
Egi dan Annisa berjalan ke arah basement, tempat mobil terparkir. Kedua nya berjalan mendekati mobil sport dua pintu berwarna biru tua.
Alis Annisa terangkat sebelah melihat mobil di hadapannya. "Mobilnya kok beda?" Heran Annisa.
"Baru, kau suka?" tanya Egi membuka kan pintu mobil untuk Annisa.
"Su..suka. Tapi kenapa harus membeli yang baru? Yang lama kan masih bagus?"
"Bukan beli sayang, tapi ngambil dari showroom," Jawab Egi, sambil mengusap bahu Annisa agar masuk ke dalam mobil.
Annisa menurut memasuki mobil dan duduk di kursi yang hanya terdapat dua kursi di mobil itu.
Dia punya showroom? Ah, aku lupa bisnis keluarga nya kan ada di bidang transportasi juga. tapi mobil ini terlalu mewah, aku lebih suka dengan mobil lama. yang model nya tidak mencolok seperti ini.
Egi memasuki mobil, dan duduk di kursi kemudi. Ia menoleh ke Annisa yang tampak bengong. "Kenapa sayang? Kau tidak nyaman dengan kursi nya? Jika kau tidak suka dengan mobil ini, kita pindah ke mobil lain."
"Eh, tidak Egi. Tidak apa. Aku suka, hanya saja harus terbiasa dengan barang baru." Annisa menimpali dan tersenyum canggung.
Egi mendekat untuk menarik seat belt, dan memasangkannya melingkari tubuh Annisa. "Jika ada yang membuat mu tidak nyaman katakanlah saja, sayang, jangan di paksakan. Karena aku melakukan semua nya hanya untuk melihat senyuman bahagia di bibir mu, bukan senyuman terpaksa seperti sekarang," tutur Egi mengusap wajah Annisa.
"Benar, aku merasa nyaman dengan mobil lama," jujur Annisa menundukkan pandangan.
"Besok kita pakai yang lama lagi, sekarang mobil itu lagi di service dulu," ucap Egi mengusap puncuk kepala Annisa.
Annisa mengangguk pelan. Ia mengangkat wajah nya menatap Egi. "Oh iya, kak Jhon nggak jemput kamu lagi?" tanya Annisa.
"Aku minta tidak di jemput, biar ketemu di kantor aja. Karena aku ingin berdua dengan mu sayang," ucap Egi, membenarkan posisi duduknya dan memakai seat belt di kursi nya.
"Hemm, kenapa suami bocah ku setelah pulang dari luar negeri, jadi bermulut manis, dan pandai merayu yah," sindir Annisa melirik Egi yang sudah menyalakan mesin mobil dan melajukannya.
Egi tersenyum tipis. "Tentu harus pandai, jika ingin menaklukan hati istri brandal yang keras kepala seperti mu," sahut Egi, memutar stir mobil untuk berbelok meninggalkan pagar rumah putra, dan kini mobil yang mereka tumpangi telah melaju di jalanan.
Annisa menatap Egi, dengan senyuman manis terus mengembang di bibir nya.
Dia sudah dewasa dan sangat tampan.
Di sela fokus nya, Egi melirikkan bola mata nya ke sudut mata. "Sayang, jangan menatap ku seperti itu. Aku akui memang aku sangat tampan, tapi jangan menatap ku seperti itu, bisa runtuh iman ku di dalam mobil dan kembali membawa mu pulang," ujar Egi di akhiri senyuman.
Annisa mengalihkan pandangannya ke luar jendela, dan berdehem pelan. "Narsis sekali kamu ini Egi." Sahut Annisa menyembunyikan rona pipi nya yang sudah memerah.
Egi terkekeh senang, sebelah tangannya mengusap gemas puncuk kepala Annisa.
"Egi," panggil Annisa kembali menatap ke Egi.
"Hemm...," sahut Egi dengan pandangan tetap fokus ke jalanan.
"Jika aku bertanya tentang kak Jhon, kau akan marah tidak?"
Sekilas Egi melirik Annisa, kemudian kembali fokus ke jalanan. "Tidak, apa yang ingin kau ketahui tentang orang tengil itu?" tanya Egi.
__ADS_1
Terlihat secercah keraguan di sorot mata Annisa sebelum membuka mulutnya untuk bersuara. "Di lihat dari garis wajahnya, sepertinya usia kak Jhon di atas usia sekertaris Tang. Kira kira kenapa kak Jhon belum menikah juga?" tanya Annisa penasaran.
Egi tersenyum, menoleh sejenak dan mencubit pelan pipi Annisa. "Aku cemburu loh sayang, kalau istri ku peduli pada pria lain."
"Egi, aku hanya ada maksud baik saja menanyakan hal itu. Jadi jangan salah paham," seru Annisa menatap serius.
Egi menghela napas pelan, mengelus lembut pipi Annisa yang sempat di cubitnya tadi. "Dia tak akan menikah, karena di hati nya hanya ada satu wanita itu," tutur Egi di sela fokus nya menatap jalanan.
