
Hari telah memasuki sore hari. Annisa yang telah selesai dari tugas nya, ia tengah berjalan di lorong rumah sakit untuk bersiap pulang di ikuti dua bodyguard.
Ting...ting.
Suara notifikasi sebuah pesan dari ponsel Annisa.
Annisa merogoh ponsel nya dari tas selempang dan membuka pesan itu.
Rika : "Assalamualaikum, Nis udah selesai belum tugas nya? Kita ketemuan yuk di kafe brandal."
Annisa : "walaikumsalam. Boleh, aku izin dulu ke suami ku."
Rika : "Tak tunggu yah."
Setelah membaca balasan terakhir dari Rika, segera Annisa berkirim pesan pada Egi untuk meminta izin untuk bertemu Rika. Dan tidak berapa lama, Egi membalas pesannya yang memperbolehkan Annisa pergi.
Langkah kaki Annisa terhenti di depan teras rumah sakit. "Pak Tio, kita ke kafe dulu." Ucap Annisa.
"Baik Nona, saya telah mendapat pesan nya dari tuan Egi untuk mengantarkan nona ke sana," Pak Tio menjawab, kemudian ia membuka kan pintu mobil penumpang untuk Annisa.
Annisa berjalan memasuki mobil dan duduk di kursi belakang. Setelah pak tio ikut masuk yang duduk di kursi depan bersama supir. Kini mobil itu telah melaju membawa Annisa, ke tempat tujuan.
Beberapa waktu kemudian.
Annisa telah sampai di kafe, Ia langsung menghampiri Rika yang sudah duduk di kursi biasa mereka nongkrong di kafe itu.
"Lama nunggu nya?" tanya Annisa yang sudah duduk di kursi sebrang Rika.
Rika menggelengkan kepala. "10 menit, tadi aku udah pesen minum dan kue nya," Rika mengedarkan pandangannya ke arah belakang Annisa. "Umi udah nggak di kawal lagi? Bukannya berita mu lagi panas panas nya di internet," heran Rika.
"Mereka di meja luar," Annisa meletakkan tas selempang nya ke kursi kosong. "Emang berita apa, aku jadi tambah penasaran setelah mendengar dari pak tio, bahkan keanehan hari ini. Tadi nya mau cek di internet, tapi pasien hari ini benar benar banyak banget, jadi belum sempat," bingung Annisa menatap Rika.
Rika menghembuskan napas pelan. Ia mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sesuatu di layar. "Ternyata umi Annisa kudet deh, masa berita tentang diri nya nggak tahu. Aneh dah," oceh Rika, Lalu ia menyodorkan layar ponsel itu ke hadapan wajah Annisa untuk di lihat dan di baca.
__ADS_1
Mata Annisa melebar melihat wajah diri nya dan wajah Egi terpampang jelas, juga video saat resepsi pernikahannya. Dalam web itu tertulis jika diri nya adalah seorang bidan cantik misterius sang ratu tuan muda kedua keluarga putra.
"Ja-jadi karena ini orang orang menatap ku sampai segitu nya, bahkan pasien hari ini sangat banyak melebihi kapasitas biasa." gagap Annisa melirik Rika. "Sudah kayak gini, aku tidak bisa bebas kemana mana lagi dong." Sambungnya sebal.
Rika tersenyum dan kembali meletakkan ponsel ke atas meja. "Resiko mu," ledek Rika.
Annisa menekuk wajah nya, menghembuskan napas panjang.
Bersamaan dengan itu, seorang waiters membawakan pesanan kue dan dua minuman ke meja mereka.
Melihat bukan si Ray yang mengantarkan makanan ke meja mereka. "Pak Ray nggak di kafe?" tanya Annisa pada waiters itu.
"Pak Ray lagi di kafe cabang, Nona." Jawabnya. Yang di balas anggukkan kepala dan ber-oh ria dari Annisa.
Annisa mengambil gelas jus melon dan mengaduk sebelum menyeruput untuk di minum. "Hah... segernya," oceh Annisa, lalu menatap Rika yang terlihat muram dengan pandangan kosong.
