
Mobil putih yang di tumpangi keduanya telah terparkir di area parkir restoran mewah menengah ke atas. Farhan berjalan menggiringi langkah kaki gadis manis di sampingnya untuk memasuki restoran itu. Pertama masuk kedalaman ruangan, mereka langsung di sambut oleh beberapa penjaga pintu dan mempersilahkannya dengan ramah.
Gadis manis bergaun violet itu, melangkah dengan pandangan di edarkan ke sekitar ruangan restor yang bernuansa cozy dan romance. Terdengar alunan nada lembut yang berasal dari alat musik yang di tekan oleh jemari tangan, seorang pria bertopeng yang menutupi kedua bola matanya. Pria itu berada di atas panggung pentas duduk di depan piano.
Kenapa kak Farhan mengajak ku kemari, restoran ini kan terkenal untuk para couple.
Juga terlihat beberapa pasangan kaum muda mudi sepantarannya telah menempati meja-meja pilihan mereka yang kebanyakan memilih dekat jendela besar menghadap ke pemandangan laut dan kota.
"Dek, kita duduk di sana saja." Ajak Farhan hendak meraih tangan Rika untuk di tarik dan di genggamnya.
Namun Rika yang menyadari hal itu, segera mengamankan kedua tangan dengan saling menggenggam tas tangan berukuran kecil yang sedang di pegangnya.
Farhan tersenyum, menarik kembali tangannya. "Maaf, kakak reflek." Dia melangkah ke arah sebuah meja nomor 6 dengan dua kursi dekat sekali dengan bagian luar resto yang menghubungkan ke pemandangan pantai sehingga tercium aroma air laut juga semilir angin malam.
Rika duduk di kursi yang sudah di tarik oleh Farhan dan mempersilahkan dengan gerakan tangan. Setelahnya Farhan duduk di kursi sebrangnya.
Seorang pria berseragam pelayan restoran tersebut, menghampiri meja mereka dengan membawa buku menu dan memberikan pada Rika juga Farhan.
"Pesan sesuka Adek, dan tenang saja. Meskipun kebanyakan makanan di buku menu ini adalah khas jepang, tapi halal kok, jadi aman," tutur Farhan menatap gadis manis itu.
Rika mengangguk kecil, membuka buku menu dan membaca nama setiap menu. Ketika bola mata nya melihat ke sederet harga per-menu, seketika matanya melebar melotot tak percaya.
Gila, mahal banget. Kalau gini dalam sekali makan bisa terkuras habis uang jajan bulanan ku...
"Dek." Panggil Farhan membuyarkan keterkejutan Rika.
"I-iya." Sahutnya, menurunkan buku menu yang menghalangi wajahnya.
"Gimana sudah ada pilihan? Apa perlu rekomend dari kakak, menu mana yang paling enak?"
"Heh." Rika menutup setengah wajahnya kembali dengan buku menu. "Tid-tidak perlu kak."
Kalau dia yang memilihkan nanti bisa pilih menu yang harga nya mahal.
"Beef Tataki, minumnya orange soda." Ucap Rika sambil menutup buku menu dan menyodorkan ke pelayan yang langsung di terima.
"Dessert nya?" tanya pelayan pria itu.
"Mango Mousse, dan trifle chocolate greentea cake." Sahut Farhan.
Mengangguk sambil mencatat. "Untuk tuan sendiri?"
"Butterfish tagine dan lime citrus soda."
"Baik tuan dan Nona, mohon di tunggu." Pamit sang pelayan menundukkan kepala sebagai salam lalu pergi.
Sepeninggalan pelayan pria.
Rika menghela napas pelan, menatap ke arah samping kiri yang di suguhkan pemandangan laut malam. Ia terlihat termenung dengan jemari tangan saling tergenggam di atas pangkuannya bawah meja.
Hari yang melelahkan. Hah... Mama, Ika ingin menolaknya namun tak sanggup melihat wajah sedih Mama.
Sedang Farhan lebih menikmati keindahan wajah cantik Rika yang terlihat alami dengan polesan make up natural tipis, ia tersenyum senang dengan punggung menyender ke badan kursi dan sebelah tangan ke atas meja.
"Sangat cantik." Celetuk Farhan jelas.
Membuat Rika yang mendengar samar, seketika menoleh. "Kenapa kak?"
Pria tampan itu menggeleng pelan, masih mengembangkan senyuman manis. "Adek suka di sini?"
"Hemm." Kembali menatap ke arah pemandangan laut. "Suasana nya tenang."
