
Hari sudah memasuki siang hari. Adzan dzuhur pun telah berkumandang beberapa waktu lalu. Namun pesta pernikahan di dalam gedung itu masih berlangsung, para tamu dari kalangan atas, rekan bisnis sampai para artis terkenal terus berdatangan untuk menikmati pesta dan mengucapkan selamat, pada kedua sejoli yang tersenyum bahagia di atas panggung pelaminan. Para tamu mengantri berjejer di bawah panggung pelaminan, hanya untuk bersalaman dan mengucapkan selamat pada kedua pengantin itu.
"Egi, bisakah kita ke belakang sebentar," keluh Annisa mencengkram lengan Egi yang tengah di rangkulnya.
Egi yang tengah berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya, menghentikan dengan sopan. kemudian Ia menoleh ke Annisa. "Kau sudah bosan di sini sayang?"
"Hemm, aku ingin ke tempat yang tenang sementara," Annisa memasang senyuman penuh isyarat ke Egi.
Egi mengusap punggung tangan Annisa dengan lembut. "Sekarang kita keluar dari sini," ucap Egi menggenggam jemari Annisa.
"Tapi... tak apakah di tinggal, lihatlah mereka masih berdiri berjejer?" Annisa melirik pada para tamu yang menatap ke arahnya.
"Biarkan saja mereka menunggu, kita yang punya pesta bukan mereka," jawab Egi, kemudian menekan salah satu tombol di jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya. "Jhon, amankan jalan untuk ku dan Annisa untuk keluar dari aula." Instruksi Egi berbicara pada benda bulat itu.
Beberapa saat kemudian.
Jhon melangkah mendekat ke arah kedua nya. "Silahkan tuan Egi dan Nona Annisa," ucap Jhon dengan gerakan tangan menunjuk ke arah jalan yang sudah di amankan oleh para bodyguard.
Egi menatap penampilan Annisa dari atas sampai bawah. "Mau ku gendong keluar," tawarnya.
"Ti...tidak perlu, aku bisa jalan sendiri," tolak Annisa hendak melangkah ke arah jalan.
"Jhon, kau awasi di belakang ku!" Egi memerintah lalu menggenggam jemari Annisa, dan merangkul pinggang Annisa untuk menuntun langkah kaki nya.
"Genggam tangan ku yang erat sayang, akan sulit kau melangkah dengan gaun seperti ini," bisik Egi.
Annisa menoleh menengadah menatap Egi.
Dia sangat pengertian, Egi ku telah tumbuh dewasa sekarang.
Kedua nya berjalan beriringan di atas red karpet, dengan di giring Jhon di belakang dan dari depan untuk mengamankan para wartawan yang ingin mengambil gambar.
Kini Annisa dan Egi telah keluar dari aula tempat resepsi di adakan, dan kedua nya tengah berjalan di sekitar koridor.
"Annisa," panggil seorang wanita dari pintu yang sama bersama seorang pria.
Annisa dan Egi menoleh ke arah suara. Ia tersenyum senang menatap sahabatnya yang tengah menghampiri mendekat ke arahnya. "Rika..," girang Annisa salam peluk pertemuan.
Sementara Ray merangkul, dan menjabat tangan Egi.
"Selamat yaa Nis, aku ikut bahagia," ucap Rika menggenggam tangan Annisa.
Annisa mengangguk, lalu melihat penampilan Rika. "Jadi kamu beli gaun ini untuk datang ke pesta ku?" tanya Annisa yang di balas anggukkan kepala oleh Rika.
"Sama siapa kamu ke sini?" Annisa bertanya kembali.
Rika melirik ke arah Ray yang sudah berada di hadapan Egi tengah mengobrol.
Ray yang melihat percakapan Annisa dengan Rika telah selesai, beralih menatap Annisa. "Kau cantik sekali bidadari tak bersayap," ucap Ray, lalu menyenggol lengan Egi. "Beruntung sekali lo bro."
Annisa hendak bersuara namun gerak bibirnya langsung keduluan Egi.
Egi merangkul bahu Annisa. "Kenapa lo bisa ada di sini? Seharusnya lo ikut pesta di ruang utama."
"Gue mau ngucapin ucapan pada kalian berdua, tapi di depan susah amat dah gue mau antri nya, panjang amat, jadi ya sudah cari aman saja di sini," Ray menjawab dengan terus memandangi wajah Annisa.
