annisa. "Aku sudah tahu semua nya tentang suami mu yang ternyata seorang tuan muda dari keluarga konglomerat, dan tentang sikap nya yang dingin, anti sosial, bisu jika pada orang tak di kenal. Maka nya aku bersikap formal tadi, jika saja aku tidak bersikap seperti itu bisa di usik aku dan keluarga ku oleh suami mu Nis," cerocos Rika menjabarkan Egi.


Mata Annisa sedikit melebar tak percaya menatap Rika. "Ka..kau tau semuanya dari siapa?" tanya nya memicing menyelidik.


Rika mengalihkan pandangan ke arah lain. "Dari si banci," sahut Rika cepat.


Alis Annisa semakin menaut bingung, mencari siapa yang di sebut banci oleh Rika dari otak kepala nya, namun tidak mengingat siapa pun. "Banci? Siapa?"


"Nis ini menu sarapan nya lengkap banget, aku juga kebetulan belum sarapan," ucap Rika melihat ke arah troli makanan.


Annisa menghela napas pelan. "Ambillah sesuka mu Rik. Dan jawab pertanyaan ku siapa si banci itu?"


"Wah makasih Nis," antusias Rika mengambil bagian piring yang berisi waffle selai strawberry dari atas troli makanan. "Si Ray penipu, yang kata nya bartender ternyata seorang manajer," jawab nya sambil memotong dan menyuapkan waffle yang ada di pangkuan nya ke mulut.


Annisa manggut manggut mengerti, karena memang diri nya sudah mengetahui tentang bisnis Egi. "Kau datang menemui nya Rik?" Annisa mengambil mangkuk bubur untuk melanjutkan sarapan.


Mengangguk kecil. "Berkat dia juga aku bisa lolos dari para bodyguard yang ada di lantai ini, namun sayang diri nya tidak bisa datang menjenguk mu karena di beri pekerjaan berjibun oleh suami mu juga di larang keras menginjakkan kaki nya kemari," ucap Rika, menggigit kembali menyuapkan waffle ke mulut nya.


"Salahnya dia pernah menaruh hati pada mu, itu pengakuan si banci. Dan Kau tahu Nis, memang benar ternyata datang ke lantai ini begitu menyulitkan dan menegangkan bagiku. Aku baru sampai keluar dari lift saja, sudah di hadang oleh para pria yang berwajah tanpa ekspresi dan berjas rapih yang berjejer mengintrogasi ku, dan berkat si banci menelpon berbicara dengan salah satu dari mereka, baru deh aku di izinin lewat. Dan sial nya lagi, pas pintu masuk kamar mu, ketemu orang yang tak kalah menakutkan raut wajah nya, tapi dia ganteng juga yah... jadi saat memandang nya tadi antara malu antara mau," tutur Rika tersenyum membayangkan kejadian, sambil mengunyah makanan nya.


Annisa mencerna mendengarkan penjelasan Rika sembari memakan bubur nya.


Kenapa si Egi sampai menetapkan penjagaan seketat itu pada ku. Dan sepertinya si rika terpesona oleh kak Jhon...


"Kak Jhon maksud mu?"


"Jadi orang berwajah dingin versi suami mu itu, Jhon nama nya. Bagus juga nama nya, setampan wajah nya," ucap Rika dan sibuk memakan waffle. "Gila waffle ini enak banget Nis, boleh bungkus nggak nih?" guyon Rika mengalihkan topik pembicaraan.


Annisa menyuapkan bubur ke mulut nya, lalu memegang lengan Rika. "Rik, kau tidak marah pada ku soal semua yang ku sembunyikan dari mu?"


Rika menghabiskan suapan terakhir waffle di piring nya, lalu setelah mengelap bibir nya dengan tisue, Ia memegang kedua bahu Annisa agar terarah pada nya.


"Aku marah pada mu Nis, tapi bukan marah karena soal kamu menyembunyikan identitas suami mu, soal itu aku memakluminya jika aku berada di posisi mu juga akan melakukan hal yang sama... Aku marah karena saat kamu punya masalah sampai mengancam nyawa mu seperti ini, kamu tidak pernah cerita apa pun pada ku, aku ini teman mu bukan? Kenapa begitu banyak rahasia mu terhadap ku Nis?" Cerocos Rika kesal.

__ADS_1


Glek.


