
Di dalam kamar rawat inap VVIP.
Annisa telah di pindahkan ke ruang perawatan, dan Egi masih setia menemani tanpa mau jauh jauh lagi dari Annisa.
Kamar yang di pakai Annisa terletak di lantai paling atas di gedung itu. Ia di tempatkan di sebuah kamar yang luas bernuansa tenang dan nyaman.
Di kamar itu, Annisa masih setia dengan mata terpejam dan bibir rapat, terbaring di atas hospital bed elektrik yang berukuran nya cukup untuk dua orang dewasa. Sementara Egi duduk di kursi yang ada senderan nya, di samping ranjang dengan tangan terus menggenggam erat jemari annisa dan pandangan tak teralihkan menatap lekat wajah Annisa.
Terlihat jelas penampilan Egi saat itu, sangat kacau dasi yang sudah mengendur tak karuan dan kemeja sudah keluar dari dalam celana. Sementara jas telah terlempar entah kemana. Raut wajah Egi begitu terlihat sangat muram dan kusut dengan pandangan mata yang sayu tanpa berkedip menatap Annisa.
Ceklek.
Pintu kamar itu terbuka, dan memunculkan Jhon memasuki ruangan dengan tangan menenteng sebuah paperbag plastik yang cukup besar.
Egi yang tidak mempedulikan kehadiran Jhon, dia tetap menatap fokus ke annisa dengan badan tak bergerak sama sekali dari posisi nya.
Jhon menghembuskan napas sebal. Lalu...
Brak.
Meletakkan dengan kasar paperbag itu ke atas meja sofa, dan membanting tubuh nya ke atas sofa panjang.
"Tuan Egi." Panggil Jhon menatap ke arah Egi yang masih dengan posisi nya yang membelakangi Jhon.
Tidak mendapat jawaban dari Egi. "Tuan Egi," Jhon kembali memanggil Egi.
Dan tetap tidak mendapat jawaban atau pergerakan dari Egi sama sekali.
Menghembuskan napas kasar, Jhon beranjak menghampiri kursi yang di duduki Egi.
Puk ... menepuk pundak Egi.
"Hari sudah mulai larut, setelah tadi shalat isya tuan hanya duduk kembali ke kursi memandangi Nona. Lihatlah wujud tuan yang sekarang, tidak keciumkah bau badan tuan. Saya saja yang berada di dekat tuan langsung terendus bau aroma yang tak sedap...," tutur Ironi Jhon yang sudah berdiri di samping kursi Egi, dekat ranjang Annisa.
Namun tidak ada jawaban atau pergerakan dari Egi sama sekali. Dan tiba tiba...
Growuk...growuuk.
Suara perut Egi berbunyi pertanda lapar.
Jhon menghela napas pelan. Lalu beralih menatap Annisa yang terbaring masih memejamkan mata. "Bahkan cacing cacing di perut tuan pun sudah berteriak meminta untuk di beri makan, tuan Egi tidak lihatkah penampilan saya yang terlihat fresh dan enak di pandang ini. Mungkin saat nona Annisa terbangun nanti bisa tertukar mana tuan Egi dan mana saya yang sebagai kakak angkat nya."
__ADS_1
"Jhon!" Sentak Egi membuat Jhon menoleh ke arah nya. "Bisakah kau diam jangan berisik!" tegas Egi.
Jhon bersedekap tangan menatap Annisa. "Saya tidak akan berisik jika tuan Egi tidak bersikeras mempertahankan penampilan nya yang seperti domba gimbal yang urakan, juga tidak mau memberi umpan cacing cacing di perut tuan," sindir Jhon melirik mengejek ke Egi.
Egi menghela napas panjang, mengusap jemari tangan Annisa. "Aku akan makan jika itu masakan yang di buat Annisa." Kemudian Egi melirik Jhon yang di samping nya.
"Jhon, ambilkan bekal makanan yang di buat annisa sewaktu pagi. Aku belum memakan nya, bekal itu ada di kantor," ucap Egi.
"Maaf tuan, tapi sepertinya bekal itu sudah basi dan tidak baik untuk di konsumsi lagi. Jika tuan ingin makanan seperti yang di masak nona, cita rasa dan aroma nya, saya akan tugaskan beberapa koki untuk itu," tutur Jhon.
Egi kembali menghela napas dan menatap wajah Annisa. "Tidak ada yang bisa menandingi cita rasa masakan istri ku, Jhon." Ucap Egi dengan nada dingin.
Jhon berbelok arah untuk melangkah mendekati sofa. "Meskipun begitu, tuan harus tetap makan, agar ada tenaga. Apa tuan mau jika nona Annisa terbangun malah berpaling pada saya, yang sudah berpenampilan menarik dan sehat bugar ini. Berbanding terbalik dengan tuan Egi yang sekarang." Sarkase Jhon lalu merebahkan tubuh nya ke sofa panjang.
Egi mendengus sebal dan melirik penampilan nya yang terlihat kusut sumbrawut. "Kau paling bisa menjatuhkan aku, Jhon." Ucap nya, kemudian bangkit dari duduk nya. Egi membungkukkan setengah badan untuk mengecup lembut kening Annisa.
"Cepatlah terbangun sayang, aku akan kembali." Ucapnya mengusap lembut pipi Annisa, lalu Egi menegakkan badan nya dan berbalik mendekati meja sofa.