"Ck," decak Egi dengan posesif merapatkan rangkulan di bahu Annisa. Dan...
Plak.
Egi menimpuk kepala Ray cukup keras. "Sudah puas lihatinnya," tegur Egi.
Ray mengusap kepala nya. "Belum puas," jawab Ray membuat Egi semakin geram.
"Kalian datang bersama?" tanya Annisa mengalihkan kegeraman Egi.
Rika mengelengkan kepala cepat. "Tidak, aku undangan di kasih pak Jhon. Dan datang di jemput orang dari keluarga tuan Egi, kalau kesini bareng itu karena kebetulan bertemu di tempat pesta tadi."
Egi mencengkram cukup kuat pundak Annisa dan memberikan isyarat mata.
Annisa yang mengerti maksud isyarat yang di tunjukkan Egi, Ia tersenyum, meraih jemari Rika. "Rik maaf jika aku tidak bisa terlalu lama mengobrol. Kamu nikmati pesta nya dulu...," ucapan Annisa terhenti.
__ADS_1
"Iya tidak apa Nis, aku mengerti. Kamu butuh istirahat," sela Rika memotong maksud ucapan Annisa. Lalu beralih menatap Egi sejenak dan menundukkan kepala setengah membungkuk hormat. "Maaf telah mengganggu waktu tuan Egi, saya hanya terlalu senang melihat sahabat saya bahagia. Dan semoga tuan Egi selalu menjaga nya," tutur Rika sopan.
Egi tidak menjawab hanya memberikan tatapan tak terbaca dan anggukkan kecil.
Ray yang tahu situasi saat ini, Ia tersenyum canggung. "Baiklah, kita permisi dulu bro, Nis... mau balik ke pesta lagi, banyak makanan enak di sana bisa sia sia kita datang tanpa icipi," ucap Ray, mencolek bahu Rika agar mengikuti nya.
"Titip Rika yah Ray, dia tidak tahu orang orang di sini."
Ray tersenyum dan mengangguk. "Beres bidadari tak bersayap," ucap Ray, memberikan senyuman arti pada Egi lalu berbalik, di ikuti Rika yang sudah berpamitan pada Annisa.
Sepeninggalan kedua nya. Annisa dan Egi kembali melanjutkan langkah kaki nya. Namun baru beberapa langkah...
"Nona Annisa," panggil Jhon, yang baru keluar dari aula.
Annisa dan Egi kembali menoleh dan menghentikan langkah kaki nya. "Kak Jhon." Sahut Annisa, lalu melihat penampilan Jhon yang terlihat menawan dengan setelan jas pesta.
Egi menghela napas pelan. "Nyamuk kedua datang lagi," gumam Egi.
Jhon yang telah berdiri di hadapan kedua nya, Ia menatap wajah Annisa. "Nona terlihat sangat cantik bagai putri, tidak salah tuan Egi merancang khusus desain mahkota itu untuk nona, dan merencanakan semua ini, tampaknya berhasil sempurna," tutur Jhon, di akhiri senyuman.
"Jhon!" Peringatan Egi, menatap sebal.
Annisa melirik Egi sejenak, dan terenyum.
Jadi si Egi telah merancang semua ini.
Jhon tertawa senang. "Ada apa tuan Egi? Bukankah saya berkata yang sebenarnya?" Jawab Jhon santai, yang mendapat tatapan tajam peringatan kedua dari Egi.
Annisa menahan senyuman geli, melihat wajah Egi yang bersemu merah.
Sebaiknya aku mengalihkan topik... kasian suami bocah ku, kelihatannya masih mempunyai sikap Egois pemalu.
"Ah, kak Jhon gimana kabar mu? Sudah hampir 4 tahun tidak bertemu, kak Jhon masih terlihat muda saja," ucap Annisa mengganti topik pembicaraan.
Jhon tersenyum senang, beralih menatap Annisa. "Kabar saya tidak baik nona karena selama beberapa tahun ini saya harus berpuasa tidak menikmati masakan lezat yang di buat nona, dan soal saya terlihat muda, memang saya selalu awet muda." Jhon menjawab dengan tatapan tidak lepas dari wajah Annisa, tanpa memperdulikan Egi yang sudah panas merah padam di samping Annisa.
"Kak Jhon masih seperti dulu yah, suka nar...," ucapan Annisa terpotong cepat oleh Egi.
