
Egi beranjak dari tiduran nya untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Dari semaleman dia tidak bisa tidur karena memikirkan annisa terus dan bayangan wajah annisa yang tengah tersenyum bersama Alan terus berkelebat dalam otak nya.
Sampai tiba waktu nya subuh pun egi masih saja tidak bisa memejamkan mata nya, dan alhasil setelah shalat subuh egi merebahkan kembali tubuh nya karena merasakan lemas dan sakit di perut nya, dia ingat jika dari kemaren dia sama sekali tidak sempat makan apapun, dan perut nya hanya terisi roti bakar itu pun saat sarapan kemaren.
Egi kembali termenung, kenapa diri nya bisa sampai segitu nya memikirkan annisa. Dan membuat diri nya tersiksa hanya karena kejadian kemarin.
Dengan tenaga yang tersisa egi menyemangati diri nya untuk menuju kamar mandi.
Selang beberapa waktu.
Selesai membersihkan diri, dan memakai pakaian seragam sekolah untuk bersiap siap sekolah.
Berjalan tertatih dengan memegangi kepala dan perut nya, egi keluar dari pintu kamar mandi.
Sepertinya aku harus menemui dia, agar pikiran ku tenang.
Masih dengan langkah pelan egi menyambar kunci mobil nya yang tergantung di tempat kunci, lalu memakai jas almamater sekolahan nya.
Egi keluar kamar untuk beranjak ke garasi mobil di basement. Karena kepala dan perut nya semakin bergejolak perih, dan pusing. Egi melangkah dengan hati hati, merngernyit kan dahi merasakan lemas tubuh nya dan limbung di kepala nya.
Sesampai nya di ruangan utama, Ayah putra yang baru masuk ke dalam rumah dari jalan santai arah taman belakang. Ayah putra menatap heran ke arah egi yang tampak pucat, dan lesu.
Menghampiri egi. "Kau sakit egi?" Tanya ayah putra menelisik wajah egi.
Egi menoleh menatap sayu. "Tidak ayah." Jawab nya lemah.
Hendak menyentuh dahi egi. Namun dengan sigap egi menepis tangan ayah putra.
"Egi baik baik saja Ayah, egi tidak bisa sarapan di rumah. Egi akan sarapan di luar saja." Tutur egi.
Lalu egi melanjutkan kembali langkah kaki nya dengan pelan.
Ayah putra menarik sebelah lengan egi. "Bawa supir ayah, pak tarjo. Ayah khawatir melihat mu yang ingin mengendarai mobil dalam kondisi seperti ini." Ucap ayah putra dan mengisyaratkan mata pada jhon pengawal pribadi nya yang sedari tadi berdiri tidak jauh di antara kedua nya.
"Tapi egi tidak apa apa ayah." Imbuh egi menarik lengan yang di pegang ayah putra dan melengos hendak pergi.
Namun.. ketika hendak melangkah pergi, tiba tiba keseimbangan dalam langkah nya tidak seimbang karena limbung di kepala nya semakin menjadi. Penglihatan egi sedikit mengabur dan buram.
Memegangi kepala dan mengernyit kan dahi.
Ayah putra yang melihat anak nya seperti itu, segera mendekati dan merangkul pundak nya. "Kau susah sekali di bilangin. Sudah jangan sekolah jika kondisi mu seperti ini egi. Istirahatlah, biar ayah panggilkan dokter untuk memeriksa mu." Tutur ayah putra.
Melepaskan rangkulan ayah putra di pundak nya. "Egi akan tetap pergi ayah. Jangan halangi egi." Ucap egi pelan namun masih jelas.
Ayah putra kembali merangkul pundak egi. "Tapi kondisi mu seperti ini. Kau kembali lah ke kamar mu untuk istirahat egi." Tegas ayah putra.
Kembali melepaskan rangkulan ayah putra. "Tidak ayah, egi baik baik saja." Kekeh egi dan kembali melangkah pergi untuk menuju basement.
Ayah putra menggeleng kan kepala beberapa kali sambil menatap kepergian nya egi. "Dasar keras kepala."
Menoleh pada jhon di samping nya. "Jhon. Kau sudah suruh pak tarjo ke basement?" Tanya ayah putra.
__ADS_1
"Sudah tuan besar."
"Baguslah, aku jadi tenang jika bukan dia yang mengendarai mobil nya."
------------
Annisa tengah menggunakan sepatu pantofel dan duduk di kursi.
"Rika kamu yakin nggak mau ikut untuk sarapan di sana, enak tau bubur kacang ijo nya?" Tanya annisa.
Menghampiri annisa dan duduk di kursi sebrang nya. "Nggak ah, aku kan nggak suka kacang ijo nya Nis." Jawab rika.
"Ya sudah deh, aku kesana dulu yah." Ucap annisa dan tersenyum.
Mengedikkan sebelah bahu nya. "Iya annisa. Hati hati nyebrang jalan nya."
Annisa bangkit dari duduk nya dan mengambil tas gendong yang tergeletak di atas meja.
"Tas nya mau di bawa juga nis?"
