Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 34


__ADS_3

Pagi telah tiba.


Sebuah senyuman terus mengembang dengan senandung kecil berbunyi dari bibir mungil seorang gadis manis yang tengah membersihkan tas sangkar burung tertutup berbentuk tabung.


"Duh, anak Papah. Pagi-pagi sudah bermain dengan si Rerry sampai ninggalin sarapan. Ceria banget kamu Neng," tegur Pak Adi sembari memakai sepatu pantopel, untuk bersiap ke kantor.


Rika tertawa pelan. "Ika kan kebagian shift siang Pah, jadi santai aja lah nggak sarapan juga," tanggapnya, ia memasukkan Rerry si burung, ke dalam tas sangkar yang tertutup berbentuk tabung.


Pak Adi mengusap gemas puncuk kepala gadis manis itu. "Itu si Rerry di masukin kesitu, emang mau di kemanain?"


"Pah, tas nya." Ujar Ibu Asih yang baru keluar dari dalam rumah, menyodorkan tas kantor. Ia beralih melihat sang anaknya. "Iya Neng, mau di kemanain si Rerry?"


Pak Adi menerima tas, ia mengecup kening sang istri setelah Ibu Asih menyalami tangannya.


"Rerry mau di anterin ke Jojo."


"Jojo?" Bingung Pak Adi, menyodorkan sebelah tangan yang akan di salami oleh Rika.


"Maksudnya Jhonathan, Pah." Menyalami tangan sang Papa dengan mencium punggung tangannya.


Pak Adi melangkah ke arah garasi, ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Kenapa di anterin ke sana, apa Neng menjual si Rerry ke Nak Jhonathan?" Tanya Ibu Asih yang sudah melangkah ke arah taman bunga, mengambil selang keran air untuk bersiap menyirami tanaman bunga.


Tin...tin.


Suara klakson mobil yang di kemudi Pak Adi membuat kedua nya menoleh tersenyum manis. Mobil itu sudah bergerak meninggalkan pelataran rumah dan melaju keluar untuk bergerak di jalanan.


Rika tertawa, meresleting tas sangkar itu. "Nggak di jual hanya tinggal di sana sementara saja."


Ibu Asih manggut-manggut mulai menyirami tanaman. "Tumben Neng mau menitipkan si Rerry ke orang lain, biasanya ada yang pegang aja langsung darting. Ini kok tumben, ada apa nih dengan anak Mama?"


"Ah, tidak ada. Tidak ada apa-apa, Ma." Sangkal Rika mengalihkan pandangan ke arah lain.


Ibu Asih tersenyum kecil dan melirik curiga. "Kenapa nggak Nak Farhan yang di titipi nya?"


Rika beralih menatap jengah pada tas sangkar itu. "Jojo lebih dulu meminta Rerry," sahutnya lemah, menundukkan pandangan.


Dan meskipun Kak Farhan meminta, aku tak sudi menitipkan si Rerry walau hanya satu hari saja.


Bersamaan dengan itu. Sebuah mobil berwarna merah berhenti tepat di depan pagar rumah. Seketika pandangan kedua nya teralihkan ke arah mobil itu.


"Ray? Pagi-pagi begini, mau apa dia kemari?" Heran Rika menatap pada seorang pria yang baru keluar dari dalam mobil, tengah berjalan ke arah halaman rumahnya.


Pria tampan itu, telah berdiri tepat di depan teras rumah dengan tangan menenteng paper bag makanan.


"Pagi tante," sapa nya ramah pada wanita paruh baya yang sedang menyirami bunga.


"Nak Ray, pagi juga. Jarang kemari, membuat mu tambah tampan aja Nak," timpal Ibu Asih tersenyum menggoda.


"Ah, tante bisa aja. Aku memang sudah tampan dari orok nya," tanggap Ray, membuat kedua nya tertawa.


"Kwaak kwaak, hay pria banci, apa kabar?" Rerry yang nongol dari jendela kecil sangkar itu, menyapa Ray.


Ray terkekeh, menghampiri Rika yang berada dekat dengan burung. "Ganti kek jangan banci panggilan gue, malu kalau di denger cewek yang lewat, bisa di sangka gue waria."


Rika menoleh dan tersenyum. "Gue kagak ngajari, tapi emang si Rerry punya mata yang tajem saat menilai orang yang di lihatnya."


Cetak.


Ray menyentil kening gadis manis itu, membuatnya mengaduh meringis.


"Ssh, lo kebiasaan! Nyebelin dah." Gerutu Rika mengusap keningnya yang terasa panas.


"Neng, Nak Ray. Mama tinggal dulu mau beli sayuran yah." Ibu Asih yang sudah merapihkan selang bekas menyiram, ia berjalan ke arah pagar rumah berlalu pergi.


