Pejuang Move On

Pejuang Move On
Pindah


__ADS_3

Hari telah menjelang larut malam. Annisa baru keluar dari ruangan pembimbing nya selama praktek di rumah sakit dengan di ikuti beberapa mahasiswi lainnya.


Annisa telah selesai dinas malam itu dan kini tengah berjalan menyusuri setiap lorong rumah sakit untuk menuju ke pintu keluar.


"Nona annisa," panggil seorang pria berjas kedokteran, dari belakang saat annisa baru saja menapaki kaki nya di teras luar melewati pintu kaca geser otomatis.


Annisa menengok ke belakang, melihat siapa yang memanggil nya. "Dokter," ucapnya menatap orang yang kini tengah berjalan ke arah nya.


Tersenyum dan berdiri tepat di samping annisa. "Sudah selesai tugas nya nona?" tanya pria itu.


Mengangguk kecil kemudian beralih menatap lurus ke dapan, "sudah."


Kembali melirik ke arah samping. "Dokter frans kerja di rumah sakit ini?" tanya annisa.


"Iya... saya dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit ini," jawabnya menatap annisa. "Sepertinya nona annisa hendak pulang, mau saya antar?" tawar dokter frans.


Annisa menggeleng cepat. "Tidak perlu dok, saya di jemput egi," tolak nya.


Tin... tin. Suara klakson motor egi membuat annisa dan dokter frans seketika menoleh ke arah nya.


Sejak kapan s egi ada di situ, kok nggak kedengaran suara motor nya.


Egi membuka helm lalu turun dari motor dan menghampiri dengan terus menatap lekat ke annisa.


Kenapa tatapan dia seperti itu, menakutkan sekali sih.


Berdiri tepat di hadapan annisa, dan beralih melirik dokter frans yang tersenyum ke arah nya. "Dokter frans, apa tidak ada pasien sehingga anda bisa menyempatkan berdiri di sini," ucap egi dengan nada tajam.


Tetap mengembangkan senyuman nya dan membalas tatapan egi. "Kebetulan sudah waktu nya saya untuk pulang tuan egi. Dan ketika melihat nona Annisa berdiri sendiri, hati saya tergerak ingin menemani nya," jawab frans dengan nada tenang.


Egi mendengus dan beralih menatap annisa yang tampak bingung melihat ke arah nya. Lalu egi merangkul bahu annisa. "Baiklah terimaksih atas waktu anda, tapi lain kali jangan buang waktu anda hanya untuk berdiri gak jelas di sini," tegas egi sembari menghalau tubuh annisa agar mengikuti langkah kaki nya menuruni setiap gundukan beberapa anak tangga untuk mendekati motor.


Annisa menengok sekilas ke dokter frans dan memberikan senyuman salam. Begitu pun dokter frans masih setia mengulas senyuman di bibir nya.


Egi memakaikan sebuah syal tebal ke leher annisa dan tidak lupa juga egi memakaikan helm ke kepala annisa.


Annisa melihat wajah egi yang dingin tidak seperti biasa nya, ia memegang tangan egi yang tengah mengunci kan tali helm. "Ada apa egi, apa kau marah pada ku?" tanya annisa.


Menggeleng kecil kemudian melengos menaiki motor dan memakai helm. "Naik!" titah egi.


Annisa menurut menaiki motor dan duduk di jok belakang, annisa sempat tersenyum ke dokter frans yang masih berdiri di tempat nya, sebagai tanda pamit. Sebelum egi mengegas motor nya untuk meninggalkan rumah sakit itu.


Kini motor yang di kendarai egi telah melaju dengan kecepatan sedang di jalanan kota.


"Ngantuknya dan lelah nya," gumam annisa kemudian melingkarkan kedua tangan ke perut egi dengan merapatkan tubuh dan meletakkan kepala nya ke bahu egi lalu memejamkan mata.


Ada senyuman terulas di bibir egi merasa senang dengan sikap annisa yang mengerti perasaannya. Sejenak egi mengusap pelan punggung tangan annisa yang ada di perut nya dengan sebelah tangan.


--------


Motor egi memasuki kawasan perumahan elit. Dengan sedikit melambatkan laju motor nya, egi mengarahkan ke sebuah rumah bercat putih yang di padukan dengan warna abu gelap, rumah itu terlihat megah dengan bangunan dua lantai dan halaman yang cukup luas di sertai garasi mini di samping rumah itu.


Motor yang di kendarai egi telah melewati gerbang kokoh cukup tinggi yang telah di buka kan oleh satpam penjaga rumah nya. Dan kini motor itu telah terparkir di samping mobil sport putih.


Egi melirik annisa yang tampak damai memejamkan mata dengan tangan masih melingkar di perut nya.

