
Hari berganti minggu, bulan berganti tahun. Hingga kini telah memasuki beberapa tahun kemudian.
Annisa telah lulus menjadi seorang bidan dan kini Ia bekerja di salah satu rumah sakit milik keluarga putra, dan soal Nyctophobia nya pun telah di sembuhkan lewat hipnoterapi yang di jalankannya.
Sedang Egi di inggris Ia sibuk menjalankan perusahaan cabang keluarga nya untuk lebih maju dan kini telah tercipta beberapa perusahaan lainnya menyebar di sekitar negeri itu, oleh hasil kerja kerasnya. Dan soal perkuliahan nya, Ia baru saja lulus dari perkuliahannya, 2 bulan yang lalu. Saat Egi kuliah, Ia menutup status sosial dan menutup diri nya, sehingga Ia tidak memiliki teman tetap dan hanya para wanita yang mencoba mendekati mengejar nya karena tertarik oleh ketampanan, sikap dingin dan kepintaran Egi.
Namun Jhon yang di tugaskan untuk melindungi Egi agar terhindar dari para wanita, juga Egi yang sangat setia pada Annisa, dengan sikap dingin, tajam yang di miliki nya, Ia mampu mengusir para wanita itu untuk di buat nya tidak mau mengejarnya lagi.
Selama beberapa tahun ini, mereka berdua tidak bertemu secara langsung karena kesibukan Egi yang fokus pada kuliah dan perusahaan, jadi mereka berdua hanya menumpahkan rasa rindu, kepercayaan, kedekatan, untuk keutuhan rumah tangga nya lewat alat komunikasi video call.
Annisa yang bekerja di rumah sakit milik keluarga putra, mendapatkan jadwal kerja hanya dua shift tidak untuk shift malam, Ia masih di buntuti para bodyguard setiap keluar rumah bahkan bekerja sekalipun. Sementara Egi meskipun di sela kesibukan nya yang sangat padat kuliah juga mengurus perusahaan, tetap tidak pernah absen selalu melakukan panggilan video ke annisa sampai bisa 5 kali dalam sehari tidak terhitung pesan dan panggilan telpon biasa.
Sore itu, di Inggris.
Egi terduduk di kursi kebesarannya, di balik meja kerja dan sibuk dengan lembaran kertas yang tengah di periksa.
Jhon memasuki ruangan kerja Egi.
Bruk.
Jhon melemparkan diri ke atas sofa panjang, dan menyenderkan punggung ke senderan sofa. "Tuan Egi," panggil Jhon.
"Hemm...," sahut Egi tanpa mengalihkan pandangan dari berkas dokumen.
"Apa bisa tuan menyelesaikan semua nya dalam waktu 3 hari?" tanya Jhon membenarkan posisi duduk nya.
Egi menengadah menatap Jhon. "Bisa," jawabnya cepat dan kembali fokus ke dokumen di hadapan nya. "Kau sudah tahu selama 2 bulan ini aku menahan, padahal pendidikan ku telah usai... dan kau sendiri sudah menyiapkan urusan yang aku perintahkan?"
"Tenang saja, semua beres jika di tangan saya." Ucap Jhon.
Egi menghela napas pelan. "Jangan asal sembarang kau melakukan nya Jhon, jangan sampe ada yang kurang sedikit pun dari apa yang ku inginkan," tegas Egi.
"Saya tahu itu, dan untuk tuan selamat kerja rodi dalam 3 hari ini," jawab Jhon kembali menyenderkan kepala ke sofa.
Egi menghentikan sejenak kegiatan nya. "Cih! Menyebalkan sekali kau Jhon," menatap sebal ke Jhon, Lalu beralih melirik foto Annisa yang di figura di atas meja kerja nya. Ia tersenyum menatap foto Annisa. "Padahal baru 2 jam yang lalu aku menelpon nya, tapi sudah merindukan suara dan senyumannya lagi, Annisa ku," gumam Egi.
----------------------------------
Malam hari di Indonesia.
Di rumah Putra.
Tok...tok...tok.
Pintu kamar Annisa di ketuk dari luar.
