
Langit mulai meredup bergantikan awan yang menutupi langit biru untuk merubahnya menjadi gelap, di sertai hilangnya matahari dari cakrawala terbenam kembali ke tempat peraduan, yang menandakan senja telah tiba dan berangsur tergantikan malam. Adzan magrib pun hanya tinggal menghitung dengan hitungan menit untuk menunggu berkumandang.
"Jhon, kita berhenti di restoran delima, di sana ada masjid sebrang jalan." Egi berucap tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponsel.
Jhon mengangguk mengiyakan. "Soal penginapan, sepertinya di daerah sini ada hotel keluarga."
"Benar kita menginap di sana, sekertaris Tang sudah mengurus dan mengatur semua nya," sahut Egi masih fokus menatap layar ponsel dengan mengetikkan sesuatu untuk membalas pesan dari Arga.
Setelah berziarah dari dua tempat pemakaman yang letaknya cukup jauh memakan waktu berjam-jam dari lokasi pemakaman keluarga Putra. Saat ini mereka tengah perjalanan pulang, berencana menginap di suatu penginapan karena hari akan memasuki malam hari.
Seperti yang di bicarakan tadi. Mobil yang di kendarai Jhon melaju lambat, mengikuti mobil lainnya yang sedang memarkirkan di area parkir sebuah restoran kelas menengah ke atas, karena memang di daerah yang sedang di lalui nya masih termasuk daerah yang masih asri.
Egi melepaskan seat belt yang melingkar di tubuh Annisa. "Sayang, bangunlah. Kita magrib dulu." Ia mengusap lembut pipi istrinya.
"Emm, rasanya aku lelah sekali, bolehkah aku tidur sebentar lagi," ceracau Annisa di sela pejaman mata nya.
Egi terkekeh, menciumi seluruh wajah gadis di hadapannya hingga membuat Annisa merasa risih dan akhirnya membuka mata.
"Hentikan Egi!" Menutup bibir suami nya dengan telapak tangan. "Baiklah aku bangun, aku bangun," pasrah Annisa.
"Begitu dari tadi sayang," Egi mengambil mantel panjang Annisa, lalu membuka pintu mobil setelah melihat gadis dalam rangkulannya sudah bangkit hendak turun keluar.
Annisa keluar mobil dengan mata sayu sebab baru terbangun dari tidur. Sesekali ia menguap menahan kantuknya. "Rika mana?" tanya Annisa melihat sekitar yang tak mendapati teman yang di carinya.
Egi memakaikan mantel panjang ke badan Annisa. "Dia masih di dalam mobil."
Annisa hendak membuka bibirnya menjawab ucapan Egi namun tertutup kembali karena seseorang memanggilnya.
"Ateu cantik, Ateu cantik." Fatih memanggil sembari berlari ke arahnya.
Sontak Annisa menoleh ke arah suara, dan tersenyum ceria menyambut Fatih.
"Makhluk kecil, kau hati-hati. Jangan berlari!" Arga menegur anaknya dengan suara keras.
"Iya papa, Atih sudah hati-hati," sahut bocah kecil yang kini sudah berhambur merentangkan kedua tangan hendak memeluk Annisa.
"Ateu cantik!" Ujarnya berbinar ceria.
Annisa membungkuk kan badan dengan kedua tangan terulur hendak menyambut pelukan Fatih. "Dek Fatih, hati-hati dek."
"Ateu cantik tangkap Atih," Melompat ke dalam pangkuan tangan dan memeluk leher orang yang memangku nya. Anak kecil itu memejamkan mata meletakkan kepala di dada orang yang sedang memangku nya. "Eh, Ateu cantik kok nggak empuk lagi? Kenapa dada Ateu keras?" Oceh Fatih merasa bingung.
Annisa yang memperhatikan, menahan tawa nya kemudian tangannya terulur mengusap rambut Fatih. "Dek Fatih kok bicara nya gitu."
"Iya Ateu, biasanya dada Ateu sama Mama itu sama. Nggak keras seperti ini," Fatih menunjuk-nunjuk dada bidang pria tersebut dengan telunjuknya. Karena merasa semakin aneh, Dia membuka mata nya yang pertama di lihat adalah sebuah kemeja pria, lalu kepala nya dia angkat untuk mendongak melihat siapa yang tengah memangku nya. "Om Egi!"