Annisa menelan bubur di mulut nya sekaligus. "Ma...maaf," celetuk Annisa menunduk. "Aku juga tidak tahu jika orang yang bernama windi ini akan berbuat seperti itu pada ku. Padahal aku tidak pernah mengusik siapa pun di sekitar ku," tutur Annisa.


Rika menghela napas panjang, menepuk pelan bahu Annisa. "Kamu pernah bilang pada ku, jika orang baik saja bisa berubah jadi rubah licik bersikap ular yang siap mematuk kapan saja, seperti kak Alan dan si windi windi itu, mungkin mereka bersikap baik di depan mu hanya ingin mencari kelemahan." Melepaskan pegangan di bahu Annisa dan mengalihkan wajah ke arah lain.


"Tapi jangan samakan aku dengan mereka Nis. Karena aku tulus menyayangi mu sebagai teman bahkan sudah ku anggap keluarga," lanjut nya dengan nada rendah.


Annisa memegang jemari Rika. "Aku tidak pernah mencurigai mu Rik," ucap Annisa.


------------------------------------


Sementara di sebuah ruangan privasi.


Egi dan Jhon terduduk di sofa sambil menikmati sarapan pagi. Mulut kedua nya sibuk mengunyah sementara mata mereka memandang fokus ke layar tv, yang menampilkan Annisa dan Rika tengah bercengkrama.


"Jika di lihat dari gerak gerik dan pembicaraan mereka, sepertinya teman Annisa ku, tidak mencurigakan yang menampak kan tanda bahwa dia akan mengkhianati dan melukai Annisa ku," tutur Egi menyesap kopi di cangkir dan fokus memperhatikan interaksi Annisa dengan Rika.


Jhon menyuapkan satu sendok greek yogurt ke mulut dan mengangguk kecil. "Memang benar, dan saya pernah menyelidiki wanita yang bernama Rika itu. Dia memang tulus berteman dengan nona tidak ada niat jahat tersembunyi, hanya dia bukan berasal dari keluarga yang berstatus tinggi, tapi melihat dari keluarga dan profil nya yang sederhana kemungkinan tidak akan ada pengkhianatan terhadap nona Annisa."


Egi meletakkan cangkir kopi menatap Jhon. "Jika kau sudah mengetahui bahwa wanita itu adalah teman Annisa. Kenapa kau sampai menahan nya di depan pintu?"


"Ekhem," dehem Jhon menelan yogurt yang tersisa di mulut nya. Lalu melirik layar kaca kotak itu. "Saya tidak bisa menebak langsung wajah wanita itu, karena di lihat dari foto foto yang saya dapat saat itu. Wajah nya sungguh berbeda dengan yang sekarang. Di foto dia terlihat sangat cantik bahkan bagai idol korea, tapi aslinya...," menggelengkan kepala beberapa kali. "Jauh dari ekspektasi."


Egi terkekeh menahan tawa nya dengan menutup bibir. "Tapi setidaknya kau pernah terpesona oleh nya saat itu." Mengambil piring berisi pancake oat.


Mengangguk. "Iya, hanya terpesona bukan berarti jatuh menyukai nya. Sayang nya, keterpesonaan itu sirna saat melihat yang aslinya. Memang benar orang orang bilang, jika kamera zaman sekarang itu sangat jahat," kecewa Jhon lalu meminum air putih.


Egi tersenyum mengejek dan mulai sibuk memotong pancake untuk di suapkan ke mulut nya. "Seperti pancake ini, terlihat sangat enak dan cantik, tapi setelah di icipi rasa nya jauh berbeda dari pancake yang di buatkan istriku, yang jelas pancake buatan istri ku terlihat sederhana namun di balik kesederhanaan nya ada rasa yang sangat luar biasa nikmat dan tidak pernah mengecewakan lidah ku untuk mencecap rasa nya," tutur Egi yang dramatis membayangkan saat menikmati pancake buatan Annisa.


Jhon berdecak sebal. "Ck!, begini nih pasangan yang lagi kasmaran." Ledek nya, dan kembali menatap layar tv. "Lihatlah wanita itu, di depan nona Annisa bisa bersikap tak tahu malu, langsung memakan sarapan bahkan mengobrol dengan ceria seperti itu. Tapi saat ada tuan Egi, mengangkat kepala nya saja dia tak mampu," ucap Jhon tertawa kecil menutup bibir nya. "Sungguh wanita aneh."


Egi melirik Jhon dan tersenyum miring, kemudian memfokuskan kembali memakan pancake.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...


__ADS_2