"Syukurlah, kalau adek suka," ucapnya, masih menatap lekat. "Ekhem...," Farhan berdehem sembari bangkit dari duduknya. "Kakak ke toilet sebentar yah, tidak apa kan di tinggal?"
"Hem." Mengangguk kecil tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan laut.
Farhan tersenyum sebelum dirinya keluar dari area meja dan berjalan melangkah ke arah lain, bukan ke arah toilet berada. Ia berbelok ke tempat khusus para pekerja berada yang khususnya ia menemui seorang pelayan pria tadi. Dan kebetulan ia bertemu di pas belokan dekat panggung pentas dimana seorang pria bertopeng tengah bermain piano.
Dia membisikkan sesuatu pada pelayan pria itu, sembari mengeluarkan sebuah kotak hitam berukuran kecil dari balik jas dan menyerahkannya yang langsung di terima. Hal itu tak luput dari lirikkan tajam seorang pria bertopeng, ada senyuman kecil tersungging di sudut bibirnya.
Setelah beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Dari meja nomer 11 yang berada di sebrang pojok tidak jauh hanya terhalang 5 meja dari meja mereka. Tampak seorang pria tampan memakai mantel panjang berwarna hijau army, sorot mata nya amat tajam awas mengamati ke arah meja mereka terbingkai oleh kacamata tipis berbentuk bulat. Pria itu tersenyum sinis, menyesap black tea macchiato namun pandangan tak lepas menatap gadis manis bergaun violet di meja ujung.
Saat dirinya fokus menatap ke arah Rika, tiba-tiba seorang pria berseragam pelayan tengah mendorong troli makanan hendak melewatinya.
Pria tampan itu mengedipkan sebelah mata sebagai isyrat pada pelayan pria tersebut yang di balas anggukkan kecil.
Di meja nomer 6.
Pelayan pria memindahkan setiap makanan dari atas troli ke meja mereka dengan menu pesanan mereka masing-masing.
Rika menerima nampan berisi menu pesanannya, ia sudah bersiap memegang pisau dan garfu untuk memotong.
"Sebentar." Cegah Farhan membuat Rika menatap bingung.
"Kenapa kak?"
Farhan menarik nampan di hadapan Rika dan memotong hingga menjadi potongan terkecil lalu setelahnya menyodorkan kembali piring itu ke sang pemilik.
"Makasih." Rika berucap sembari menusuk potongan daging dan menyuapkan ke mulutnya.
Farhan terkekeh senang melihat pemandangan itu. "Enak?" Yang di balas anggukkan kecil.
"Kak Farhan nggak makan?" Menunjuk ke arah piring yang masih belum tersentuh.
"Ah, iya." Mengambil sendok dan garfu bersiap untuk menyendok. "Melihat adek makan jadi rasa lapar kakak hilang," ucapnya menyuapkan satu sendok ke mulut.
Saat makanan itu menyentuh lidahnya, meresap untuk di kunyah dan di cecap rasanya. Seketika air muka Farhan berubah merah, mata nya melotot. Rasanya pedas sekali? Bagaimana bisa? Aku memesan dengan benar.
Melihat raut muka Farhan yang berubah, alis Rika terangkat sebelah menatap heran. "Kenapa kak? Nggak enak makananya?"
Tidak mungkin aku berkata tidak enak. Sedang dia terlihat begitu menikmati makanannya. Farhan memaksakan untuk mengunyah makanan itu dan menelannya. "Ng-nggak, maksud kakak enak, sangat enak." Farhan kembali menyendok namun ia terlihat kaku untuk menyuapkannya.
"Kak," terjeda sejenak Rika menusuk daging dan memainkan dengan di iris-iris kecil oleh pisau. Ia menundukkan pandangan tak berani menatap langsung pada pria di hadapannya. "Bisakah kak Farhan berbicara pada keluarga kakak untuk menarik dan menolak perjodohan ini? Jujur saja, saya merasa terbebani dan risih ketika melihat Mama sangat antusias pada perjodohan namun saya sendiri tidak begitu."
Raut wajah Farhan telah berubah merah padam dengan mata berkaca-kaca juga terdengar suara isak dari hidung. Ia menatap Rika sambil menyuapkan dan mengunyah makanan pedas itu. "Ke-kenapa adek berkata seperti itu?"
Masih menundukkan pandangan. "Karena saya tidak bisa bertahan untuk mene-"
Suara ingus yang di insrek atau di tarik berasal dari sang pria dihadapannya membuat Rika menghentikan ucapannya. Ia mengangkat wajahnya untuk melihat jelas apa yang terjadi pada Farhan.