"Ekhem...," dehem Egi, mempererat rangkulan di bahu Annisa. "Kau bisa bertanya kabar ke si Jhon tengil ini, sedangkan pada suami mu, kau tidak bertanya sedikit pun tentang keadaan ku," Kesal Egi menatap tajam ke Jhon.
"Kita kan selalu bertukar kabar tiap jam tiap menit Egi, sedang kak Jhon, aku tidak pernah mendengar kabarnya meskipun terkadang mengganggu kita saat bertelpon." Jawab Annisa.
"Nona Annisa ternyata selalu memperhatikan saya selama ini, sampai tahu saya suka mengganggu kalian," sahut Jhon.
"Jhon!" Sentak Egi, membuat Annisa terperanjat namun membuat Jhon tersenyum tenang.
Egi menghembuskan napas kasar. "Kau jangan membuat ku marah dalam hari bahagia ini, sekarang kau tunjukkan ruangan ku dan Annisa," tutur Egi.
"Baik tuan Egi, tapi sepertinya tidak bisa seruangan karena nona Annisa akan berganti gaun kedua untuk pesta malam," ucap Jhon berbalik memberikan isyarat mata pada salah satu bodyguard yang berada di sekitar.
Alis Egi bertemu tajam. "Tunjukkan ruangan yang tenang dan siapkan alat shalat, kita dzuhur bersama," titah Egi menggiring Annisa agar berbalik dan ikut berjalan melewati Jhon.
Jhon menghela napas panjang. "Dzuhur bersama, tapi tidak pernah di izinkan saya untuk jadi imam," Jhon bergumam sambil mengikuti langkah kedua nya untuk menunjuk ruangan yang sudah di siapkannya.
-------------------------------------
Selesai shalat dzuhur di lanjut shalat Ashar. Annisa dan Egi keluar ruangan untuk berkumpul sejenak dengan anggota keluarga besar di ruangan khusus.
Saat itu, Egi mengenakan jas pesta biasa begitu pun Annisa hanya mengenakan gaun pesta biasa tanpa riasan dan gaun mewah lagi, karena akan di rias kembali setelah shalat magrib nanti untuk menyambung pesta malam. Sementara di aula tempat pesta masih berlangsung ramai oleh para tamu yang menikmati kemeriahaan yang di sediakan oleh sang tuan rumah.
"Ateu cantik, Ateu cantik," teriak Fatih, berlari ke arah Annisa yang tengah berjalan menuju ruangan keluarga berada.
Annisa tersenyum senang. "Dek Fatih," seru Annisa, membungkukkan badan hendak memeluk tubuh mungil Fatih yang berhambur ke arahnya.
Namun tiba tiba Egi menghadang tubuh Annisa dengan Fatih.
"Eh, Egi kenapa?" Bingung Annisa karena di hadang.
"Diamlah sayang, aku ingin melihat keberanian si kecil yang berusaha merebutmu dari ku," ucap Egi dengan suara pelan.
Mereka tidak akan bertengkar kan?
__ADS_1
Fatih berkacak pinggang mendongak menatap kesal ke Egi. "Pasti ini Om Egi! Wajahnya masih tampanan Atih, pantas Ateu cantik mau jadi istri Atih ternyata Om Egi jelek!"
Egi menunduk menatap wajah imut Fatih yang terlihat marah. "Iya ini Om Egi, suami nya wanita yang kau panggil Ateu cantik. Dan sepertinya kau harus tanya pada Ateu mu, siapa yang paling tampan di sini."
Annisa menghela napas pelan. Benarkan, mereka mulai bertengkar.
"Ateu cantik ìstri Atih! Dan hanya Atih suami nya Ateu cantik!" Fatih menarik celana Egi dengan tangan kecil nya. "Awas jangan halangin Atih bertemu Ateu cantik!" Rengek Fatih masih mendongakkan kepala menatap sengit ke Egi.
"Ck," decak Egi memalingkan wajah ke arah lain. lalu merangkul bahu Annisa. "Yang harusnya minggir itu kau, bocah kecil! Wanita ku akan mengisi perutnya, jadi kau minggir!" Egi berucap sambil berjalan melewati Fatih.
Fatih mengepalkan kedua tangan membentuk tinju, menajamkan pandangan dengan dahi berkerut. "Om Egii... jangan peluk Ateu cantik! Dia istri Atih!" Teriaknya, mengikuti langkah kaki Egi dan Annisa.
Egi berjalan tanpa menghiraukan teriakan Fatih dari belakang.