Annisa yang hendak tidur, sudah melepaskan kerudung, Ia memakai kembali kerudung nya dan beranjak dari kasur.
"Siapa malam malam gini mengetuk pintu," gumam Annisa sambil berjalan ke arah pintu.
Ceklek.
Annisa membuka pintu kamar. Melihat sekitar yang kosong tidak ada orang dari balik pintu. "Eh, kok nggak ada orang? Siapa tadi yang mengetuk?" ucap Annisa celingak celinguk mencari orang yang tadi mengetuk pintu.
Menghela napas pelan, dan menutup kembali pintu kamar. "Salah dengar mungkin," Annisa berbalik menundukkan pandangan, dan melangkah hendak menuju ranjang nya lagi.
Saat Annisa tengah melangkah menuju kasur nya tiba tiba...
Kriiing..kriing.
Ponsel Annisa yang ada di atas meja nakas berdering.
Annisa mengangkat panggilan telpon tersebut lalu duduk di sisi ranjang.
"Assalamualaikum sayang," sapa Egi dari sebrang telpon.
"Walaikumsalam egi," sahut Annisa sambil menepuk bantal untuk siap siap berbaring.
"Belum tidur sayang? Aku lihat waktu indonesia sekarang sudah pukul. 10 malam, kenapa belum tidur?"
Annisa memasuki selimut, dan membaringkan tubuh di atas kasur. "Ini mau tidur, kau sendiri tidak tidur?"
__ADS_1
"Kau becanda sayang, di sini masih sore, Aku masih bekerja dan harus periksa beberapa dokumen lagi."
Annisa menghela napas pelan. "Kau mau lembur lagi?" tanya Annisa.
"Hemm... kerjaan ku beberapa hari ini begitu banyak."
"Sesibuk apa pun, jangan lupa untuk selalu jaga kesehatan, jangan terlalu memporsir diri dengan kerjaan." Nasihat Annisa yang di balas gumaman iya dari Egi, Annisa membalikkan tubuh nya menyamping ke arah kasur yang kosong. Namun saat pandangan nya lurus, mata Annisa terbelalak kaget. "Aaaa...," teriak Annisa.
"Annisa! Sayang! Ada apa? Kenapa kau teriak?" seru Egi cemas mendengar Annisa yang berteriak keras.
Annisa terlongo, dengan mata nya masih terbelalak kaget menatap pada seorang bocah laki laki yang terduduk menyila di atas kasur, bersedekap tangan di depan, menatap Annisa. "De..dek fatih?" Kaget Annisa, hampir melepaskan pegangan ponsel di telinga nya.
"Fatih? Dia ada di sana? Sedang apa bocah kecil itu di sana!" Ujar Egi dari sebrang telpon yang sempat di abaikan oleh Annisa.
Annisa tersadar oleh ucapan Egi dan mendudukkan diri setengah terbaring mengalihkan pandangan ke arah lain. "I..iya, dek fatih, aku nggak tahu dia bisa ada di kamar. Dan sekarang dia...dia sedang duduk di dekat ku," terbata Annisa melirik fatih yang tengah menatap nya juga.
"Ateu cantik, sedang telpon siapa?" tanya Fatih menatap tajam.
Annisa terpaku di tatap tajam oleh Fatih, dan mengulas senyum canggung.
Bocah kecil, kenapa tatapan mu sama seperti bapak mu sih.
"Dengan Om Egi, suami Ateu." Ucap Annisa tersenyum.
"Sayang jangan biarkan dia tidur di kasur mu lagi," oceh Egi yang sudah kesal.
"Iya, tapi gimana cara nya aku membujuk dia agar kembali ke kamarnya?" Bisik Annisa ke telpon.
"Om Egi menyuruh Ateu mengusir Atih yah?" tanya Fatih menatap sebal.
Annisa hanya diam menatap fatih, tidak menjawab.
Kapan anak ini tidak pintar nya? Peka sekali anak ini, padahal usia nya baru 4 tahun kurang.
Melihat Annisa diam, fatih menengadahkan sebelah tangan ke arah Annisa. "Biarkan Atih yang menelpon Om Egi," pinta Fatih.