"Hmm, hah...," terlihat Farhan sudah berderai air mata mengusap hidungnya yang mengeluarkan lendir dengan tisu, juga wajahnya yang merah padam seperti sehabis menangis.
Di-dia menangis? Apa ucapan ku menyakitinya?
Rika terlongo menatap diam, kemudian ia meletakkan garfu dan pisau ke atas nampan. Dia mengambilkan gelas minuman milik Farhan dan menggeserkannya. "Maaf kak, dan minumlah. Sa-saya tidak akan berbicara soal perjodohan lagi jika... jika kak Farhan merasa tidak nyaman."
"Hmm... uhuk, uhuk... ti-tidak apa." Timpal Farhan dengan suara serak ia mengambil gelas itu, untuk di seruput airnya. Dan pada saat air tersebut menyentuh lidah perasa nya, seketika wajahnya semakin merah padam dengan mata melebar. Lalu...
Byurr.
Farhan meyemburkan air di mulutnya ke arah Rika hingga mengenai bagian depan gaun juga sebagian terciprat ke wajah gadis manis di hadapannya.
Sontak Rika terlongo kaku, dengan mata melotot kaget ia menundukkan kepala melihat bagian depan gaunnya basah oleh air jus campur air liur Farhan. Tangannya gemetar menggengam alat makan. "K-kak." Tercekat dalam tenggorokan. Segitunya dia marah sama aku, sampai harus menyemprotku.
Seketika semua tamu pengunjung di restoran itu menatap aneh ke arah meja mereka dan berbisik-bisik. Hanya senyuman kepuasan dan tatapan kesenangan yang berasal dari meja nomer 11 menanggapi kejadian itu.
"Ma-maaf Dek, aku-aku nggak sengaja." Farhan menarik tisu dengan banyak dan beranjak dari duduknya hendak mengusap wajah Rika.
Rika masih terpaku diam, dengan geraham gemereletuk geram dan tangan terkepal kuat. Sabar... sabaar Rik, jangan mempermalukan dirimu.
Dia merampas cukup kasar tisu dari tangan Farhan. Lalu bangkit dari duduknya. "Saya ke toilet dulu." Ucapnya, melangkah pergi meninggalkan Farhan yang terbengong berdiri kaku di samping kursi kosong.
"Aaarrgh...," Farhan mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan. "Sial! Siapa yang mengerjai ku." Umpatnya berjalan ke arah tempat para pekerja tadi.
Seketika kekehan puas dari meja nomer 11, yang berasal dari bibir tipis Jhon. "Menyenangkan juga." Dia menyesap kembali kopi nya, sambil menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Beberapa waktu kemudian.
Rika telah kembali ke meja dan duduk di kursi nya di hadapan Farhan yang sudah menunggunya sedari tadi. Farhan bangkit dari duduknya melepaskan jas yang di pakai, lalu menyampirkan ke punggung Rika.
"Pakailah, maafkan kakak soal tadi." Ucap Farhan merasa bersalah, kemudian kembali duduk ke kursi nya.
__ADS_1
Rika berdehem sejenak menetralkan tenggorokannya yang terasa kering. Tenang Rik, dia sudah minta maaf.
"Iya kak, tidak apa. Hanya basah sedikit doang tidak masalah." tersenyum palsu.
Farhan menatap sayu penuh penyesalan dan rasa bersalah. "Tapi itu membuat mu malu, kakak tidak bermaksud seperti itu, hanya saja...," terjeda dan menghembuskan napas kasar hendak melanjutkan ucapannya namun terhenti.
"Saya tidak apa. Jadi jangan merasa bersalah seperti itu, saya pun minta maaf atas ucapan saya tadi, yang memang agak sedikit menyinggung perasaan kakak," tutur Rika memotong ucapan Farhan.
Pria tampan di hadapannya tersenyum, menatap hangat. "Tidak salah hati kakak tertaut oleh bidadari sebaik dan secantik adek. Semakin kakak bersemangat ingin mendapatkan mu."
"Eh," Rika mengalihkan pandangan ke arah lain. Aku salah ngomong lagi deh, semakin sulit aku terlepas dari perjodohan ini.
Dan bersamaan dengan itu, seorang pelayan mengantarkan sebuah dessert ke meja mereka yang di sambut senyuman dari bibir merah Rika.
Gadis manis itu menatap binar pada gelas berukuran sedang mango mousse. Setidaknya aku masih bisa menikmati makanan seenak ini. Jadi lupakanlah soal kejadian tadi dan perjodohan.