"Egi, jangan begitu pada Fatih, dia kan masih kecil," tegur Annisa yang di balas senyuman kecil dari bibir Egi.
Kedua nya berjalan menuju meja makan dimana Arga, Ayah putra, sekertaris Tang Jhon, dan Om Reno tengah mengobrol di meja jamuan khusus anggota laki laki. Sedang Romisa, Asyila, dan Cesa tengah mengobrol di meja jamuan sebelah nya. Dan beberapa meja lainnya penuh dengan orang orang dari panti asuhan dan orang tua pengasuh Annisa sewaktu kecil.
Mata Annisa memidai sekitar dan melihat sesosok yang sudah lama tidak di jumpai nya, Annisa tersenyum. "Ayah mertua, mengundang orang panti dan keluarga terdekat ku juga?" tanya Annisa menoleh ke Egi.
"Hemm, kau senang sayang?"
Annisa menganggukkan kepala beberapa kali. "Sangat senang, makasih Egi."
Egi mengusap puncuk kepala Annisa. "Tak perlu berterimakasih sekarang, nanti malam saja kau niatkan ucapan terimakasih mu pada ku." Ucap nya dan tersenyum menggoda.
Alis Annisa berkerut bingung. Apa maskdunya berkata seperti itu?
Lalu Egi menuntun tangan Annisa agar berbelok ke arah meja para wanita. "Sayang nanti kau langsung duduk saja di bagian meja itu," tunjuk Egi pada meja yang dimana para anggota keluarga wanita berada.
"Hemm...," Annisa mengangguk mengiyakan, dan berjalan ke arah meja yang di tunjuk.
Sedang Egi mendekati meja para pria. "Ayah kau tidak rindu pada anak mu," ucap Egi membuat obrolan mereka terhenti.
Ayah putra menoleh. "Hah kau anak bod...," ucapan Ayah putra terhenti melirik Annisa yang tengah berjalan ke arah lain, lalu tersenyum meneruskan ucapannya.
"Maksudnya kau anak tampan ku, kemarilah Ayah ingin mencubit telinga mu," Ayah putra berdiri dari duduk nya mengulurkan kedua tangan.
Egi berhambur memeluk kangen. "Ayah taktik mu selalu mengejutkan ku, sampai aku ingin memberi kopi hitam pahit pada mu," ucap Egi dalam rangkulan Ayah putra.
Melepaskan rangkulan, dan beralih menepuk bahu Egi. "Kenapa mulut anak ku sekarang ketularan manis seperti si Jhon." Ayah putra duduk kembali di kursi nya.
"Tidak tuan besar, saya jauh lebih manis dari tuan Egi." Ucap Jhon menanggapi.
Egi duduk di kursi samping Ayah putra. "Berkata manis pada sesama pria, namun berucap pahit pada wanita," cibir Egi.
"Om Egi, jangan duduk di kursi Atih! Itu tempat duduk Atih!" Teriak Fatih menarik kaki Egi.
"Siapa yang duluan di sini, dia pemilik kursi ini," Egi berucap tanpa bergerak dari posisi nya.
"Atih yang duluan di sini sebelum Om Egi ke sini, jadi awas jangan rebut tempat duduk Atih!"
"Fatih!" Sentak Arga menghentikan gerakan Fatih. "Kemari duduk di sisi papa," ajak Arga menarik satu kursi kosong di samping nya.
Fatih mendengus, memalingkan muka ke arah lain. "Atih nggak mau duduk dekat papa galak, Atih mau nya duduk dekat kakek."
"Tang, angkat dia!" Instruksi Arga pada sekertaris Tang yang tengah sibuk dengan ponsel.
Tang mengangkat kepala nya, melirik fatih, lalu dengan sedikit enggan berjalan menghampiri Fatih untuk membujuk. "Hah...si kecil yang merepotkan lagi," gumam Tang berjalan memutari meja.
"Tuan muda yang sangat lucu dan aktif," ucap Om Reno menatap Fatih yang tengah berdebat dengan sekertaris Tang.
"Aktif mengganggu orang," sahut Egi.
"Mengganggu hanya pada tuan Egi, tapi tidak dengan saya," Jhon menyahuti ucapan Egi.
"Iya, karena dia saingan kecil mu," Arga ikut menimpali.
Dan seketika semua yang berada di meja pria itu, tertawa senang melihat wajah Egi yang muram.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Sempatkan Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...
Eps. menuju tamat..