
Mendengar kabar sudah waktu nya untuk pulang, gadis manis yang berada di kamar nomer 505 segera berkemas membereskan barang-barang nya.
"Apa aku harus memakai nya sekarang?" Rika terlihat bimbang menatap sandal bulu berwarna hijau muda di pegangan tangannya. Lalu bola mata nya beralih melirik ke sepatu putih yang sempat di pakai sewaktu kemarin. "Kalau aku memakainya, berarti aku merelakan uang tabunganku."
Tok...tok.
Pintu kamar nya di ketuk cukup keras dari luar.
"Ya ampun!" Pekik gadis manis itu terlonjak kaget, menjatuhkan sandal. "Siapa sih, bisa nya bikin kaget aja. Untung lagi kagak pegang permata," gerutunya sembari mengambil kembali sandal tersebut.
Rika memasukkan sandal itu ke paper bag. Lalu memakai sepatu dengan tergesa belum sempat menali kan tali nya.
Klik.
"Sabar napa, berisik amat." Dia membuka pintu kamar nya yang terus di ketuk dari tadi. "Eh," sontak ia nyengir menampilkan deretan gigi rapih, tersenyum malu pada orang yang berdiri di depan pintu di hadapannya sekarang.
Pria itu menatap tak terbaca dengan ekspresi dingin. "Kau bilang aku berisik! Kau mau tunggu sampai pukul berapa baru keluar?"
"Jojo mau pukul aku yah? Kok jojo jadi suka kekerasan gitu, jadi takut." Rika menimpali dengan membelokkan topik pembicaraan.
Hah... Jhon menghela napas kasar, memijit pangkal hidungnya. "Yang lain sudah pada di bawah, tinggal kau saja tertinggal di sini. Tadi nya aku akan meninggalkan mu saja, tapi kau anak orang dan sudah di amanahkan untuk di jaga. Jadi cepatlah ke bawah, jangan membuang waktu dengan pikiran bodoh mu." Pria itu berbalik melangkah pergi menuju lift setelah mengatakan hal tersebut.
Rika terlongo sejenak menatap punggung tegap pria tampan itu, hingga sebuah teriakan membuatnya kembali terlonjak.
"Wanita bodoh!" Jhon yang sudah berada di depan pintu lift berteriak.
"Eh, i-iya bentar." Segera Rika menutup pintu kamar dan berjalan tergesa dengan sebelah kaki di seret menghampiri pria yang sedang menatapnya tak terbaca.
"Lebih cepatlah jalannya."
"Iya, iya ini juga sudah cepat. Bawel amat dah."
Kedua nya memasuki lift untuk menuju lantai dasar. Dan ketika pintu lift itu akan tertutup tinggal beberapa jengkal lagi, tiba-tiba sebuah tangan mencengkram pada bagian pintu.
"Tunggu! Gue ikut!" Ray berseru sembari menahan agar pintu lift itu terbuka kembali.
Dua orang di dalam lift, memandangi nya heran.
"Lo belum ke bawah?"
Ray memasuki lift dan berdiri di samping Rika sehingga tampak kedua pria itu berada di setiap sisi gadis manis tersebut.
"Kalau si bocah tengik ini masih ada di sini berarti belum ke bawah. Pertanyaan yang sudah tahu jawabannya masih di tanyakan, dasar gadis bodoh." Jhon menimpali dengan nada sewot.
"Aku kan hanya bertanya saja, lagian aku bertanya pada si Ray bukan pada mu Jojo," Rika melirik sebal.
"Ck, telinga ku mendengarnya. Jadi kau sama saja bertanya pada ku."
Ray tersenyum miring melirik sinis pada Jhon. "Jika orang asing sedang mengobrol berdua dan bang Jhon kebetulan mendengar nya. Apa bang Jhon akan ikut menyahuti?"
"Tidak!"
"Lalu?"
"Tidak ada Haluan."
"Ya teruss?"
"Tidak ada terusannya."
"Hey, sudah." Rika melerai dengan gerakan tangan menyilang di depan, agar kedua nya berhenti berdebat.
Kedua nya melirik Rika kemudian saling pandang sejenak. "Cih," bersamaan kedua pria itu membuang muka ke arah berlawanan.
Hah... Rika menghela napas panjang, melirik kedua pria yang berada di samping kiri dan kanan secara bergantian.
__ADS_1
Seperti anak kecil saja, dasar para pria labil. Rika kembali menatap pada panel angka.
Setelah satu menit. Ray menolehkan kepala nya ke arah samping, lalu mengusap puncuk kepala gadis di sebelahnya, sehingga membuat gadis itu menoleh.
"Kenapa?"