Mengangguk mengiyakan. "Supaya sepulang dari sana, langsung masuk kelas aja. Kan capek jika harus bolak balik asrama dulu." Ucap annisa.
"Ya sudah aku keluar dulu yah rik. Assalamualaikum." Salam annisa lalu berbalik dan membuka pintu keluar.
"Walaikumsalam." Jawab rika.
Annisa menuruni anak tangga, Ia bertujuan untuk membeli sarapan sekaligus memakan sarapan di tempat nya. Dengan bersenandung kecil annisa berjalan melewati setiap koridor, dan kini Ia tengah berjalan di pelataran kampus untuk menuju gerbang keluar.
Yang semula menunduk kan pandangan, annisa menoleh ke arah suara. "Kak Alan." Heran annisa.
Sedang apa dia di sana?
"Dek annisa mau kemana? Pagi pagi gini kenapa keluar kampus?" Tanya alan setelah mendapati annisa keluar gerbang.
Tersenyum. "Mau nyari sarapan." Jawab annisa dan melangkah kan kaki pelan menyusuri jalan.
Alan mengikuti annisa dan mengimbangi langkah nya. "Rika nya nggak ikut?" Tanya alan.
Menunduk menatap ujung sepatu nya. "Nggak, dia ingin sarapan di kantin." Jawab annisa.
"Boleh kakak temani?" Tanya Alan.
Brumm... bruumm.
Suara mesin mobil sport berwarna putih berhenti tepat tidak jauh dari hadapan annisa.
Annisa menoleh ke arah mobil itu.
Seperti kenal mobil ini. Bukannya ini mobil...
Dari sebuah pintu penumpang turunlah seorang lelaki yang amat annisa kenal, lelaki itu memasang wajah dingin dan berjalan menghampiri annisa dan Alan.
__ADS_1
Mata melebar terkejut dengan apa yang di lihat nya. "Egii." Celetuk annisa.
Alan menoleh ke annisa yang memanggil egi, lalu melirik ke lelaki yang saat ini tengah berjalan menghampiri annisa.
Menarik sebelah lengan annisa. "Ikut." Ucap egi.
Annisa hanya menurut mengikuti langkah kaki egi yang menarik lengan nya, lalu melirik alan yang terpaku bingung di tempat nya.
"Hey, kau siapa? Maen tarik tarik dek annisa." Cegah alan menghalangi langkah egi.
Tersenyum sinis. "Minggir." Tegas egi mengibaskan sebelah tangan.
"Nggak, lepasin dek annisa dulu. Baru gue akan minggir." Kekeh Alan masih menghalangi egi.
"Minggir." Ucap egi dan mendorong sebelah bahu Alan agar menyingkir dari jalan nya.
"Woy, lo main kasar. Lepasin dek annisa, dia tidak kenal dengan lo." Teriak Alan dan menarik lengan baju annisa.
Annisa menoleh ke Alan yang menarik lengan baju di sebelah lengan yang bebas, lalu melirik egi kembali.
Aku harus bagaimana, kak Alan kan nggak tahu jika s egi ini suami ku.
Egi tersenyum miring lalu menoleh ke annisa. "Brandal, kau mau ikut aku atau dia?" Tanya egi pada annisa.
Maksud nya apa dia mengajukan pertanyaan seperti itu. bukannya dia sudah mengusirku. Tapi Jika aku diam di sini, s egi pasti prasangka nya aku punya hubungan dengan kak Alan. Tapi jika aku ikut dia, itu tidak mungkin sedangkan dia tidak menganggap ku istri nya. Aku harus bagaimana.
"Kenapa kau diam. Jawab brandal!!" Tegas egi karena melihat annisa terdiam menunduk.
Annisa mendongak gugup dan melirik egi. "Aku... aku..akan kembali ke asrama." Ucap annisa dan melepaskan pegangan tangan egi di lengan nya hendak berbalik.
Menarik kembali lengan annisa dan menghalau nya dengan paksa agar mau mendekati mobil.
"Ikut aku." Ucap egi sambil menarik annisa paksa.
Membrontak ingin terlepas dari egi. "Egi. Aku ada kelas sekarang, lepasin lengan ku." Brontak annisa.
Namun egi mencekal kuat lengan annisa. "Diam. Dan ikuti aku." Bentak egi.
Seketika annisa terdiam dengan bentakan egi.
Ada apa dengan kau egi. Bukannya kau yang membiarkan aku pergi waktu itu, bahkan kau menghina dan tidak mempercayai ku. Dan sekarang kau bahkan tidak berubah, masih mengeraskan suara mu dengan egois.
"Dek annisa." Panggil Alan yang memperhatikan kedua nya tidak jauh dari annisa.
Annisa menoleh ke alan.
Egi membuka pintu mobil penumpang. "Masuk!!" Titah egi dengan nada tegas.
Annisa melirik egi dan akhirnya menuruti perintah nya memasuki mobil.
Berdiri menatap Alan tajam dan tersenyum miring. "Cih!!" Decih egi lalu ikut memasuki mobil dan duduk di samping kursi annisa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...