Egi menyeringai kesal, menatap tajam. "Empuk?"
Seketika pelukan tangan mungil di leher terlepas berganti mendorong dada bidang pria yang di panggil Om. "Ateu cantik kenapa berubah jadi Om Egi?"
"Ateu mu tidak berubah, tapi kau salah peluk orang. Dan sekarang terima hukuman mu, bocah kecil. Karena sudah berkata yang tidak pantas!" Menyeringai kejam, mendudukkan bocah kecil itu ke badan mobil bagian depan.
Puk... puk.
Fatih memukul bahu Egi dan merengek minta di turunkan. "Papa, Mama. Om Egi mau hukum Atih! Tolong Atih!" Teriak bocah kecil itu.
"Diam kau bocah kecil! Bisa nya kau mengadu," Egi membungkam mulut Fatih dengan sebelah telapak tangan.
"Om Egi jah-Mmph...mmph," Fatih menggelengkan kepala nya memberontak dan mencekal dengan kedua tangan mungilnya untuk melepaskan telapak tangan besar dari mulutnya.
"Egi," tegur Annisa memegang bahu Suaminya.
"Sayang, biarkan aku menghukum bocah kecil tak tahu sopan santun ini. Jadi kau diam, jangan mengganggu ku," Egi kekeh dengan keinginannya.
"Tapi Egi, dia anak kecil jadi jangan terlalu ker...,"
Egi menoleh. "Sayang," selanya memberikan tatapan yang tak mau di bantah.
Annisa menghembuskan napas pelan. "Baiklah, terserah kau saja. Tapi jangan terlalu keras kau menghukumnya, bagaimana pun dia masih kecil." Dia berlalu ke arah samping pintu mobil depan, setelah mengucapkan kalimat itu ke Egi.
Fatih yang masih di bungkam, dia menekan telapak tangan itu agar menempel ke bibir nya. Lalu menggigit telapak tangan Egi dengan keras.
"Sial!" Umpat Egi melepaskan bungkaman dan melihat telapak tangannya yang merah, ada tanda yang berbentuk gigi anak kecil melingkar.
"Mama, Papa. Tolong Atih!" Teriak Fatih menengok ke arah sekumpulan keluarga nya yang sedang mendiskusikan sesuatu di dekat mobil Ayah Putra.
"Diam kau bocah kecil! Sss...," desis Egi mengibaskan tangannya yang perih dan panas.
"Kakek! Mama, Papa! Ateu Asyila!" Fatih terus berteriak memanggil anggota keluarga yang lain agar bergerak ke arahnya.
Egi hanya bisa mengumpat kesal, sembari mengusak kasar rambut hitam legam bocah kecil tersebut. "Dasar tukang ngadu."
Annisa sudah terkikik geli, menahan tawa nya. Lalu, menarik tangan Egi yang di gigit Fatih. "Maka nya jangan pakai kekerasan, jadi nya kayak gini kan."
"Sayang, sakit." Rajuk Egi memberenggut manja.
Mencubit gemas pipi Egi. Annisa mengecup telapak tangan suaminya. "Masih sakit?"
__ADS_1
Egi manggut-manggut manja. "Masih," goda nya.
Sementara di dalam mobil.
Jhon dan Rika menyaksikan kejadian di luar mobil. Kedua nya menggelengkan kepala dan tersenyum.
"Kau diam dulu di sini, aku keluar sebentar," Jhon menginstruksi yang mendapati anggukkan kepala dari Rika. Lalu diri nya melepaskan seat belt, dan membuka pintu mobil untuk keluar.
Begitu keluar mobil, jhon sudah di sambut oleh kegaduhan keluarga Putra, berkumpul menghampiri Fatih yang sudah menangis sesenggukkan menunjuk Egi.
"Fatih sayang apa yang sakit?" Romisa memangku tubuh mungil anaknya dan mengusap air mata yang sudah berlinang di mata nya.