Ray tersenyum hendak membuka bibir nya untuk menjawab. Namun...
Plak.
Jhon dengan kasar menepis, menyingkirkan tangan Ray di kepala Rika. "Benar ke kanak-kanak an, menyentuh kepala seperti itu pada gadis yang sudah tua usia nya."
Alis Rika menyatu sebal. "Hah, Sudah tua?" Dia menunjuk dirinya dengan telunjuk.
Tersenyum tenang, Ray kembali mengusap puncuk kepala Rika. "Mak, Gimana kaki lo, masih bengkak?" Ray tetap bertanya meskipun kedua mata nya menatap sebal pada Jhon.
"Eh," gelagap Rika beralih menoleh pada Ray. "Seperti yang lo lihat, kaki gue masih di perban, jadi jelas masih gede." Rika menunjukkan sebelah kaki yang terluka sehingga membuat Ray melirik ke bawah.
"Mak, lo ceroboh sekali. Tali sepatu kagak di taliin, bisa keserimpet jatuh lagi lo." Ray, menunduk berjongkok.
"Gue buru-buru tadi, jadi kagak sempet."
Jhon mendengus kesal, ia ikut melihat ke bawah kaki Rika. "Gadis bodoh, kau memakai sepatu raksasa lagi. Bukannya aku sudah bilang pakai hadiah kemarin." Omel Jhon merampas paper bag dari pegangan tangan gadis manis itu, dan ikut menyusul berjongkok.
Rika terlongo menatap menunduk pada dua pria yang berjongkok di hadapannya. Eh, ada apa ini sebenarnya?
Jhon mengeluarkan sandal keropi dari dalam paper bag, kemudian membongkar tali sepatu yang sudah di tali kan oleh Ray.
"Hey, bang. Kenapa di bongkar lagi! Sudah rapih-rapih aku menali kan nya!"
"Ganti sepatu dengan sandal, sepatu mu terlihat kebesaran dan nggak cocok di kaki nya." Jhon dengan santai tetap membongkar tali sepatu.
Plak.
Ray memukul tangan Jhon. "Nggak boleh, si Mak pantas nya pakai sepatu bukan sandal jelek itu."
Ray menahan kaki yang sudah terangkat sebelah hendak melepaskan sepatu nya. "Tidak bisa!" Lalu dia menatap tajam pada pria yang saat ini sama-sama memberikan tatapan sengit.
"Kenapa tidak bisa! Si gadis bodoh ini yang meminta nya untuk di ganti, jadi lepaskan tangan mu bocah tengik!"
"Nggak!"
"Lepas!"
"Nggak, bang! Mending sepatu yang tertutup!"
"Sandal! Yang empuk!"
Terlibatlah adu mulut memperebutkan sepatu dan sandal antara kedua nya yang saling bersitegang.
Rika yang menjadi dalang dari perdebatan kedua nya, ia hanya bisa menggelengkan kepala beberapa kali. Menutup kedua telinga nya. "Cukup!" Teriakannya membuat kedua pria itu terdiam sekejap dan menatap terlongo mendongak. Lalu bersamaan dengan itu...
Ting...
Pintu lift terbuka, Rika masih menatap sebal pada kedua pria itu dengan perasaan geram. Dia menarik kedua dasi dari kedua nya. "Keluar! Apa kalian tidak lihat pintu lift sudah terbuka." Sambil melangkah keluar dan menyeret kedua pria dengan menarik dasi.
"Hey, apa yang kau lakukan? Lepaskan, gadis bodoh!" Jhon yang tinggi badannya paling tinggi dari kedua nya terpaksa harus menunduk dan mengimbangi langkah kaki Rika.
"Mak, gue kecekik jangan kenceng-kenceng napa nariknya." Ray ikut mengomentari sembari memegang tali dasi nya yang kebetulan paling kuat di tarik.
Rika yang tak menggubris ucapan kedua nya, diam tetap fokus berjalan untuk menghampiri sekumpulan keluarga putra.
"Gadis bodoh, sadarlah. Kau mempermalukan kita!" Jhon dengan kasar menarik kembali dasi nya hingga langkah kaki Rika terhenti.
Hah... terhenyak, Rika tersadar melihat sekitarnya yang tampak sedang memperhatikan ke arah mereka bertiga. Segera ia melepaskan cengkraman kuat dari dasi Ray, dan menundukkan pandangan karena malu.
__ADS_1
Apa yang telah aku lakukan? Memalukan sekali.
"Kak Ray," panggil Asyila berlari ke arah mereka.
Ray menoleh dan tersenyum canggung. "Lala."
"Ada apa dengan situasi macam ini? Kenapa semua nya melihat kemari?" Asyila bertanya melihat sekeliling lobi yang memang benar orang-orang tengah memperhatikan.