"Iya tante," sahut Ray tersenyum sopan.


"Lo ngapain pagi buta kemari? Nggak kerja lo?" tanya Rika melangkah ke arah kursi teras untuk duduk.


Ray ikut membuntuti dan duduk di kursi sebrang Rika. "Nih, tadi gue lihat penjual donat kesukaan lo. Jadi sekalian mampir sebelum ke kantor," ucapnya sembari menaruh paper bag itu ke atas meja bundar.


"Widiih, tau aja kalau gue belum sarapan." Girang Rika tersenyum ceria, dan meraih paper bag itu untuk di buka isi nya.


Terdengar kekehan geli dengan sorot mata bahagia dari Ray ketika melihat wajah ceria gadis manis di hadapannya.


Bruum...bruum.


Suara mesin mobil yang sengaja di perkeras, berhenti tepat di belakang mobil merah. Sontak Rika yang tengah menggigit donat juga Ray yang memperhatikan, kedua nya menoleh ke arah suara.


Eh, Jojo...


Terkejut Rika terpaku, menatap pria tampan berjas warna abu sangat rapih turun dari mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya.


Raut wajah Ray berubah masam, mendesah kesal dengan tatapan tajam melihat ke arah pria tampan yang tengah berjalan memasuki halaman rumah minimalis itu.


"Pagi." Sapa Jhon yang sudah berdiri di hadapan kedua nya.


Rika masih terpaku menggigit donat di bibir nya. "Pag-pagi," gelagapnya menaruh donat yang baru di gigit satu gigitan itu ke kotaknya.

__ADS_1


"Abang mau apa kemari? Bukannya orang kayak abang itu, tipe orang sibuk yang susah meluangkan waktu hanya untuk mampir-mampir tak jelas." Sindir Ray dengan nada sinis.


Jhon menoleh ke arah pria itu, dan tersenyum tenang. Ia duduk di kursi kayu sebrang Rika yang kebetulan kursi di teras rumah itu tersedia empat kursi.


"Kau sendiri mau apa kemari? Apa untuk numpang sarapan?"


"Ck," decak Ray, melirik sekotak donat. "Aku kemari mengantar sarapan untuk dia. Bukan mengemis. Abang sendiri nggak malu, kemari tanpa buah tangan?"


Jhon melirik kotak donat itu, kemudian menutupnya.


"Jojo, kenapa di tutup? Aku masih mau makan." Rika mengambil donat yang baru di gigit tadi.


Jhon merebut secara kasar donat dari tangan Rika, dan memasukkannya ke dalam kotak. "Pagi-pagi makan donat, pantas otak mu makin bodoh."


"Hey, bang! Jangan gitu dong, dia lagi makan." Seru Ray tidak suka, dengan kasar hendak merebut kotak donat itu namun Jhon langsung memasukkan ke dalam paper bag dan meletakkan ke bawah meja.


Tersenyum sinis, Jhon manatap gadis manis di kursi sebelah. "Mana si Rerry?"


"Tuh Rerry," Rika menunjuk ke arah tas sangkar.


"Buat apa abang nanyain si Rerry?"


Jhon mengabaikan pertanyaan Ray, ia beranjak berdiri dan menarik lengan baju Rika. "Ikut dengan ku."


"Eh, ikut? Kemana?" Bingung Rika menoleh.


Jhon melangkah ke arah tas sangkar burung. "Ikut saja, jangan banyak tanya."


Rika menurut beranjak dari duduknya dan melangkah membuntuti pria tampan tersebut.


Mendengar langkah kaki di belakangnya, seketika Jhon berhenti menengok ke belakang. "Kenapa kau mengikuti ku?"


"Hah," terhenyak Rika ikut berhenti, menatap heran. "Buk-bukannya kamu tadi meminta ku mengikuti mu?"


Jhon menghela napas kasar, Lalu...


Cetak.


Menyentil kening gadis manis itu cukup keras, membuatnya mengerjapkan mata beberapa kali.


"Aww," ringis Rika mengusap keningnya. "Kalian senang sekali menyentil kening ku."


"Dasar bodoh, maksud ku. Ikut dengan ku pergi dari sini bukan mengikuti seperti ini," omel Jhon berbalik melanjutkan melangkahkan kaki mendekati tas sangkar.


"Ngomong kek dari tadi," gerutu Rika memanyunkan bibir sebal masih mengusap keningnya.


Jhon tersenyum kecil, mengambil sangkar burung itu. "Cepat gadis bodoh! Masuk ke mobil."


Sepeninggalan Rika.