"Om Egi ja-hat. Atih... Atih di tutup bibir nya, huwaa...," ceracau Fatih memeluk leher Romisa dan membenamkan wajahnya ke ceruk leher.
Seketika semua orang menatap ke arah Egi.
"Bocah kecil yang tak tahu sopan santun memang pantas di hukum, dan lihatlah...," Egi menunjukkan telapak tangannya yang merah. "Dia menggigit ku!"
"Hmph...," semua orang yang menatap menghembuskan napas kasar.
Dan bersamaan dengan itu, adzan magrib berkumandang dengan sangat indah di masjid. Seketika semua orang terdiam mendengarkan dengan khusyuk suara adzan itu sampai selesai, kecuali Fatih yang masih menangis tersedu-sedu dalam pelukan ibu nya.
"Sudah adzan, mengenai cucu pertama ku. Kau harus bijak dalam menghukumnya Egi juga kau, Arga!" Ayah Putra berucap setelah adzan selesai di kumandangkan.
"Baik Ayah," serempak Egi dan Arga dengan nada suara rendah.
"Baiklah, sekarang kita segera ke masjid." Ayah Putra melangkah berbelok arah dengan di kawal oleh dua pengawal pribadi dari sisi kiri dan kanan.
Arga, Romisa dan sekertaris Tang membuntuti Ayah Putra hingga hanya tersisa mereka berenam di sana.
Jhon menghampiri Egi dan membicarakan sesuatu. Sehingga kedua nya sedikit menjauh dari mereka berempat.
Sedang Rika yang masih berada dalam mobil. Menurunkan kaca jendela, ia tersenyum menatap Annisa yang kebetulan berdiri di samping pintu mobil. "Nis, aku tunggu di sini saja yah. Kan lagi merah."
Annisa menoleh. "Hmm... boleh, nggak apa-apa kamu nya?" tanya Annisa yang di balas anggukkan kepala oleh Rika.
Asyila mendekat ke arah mobil. "Kak Rika, masuk aja ke resto. Kan sudah di pesan tempatnya."
"Bener, lo masuk ke dalam. Tinggal bilang dari keluarga putra, seorang pelayan akan mengantar lo ke ruangan yang di sewa," Ray menambahkan.
Rika menatap ragu tiga orang di hadapannya secara berganti. "Tidak apakah?"
"Tentu saja tidak apa-apa, kak Rika kok jadi kaku gini. Kita kan sering maen bareng di kafe," Asyila membuka pintu mobil membuat Rika sedikit panik.
"Iya Rik, kamu masuklah ke dalam. Biar aku antar," Annisa menyahuti.
Rayhan yang melihat sebelah kaki Rika bengkak membiru, sontak dia berjongkok menyentuh kaki Rika. "Kenapa kaki lo jadi segede kaki gajah gini, Mak?"
"Hey! Aww, gila lo. Sakit banci," omel Rika meringis nyeri saat kaki nya di sentuh.
"Jelas lah sakit, kaki lo sudah membiru gini di biarin aja. Kenapa bisa begini, Mak?" Ray masih penasaran penyebabnya, menelisik memar di sekitar pergelangan kaki Rika, ada sorot ke khawatiran dari mata Ray.
"Dia hampir tertabrak tapi saat menghindar malah terjatuh dan kaki nya terbentur pembatas jalan." Jhon menjawab pertanyaan Ray.
"Wah, sifat ceroboh lo nggak pernah berubah yah, Mak." Ray bangkit dari jongkoknya masih menatap ke kaki Rika.
"Gue nggak ceroboh, tapi emang lagi apes nya aja," sewot Rika memeriksa kaki nya.
"Gi. Bawa Lala sama Nisa ke masjid duluan gih. Biar si Emak gue yang anterin ke dalam," lanjut Ray menengok pada Egi yang sudah ikut bergabung.
"Hemm. Berasa bos aja lo, perasaan gue yang bos lo di sini." Sindir Egi merangkul bahu Annisa.
Ray nyengir menampilkan gigi rapih nya.
"Kak Ray, Lala ingin bareng kak Ray saja ke masjid nya." Celetuk Asyila mendekat ke arah Ray.
"Lama, lebih baik kamu bareng kakak mu saja yah."