Alis Annisa berkerut, menatap penasaran. "Wanita itu? Apa kak Jhon mencintai seorang wanita yang tidak mencintai nya balik?" tanya Annisa yang jiwa kepo nya sudah on.
"Mereka saling mencintai, hanya saja...," ucapan Egi terjeda sejenak, Ia memegang kuat stir kemudi. "Wanita itu meninggal dunia akibat kecelakaan mobil, 4 hari sebelum pernikahaan di adakan."
Seketika Annisa tertegun, mata nya sedikit melebar, dan bibir nya terbuka tertutupi telapak tangan. "Me...meninggal," celetuk Annisa lemah.
Egi mengangguk kecil, sambil membelokkan stir mobil nya untuk mengambil jalan belok kanan. "Sejak saat itu dia tidak pernah berkenalan atau pun mau berhubungan dengan wanita mana pun, dan selalu memasang sikap dinginnya. Namun, saat bertemu dengan mu, entah kenapa dia bisa bersikap manis dan hangat terhadap mu padahal pada setiap wanita dia selalu bersikap dingin. Jadi...," Egi menarik sebelah tangan Annisa untuk di genggam dan membawa nya ke bibir untuk di kecup. "Jangan terlalu dekat dengannya, aku takut dia mempunyai perasaan yang mendalam terhadap mu, dan merebut mu dari ku," sambung Egi.
Annisa menatap, dan mengelus lembut pipi Egi. "Kita kan sudah menikah Egi, mana bisa dia merebut ku dari mu. Jangan punya pemikiran yang negatif seperti itu, mungkin saja ketika melihat ku, mengingatkannya tentang adik nya jadi menganggap ku sebagai adik nya."
"Dia anak tunggal, bukan mengingatkan sebagai adik nya. Melainkan mengingatkan pada wanita nya yang meninggal itu, kau mempunyai sifat dan sikap yang unik sama seperti wanita itu, sayang," jelas Egi menarik kembali tangan Annisa untuk di kecup.
Annisa menghela napas pelan, melirik ke depan. "Egi, perhatikan jalannya. Jangan melihat ku terus," ujar Annisa.
Egi tersenyum, menatap Annisa sekilas. "Tidak akan nabrak, aku kan ahli balap mobil." Celetuk Egi membuat Annisa menatap geram.
"Kau suka balap mobil?" Annisa bertanya menggeram.
Tersenyum canggung. "Waktu masih sekolah SMA, itu sudah lama. Bukan balap mobil saja, bahkan aku jago nge-band juga sayang," jujur Egi tidak lihat situasi.
"Pantas, aku selalu meminta itu sampai beberapa ronde, kau tetap kuat saja. Ternyata istri ku petarung sejati," ucap Egi.
Annisa menolehkan kepala nya, menatap kesal, dan mencubit pinggang Egi. "Jaga ucapan mu Egi, dasar bocah. Huh."
"Sayang sakit, jangan mencubit di situ." Egi menarik tangan Annisa yang ada di perut untuk di pindahkan ke dada. "Mending kau elus otot ku saja, bukannya kau sangat suka meraba otot otot keras ku, sayang."
Pipi Annisa bersemu merah, dan dengan cepat Ia menarik tangannya dari genggaman tangan Egi, kemudian melipat tangan di depan. "Semakin di ladeni semakin menjadi," ucap Annisa.
Egi tertawa puas, menggoda Annisa. Sedang Annisa telah memasang wajah cemberut, menatap lurus ke depan.
"Ekhem, ehkem...," Egi berdehem beberapa kali menetralkan tenggorokannya yang sudah terasa kering karena kehabisan tertawa.
Annisa mengambil paper bag bekal untuk Egi, Ia mengambil botol air, membuka nya dan menyodorkan ke bibir Egi. "Minumlah, tenggorokan mu akan sakit, karena kebanyakan tertawa mengejek istrimu."
Egi menurut menenggak minum nya hingga beberapa tegukkan. "Istri pengertian," ucapnya sambil menyodorkan kembali botol minum itu ke Annisa.
Annisa menerima, dan mengembalikannya ke paper bag bekal.
"Sayang, tadi kau bilang ada maksud menanyakan tentang si Jhon. Memang ada rencana apa yang kau sembunyikan dari ku?" tanya Egi, melambatkan laju mobil karena telah sampai di depan pelataran rumah sakit.
"Kau tahu kan Rika teman baik ku?"
__ADS_1
"Hemm, tahu. Teman mu kan hanya dia yang ku perbolehkan dekat dengan mu, kenapa dengan nya?" Egi bertanya, sambil memarkirkan mobil dekat tangga teras rumah sakit.