"Makanlah, mango mousse di sini paling enak dari resto lain." Farhan memegang sendok kecil untuk menyedok dessert di hadapannya.
Rika mulai memegang sendok lalu menyendok dan menyuapkannya ke mulut. Ia mencecap merasakan makanan itu yang lumer lembut dan harum di mulutnya. "Benar sangat enak." Lalu ia kembali menyendokkan untuk di suapkan ke mulut.
Farhan menatap dengan tatapan tanya sekaligus bingung saat gadis manis itu sudah tiga sendok menyuapkan dessert.
"Dek."
"Hemm." Tanpa menoleh dan asyik memakan dessert.
"Apa tidak ada benda keras yang tergigit?"
Alis Rika tertaut bingung menatap Farhan dan menyuapkan kembali dessert ke mulutnya. "Nggak tuh." Jawabnya tak acuh.
"Se-serius dek?" Farhan semakin heran bercampur panik. Apa tertelan?
Mengangguk beberapa kali. "Hemm, tapi serius deh kak. Dessert nya sangat enak dan lumer di lidah." Tersenyum ceria menyuapkan yang tinggal beberapa sendok ke mulutnya.
"Stop!" Sentak Farhan membuat gerakan sendok yang masih menempel di mulut Rika terhenti.
"A-ada apa kak?"
Sret. Brak.
Farhan bangkit dari duduknya dengan kedua tangan tertumpu di atas meja. Dia mencondongkan tubuh ke depan melirik gelas dessert yang tinggal satu suapan kemudian menatap Rika hingga jarak wajah mereka cukup dekat. "Buka mulut mu!"
"Hah!" Kaget Rika memundurkan kepala hingga mentok di senderan kursi, ia mengerjapkan mata beberapa kali dengan cepat, menatap terlongo. Mau apa dia? Apa dia sudah gila?
Tak...tak...tak.
Bersamaan dengan itu suara langkah kaki dari sepatu hitam mengkilap seorang pria tampan berjalan menggema di ruangan resto yang hening dan tenang karena saat ini para tamu pengunjung tengah menatap diam menyorot tajam ke arah meja nomer 6 tersebut.
"Haha...," tawa pelan penuh kepuasan dari pria tampan yang sudah berdiri di samping meja mereka.
Serempak Rika dan Farhan yang mendengar suara tawa yang jelas terdengar di telinga nya. Kedua nya dengan gerakan kaku dan perlahan menoleh ke arah samping.
"J-jojo." Kaget Rika membelalak tak berkedip.
"Kau." Tercekat dan memundurkan tubuhnnya untuk berdiri tegap. Dengan tangan terkepal kuat dan tatapan tajam menatap Jhon bagai melihat musuh besar.
Jhon tersenyum senang, mengangkat sebelah tangan dan menunjukkan sebuah cincin terkapit di antara jari telunjuk dan ibu jari. "Anda mencari ini?" Ucapnya dengan santai.
"Kau mencuri nya, hah!" Teriak Farhan dan hendak merampas namun kalah cepat gerakan tangannya, cincin itu di genggam oleh Jhon.
"Eits... santailah, saya tidak akan mencuri barang murahan," terkekeh senang bagai mendapat mainan baru. Jhon menarik lengan Rika agar berdiri lalu menarik jas yang tersampir di punggungnya. Ia memasukkan cincin itu ke dalam jas.
Kemudian melemparkan jas tersebut dengan kasar ke Farhan. "Sudah cukup main-mainnya, saya jemput wanita milik ku." Jhon mencondongkan tubuh mendekatkan wajah ke samping wajah Farhan. "Karena bagaimana pun dia tidak akan sudi menerima lamaran dari pria bodoh dan gila seperti mu." Bisiknya, tersenyum miring.
"Kau." Geram Farhan mengepalkan kedua tangan, rahang tegasnya mengeras dengan gigi gemereletuk geram, sorot mata nya penuh dengan amarah sehingga wajah putih bersihnya berubah menjadi merah padam.
Jhon menegakkan kembali punggungnya, lalu merangkul bahu gadis manis yang sedari tadi berdiri kaku termenung bengong. Dia berbalik menghela Rika agar ikut melangkah.
"Makasih atas makan malam nya. Jangan lupa tagihan meja nomer 11 juga. Bye, selamat malam." Ucap Jhon melambaikan sebelah tangan sambil berlalu pergi merangkul membawa Rika bersamanya meninggalkan restoran yang sudah gaduh oleh suara bisik-bisik menatap Farhan yang terkaku menatap penuh amarah ke arah punggung Jhon.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...