Asyila memberenggut sebal, berbalik merangkul lengan Annisa. "Ya sudah," ketusnya.
"Ray, titip Rika yah." Annisa berucap sebelum di giring untuk pergi yang di balas senyuman juga anggukkan kepala.
Mereka bertiga pergi meninggalkan Ray, Jhon dan Rika di sana.
"Eh, bang Jhon. Gak ikut mereka?" Ray beralih melihat Jhon yang berdiri tidak jauh dari nya menatap tajam.
"Nanti," ketus Jhon melirik Rika yang sedang menyentuh kulit kaki di sekitar memar nya.
"Hah... ya sudah. Mak, tunggu bentar. Gue ke mobil dulu," Ray melangkah pergi ke arah mobilnya tanpa mau mendengar jawaban dari Rika.
Jhon mendekat ke arah pintu mobil yang terbuka lebar itu, ia menatap dingin. "Kau cukup dekat juga dengan si bocah tengik itu."
"Eh," Rika mendongak menatap bingung. "Si Ray maksudnya?"
"Hemm, siapa lagi yang bocah tengik di sini."
"Bukan sekedar cukup dekat sih. Tapi bisa di bilang sudah seperti saudara," Rika kembali menunduk memijit lembut di sekitar kaki yang bengkak.
__ADS_1
"Ck," Jhon berdecak kesal, tersenyum sinis. "Saudara? Ingat dia itu laki-laki dan kau perempuan, di antara kau dan dia juga tidak ada ikatan darah. Jadi kau harus hati-hati saat berdekatan dengannya, bocah tengik itu terkenal akan keplayboy-an nya."
Rika manggut-manggut kecil. "Aku sudah tahu dari dulu jika dia playboy. Dan selama ini dia tidak pernah bersikap kurang ajar juga pada ku, jadi menurut ku...," Dia mendongak menatap tersenyum tenang. "Penilaian jojo terlalu berlebihan."
Jhon mendengus kesal. Bahkan dia membela si bocah tengik itu dan memojokkan ku.
Bersamaan dengan itu, Ray telah kembali dengan menenteng sebuah sepatu sport pria berwarna putih.
Dia melewati Jhon begitu saja. "Mak, pakai ini. Sepatu lo kan pantopel ada heels nya lagi, pasti sakit tuh pake nya. Jadi gue pinjemin sepatu kesayangan gue nih." Ray meletakkan sepatu putih itu ke bawah dan dia berjongkok dengan sebelah lutut di tekuk.
"Sepatu lo? Lah kegedean dong di kaki gue, mana muat."
"Sudah syukur gue kasih pinjem, lagian kaki lo kan bengkak seperti kaki gajah. Sudah pasti muat lah," ujar Ray menyentuh kaki Rika hendak memakaikan sepatu.
Jhon yang melihat adegan itu, rahang tegasnya mengkerat geram, dengan tangan terkepal. Kemudian dengan refleks...
Puk.
Dia menepuk pundak Ray dengan keras sehingga sepatu yang berada di pengangan Ray terjatuh.
"Ah, ada apa bang? Ngagetin aja," Ray menoleh heran.
"Biar saya saja yang urus wanita bodoh ini. Kau duluan ke masjid."
"Tapi aku sudah dapat amanah dari Nisa untuk jagain dia, bang." Ray bangkit dari jongkoknya.
"Hanya dari Nona Annisa kan? Saya sudah di titipkan amanah dari orang tua nya. Jadi silahkan kau pergi duluan, biar si bodoh saya yang urus." Usir Jhon mengedikkan dagu ke arah jalan.
Seperkian detik Ray menatap dengan sorot mata tajam tak terbaca. Kemudian ia mengembuskan napas panjang. "Baiklah." Lalu dia menoleh ke Rika yang sedang memperhatikan perdebatannya.
Ray membungkukkan setengah badan untuk mensejajari wajah Rika. "Mak, gue ke masjid dulu, lo gak apa-apa kan gue tinggal dengan bang Jhon." Ucap Ray sambil mengusap puncuk kepala Rika yang terbalut kerudung.