__ADS_1


Tersenyum kecil kemudian egi mengusap tangan annisa. "Annisa kita telah sampai," ucap Egi dengan suara tenang.


"Hemm...," gumam annisa lalu perlahan annisa mengerjapkan mata nya, dan melepaskan pelukan tangan nya dari tubuh egi.


Masih mengucek mata dan mengumpulkan kesadaran nya. "Udah sampai yah, maaf aku ketiduran," ucap Annisa lalu turun dari motor tanpa melirik sekeliling nya.


Egi ikut turun dari motor, melepaskan helm di kepala nya.


Kemudian beralih mendekati annisa untuk melepaskan helm di kepala annisa. "Jika kau ngantuk kau boleh tidur setelah makan malam annisa," suara tegas egi membuat kesadaran dalam diri annisa terkumpul.


Mendongak menatap wajah egi, lalu melirik sekitar. Seketika mata annisa menyipit bingung melihat lingkungan yang asing di mata nya. "Egi ini dimana?" tanya Annisa.


Egi meraih dan menggenggam sebelah tangan annisa agar mengikuti langkah kaki nya. "Di rumah kita," jawabnya singkat.


"Rumah kita?" bingung Annisa sambil mengimbangi langkah kaki egi yang membawa nya untuk memasuki rumah itu.


Begitu melewati pintu utama yang tinggi, annisa menarik tangan nya yang di genggam egi sedari tadi. "Egi ini dimana? Kenapa kita memasuki rumah orang, bukannya kita harus pulang ke rumah?" tanya Annisa masih bingung.


Menghela napas pelan lalu egi berbalik memegang kedua bahu annisa agar menghadapkan fokus pada diri nya. "Ini rumah kita annisa, aku pernah bilang pada mu jika kita akan berpindah rumah. Dan ini hari nya kita pindah ke rumah ini," tutur Egi.


Annisa sedikit melebarkan mata nya kaget kemudian melirik sekeliling ruangan yang saat ini diri nya tengah berdiri. "Ru-mah ki-ta," beo annisa.


Rumah ini begitu megah dan besar. Apa ini rumah pemberian ayah mertua? Bagaimana aku akan mengurusi rumah sebesar ini, sementara jiwa ku hanya satu dan tangan ku hanya dua.


Egi yang melihat annisa tengah memidai sekitar dengan mengkerutkan alis bingung. Egi tersenyum lalu menangkup wajah annisa dengan kedua tangan nya agar terfokus mendongak menatap ke arah nya. "Apa yang kau pikirkan annisa?"


"Egi... menurutku rumah ini terlalu luas dan besar, apa sebaiknya kita pindah di sebuah rumah minimalis satu kamar saja," ucap annisa dengan pandangan menunduk.


Menggeleng kecil, "kenapa annisa, Apa kau tidak menyukai rumah ini?" tanya Egi sembari mengusap pipi annisa dengan ibu jari.


Terkekeh pelan kemudian egi mencubit ujung hidung annisa gemas. "Kau tidak perlu khawatir soal itu, karena ada tiga pelayan yang akan datang kemari tiap hari nya. Hanya saja mereka tidak tinggal di sini."


Seketika Annisa tersenyum lega. "Benarkah? Tapi kenapa harus tiga orang segala, satu orang saja sudah cukup untuk membantu ku merawat rumah ini."


"Kau hanya perlu mengurusi keperluan ku saja," ucap Egi.


"Tapi egi..." ucap Annisa namun terhenti karena egi menaruh jari telunjuk di bibir annisa.


"Annisa, turuti setiap kata dan perintah ku," tegas nya kemudian egi memegang sebelah tangan annisa dan berjalan ke arah ruangan lain.


Annisa hanya menurut dan mengikuti setiap langkah kaki egi yang menggenggam tangan nya. Sesekali annisa melihat lihat kagum dengan ruangan yang di lewati nya.


Rumah ini benar benar nyaman. Aku sangat suka dengan interior setiap ruangan nya yang kalem namun berkesan elegan.


Kedua nya telah sampai di sebuah ruang makan. Dan berhenti tepat di sebuah wastafle.


"Cucilah tangan dan wajah mu," titah egi mengedikkan dagu.


"Tapi egi apa nggak sekalian saja memb...," ucapan Annisa menggantung karena egi dengan cepat menyela ucapan annisa.


"Annisa," geram egi.


Menghela napas pelan. "Baiklah egi bawel," lalu annisa menurut melepaskan tas gendong dan mantel yang langsung di ambil alih oleh egi dan meletakkan nya ke sebuah kursi. Setelah nya annisa merunduk mencuci wajah dan tangan nya hingga bersih.