"Hey," tegur Annisa melambaikan telpak tangan di depan wajah Rika.
"Eh," Rika terperanjat dari lamunannya.
Rika mengambil piring kue, untuk menyendoknya. "Aku lagi bingung Nis," ucap Rika lemah, dan menundukkan pandangan memainkan kue di hadapannya.
"Bingung kenapa?" Annisa menimpali, sambil menyeruput kembali minuman nya.
"Mama berniat menjodohkan aku lagi," celetuk Rika lemah.
"Hemm," sahut Annisa menyeruput beberapa tegukkan jus nya.
"Bahkan sekarang dua pria yang datang untuk di jodohkan pada ku," tutur Rika, Ia menyuapkan sesendok kue ke mulutnya.
Annisa terdiam sejenak, menatap Rika. "Terus," timpal Annisa, masih menanti kelanjutan Rika berbicara.
Gerakan tangan Rika yang tengah memainkan kue terhenti. Ia menatap kesal. "Terus apa nya umii Annisa? Aku lagi galau gini jangan di becandain."
__ADS_1
Annisa menghela napas pelan. "Siapa juga yang ngajak becanda, maksud ku terus apa nya yang membuat mu bingung? Bukannya jika di jodohin dan bahkan dua pria sekaligus seperti itu, kamu kan bisa memilih. Kenapa kamu harus bingung?"
Rika terdiam, menunduk memainkan kembali kue di hadapannya.
"Baiklah, aku mau tanya. Apa ada yang kau sukai dari dua pria itu?" tanya Annisa menatap menyelidik.
Rika menggelengkan kepala sebagai jawaban tidak. "Aku tidak mau di jodohkan. Aku ingin imam yang di pilih hati ku sendiri bukan dengan cara di jodohkan seperti ini Nis," melas Rika, beralih menarik gelas jus dan menyeruputnya.
Annisa masih menatap sambil menyeruput jus nya. "Jika begitu, kau tolak saja dan bicarakan baik baik dengan mama mu, kan beres urusannya."
Rika meletakkan pipet ke gelasnya. Ia menatap Annisa. "Tidak semudah itu Nis, keluarga ku sangat mengharapkan aku agar menikah di tahun ini. Dan juga saat ini kesehatan jantung mama ku kurang baik, jika aku melakukan pemberontakan, aku takut terjadi sesuatu pada nya dan berakibat fatal." Cerocos Rika, rendah dan ada nada keputusasaan dari kalimat terakhirnya.
Annisa menghela napas pelan. Mengusap punggung tangan Rika. "Tapi kan kamu juga tidak ingin menjalani rumah tangga dengan imam yang tidak kamu inginkan Rika, mama mu ingin kamu bahagia. Jika kamu membicarakannya dengan baik baik, insyaAllah mama mu bakal mengerti."
"Andaikan semudah itu Nis," gumam Rika mengambil sendok kue dan menyendokkan satu suap kue ke mulut nya.
-------------------------------------
Sementara di kantor perusahaan putra.
Egi bergegas untuk pulang, ia berjalan di basement tempat dimana mobil nya terparkir, di susul Jhon di belakang nya.
"Jhon," panggil Egi berhenti di samping mobil nya.
Jhon yang sudah membuka pintu mobil milik nya, menghentikan pergerakkannya dan menatap Egi. "Kenapa tuan Egi?"
"Kau ikut aku, untuk bertemu dengan orang yang bisa menjalankan misi mu itu," ujar Egi membuka pintu mobil.
"Kemana? Dan siapa dia? Apa saya mengenalnya?" Pertanyaan beruntun dari bibir Jhon yang penasaran.
Egi tersenyum miring. Tanpa menjawab pertanyaan Jhon, ia memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu melajukan mobil nya berputar di area parkir menuju pintu keluar.
Jhon menghembuskan napas kasar, ikut menyusul memasuki mobil nya. "Dia selalu seperti itu," gumam Jhon, melajukan mobil menyusul membuntuti mobil Egi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan lupa Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...