Rika mengangguk paham. "Iya gue gak apa-apa, banci. Sudah sono, ketinggalan nanti shalat jamaah nya."
Ray tersenyum manis, menegakkan punggungnya. Ia melirik dingin ke Jhon sejenak lalu akhirnya berbelok meninggalkan mereka berdua.
Sepeninggalan Rayhan.
Jhon berjongkok dengan lutut di tekuk sebelah, di samping mobil hadapan Rika.
Rika yang memperhatikan pergerakan Jhon, menatap bingung. Apa yang dia lakukan?
Jhon mengambil sebelah sepatu dan hendak menyentuh kaki Rika namun segera Rika menggerakkan kaki nya untuk menghindar.
"Ak-aku bisa sendiri," cicit Rika menunduk.
Jhon menghembuskan napas pelan, menatap tak berkedip pada kaki Rika, ia tersenyum kecut. "Kenapa?" tanyanya dengan intonasi dingin.
Alis Rika tertaut bingung. "Kenapa apa nya, Joe?"
"Kenapa! Kenapa dia bisa menyentuh mu tapi aku tidak bisa!" Sentak Jhon mendongak menatap kesal.
Sontak Rika terlonjak speechless, menatap diam kaku. Ada apa dengannya? Apa yang salah dengan pak Jhon?
"Hmph," Jhon mendengus tersenyum miring kembali menunduk, tangannya terulur hendak meraih kaki Rika yang masih tergerak menjauhinya. "Bisakah kau menurut pada ku, wanita bodoh," geramnya dingin.
Jadi dia mau memakaikan sepatu untuk ku, tapi kenapa dia jadi baik gini?
Rika tanpa menjawab dan dengan ragu-ragu ia akhirnya melemaskan dan di dekatkan kaki nya, untuk di sentuh Jhon.
Segera Jhon meraih kaki Rika dan memakaikan sepatu putih itu dengan sangat ke hati-hatian agar tidak menekan bagian yang memar. "Setelah makan malam, sepatu ini kau kembalikan pada si bocah tengik itu."
"Kenapa?" Rika bertanya heran.
"Kau bertanya kenapa lagi! Sepatu ini sangat kebesaran di kaki kecil mu, juga sangat tidak cocok kaki jelek mu memakai sepatu branded seperti ini," ujar Jhon memakaikan kembali sepatu sebelahnya setelah menali kan tali sepatu di kaki tadi.
Ck, decak Rika. "Barang branded dengan kaki jelek ku, apa hubungannya? Lagian jika aku segera mengembalikan sepatu nya ke si Ray, aku mau pulang pakai apa? Sedang sepatu ku tak muat di kaki yang bengkak ini."
Hah... Jhon menghembuskan napas kasar, menepuk-nepuk kedua tangan seperti menepuk debu. Lalu bangkit berdiri. "Kau memang pantas di beri gelar ratu wanita terbodoh di dunia. Sudahlah, sekarang kau masuk ke dalam, aku mau ke masjid. Bisa habis waktu magrib jika meladeni kebodohan mu itu," tutur Jhon mengulurkan sebelah tangan.
Rika mencebikkan bibirnya sebal, melirik telapak tangan Jhon. "Apa ini? Jojo minta bayaran karena sudah membantu ku memakai sepatu?"
Lagi-lagi jhon menghembuskan napas kasar. "Bodoh! Kau mau ke dalam sendiri dengan kaki pincang mu. Aku menawarkan untuk memapah, jadi cepat kemarikan tangan mu," ketus Jhon yang mulai geram.
Rika tersenyum cengengesan. "Di kira mau minta bayaran," ucapnya, lalu menerima uluran tangan itu dan menggenggam nya.
Dia menapakkan kaki nya ke tanah, untuk mulai melangkah yang langsung di bantu Jhon memapahnya agar bisa berjalan.
Terlintas rona merah padam di kedua pipi Rika yang jantung nya sudah berdetak sangat cepat.
Memang benar kaki ku sangat sakit sekali, jika tidak di bantu di papah mungkin akan susah berjalan.
Selama berjalan tertatih yang di giring Jhon. Rika menundukkan pandangannya, menyembunyikan senyuman bahagianya.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
__ADS_1