"Tidak ada apa-apa, Nona Asyila. Sepertinya kita akan bersiap berangkat. Kalau begitu, saya dan Nona Rika permisi duluan untuk mempersiapkan mobil." Jhon mencengkram kuat lengan mantel yang Rika pakai dan menariknya untuk menjauh dari mereka yang masih menatapnya.
Rika yang masih menunduk malu, merasa bersalah hanya pasrah mengikuti langkah kaki Jhon. "Jojo, pelan-pelan jalannya, kaki ku sakit."
"Sakit? Kau bahkan tidak memikirkan saat menarik dasi ku dengan kasar tadi seperti apa." Jhon tetap melangkah cukup cepat tanpa memperdulikan Rika yang sudah meringis kesakitan memaksakan berjalan mengimbangi langkahnya.
"Jojo, tapi benar. Kaki ku sangat sakit." Oceh Rika mengibaskan tangan yang sedang di cengkram baju nya itu agar terlepas.
"Diam! Gadis bodoh!" Sentak Jhon dan kini kedua nya sudah sampai di teras hotel, dimana mobil Jhon terparkir di depan teras.
Lalu Jhon membuka pintu mobil penumpang depan. "Masuklah," titahnya yang langsung di turuti. "Ganti sepatu mu dengan sandal, ketika aku kembali kau sudah mengganti sepatu itu dengan sandal." Jhon memberikan paper bag ke atas pangkuan Rika.
"Tapi Joe...,"
Brak.
Jhon menutup pintu mobil tanpa mau mendengar jawaban dari Rika.
"Haish, dasar pria si lidah tajam. Apa salah nya sih kalau pakai sepatu, kan sudah nyaman juga pakai ini." Oceh Rika menunduk untuk mengganti sepatu dengan sandal.
Di luar mobil.
Tampak seluruh keluarga putra telah memasuki mobil nya masing-masing, termasuk Annisa dan Egi memasuki mobil lain yang terlihat mewah berwarna hitam legam.
Jhon memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi, sejenak ia melirik kaki Rika yang sudah tergantikan dengan sandal pemberiannya. Terbesit senyuman kecil di sudut bibirnya.
Rika celingak celinguk melihat sekitar luar mobil. "Jojo, kok Annisa nggak naik mobil ini?"
"Dia naik mobil lain yang lengkap dengan fasilitas di dalamnya." Jhon menjawab sembari menyalakan mesin lalu memutar stir untuk melajukan mobil mengikuti mobil lainnya yang sudah melaju.
"Kenapa tiba-tiba begitu? Kita kan berangkat bareng kok sekarang berpisah kayak gini?" Rika masih bertanya dan menoleh ke arah pria tersebut.
"Nona Annisa sekarang tengah mengandung. Dan untuk mencegah kemungkinan terjadi hal buruk, dia harus berada di mobil yang tepat saat perjalanan yang memakan waktu berjam-jam ini."
Mata Rika sedikit melebar tersenyum senang. "Akhirnya, kehamilan dia di ketahui oleh suami nya." Mengalihkan pandangan keluar jendela.
Jhon melirik sekilas, dengan tatapan menyipit curiga. "Kau sudah mengetahui hal ini sebelumnya?"
Mengangguk pelan, tanpa menoleh Rika menjawab. "Lebih tepatnya sebelum berangkat kemari."
"Ck," tersenyum mengejek. "Benar benar gadis bodoh, jika terjadi sesuatu pada Nona Annisa. Dan kau terlibat dalam menyembunyikan kehamilannya. Kau akan kena imbasnya juga bodoh."
Sontak Rika menoleh dan menatap bingung. "Kenapa aku kena imbasnya? Kan ini juga permintaan Annisa sendiri."
Hah... "isi otak mu itu sebenarnya terisi apa? Kenapa sangat bodoh sekali mencerna hal sederhana seperti ini saja?"
"Hey, jojo dari tadi kamu memanggil ku terus terusan dengan kata bodoh. Menyebalkan," Rika memalingkan wajah cemberut sebal.
"Memang kau bodoh."
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...
*****
Di awal Bab 1 sudah thor jelaskan kalau season 3 sekarang mengkisahkan tentang kisah Jhon dan Rika yaa, jadi kalau masih ada yang bingung atau pusing cerita nya berbelit atau gimana, kembali lagi pada yang sudah Thor jelaskan.
__ADS_1
Dan Maaf, untuk menjelang hari Raya Idul Fitri, Thor di seling" up nya, karena seperti yang sudah di umumkan di GC kalau Thor akhir" ini sibuk banget, jadi mungkin up nya jarang.