Seketika Annisa menatap ragu ke Fatih. Lalu mendekatkan telpon ke bibir nya.
"Berikan, mau bicara apa bocah kecil itu."
Annisa melirik kembali ke fatih yang masih menatap Annisa. Kemudian dengan gerakan ragu Annisa menyerahkan ponsel nya ke Fatih. "Jangan bertengkar," ucap Annisa.
Fatih tersenyum kecil sebelum meloudspeaker panggilan dari Egi. Ia mendekatkan bibir nya ke ponsel yang di pegang dengan satu tangan.
"Hallo Om Egi," sapa Fatih.
"Hey bocah kecil, kemana mama mu? Kenapa kau bisa nyasar masuk kamar?" Seru Egi dari sebrang sana.
"Pintu kamar mama di kunci, pasti mama lagi berantem dengan papa, jadi Atih di larang masuk kamar," saut Fatih.
"Pengasuh mu? Atau Ateu Asyila? Kenapa kau malah kebiasaan masuk kamar istri Om?"
"Istri Om? Ateu cantik bukan istri Om, dia istri Atih!" Ujar Fatih menyulut emosi Egi.
"Bocah kecil tau dari mana kau soal istri? Dia wanita ku, jangan asal masuk kamar nya lagi kau!" Teriak Egi dari sebrang sana.
"Atih tahu soal suami istri, yaitu seorang wanita dan pria yang selalu bersama bahkan tidur bersama, tapi Om jauh di sana, hanya Atih pria yang sering tidur dengan Ateu cantik jadi Atih adalah suami nya, bukan Om!" Seru Fatih dengan suara lantang mengucapkan kata di akhir kalimat nya.
Annisa menggelengkan kepala beberapa kali melihat perdebatan kedua nya.
Dari mana nih anak bisa tahu soal suami istri segala? Bahkan tahu saling bersama segala? Mengundang emosi si Egi lagi nih.
"Kau bocah kecil," suara Egi menggeram kesal. "Beraninya bersaing kata suami dengan ku, lihat saja jika Om pulang nanti," Ancam Egi.
"Atih tak takut tuh, dah yah Om. Istri Atih mau nidurin Atih, udah malam juga nggak baik buat kesehatan Ateu cantik, Assalamualaikum," ucap Fatih menjauhkan ponsel nya.
"Siapa yang kau bilang istri seenaknya! Bocah kecil dia...," ocehan Egi terhenti karena Fatih dengan sengaja mematikan telpon secara sepihak.
"Dek fatih tahu dari mana soal suami istri segala?" tanya Annisa lembut mengusap puncuk rambut Fatih.
Fatih memberikan ponsel ke Annisa. "Atih lihat di tv, suami istri itu selalu pergi bersama, bahkan tidur bareng kayak Atih sama Ateu cantik," ucap Fatih.
__ADS_1
Annisa tersenyum, mengusap pipi gembil kemerahan Fatih.
Masih anak kecil begini memang masih polos dan bersih, tapi pemahaman nya cukup maju dari usia nya yang masih muda.
Kemudian Annisa menaruh ponsel nya ke atas meja nakas, kembali menatap Fatih.
"Dek fatih Ateu mau tanya, kapan kamu masuk ke kamar Ateu?"
"Saat Ateu buka pintu," Saut Fatih sambil merebahkan tubuh di samping, tubuh Annisa yang masih terduduk setengah terbaring.
Annisa memperhatikan pergerakan fatih.
"Jadi yang tadi mengetuk pintu itu dek Fatih?"
"Iya," saut Fatih cepat. Kemudian tangan kecil nya memeluk perut Annisa. "Atih nggak bisa tidur, jadi tidurin Atih, dan bacain cerita lagi." Memejamkan mata nya.
Annisa sedikit tertegun menatap wajah tampan mungil fatih yang sangat mirip dengan Arga.
"Dek fatih, bibi pengasuh mu kemana?" tanya Annisa lembut.
"Atih suka tidur dengan Ateu cantik, tidak suka dengan yang lain. Jadi Atih datang kemari," ucap Fatih membuka mata mendongak menatap Annisa.
Annisa menghela napas pelan, lalu ikut merebahkan tubuh di samping tubuh mungil fatih. Memeluk dan menyelimuti tubuh nya juga tubuh fatih. "Baiklah, Ateu tidurkan kamu. Waktu kemarin Ateu udah cerita tentang Nabi siapa yah, Ateu lupa?" tanya Annisa sudah mulai mengusap lembut rambut fatih.
Fatih melepaskan pelukan di perut Annisa, memilih menenggelamkan tubuh kecil nya dalam kelonan pelukan Annisa. "Kisah Nabi Ya'kub AS," saut Fatih.
Annisa mencubit pelan ujung hidung fatih dan tersenyum. "Sekarang bagian kisah Nabi Yusuf AS, seorang Nabi yang terkenal akan ketampanannya dan mempunyai kemampuan penafsir mimpi, Fatih dengarkan yah, dan setelahnya tidur," ucap Annisa yang di balas anggukkan patuh dari Fatih.
Annisa menghela napas pelan sebelum berucap. "Nabi Yusuf adalah salah satu putra daripada dua belas putra-putra Nabi Ya'qub. Ibunda yang melahirkan Nabi Yusuf dan adiknya Benyamin bernama ibunda Rahiel. Nabi Yusuf dikurniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita, yang tua dan muda...," tutur Annisa yang mulai bercerita namun terhenti.
"Seperti Atih yah Ateu, tampan nya?" tanya Fatih memotong ucapan Annisa.
Annisa tersenyum mengusap pipi Fatih. "Ketampanan beliau tiada tara nya," jawab Annisa.
"Tapi Atih paling tampan, Ateu cantik saja mau jadi istri Atih," sahut nya tak mau kalah.
Annisa terkekeh dan mengangguk kecil. "Baiklah, iya Fatih paling tampan, jadi mau di teruskan tidak, cerita nya?"
"Teruskan Ateu," ucap Fatih.
Annisa mulai bercerita kembali. "Karena kesolehan, ke taat an, juga ketampanan yang di kurniakan Allah pada nya, dan pada saat usia nya yang ke-12 tahun Nabi Yusuf jadi piatu di tinggalkan wafat oleh ibundanya. Nabi Ya'kub menjadikan Nabi Yusuf anak yang dimanjakan, lebih di sayang dan di cintai di banding dari saudara lainnya. Sehingga perlakuan yang diskriminatif (tidak seimbang) dari Nabi Ya'qub terhadap anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki di antara saudara-saudara Nabi Yusuf yang lainnya, yang merasakan bahwa mereka merasa telah dianak-tirikan oleh ayahnya yang tidak adil sesama anak, memanjakan Nabi Yusuf lebih daripada yang lain...," tutur Annisa.
Annisa terus bercerita tentang kisah Nabi Yusuf As hingga akhir sampai membuat Fatih tertidur pulas dalam pelukan dan belaian lembut tangan nya.
Beberapa saat kemudian.
Annisa menyelimuti tubuh mungil Fatih sampai leher, lalu dengan gerakan perlahan mengambil ponsel nya di atas meja nakas yang sedari tadi berbunyi notifikasi pesan.
Annisa membuka isi pesan dari Egi.
Egi : "Bocah itu tertidur di kasur mu lagi, sayang?"
Annisa : "Iya, bahkan sekarang sudah tidur pulas."
Egi : "Hah menyebalkan... jangan perlihatkan rambut mu di depan bocah itu, dan jangan biarkan dia mencium mu begitu sebaliknya, aku tak mengizinkan nya."
Annisa tersenyum membaca pesan panjang Egi. Dasar suami bocah ku.
Annisa : "Iya Egi."
Egi : "Baiklah, besok kau ada shift pagi kan. Cepatlah tidur."
Annisa : "Iya, Good Night Egi."
Egi : "Good Night Sayang, mimpikan Aku ;*"
Annisa tersenyum geli melihat pesan terakhir yang di buka nya, meletakkan kembali ponsel nya. Lalu ikut terbaring kembali di samping Fatih dan memeluk tubuh mungil itu.
Aku sangat merindukan mu Egi. Annisa memejamkan mata ikut menyusul ke alam mimpi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...