Pejuang Move On

Pejuang Move On
Pikiran dan Emosi


__ADS_3

"Dia bukan bidadari lo Ray dan bukan guru les gue. Tapi dia ISTRI gue!!" Bentak egi dengan wajah merah padam dan tatapan tajam ke Ray karena emosi nya sudah memuncak.


Ray langsung terpaku diam tidak berkedip menatap egi.


Hening sejenak suasana dalam mobil dengan kedua nya saling tatap menatap.


"Hahaha... becanda lo nggak asyik gi. Haha.. istri lo, nggak mungkin..haha." Tawa Ray pecah sampai memukul mukul paha nya.


Masih menatap tajam ke Ray. "Gue nggak becanda Ray, gue serius." Tegas egi dengan nada dingin karena masih di kuasai emosi nya.


Seketika tawa Ray terhenti dan menatap egi. "Se..serius. bi..bidadari gue i..istri lo." Gagap Ray karena keterkejutan nya.


Mengangguk pelan. "Iya dia istri gue. Dan bukan bidadari lo." Tegas Egi lagi dengan nada penekanan di setiap kata nya untuk memperjelas ke Ray.


"Gue nggak percaya gi. Lo kalau bercanda jangan seperti ini gi. Gue tahu lo ingin ngejauhin dia dari gue yang play boy, tapi seperti yang pernah gue bilang ke lo, kalau ketemu lagi tuh bidadari tak bersayap. Ke 4 cewek gue putusin semua dan semalam udah gue lakuin, sekarang fokus pada bidadari tak bersayap. Jadi lo jangan halang halangi gue buat dekat sama dia, gue bener bener udah suka banget sama dia gi. Jadi lo, jangan buat lelucon gini dong." Celoteh Ray masih belum percaya dengan pernyataan egi.


Egi terdiam tidak menjawab dan memilih melajukan kembali mobil nya. Namun, sorot mata egi masih di kuasai amarah yang terpendam.


"Lo nggak jawab, berarti dia bukan istri lo kan? Gue nggak percaya sedikit pun. Kita kan masih sekolah gi, bagaimana bisa lo menikah?" Tanya Ray.


Egi menghela napas kasar lalu menatap Ray sejenak. "Serah lo mau percaya atau nggak, yang jelas gue minta jangan panggil dia dengan sebutan bidadari di hadapan gue. Jika lo pengen selamat dari emosi gue." Tegas egi.


Masih menatap egi menyelidik. "Lo, nggak serius kan bilang dia istri lo gi?" Tanya Ray.


Fokus pada jalanan dan kemudi. "Hemm." Gumam egi pelan karena malas menanggapi ocehan Ray lagi.


"Terus kenapa tadi lo bilang dia istri lo?"


Egi diam tidak menjawab hanya fokus pada kemudi dan memasang wajah dingin nya.


Benar apa yang di katakan Ray. Kenapa aku bisa keceplosan mengatakan jika wanita brandal itu adalah istri ku. Hah seperti nya otak ku juga sudah terkena virus s brandal sampai sampai aku refleks berkata seperti itu.


Tapi ada bagus nya juga jika aku berkata seperti itu, yang bisa membuat Ray berhenti memanggil nya bidadari ke s brandal yang sering membuat ku seketika memanas.


"Gi." Panggil Ray.


Diam tanpa kata dan fokus ke jalanan.


"Gi." Panggil Ray lagi.


Mendelik tajam. "Lo bisa diem gak. Pikiran gue lagi kacau Ray, jadi lo jangan mengoceh tidak jelas lagi yang memancing emosi gue." Tegas egi.


Menghembuskan napas panjang dan mengalihkan pandangan ke depan. "Oke gue diem. Lagian bertanya sama lo nggak ada untung nya buat gue, mending tanya langsung saja sama bidadari tak bersayap gue." Gumam Ray.

__ADS_1


"Ray.. ." Geram egi dan menatap tajam.


"Oke.. oke gue nggak bakal manggil dia begitu di depan lo. Sensitif amat sih, apa lo lagi PMS gi sensi melulu dari tadi." Cerocos Ray.


"Ray.. lo bisa diem gak. Mau gue turunin lo di tengah jalan." Bentak egi kesal.


"Iya..iya gue akan diem. Tapi jawab dulu pertanyaan gue yang ini. Dimana dia sekarang?" Dengan tatapan serius Ray bertanya.


"Buat apa lo nyari dia." Ketus egi tanpa menoleh.


"Gue ingin memastikan nya ke dia, dan sekalian ingin menyampaikan perasaan gue pada nya." Ucap Ray membuat egi kembali lagi mengepalkan tangan geram dan kilatan mata nya mulai tersirat amarah.


Melirik Ray tajam. "Lo berani berkata begitu ke dia. Hah." Geram egi mengkeratkan gigi nya.


"Kenapa memang dia kan hanya guru les lo. Gue masih belum percaya jika dia adalah istri lo, sebelum mendengar penjelasan dari bibir dia. Jadi gue akan nyari dia dan memastikan nya sendiri." Tutur Ray.


Menghembuskan napas kasar. "DIAM!! sebelum emosi gue memuncak kembali Ray." Bentak egi dengan nada tinggi.


Terperanjat kaget akibat bentakan egi. "Iya...iya. gue diem." Ucap Ray lalu diam tanpa kata dan menatap termenung ke luar jendela.


Pikiran Ray melayang memikirkan apa yang di katakan dan sikap egi barusan.