"Ayah kemana?" tanya Egi sambil menyambar paperbag plastik di atas meja.
"Pulang," sahut Jhon cepat.
Egi melangkah menuju pintu kamar mandi. "Awasi terus Annisa, tapi jangan menyentuhnya," ucap nya sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.
"Jhon! Awas kau jangan macam macam!" Teriak Egi dari dalam kamar mandi.
"Tidak saya tidak akan macam macam. Hanya akan macam macam saja." Sahut nya lagi santai sambil berjalan ke arah kursi samping ranjang Annisa.
Jhon duduk di kursi samping ranjang Annisa, dan mulai sibuk menatap layar ponsel, mengetik sesuatu di layar nya.
Tanpa sepengetahuan Jhon. Jemari Annisa bergerak pelan, dan perlahan bulu mata lentik panjang itu tergerak untuk terangkat yang akhirnya mata Annisa terbuka, pandangan pertama yang annisa lihat adalah sebuah langit langit yang bercat biru langit. Dan penciuman nya langsung menghirup udara yang annisa tahu jika udara yang tengah di hirup nya adalah udara ruangan rumah sakit yang tercampur dengan disinfektan.
Aku dimana? Apa ini rumah sakit?
Kemudian pandangan Annisa melirik ke sekitar ruangan.
Ternyata benar aku ada di rumah sakit...
Pandangan Annisa setelah melirik sekitar nya yang meyakinkan diri nya berada di rumah sakit. Kini pandangan nya jatuh pada sesosok Jhon yang duduk di samping ranjang nya.
Itu kan kak Jhon?
__ADS_1
Annisa menggerakkan bibir nya yang terasa kaku. "K...kak Jhon," ucap nya serak dan lemah.
Jhon yang menangkap suara Annisa, sontak pergerakkan jemari nya yang tengah menari di layar ponsel terhenti, lalu jhon menggerakkan kepala nya untuk menoleh ke arah suara. "Nona Annisa!" Kaget nya dengan mata sedikit melebar.
"Akhirnya nona tersadar juga," ucap nya antusias dan mendekat menatap Annisa.
Annisa mengulas senyuman membalas tatapan Jhon dengan tatapan sayu. "Apa saya dirumah sakit? Dan sudah berapa lama saya terbaring di sini?" tanya Annisa bingung.
Jhon menekan tombol panggilan yang berada di samping ranjang Annisa untuk memanggil petugas medis. Kemudian kembali duduk dan terbesit senyuman jahil di bibir Jhon. "Benar nona di rumah sakit. Dan nona sudah tak sadarkan diri selama 5 tahun," jawab Jhon menggoda Annisa.
Mendengar kata 5 tahun dari Jhon. Sontak mata Annisa melebar terkejut. "Li...lima ta..tahun," gagap nya karena kaget.
Jhon mengangguk mengiyakan untuk meyakinkan Annisa.
Benarkah selama itu, aku koma di rumah sakit?
Lalu mata Annisa memicing menatap menyelidik ke wajah dan penampilan Jhon. "Tapi wajah kak Jhon masih terlihat muda seperti terakhir kali saya melihat nya."
Jhon mengusap wajah nya dan tersenyum senang. "Memang saya awet muda nona," jawab nya bangga.
Mata Annisa masih menyipit tak percaya. Lalu terlintas di pikiran Annisa mengenai Egi.
"Jika sudah 5 tahun, bagaimana dengan keadaan Egi? Dia tidak menikah lagi kan?" tanya Annisa yang tidak sadar jika diri nya baru terbangun dari kesadaran akibat cedera.
Jhon terkekeh pelan menahan tawa nya, dan mengambil gelas dari atas meja nakas, lalu menekan tombol di remot kontrol yang terletak di pagar sisi kiri ranjang, untuk menaikkan setengah ranjang bagian kepala agar posisi Annisa setengah terduduk. Menyodorkan pipet ke bibir Annisa. "Minum dulu nona, agar tidak shock dengan cerita selanjutnya yang akan saya sampaikan mengenai tuan Egi beberapa tahun ini," tutur Jhon.
Egi...suami bocah ku, aku penasaran tentang hidup nya yang sekarang.
Annisa menyambut pipet itu, dan menyeruput air nya hingga habis setengah nya.
Setelah nya, Annisa kembali menatap Jhon dengan alis menaut penasaran. "Ceritakanlah kak Jhon. Apa dia benar benar telah menikah lagi? Jika benar, dengan siapa dia menikah lagi?" tanya Annisa beruntun.
Jhon membuang muka ke arah lain untuk menahan senyuman nya. Kemudian meletakkan kembali gelas ke atas meja nakas. "Iya benar tuan Egi telah menikah satu tahun kurang, dan menikah nya dengan nona yang sangat cantik dan tangguh bahkan saya saja merasa Iri terhadap nya," tutur Jhon menatap lekat Annisa.
Dia benar telah menikah lagi... kenapa dia menikah tanpa minta izin dulu pada ku? Jadi itu artinya aku telah di madu.
Annisa menghela napas panjang, dan mengalihkan pandangan menatap lurus ke depan. "Bahkan dia tidak setia sehidup semati terhadap ku, aku belum mati sama sekali hanya koma 5 tahun tapi dia sudah menikah lagi... hah," gumam nya, dan mendesah kecewa.
Jhon menahan tawa nya, melihat ekspresi kekecewaan di wajah Annisa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa....