
Dalam sekejap, rumah sakit menjadi sangat ramai oleh mobil mobil para polisi, para petugas tim pemadam kebakaran dan juga para bodyguard yang di perintahkan oleh Jhon untuk menyelidiki penyebab annisa bisa terperangkap di dalam elevator.
Seketika para staf teknisi pemeliharaan gedung, dan orang orang yang bersangkutan di buat kalang kabut dengan kejadian itu, di karenakan telah tersebar kabar jika anak dari sang pemilik rumah sakit akan datang, dan parah nya lagi orang yang terjebak di dalam elevator adalah istri dari sang anak pemilik RS.
Semua orang sibuk dan berusaha untuk mengeluarkan Annisa dari dalam elevator, dan memantau keadaan nya dari kamera cctv.
Keadaan dalam lift. Annisa masih dalam posisi nya tersungkur dengan darah terus merembes di kulit kepala nya karena terdapat luka akibat benturan keras, dan napas nya sesak tersendat akibat kurang nya oksigen di tambah Nyctophobia nya kambuh kembali.
Mata Annisa terlihat sayu meredup, menatap lurus ke depan, dengan sebelah tangan di kepala untuk berusaha menghentikan pendarahan di kulit kepala nya.
Apa aku akan mati di sini?
Hosh...hosh... Annisa berusaha menghirup udara dan menenangkan diri nya, dengan menghela napas dalam dalam.
Mama, Papa... Apa Annis akan segera bertemu dengan kalian?
"Nona Annisa, nona Annisa," panggilan dari speaker yang terpasang di elevator.
Annisa mencoba menggerakkan lehernya yang lunglai lemas namun bergeming sedikit pun tidak.
Badan ku serasa melayang, lemas... Apa benar ini akhir hidup ku Tuhan...
Ingin rasa nya annisa berteriak untuk menjawab panggilan itu, namun suara nya tercekat dalam tenggorokkan, lidahnya kelu tak mampu melafalkan kata.
Aku belum siap mati. Mama, papa... Annis masih belum berpamitan pada suami annisa dengan benar juga pada keluarga yang annisa sayangi. Ya Tuhan ... beri kekuatan untuk hamba.
"Nona Annisa, mohon untuk tenangkan diri anda. Kami tengah mencoba mencari cara untuk menyelamatkan anda, mohon anda berikan kami pergerakan tentang keadaan anda." Suara dari speaker menginstruksi kembali.
Dalam keadaan gelap temaram, Annisa dengan segala kekuatan nya, mencoba mendongakkan kepala nya yang terasa limbung perih, untuk mencari cctv dan ingin mengatakan sesuatu atau memberikan isyarat gerakan. Namun, lagi lagi lidah annisa telah kaku, akibat tubuh nya sudah lunglai lemas dan napas nya terengah. Dan alhasil hanya bisa merunduk diam menahan segala penyiksaan yang terasa di tubuh nya.
Aku butuh cahaya, iya Cahaya... setidaknya dengan adanya cahaya akan menghilangkan rasa takut ku dalam kegelapan ini..
__ADS_1
Setidaknya cara itu untuk membuatku bisa mengendalikan diri dari ingatan mengerikan yang tengah berputar di otak ku ... Apa mungkin sudah tidak ada harapan sama sekali aku untuk selamat dan hidup...
Mama, Papa apa sudah waktunya Annisa berkumpul dengan kalian...
---------------
Sementara Egi, baru saja mobil nya terhenti di parkiran. Ia segera berhambur keluar dari mobil dan berlari dengan cepat ke arah jalan khusus, yang di giring langsung oleh beberapa bodyguard agar tidak mengundang keramaian yang mencolok di lingkungan rumah sakit. Dan Jhon setelah memarkirkan mobil Ia ikut setengah berlari membuntuti Egi dari belakang.
"Jhon antar aku ke tempat yang bisa melihat keadaan Annisa!" Seru Egi sembari memasuki elevator.
Jhon ikut memasuki lift. "Lantai 7, kita ke sana." Menekan angka 7 di panel elevator.
Dan lift itu bergerak menaik ke atas membawa Egi dan Jhon.
Egi tampak tidak bisa tenang, raut wajah nya di penuhi kekhawatiran yang amat sangat, bibir egi meremet menahan emosi yang telah memuncak.
"Bagaimana bisa istriku terperangkap di dalam lift Jhon!" ucap nya geram menatap tajam ke Jhon. "Dan... Aarrgh." Mengusak rambut dengan kasar.
"Anak buah?" Ujar Egi mendelik tajam. "Kemana anak buah mu yang di tugaskan mengawasi Annisa, sampai hal ini terjadi pada dia!"
"Tuan Egi, meskipun mereka di tugaskan menjadi mata mata. Tapi tidak setiap detik dan menit selalu berada di belakang nona."
"Hukum semua anak buah mu seberat mungkin, sebelum mereka di pecat." Ujar Egi sambil melangkah keluar lift karena telah terbuka.
Menghela napas panjang, Jhon ikut menyusul menggiringi Egi menuju ke sebuah ruangan teknisi yang dimana para staf bekerja.
Di dalam sebuah ruangan.
Egi di sambut dengan wajah pucat dari para staf, dan ketegangan mencekam langsung menyebar dalam ruangan itu. Egi mendekat ke sebuah jejeran kursi para staf yang tengah memantau keadaan Annisa di sebuah layar besar dan tengah memberikan instruksi terhadap Annisa.
Mata Egi menajam, mengawasi layar untuk mencari gambaran Annisa. "Kenapa kalian tidak menyalakan lampu dalam lift nya!" Teriak Egi membuat semua staf terlonjak takut.
__ADS_1
"Kami sedang berusaha untuk memperbaiki agar lampu nya menyala kembali tuan," jawab salah satu staf yang duduk di kursi berjejer.
"Annisa," geram Egi mengusap wajah nya. Lalu mengarahkan wajah menunduk ke Jhon yang ada di samping nya. "Dia takut kegelapan Jhon, dia...dia pasti ketakutan di dalam sana," ceracau nya pelan mendesah kesal dan memijit pangkal hidung nya.
Jhon menepuk pundak Egi beberapa kali. Lalu beralih menatap salah satu staf. "Sudah berapa lama nona terperangkap di dalam lift?" tanya nya.
"Sekitar 20 menitan tuan," jawab staf itu.
Jhon melirik ke arah Egi yang tampak menunduk menahan amarah nya. "Berapa lama lagi, nona Annisa bisa di keluarkan dari dalam sana?" tanya nya.
"Tidak akan lama lagi, tuan. Kami sebisa mungkin akan mengeluarkan nona Annisa secepatnya," jawab staf itu sambil sibuk mengutak atik keyboard.
Pandangan Jhon teralihkan ke layar, karena melihat lampu dalam lift itu telah menyala. "Nona terluka!" Celetuk Jhon dengan mata melebar terkejut.
Sontak Egi yang tengah menunduk segera berhambur mendekat ke layar untuk melihat keadaan Annisa. "Darah?" Kaget nya melotot, melihat kerudung putih annisa telah di penuhi bercak warna merah kental. Lalu menyambar mic. Audio untuk terhubung ke speaker cctv di dalam lift Annisa.
"Annisa? Sayang, ini aku. Lihatlah ke atas Annisa, tunjukkan wajah mu, sayang." titah Egi dengan nada suara bergetar serak karena menahan emosi di sertai kegusaran.
Namun tidak mendapat pergerakan sama sekali dari Annisa yang tampak lemah tak berdaya meringkuk, menunduk.
"Aarrrgh...," geram Egi menendang keras kursi yang di pakai salah satu staf. Lalu berhambur keluar ruangan untuk menuju ke tempat lift Annisa tertahan yang tengah di bongkar.
"Lantai berapa lift nona Annisa tertahan?" tanya Jhon.
"Lantai 3 tuan," jawab salah satu staf.
Setelah mendengar jawaban, Jhon ikut berhambur menyusul Egi dengan setengah berlari.
BERSAMBUNG...
Sempetin klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaa...
__ADS_1