Ray yang memperhatikan percakapan kedua nya sedari tadi, ia bangkit dari duduknya mendekati Jhon yang sedang memeriksa tas sangkar.


"Datang tak di undang dan langsung merecoki ku, apa abang benar-benar ingin bersaing dengan ku?"


Jhon tanpa menghiraukan pertanyaan tersebut, ia berjalan melewati Ray begitu saja melangkah sambil membawa tas sangkar.


"Bang!" Seru Ray, menepuk sebelah bahu Jhon sehingga langkah kaki nya terhenti.


Jhon menoleh, dan tersenyum tenang. "Jika kau menganggapnya begitu, maka aku tak keberatan di tantang oleh mu," ucapnya menepis dengan kasar tangan Ray di pundak, lalu meneruskan kembali langkahnya ke arah pagar rumah menuju mobil.


"Cih! Aku tak takut bersaing dengan Pak tua seperti mu, Bang." Ujar Ray sedikit keras, sambil menatap punggung tegap itu.


Dan pada saat itu bersamaan, dengan Rika keluar dari dalam rumah menenteng tas selempang. Gadis manis itu mendekati Ray yang terlihat menggeram penuh emosi.


"Napa lo, Ray?"


"Eh, Mak." Kaget Ray menoleh. Ia tersenyum canggung mengusap tengkuk lehernya. "Lo yakin mau ikut bang Jhon? Emang lo kagak tugas?"


Rika duduk di kursi untuk memakai sepatu. "Tugas, tapi shift siang."


"Gadis bodoh." Panggil Jhon yang berdiri di samping mobil menatap tajam ke arah kedua nya.


"I-iya." Rika menyahuti dengan cepat. "Ray, gue minta tolong. Kalau Mama gue pulang dari belanja, sampein gue keluar bareng Jojo, yah," ucapnya sembari memakai sepatu tali.


"Kagak bisa. Gue juga mau pergi."


"Yaudah deh, biar sms aja." Gadis manis itu, beranjak dan berjalan ke arah pagar rumah untuk menghampiri Jhon.


"Mak," panggil Ray mengambil paper bag donat. Ia ikut membuntuti langkah kaki Rika untuk keluar halaman rumah.


Rika yang tinggal beberapa langkah ke arah Jhon. Ia menoleh. "Napa?"


Ray menarik sebelah tangan Rika dan memasukkan tali paper bag itu untuk di gelangkan. "Di makan," ucapnya, lalu berjalan maju melewati begitu saja untuk melangkah ke arah mobilnya.


Saat melewati Jhon. Pria tampan itu sempat memberikan tatapan tajam tak suka dan senyuman kecil namun pahit. Kemudian Ray memasuki mobilnya.


"Gadis bodoh, masuk." Perintah Jhon membuka kan pintu mobil.


Rika berbalik melangkah mendekati pintu mobil yang sudah terbuka untuk masuk dan duduk di kursinya.

__ADS_1


------------------------------


Mobil hitam yang di kemudi kan Jhon itu, terhenti di atas hamparan pasir berwarna putih dekat dengan semburan angin yang membawa gelombang air laut berwarna biru, bergelung berlarian saling kejar-kejaran untuk menepi di bibir dataran. Tempat itu sangat indah dengan suasana pagi hari yang mataharinya masih hangat. Namun meskipun indah, tempat itu terlihat sangat sepi, hanya segelintir orang berada di sekitar bahkan bisa di hitung jari.


Gadis manis yang terduduk di kursi sebelah kemudi tersebut, menatap terlongo keluar jendela. Kepala nya ia gerakkan ke arah samping lain untuk melirik pria di kursi kemudi.


Pantai? Buat apa dia membawa ku kemari?


Jhon melepaskan seat belt, lalu turun dari mobil. Ia memutari setengah mobil untuk membuka kan pintu sebelah gadis manis itu.


"Turunlah," titahnya.


Rika tanpa membuka suara, ia masih menatap bingung dan dengan gerakan perlahan membuka seat belt. Lalu turun dari mobil.


"Ikut dengan ku." Jhon memegang lengan Rika dan menariknya agar mengikuti langkah kakinya.


"Jojo, kita mau kemana?"


Jhon tak menjawab pertanyaan gadis manis itu, ia terus berjalan menuju ke sebuah bangku panjang dekat pohon kelapa dengan meja kotak berukuran sedang di samping bangku, juga makanan yang sepertinya sudah di sedia kan di atas meja itu.


Tumben dia bersikap lembut pada ku? Benarkah dia Johnathan si lidah tajam yang ku kenal.


Rika menatap punggung tegap pria di depannya, juga pegangan tangan Jhon di lengannya yang terbalut mantel.


"Duduk," titah Jhon menekan kedua bahu Rika agar terduduk.


