
1 bulan kemudian.
Rika masih saja terbaring lemah tak berdaya dengan mata tertutup rapat di tempat tidurnya, semua orang di sekelilingnya sudah murung di penuhi kesedihan atas dirinya. Dan selama satu bulan penuh itu, Jhon belum pernah menginjakkan kakinya lagi ke rumah sakit karena masih takut dan tak mampu menghadapi gadis manis itu secara langsung, ia hanya mampu memantau keadaan Rika dari balik layar televisi yang berasal dari kamera cctv yang terpasang di ruangan ICU yang di berikan oleh Egi.
Di kamar Jhon.
Pria tampan dengan raut wajah putih pucat dan cekungan warna hitam di sekitar mata. Pria itu terduduk di sofa panjang yang menghadap ke layar persegi empat yang menampilkan seorang gadis manis tertidur di atas ranjang brankar.
Jhon menghembuskan napas panjang, beranjak dari duduknya dan melangkah pelan ke arah jendela kaca besar. Ia memasukkan kedua tangan kedalam saku celana berdiri memandang keluar jendela. "Gadis bodoh, sampai kapan kau akan menyiksa ku seperti ini? Aku merindukanmu...,"
Tok...tok...tok.
"Atan." Ibu Lily mengetuk dari luar kamar, lalu membuka pintu kamar saat tak mendapat jawaban apa pun dari dalam.
Kreet.
Wanita paruh baya itu memasuki kamar dengan tangan memegang nampan berisi semangkuk sup tomyam lengkap dengan kuning telur ceplok kesukaan Jhon. Tatapan matanya penuh rasa kekhawatiran dan sedih saat melihat keadaan putra semata wayang nya terlihat murung lagi.
"Kau tidak menyentuh sarapan mu, Atan." Ucap Ibu Lily meletakkan nampan di meja sofa berdampingan dengan nampan berisi menu makanan sarapan yang belum tersentuh sejak pagi.
Jhon masih berdiri membelakangi Ibu Lily menatap ke arah luar. Bagaimana bisa aku makan, sementara gadis bodoh ku masih terbungkam dan terpejam.
"Atan. Makanlah, kau sudah sebulan makan tak benar juga selalu mengurung diri bahkan tak pergi selangkah pun dari lantai atas ini. Apa kamu pikir dengan diri mu seperti ini, Nak Rika akan terbangun dari koma nya? Jangan menyiksa mu seperti ini, Nak. Dia pasti sangat sedih melihat tunangannya murung dengan badan yang sangat kurus tak terurus."
"Ibu...," terjeda sejenak, Jhon menghela napas pelan dan menundukkan kepala. "Masih pantaskah aku di sebut tunangannya sedangkan aku pembawa duka untuknya."
"Cukup Atan!" Sentak Ibu Lily cepat, kemudian ia melangkah mendekat. "Kau selalu berkata seperti itu setiap hari, Nak Rika kecelakaan bukan karena mu, Atan. Tapi ini sudah takdir, dan kamu seharusnya menemaninya bukan berlarut dalam kesedihan seperti ini."
"Ibu, aku tak bisa jika tak bersedih." Lirih Jhon tertunduk lemah.
__ADS_1
Ibu Lily menghembuskan napas panjang, berbalik berjalan ke arah pintu keluar sembari memegang nampan berisi menu yang sewaktu pagi yang belum di makan Jhon.
"Bersedih boleh saja, tapi kau juga harus memikirkan diri mu. Nak Rika masih hidup bukan tiada di dunia ini. Dia butuh kamu di sampingnya untuk terbangun agar bisa menjalani hidup bukan kamu yang seperti ini, bersembunyi memikirkan kesedihan bagai pengecut yang berlari dari keterpurukan sampai berlarut dan lupa akan Nak Rika yang membutuhkan mu...," Ibu Lily memutar handle pintu kamar untuk membukanya. "Makanlah, jangan biarkan diri mu sakit Atan, kasihan Nak Rika." Sambungnya sebelum pergi berlalu.
Jhon memejamkan mata sejenak sembari mendongakkan kepala dan menghembuskan napas kasar. Ibu benar... Lalu aku harus bagaimana? Gadis bodoh, cepatlah bangun. Perasaan ini sangat menyiksa ku.
---------------------------------
Di Rumah sakit.
Di Ruang ICU.
Annisa masih setia menemani Rika yang terbaring, selama sebulan ini dia selalu berjaga, merawat gadis manis itu sampai kadang lupa mengurus dirinya jika tidak di ingatkan oleh suaminya.
Kali ini dia tengah duduk di kursi kecil samping ranjang membaca Al-Qur'an. Suaranya terdengar serak akibat terus terusan menangis tanpa henti mengalirkan air mata.
"Sayang," seorang pria tampan berjas rapih memasuki ruangan dan mendekati Annisa.