Egi menggiring annisa menuju meja makan lalu Ia menarik kursi dan mendudukkan annisa. "Kau belum makan kan?" tanya egi yang ikut duduk di samping kursi annisa.

__ADS_1


Mengangguk kecil, "hemm... kau tau saja jika aku kelaparan," jawabnya. Lalu annisa menunjuk masakan yang ada di tengah meja. "Ini semua siapa yang nyiapin?" heran annisa.


"Koki." Jawabnya cepat sambil melonggarkan dan melepaskan syal yang membelit di leher annisa.


"Koki?" Bingung annisa, kemudian mata annisa memicing menyelidik. "Jangan bilang kau mempekerjakan koki juga di rumah ini?"


"Iya." Sambil membalikkan piring untuk annisa.


Lalu Egi memutar bagian tengah meja yang dimana setiap menu makanan tersedia di atas nya. "Mau makan apa annisa, biar aku ambilkan."


"Tidak perlu lah, aku bisa sendiri. Dan kau juga ikutan makan egi, biar terasa enak jika makan nya ada yang temani."


"Hn..." membalikkan piring di hadapan nya.


------------


Annisa dan egi telah selesai membersihkan diri dan kini kedua nya akan bersiap siap untuk tidur. Annisa tengah membereskan dan menyiapkan perlengkapan tidur di atas kasur.


Menghampiri annisa dan mengambil bantal juga selimut dari atas kasur karena kebetulan annisa sudah menyiapkan dua selimut dan dua bantal. "Kau tidur di ranjang, biar aku tidur di sofa."


Annisa segera meraih sebelah lengan egi sehingga membuat gerakan egi terhenti.


Menoleh ke annisa dan menatap tanya. "Ada apa?"


Annisa mendongak menatap ragu ke egi. "Kau tidak tidur dengan ku di ranjang?" tanya annisa membuat egi tertegun.


Egi membalikkan badan agar menghadap annisa. "Benarkah kau ingin kita tidur seranjang, apa itu artinya kau sudah me..." ucapan egi tergantung.


"Aku menginginkan kau tidur bersama di kasur bukan berarti aku sudah siap dengan hubungan suami istri. Aku... aku hanya kasihan kau selalu tidur di sofa sementara aku enak enakan tidur di kasur yang hangat dan luas," tutur annisa memotong ucapan egi.


Menghela napas pelan lalu egi berjalan ke arah ranjang dan merebahkan tubuh nya di sisi kanan. "Cepatlah kemari, kita pakai selimut berbeda agar kau merasa aman," ucapnya karena melihat annisa masih berdiri mematung memperhatikan nya.


Annisa melangkah mendekat dan menaiki ranjang dengan gerakan pelan kemudian membaringkan tubuh nya di sisi kiri berselimut berbeda dari yang egi pakai.


Egi yang masih terbaring menatap lurus ke langit langit kamar, ia melirik annisa yang tampak canggung dan gugup.


"Annisa..." panggil egi dengan nada suara rendah membuat annisa bergidik merinding.


Ada apa dengan nya, kenapa aku merasa tidak tenang dan bahkan jantung ku tidak berhenti berdetak cepat. Huft... tenang annisa, bagaimana pun sudah sewajarnya aku tidur sekasur dengan suami sendiri. Lagian kan aku sendiri yang mengusulkan agar tidur seranjang.


Menoleh dan tersenyum ke arah egi. "Ada apa egi?" tanya nya.


Egi menatap teduh ke annisa lalu dengan gerakan cepat egi menarik tangan annisa dan membawa annisa agar berada dalam pelukan nya.


"Egi!" Pekik annisa terlonjak membulatkan mata kaget.


Memerangkap tubuh annisa yang ada dalam pelukan nya, lalu egi menunduk mengendus di sekitar pundak annisa untuk mencium aroma khas yang ia sukai dari annisa. "Biarkan aku memeluk mu annisa, biarkan seperti ini. Dan diamlah," gumam pelan Egi di telinga annisa.


Tubuh annisa yang semula menegang gemetar, perlahan melemas dengan tarikan napas panjang yang di keluarkan dari mulut nya.


Baiklah annisa, kau bisa tenang. Dia hanya ingin memeluk mu, bukan meminta hak. Hah... aku ingin tidur tp dengan posisi seperti ini pun tak apalah, mau gimana lagi ikuti saja permintaan nya.


Kemudian annisa dengan gerakan ragu melingkarkan sebelah lengan ke tubuh egi dan membalas pelukan nya.


Melihat respon annisa yang menerima nya, egi semakin mempererat pelukan di tubuh annisa dan mengelus lembut rambut annisa.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2