Annisa menghela napas pelan sebelum berucap. "Dia sepertinya menyukai kak Jhon, karena saat kak Jhon dan kamu keluar negeri, dia beberapa kali sempat menanyakan kabar kak Jhon, bahkan menolak setiap laki laki yang mengajaknya menikah. Menurutmu gimana?" tanya Annisa menatap Egi yang tengah menatap nya.
Egi tersenyum, melepaskan seat belt di kursi nya, kemudian memajukan badan menangkup wajah Annisa dengan kedua tangan. "Gimana apa nya sayang? Jika memang teman mu benar menyukai si Jhon, kenapa dia tidak berusaha saja?"
Mata Annisa berkedip beberapa kali karena wajah Egi semakin dekat dengan wajahnya. "Tapi kan kak Jhon...," ucapan Annisa terpotong.
Egi dengan sengaja, mengecup bibir Annisa dan menciumnya cukup lama. Annisa menutup mata nya ketika ciuman Egi semakin dalam.
Beberapa menit kemudian.
Annisa menepuk pelan bahu Egi, untuk menghentikan kegiatannya sebelum kehabisan napas. Dan dengan enggan Egi melepaskan pagutannya.
"Bahkan minta madu juga nggak bilang dulu? Langsung saja tanpa aba aba, nyebelin," Omel Annisa menatap sebal.
Egi terkekeh, mengusap bibir lembab Annisa. "Kita kan sudah memasuki tahap malam penuh cinta, jadi buat apa aku meminta izin dulu." Ucap Egi, mengecup kilas beberapa kali bibir Annisa.
"Egi, ini kaca mobil nya nggak tembus pandang kan?" Waspada Annisa melihat sekeliling yang tampak biasa aja.
"Tenang saja, mereka nggak lihat kita." Egi mengelus lembut pipi mulus Annisa yang ada dalam tangkupannya. "Dan soal si Jhon, menurut ku dia tak akan pernah membuka hati nya. Kecuali teman mu yang berusaha untuk meruntuhkan batu keras di hati nya." Sambung Egi sambil melepaskan seat belt di kursi Annisa.
"Jadi kau setuju jika aku berniat mencomblangkan mereka berdua?" tanya Annisa antusias, dan merapihkan jas juga dasi yang di kenakan Egi.
Mata Egi menyipit. "Mencomblangkan? Jangan bilang kau akan menjodohkan mereka, sayang."
Annisa mendongak menatap wajah Egi. "Iya, aku akan menjodohkan mereka. Bagaimana, apa kau tidak mengizinkan aku, untuk mendekatkan teman ku pada ke bahagiaan nya?"
Egi menghembuskan napas pelan. "Masalahnya, keluarga nya saja begitu sulit membujuk si Jhon, bahkan sudah berpuluh puluh gadis mereka kenalkan untuk di jodohkan pada si Jhon, tapi tidak ada yang berhasil meruntuhkan hati nya si Jhon."
Annisa mengusap rambut Egi untuk merapihkannya. "Egi, tidak ada yang tidak mungkin jika mereka berjodoh, pasti akan di mudahkan. Tapi meskipun berjodoh yang sudah di takdirkan, tetap harus ada kata ikhtiar, dan aku ingin membantu usaha teman ku. Apa salahnya jika kita membantu menyatukan mereka," tutur Annisa lembut.
"Sayang," ucap Egi tercekat menangkup sisi wajah Annisa yang tengah menatap nya penuh harap. "Baiklah, aku mengizinkannya, namun jangan terlibat terlalu jauh. Aku takut si Jhon bukan menyukai teman mu malah berusaha merebut mu dari ku."
Annisa terkekeh, mengusap pipi Egi. "Hemm, aku hanya berniat membantu sebisa nya saja. Jadi kita sepakat, kamu di pihak kak Jhon dan aku di pihak Rika."
"Iya sayang," Egi mencubit ujung hidung Annisa.
Annisa meraih tas selempang untuk di kaitkan ke sebelah lengannya, kemudian menarik tangan Egi untuk salam. "Aku tugas dulu yah, hati hati bawa mobil nya, jangan kebutan meskipun jago balap tapi jangan pernah di praktekin lagi." Ucap Annisa setelah mencium punggung tangan Egi.
Egi menangkup wajah Annisa untuk di kecup keningnya. "Kau pun harus berhati hati saat bertugas, sayang."
Annisa menarik handle pintu mobil. "Hemm, Assalamualaikum, Egi suami bocah ku." Salam Annisa kemudian keluar mobil.
"Walaikumsalam, sayang," sahut Egi, menatap kepergian Annisa yang masih berdiri di teras rumah sakit melihat nya.
Egi melajukan kembali mobil nya, setelah melihat dua bodyguard berjalan mendekat ke arah Annisa. Kini mobil Egi telah melaju keluar dari area rumah sakit.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Jangan lupa Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...
Di season 3 ini di banyakin Bab Rika & Jhon karena Pejuang Move On kali ini tentang kisah mereka yaa... Jadi untuk Bab Annisa & Egi sedikit berkurang 😊.