Egi mengecup puncuk kepala dan pipi Annisa dengan lembut. "Sengaja datang kemari, ingin makan siang bersama mu. Aku dengar dari perawat di sini, kau bahkan tak menyentuh makanan yang di antarkan sedari pagi."
Raut wajah Annisa terlihat pucat dan lesu, ia menatap ke arah gadis manis yang terbaring di atas ranjang. Air matanya kembali mengalir saat melihat wajah putih pucat Rika yang terpejam tenang. "Aku tak ada napsu makan. Aku tidak bisa makan, karena orang yang menyelamatkan ku masih memejamkan mata bahkan ini sudah sebulan."
"Annisa," Egi memeluk leher istrinya dari belakang merunduk untuk menempelkan dagu dan memberinya kecupan di puncuk kepala.
"Kau sedang mengandung jadi kau harus makan demi nyawa di perut mu. Jika kau terus begini, akan sia-sia pengorbanan teman mu selama ini. Dia rela memberi perlindungan demi mu, tapi apa yang kau perbuat Annisa, kau bahkan tak menghargai pengorbanannya. Jangan siksa diri mu, sayang... setidaknya pikirkan anak dalam rahim mu."
"Egi...," terjeda sejenak, menghembuskan napas pelan. Annisa memegang lengan suami nya yang melingkar di bahu. "Kau benar, aku telah menghancurkan hidup sahabat ku dengan membiarkannya berkorban. Aku bahkan telah menghancurkan kebahagiaannya dengan kak Jhon."
Annisa ternyata kau masih menyalahkan diri mu... Egi melepaskan rangkulannya, ia memutar kursi yang di duduki Annisa agar menghadap ke arahnya. Lalu ia berlutut di hadapan gadis cantik itu, memegang kedua tangannya.
__ADS_1
"Annisa, siapa yang tak terluka dengan keadaan ini. Semua orang terluka terutama Jhon dia bagai hidup tapi mati, dan kita sebagai orang terdekat mereka jangan memperburuk keadaan dengan ikut terpuruk terlalu dalam, kita harus menyemangati mereka. Jadi hentikanlah kau bersikap seperti ini, tolong perhatikan diri mu... tak apa kau mengabaikan aku tapi setidaknya kau jangan mengabaikan anak kita dalam perut mu."
"Maafkan aku...hiks...hiks." Kepala Annisa tertunduk dan menangis tersedu. "Kak Jhon, Rika maafkan aku telah membuat kalian jadi tersiksa seperti ini." Lirihnya di sertai isak tangis.
"Sayang." Egi bangkit dari duduknya ia berdiri di samping kursi lalu merangkul bahu Annisa dan memeluknya dengan memberikan usapan juga tepukan pelan di bahu gadis cantik yang tengah menangis terisak dalam pelukannya. Ternyata percuma aku berkata apa pun, dia masih saja terguncang dan menyalahkan diri nya sendiri...
"J-Jo... Jo." Suara pelan namun terdengar jelas berasal dari arah ranjang, membuat gerakan tangan Egi yang tengah menepuk bahu Annisa terhenti.
"J... Joe." Sekali lagi suara itu tertangkap oleh telinga pria tampan itu.
Egi melirik ke arah ranjang untuk memastikan pendengarannya tidak salah, seketika mata nya membulat terkejut. "Sa-sayang dia... dia bangun." Terbatanya karena kaget bercampur senang.
Tangisan Annisa terhenti, ia mengusap air matanya lalu mendongak ke arah sang suami yang sudah terpaku dengan sorot mata ke arah ranjang. "Kamu bilang apa tadi?"
Egi menunjukkan tangan ke arah ranjang. "Sahabat mu, dia sudah sadar sayang."
Annisa mengikuti arah tunjuk Egi, dan seketika mata nya membelalak, segera ia bangkit dan berhambur ke arah ranjang. "Rika, kau sudah sadar? Ya tuhaan ini bukan mimpi kan, akhirnya dia tersadar."
"Aku... aku akan memanggil dokter," ujar Egi berbalik berlari keluar pintu ruangan, dia tak sadar jika di ruangan itu sudah terpasang tombol darurat untuk pemanggil dokter.
Mata Rika sudah di penuhi air mata yang mengalir di setiap sudutnya. Ia melirikkan kedua bola mata ke arah samping, dimana Annisa yang terlihat menangis bahagia memegang jemari tangannya.
"Rika." Annisa mengusap air mata di sudut mata Rika, terus mengucap syukur.
"N-Nisa... in-i di-mana?" tanyanya pelan nan serak.
"Iya ini aku, Rik. Aku Annisa, Ya Tuhan aku sangat bersyukur karena engkau telah mendengar doa ku." Ucap Annisa terlihat bahagia namun air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Rika memutar bola mata nya untuk melihat sekitar ruangan. Aku di rumah sakit... itu artinya aku masih hidup. Kemudian ia melirik kembali ke arah Annisa, terulas senyuman kecil di sudut bibirnya. Dan dia baik-baik saja, syukurlah...
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...