"Jojo kenapa membawa ku kemari? Apa kamu nggak kerja?" Heran Rika pada pria yang sudah duduk di sampingnya.


Jhon menatap lurus pada semburan ombak laut yang bergemuruh dari kejauhan. "Bukannya kau menginginkan aku membawa mu pergi."


"Hah!" Dengan mata sedikit melebar, dan alis terangkat sebelah. "Ka-kapan aku berkata seperti itu?"


Jhon mengambil jus melon dari atas meja kotak, lalu menyodorkannya yang langsung di terima oleh tangan gadis manis itu. "Semalam, kau berkata begitu memaksa merengek bagai anak kecil untuk membawa mu pergi."


Sontak Rika menoleh dan menatap tertegun.


Semalam? Bukannya semalam itu aku hanya bermimpi bertemu dengannya dan mengatakan agar membawa ku pergi. Kenapa dia bisa tahu soal mimpi itu?


Tuk.


Jhon mengetuk dengan jemari nya ke kening Rika. Sehingga membuat gadis itu tersadar dari lamunan.


"Jangan melamun, aku sudah membawa mu kemari. Jadi nikmati waktu santai ini, walau sebentar." Jhon terkekeh pelan, mengambil gelas jus strawberry lalu menyeruputnya.


Rika ikut menyeruput jus nya. "Jojo, bagaimana bisa aku mengatakannya pada mu? Perasaan semalam saat kamu mau pulang, aku tidak mengatakan apa pun hanya soal si Rerry saja."


Jhon berdehem sejenak, ia melirik gadis manis di sampingnya. Terbesit senyuman jahil dari sudut bibirnya. "Kau mengatakannya sangat jelas bahkan sampai merengek, memeluk kaki ku, apakah kau masih tidak ingat?"


"Hah!" Kaget Rika, mata nya membulat. Lalu ia dengan kaku mengalihkan pandangan ke arah lain, menatap termenung.


Kenapa dia bisa tahu adegan dalam mimpi ku?


"Te-terus, apa lagi yang ku katakan pada mu selain membawa pergi?"


Jhon tersenyum, mengusap puncuk kepala gadis manis itu. "Memaksa sambil memeluk lengan ku agar memanggil mu dengan sebutan gadis milik ku."


Seketika pipi Rika merona merah tersipu malu, ia kembali mengalihkan pandangan dan menundukkan kepala.


Dia sampai mengetahui semua nya secara detail. Apa dia bisa membaca pikiran ku? Atau dia mempunyai alat penerjemah mimpi.


Jhon tertawa senang melihat perubahan sikap Rika yang tersipu malu. Ia mengambil gelas jus dari pegangan tangan Rika, lalu beralih mengambil piring yang berisi sosis bakar juga daging panggang. Kemudian meletakkannya ke pangkuan gadis itu. "Makanlah, kau harus makan yang bergizi agar otak mu lebih pintar."


"Jojo," cicit Rika memegang sisi piring. "Apa-apa kau tahu permintaan ku yang lainnya selain membawa ku pergi?"


Jhon terdiam, menatap tak terbaca sejenak. Ia menghela napas pelan, memalingkan pandangan ke arah air laut. "Apa? Kau tidak mengatakan apa pun selain meminta untuk membawa mu pergi."


"Syukurlah," gumam Rika menghela napas lega seiring memejamkan mata.


"Ah, ada satu kata yang belum kau teruskan ucapannya dari permintaan mu itu."


"Hah!" Rika kembali menoleh dengan tatapan penasaran ia bertanya. "Apa itu?"


Jhon terkekeh geli, dengan mata sedikit menyipit. "Seharusnya aku yang bertanya pada mu, apa maksud kalimat semalam."


"Kalimat yang mana?" Rika mengambil sosis dan menyuapkannya ke mulut.


"Kau mengatakan bawa aku pergi dan Menik-"


"Jojo!" Seru Rika cepat memotong ucapan Jhon. Ia memalingkan wajah ke arah lain, dengan mata terpejam rapat sehingga terlihat kerutan di sekitar mata.


Kenapa dia sampai mengetahui perkataan yang bisa membuat ku malu.


"Hey, bodoh. Kenapa kau?"


"Ah, tidak, tidak apa-apa." Tersenyum cengengesan, Rika beralih menatap ke arah laut. "Angin nya sejuk yah, hehe." Mengalihkan topik pembicaraan sambil menggigit sosis.


Jhon tersenyum, mengusap gemas puncuk kepala yang terbalut kerudung itu. "Dasar bodoh," celetuknya.


Sepertinya yang dia katakan semalam, bukan menikmati pemandangan atau menikmati makanan.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2