
Hari akan memasuki sore hari, dan annisa telah menyelesaikan kelas kuliah nya. Namun, ia tidak langsung pulang ke rumah, melainkan menuju ke kamar asrama untuk mengerjakan tugas perkuliahan yang sudah menumpuk.
Rika telah berganti pakaian hendak keluar asrama, melihat annisa yang masih sibuk menulis tugas laporan. "Nis, aku keluar dulu yah mau nyari bahan, masih belum sampai target aku," ucap rika sembari merapihkan pakaian nya.
Tanpa menolehkan pandangan dari setumpuk kertas di hadapan nya. "Hemm," gumam Annisa mengiyakan.
"Oh iya Nis, hari ini kerumah mbak mu nggak?" tanya rika yang akan menuju pintu.
Annisa mengangguk kecil sebagai jawaban iya, lalu annisa mendongak menatap rika yang sudah berdiri di ambang pintu. "Emang kenapa rik? tumben tanya," tanya annisa.
"Nggak, cuman tumben aja jam segini belum ke sana, biasanya kan setelah kelas langsung cap cus," ucap rika, menghela napas pelan lalu menatap annisa. "Dan kau tahu Nis, kak Alan nelponin aku terus gara gara nomer kamu nggak aktif kalau di telpon oleh nya, dan yang bikin aku jengkel itu, sampai sampai tuh kak Alan nanyain kamu tiap waktu dan menit. Yaa terpaksa deh aku non aktifkan ponsel ku," sambung rika.
Perasaan ponsel ku selalu aktif, dan di lihat dari chat juga nggak ada chat dari kak Alan. Lagian buat apa kak Alan nyariin aku, nggak penting juga.
Annisa hanya menanggapinya dengan mengedikkan sebelah bahu dan acuh seolah tidak mau mendengar hal lain lagi. Ia kembali fokus pada kertas yang menumpuk untuk menulis tugas nya.
Melihat respon annisa seperti itu, rika yang seakan mengerti jika sahabat nya tidak mau di ganggu. Ia memutar kenop pintu dan hendak keluar kamar. "Ya sudah aku keluar dulu umi annisa, Assalamualaikum," salam rika sambil melangkah keluar kamar.
"Walaikumsalam."
Rika telah keluar dari kamar dan annisa kembali fokus mengerjakan tugas nya.
Baru beberapa menit setelah kepergian rika dari kamar nya, tiba tiba ponsel Annisa yang ada di atas kasur berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Annisa dengan malas meraba sekitar kasur untuk meraih ponsel yang terus berbunyi nyaring.
Menempelkan ponsel ke telinga tanpa melihat siapa yang menelpon.
"Assalamualaikum," sapa annisa pada orang di sebrang sana.
"Walaikumsalam. Nis, kamu bisa nggak turun ke bawah sebentar, ada orang reseh nih nyariin kamu," ucap rika dengan nada sebal.
Menghela napas pelan sambil menggaruk pelan dahi nya. "Siapa sih rika, aku malas turun, banyak tugas aku nya," ucap annisa malas.
"Udah cepet aja kesini dulu Nis, kalau kamu nggak kesini nih orang nggak bakal ngebiarin aku lewat, please yah umii. Udah di tunggu, assalamualaikum," menutup panggilan sepihak sebelum annisa membalas ucapan nya.
Annisa melempar ponsel nya ke kasur begitu saja, lalu dengan gerakan malas ia bangkit dari duduk nya untuk melangkah keluar kamar.
"Siapa sih, ganggu aja deh," gerutu annisa sembari melangkah kan kaki menuruni anak tangga.
Annisa menghela napas panjang, begitu melihat siapa yang berdiri di samping rika. Lalu dengan langkah pelan annisa menghampiri rika yang tampak nya tengah beradu mulut dengan orang di samping nya.
__ADS_1
"Ekhem...," dehem annisa setelah diri nya berdiri di antara kedua nya.
Kedua nya menoleh dan tersenyum, "dek Annisa," sapa kak Alan.
Mengangguk kecil, "ada apa yah kak mencari annis?" tanya annisa.
"Kak udah ketemu yah, rika pergi. Huh... bikin kesel aja sih," omel rika sembari berbalik melangkah pergi.
Alan tidak menghiraukan omelan rika, ia fokus menatap memidai annisa dari atas sampai bawah. Sementara annisa yang di tatap seperti itu, merasa risih. "Ada apa kak, kalau nggak ada apa apa Annis akan kembali ke atas lagi," ucap Annisa.
Tersenyum, "dek annisa kemana aja? Kakak khawatir terhadap mu, kenapa setiap di telpon atau di chat tidak ada satu pun jawaban dari mu dek, dan bahkan di telpon hingga berratusan kali juga jawaban nya selalu sama jika nomer adek di luar jangkauan, adek tidak di apa apain kan, setelah di culik oleh cowok begajulan itu?" rentetan pertanyaan meluncur dari bibir Alan.
Hey, cowok begajulan itu suami ku. Seenak nya kak Alan manggil s bocah begajulan.
Annisa mengangguk kecil. "Annisa baik baik aja kak," jawab singkat annisa karena malas menanggapi nya.
"Syukurlah, melihat mu ada di depan ku saat ini, membuat kakak lega." ucap Alan, tersenyum lalu melirik tangan nya. "Oh, iya adek pasti belum makan siang, kakak bawain makanan nih," menyodorkan paper bag ke arah annisa.