Lebih baik untuk sekarang gue diam dulu jangan banyak bertanya pada s egi.


Apa iya bidadari tak bersayap istri nya s egi. Tp mana mungkin s egi kan nggak bisa move on dari bu misa. Dan juga kita kan masih sekolah masa menikah di usia muda gini rasa nya mustahil di percaya, selain itu kan mana mungkin bidadari gue mau sama s egi yang arogan dan dingin ini.


Sepertinya gue harus memastikan nya sendiri, agar lebih jelas.


----------


Di ruangan ayah putra.


Jhon memasuki ruangan ayah putra untuk melaporkan hasil pengamatan nya tentang annisa selama di kampus.


"Tuan besar ini laporan kegiatan nona annisa di kampus." Jhon menyodorkan amplop yang berisikan foto foto annisa ke atas meja.


Ayah putra mengangguk paham. Lalu mengambil dan membuka amplop itu. Ayah putra mulai melihat dan mengamati setiap gambar di setiap lembar foto, dan ketika di lembar foto ke 5 mata ayah putra memicing tajam dan beralih menoleh ke jhon.


Melemparkan lembar foto ke atas meja agar di lihat jelas oleh jhon. "Siapa laki laki ini jhon?" Tanya ayah putra sambil menunjuk gambar laki laki yang tengah berdiri memberikan paper bag ke annisa.


Jhon maju selangkah untuk melihat siapa yang di tunjuk ayah putra di lembaran foto itu.


"Dia adalah mahasiswa sebrang kampus nona. Nama nya adalah Alan Darmawan Atmadja dia adalah putra bungsu dari keluarga Atmadja yang kakak nya itu kalau tidak salah, Kevin Liondra Atmadja. Sahabat sekaligus dokter pribadi nya tuan Arga." Tutur jhon.

__ADS_1


"Hubungan nak annisa dengan laki laki itu apa jhon?"


"Menurut penyelidikan anak buah saya, dia menyukai nona annisa sejak dia menjadi mahasiswa di sana. Dan untuk mendekati nona annisa, dia sampai berpura pura menjadi ojek nya nona, hingga sekarang hubungan nya cukup dekat dengan nona." Jelas jhon.


Mengangguk kecil sambil mengusap dagu dengan jemari. "Bagaimana respon nak annisa terhadap kedekatan nya dengan laki laki itu?"


"Seperti nya hanya menganggap sebagai teman karib nya saja tuan. Bisa di lihat dari setiap sikap yang di tunjukkan nona terhadap dia yang tampak sedikit menjaga jarak."


"Syukurlah. Kau bilang tadi dia berasal dari keluarga Atmadja, tidak apalah kita cukup punya hubungan baik dengan nya. Tp jhon untuk sekarang yang terpenting kau terus awasi nak annisa, jangan sampai laki laki itu berbuat di luar sewajar nya terhadap menantu ku. Jika saja dia berbuat selangkah lebih jauh, dia akan tahu akibat nya karena sudah berani berani nya mendekati menantu ku." Tutur Ayah putra.


"Baik tuan besar. Tapi saya yakin nona annisa akan baik baik saja, karena selama ini pria itu tidak pernah berbuat yang macam macam."


Ayah putra mengangguk kecil. "Ada berita apa lagi jhon?"


"Tuan besar, tadi pagi tuan egi memerintahkan para pelayan untuk membereskan kamar nya dan menyuruh membuang barang barang nona annisa dari kamar nya."


Mengepal geram dan memukul meja cukup keras.


Brakk.


"Anak bodoh itu, masih belum menyadari juga kesalahan nya. Apa dia sudah tidak waras membuang barang barang istri nya. Benar benar membuat ku kecewa sekali dengan nya." Gerutu Ayah putra.


Menundukkan pandangan. "Tenang saja tuan besar. Semua barang barang yang di keluarkan dari kamar tuan egi, saya perintahkan pelayan untuk sementara memindahkan nya ke kamar tamu." Tutur jhon.


"Baguslah kau mengerti keinginan ku. Kita lihat saja perkembangan nya. Jika saja anak bodoh ku masih saja tidak menyadari perbuatan nya. Terpaksa aku harus menggunakan cara kedua." Ucap ayah putra dengan tatapan tajam.


"Cara kedua yang mana tuan. Apakah yang memisahkan nya?" Tanya jhon memastikan.


Mengangguk kecil. "Benar, kita lihat dulu perkembangan nya beberapa hari kedepan." Jawab ayah putra.


"Baik tuan besar."


Ayah putra tersenyum kecil lalu menoleh ke Jhon. "Jhon jangan sampai Nak Romisa tahu mengenai keributan yang di buat Egi terhadap Nak Annisa saat ini." Tutur Ayah Putra.


"Baik tuan besar. Saya paham, sekertaris Tang sebelum nya sudah memperingati lebih dulu terhadap saya untuk mengerjakan semua nya dengan rapih tanpa jejak agar Nona Romisa tidak menyadari ada kekacauan di rumah ini." Jelas Jhon.


"Baguslah. Aku tidak mau menantu pertama ku terganggu kesehatan nya karena bagaimana pun dia tengah mengandung pasti kondisi nya saat ini sangat rentan." Ucap Ayah Putra.


"Iya tuan besar."


BERSAMBUNG...


LIKE, VOTE dan RATING nya jangan lupa yaa..

__ADS_1


__ADS_2