Annisa melirik paper bag juga kak Alan secara bergantian. tangan annisa tidak tergerak untuk menerima apa yang di sodorkan Alan ke hadapan nya.
Jika aku menerima lagi, rasa nya tidak enak hati. Tapi gimana cara nolak nya yah.
Annisa memiringkan kepala nya melihat siapa yang memanggil nya, seketika mata annisa sedikit melebar karena terkejut. "Egi...," celetuk Annisa yang melihat egi tengah berjalan ke arah nya.
Alan yang mendengar annisa menyebut nama seseorang, segera diri nya setengah menyerongkan badan untuk melihat siapa yang annisa panggil.
Dia lagi.
Egi telah berdiri santai di samping annisa dengan satu tangan di masukkan ke dalam saku celana lalu menatap tajam ke Alan yang tampak bingung dan tersenyum sinis.
Annisa menatap egi dan Alan secara bergantian lalu mengedarkan pandangan nya sekitar.
Untung keadaan di luar asrama tidak ramai, kalau teman teman ku yang lain melihat ada dua laki laki masuk asrama ini bisa kena semprot aku, hah... menyusahkan saja mereka berdua.
"Siapa anda? berani sekali anda mendekati Annisa," seloroh egi dengan nada tidak suka di setiap kata kata nya.
Mendengus dan membuang muka ke arah lain, lalu kembali menatap egi. "Seharusnya saya yang bertanya seperti itu pada anda, siapa nya anda bagi dek Annisa sehingga berani bertanya seperti itu pada saya, dan bukannya anda adalah orang yang pernah menculik dek annisa waktu itu?" tanya Alan dengan nada tak kalah tajam.
Egi menoleh ke Annisa yang ada di samping nya yang tampak tengah memperhatikan diri nya dengan Alan. "Annisa, ambil barang barang mu, kita pulang," titah egi.
__ADS_1
Mengangguk kaku. "I-ya aku ke atas dulu," jawab annisa gagap lalu berbalik melangkah menjauh, namun sesekali masih menatap kedua orang yang di kenal nya itu yang tampak saling menatap tajam.
Hah... jam berapa sekarang, sampai aku lupa waktu, tapi s egi tumben jemput aku kesini.
Sepeninggalan Annisa.
Egi masih menatap tajam ke Alan begitu pun alan sebaliknya.
"Jelaskan, siapa anda bagi dek annisa. Kenapa sampai berkata mengajak pulang segala, bukannya anda seorang penculik dek annisa?" tanya Alan.
Tersenyum miring, "saya lelaki pendamping hidup nya Annisa," jawab egi santai.
Tersenyum mengejek. "Lelaki pendamping hidup... hah jangan mimpi, setau saya dek annisa belum tunangan atau menikah apalagi menjalin hubungan yang nama nya pacaran," ucap Alan tidak percaya.
Egi menghela napas pelan, "terserah anda mau percaya atau tidak, yang jelas jangan pernah dekati wanita saya. Apalagi menyentuh nya, karena seinchi saja anda menyentuhkan tangan di kulit wanita saya, anda akan tahu akibat nya," ancam egi dengan nada tajam nan arogan.
Alan semakin terkekeh geli mendengar ancaman egi, bukan merasa takut atau pun percaya akan ancaman nya. "Oke lihat saja nanti, akibat apa yang akan saya terima jika sampai saya menyentuh atau mendekati dek Annisa," tantang nya.
Tidak beberapa lama kemudian.
Annisa telah kembali dari lantai atas dan berjalan mendekati kedua nya, tampak dari kejauhan kedua nya masih saling tatap menatap tajam namun di selingi pembicaraan yang seperti nya serius di mata annisa, karena melihat sorot mata egi begitu tajam dan serius saat menggerakkan bibir nya.
"Egi...," ucap annisa yang sudah berjalan tinggal beberapa langkah lagi untuk sampai ke kedua nya.
Egi menoleh dan tersenyum, "sudah kau ambil barang barang mu?" tanya egi setelah annisa berada di samping nya yang memeluk tumpukkan kertas dan menggendong tas ransel.
Annisa mengangguk mengiyakan. "Sudah, ayok!" ajak annisa.
Egi mengangguk kecil lalu merangkul bahu annisa dan merapatkan tubuh annisa ke diri nya. "Kita akan pulang dulu, sampai bertemu lagi," ucap egi tersenyum miring ke arah alan kemudian dengan angkuh berjalan melewati alan.
Alan berdiri mematung melihat pemandangan di hadapan nya, dan dengan gerakan kaku alan memutar kepala melihat kepergian Annisa dan egi, yang membuat alan kaget adalah tangan egi yang bertengger merangkul bahu annisa, dan annisa dengan pasrah nya membiarkan begitu saja tanpa menolak atau berteriak terhadap egi. Sementara selama ini Alan sendiri tidak pernah saling sentuh sekalipun itu berjabat tangan dengan annisa.
Alan kembali mencerna percakapan nya tadi dengan egi, yang menyatakan jika egi adalah lelaki pendamping annisa.
Menghembuskan napas kasar dan mengusap kasar wajah dengan kedua tangan nya.
Tidak mungkin, ini pasti salah. Mana mungkin dek annisa telah di miliki seseorang, selama ini aku tidak pernah lengah mengetahui semua tentang nya, mana mungkin aku kecolongan berita besar ini. Aku harus menyelidiki ini semua, iya harus.
BERSAMBUNG...
__ADS_1