
Ceklek.
Pintu kamar terbuka.
Jhon memasuki kamar di ikuti seorang pramusaji rumah sakit yang mendorong troli makanan.
Egi menatap tajam ke arah Jhon. "Buat Apa kau kemari lagi Jhon? Mau menjemput hukuman mu?"
Jhon tersenyum tenang. "Tentu saja mengantarkan makanan untuk nona Annisa juga tuan Egi yang perut nya sudah keroncongan dari tadi," jawab nya santai, dan mengiysaratkan dengan gerakan tangan pada pramusaji wanita itu, agar meletakkan troli ke dekat meja sofa, dan mengibaskan tangan sebagai perintah untuk keluar kamar.
Annisa mengusap punggung tangan Egi yang tengah menggenggam jemari nya. "Egi apa kau belum makan? Memang benar yang dikatakan kak Jhon, jika perut mu berbunyi terus dari tadi. Aku mendengarnya," tanya Annisa.
Seketika wajah Egi merona malu, dan memalingkan muka ke arah lain. "Aku...aku sudah mak...," sangkalan Egi terhenti seiring perut nya berbunyi.
Growuk...growuk.. bunyi perut Egi.
Annisa tertawa pelan mencolek pipi Egi yang merah. "Kau lapar Egi. Makanlah jangan menyiksa diri mu."
Menangkap jemari Annisa dan menghela napas pelan. "Baiklah," sahut Egi, lalu beralih menengok ke arah Jhon. "Dorong kemari Jhon," pinta Egi.
"Akhirnya tuan Egi mau makan juga, saya pikir tidak akan mau memakan nya sampai ikutan tumbang di ranjang brankar bersama nona," ucap Jhon sambil mendorong troli makanan itu dekat ke kursi yang egi duduki.
"Diam kau Jhon!" Sentak Egi, dan mengedikkan dagu agar Jhon menyingkir dari pandangan nya. "Sana kau keluar, aku masih kesal padamu, sebelum aku menghabisimu," ketus nya.
Jhon tertawa pelan lalu berbalik mendekati sofa. "Rasa nya sudah sangat larut malam jika saya pulang ke rumah, jadi izinkan saya tidur di sini," ucap Jhon dan membanting tubuh nya ke sofa panjang untuk di rebahkan.
"Jhon!" Geram Egi.
Annisa segera mengusap kembali punggung tangan Egi. "Egi, biarkanlah kak Jhon beristirahat." Ucap Annisa menenangkan, kemudian melirik ke troli makanan. "Sebaiknya kau makan, aku juga sudah lapar."
Egi menghela napas pelan. "Tapi dia kan bisa tidur di kamar lain atau di hotel terdekat, jangan disini mengganggu waktu berdua ku dengan mu." Sanggah Egi dengan nada rendah ke Annisa. "Jhon! Kau membuatku marah saja! Keluar kau!" Sentak Egi kesal.
Sedang Jhon sudah membudek kan telinga nya menutup rapat rapat seakan pura pura tidak mendengar. Dan asyik mencari posisi yang nyaman dalam pembaringan nya.
"Egi...," panggil Annisa sebagai peringatan. "Biarkanlah," lalu mencondongkan tubuh agar lebih dekat dengan Egi. "Nanti kau bisa tidur di ranjang bersama ku, ranjang ini sepertinya muat untuk kita berdua." Ucap Annisa setengah berbisik dan di akhiri senyuman menggoda.
Seketika pandangan mata Egi menghangat, tersenyum senang dan mencubit ujung hidung Annisa gemas. "Baiklah, aku selalu lemah jika sudah melihat senyuman mu, sayang...," ucap nya lalu menarik troli makanan agar lebih dekat dengan nya dan ranjang Annisa.
"Kau mau makan Apa?" tanya Egi.
Annisa menunjuk salah satu mangkuk di tengah tengah menu yang lain. "Aku ingin sup kimlo itu," Antusias nya menatap berbinar ke arah mangkuk.
Egi tersenyum senang melihat annisa yang semangat ingin makan. Lalu mengambil mangkuk. "Biar ku suapi," mulai mengaduk sup.
"Tapi kau juga harus makan Egi," tolak Annisa agar tidak di suapi.
"Makan satu mangkuk berdua sayang," jawab Egi sambil menumpahkan butiran telur puyuh dari mangkuk kecil ke dalam mangkuk sup. Kemudian mulai menyendok dan meniupnya sebelum menyodorkan satu sendok sup ke bibir Annisa.
Sedari aku bangun dari kesadaran, suami bocah ku senang sekali memanggil ku dengan sebutan sayang. Jadi gemas aku...
Pipi Annisa kembali memerah merona, dan dengan gerakan malu malu Ia membuka mulut nya untuk memakan sup yang di suapi Egi.
Setelah Annisa memakan satu suap, Egi ikut memakan satu suap sup yang ada di pegangan tangan nya. "Tidak enak," ucap Egi, sembari mencecap rasa sup di mulut nya.
"Masa! Aku saja yang lidahnya sedikit pahit, tp masih bisa merasakan citarasa jika sup ini sangat Enak." Jawab Annisa, lalu memicingkan mata sebal. "Kau jangan merendahkan makanan Egi, nanti bisa marah makanan nya dan jadi racun di tubuh mu."
__ADS_1
Egi tersenyum dan kembali menyodorkan satu sendok sup ke mulut Annisa. "Karena bagi ku, masakan mu yang paling enak tiada tandingan nya." Ucap nya, kemudian menyendok potongan daging yang ada di mangkuk sup ke mulut Annisa.
"Kau paling bisa menggoda, jelas citarasa masakan ku tidak ada apa apa nya dari para koki di rumah mu." Annisa berucap sambil mengunyah.
"Ucapan mu kebalik sayang." Sahut Egi menyanggah ucapan Annisa.
Dan terlibatlah pembicaraan di antara kedua nya selama acara menikmati makan malam mereka.
Sementara Jhon telah melayang memasuki dunia mimpi terbaring santai dengan bersedekap dada, dan kaki menyilang terbaring di atas sofa panjang.
Selang beberapa lama.
Annisa dan Egi telah selesai menyantap makan malam, dengan menyisakan peralatan makan yang kosong habis oleh kedua nya.
Egi memasukkan beberapa pil obat ke mulut Annisa dan menyodorkan gelas air putih. "Sehabis ini kau harus istirahat kembali, sudah larut tidak baik jika begadang tengah malam."
Annisa mengangguk lalu menatap Egi. "Aku ingin ke toilet sebentar," ucap nya sambil menyingkap selimut.
Segera Egi bangkit dari duduk nya, memencet tombol yang berada di jajaran dinding, untuk memanggil pramusaji agar menyingkirkan peralatan bekas makan. Lalu menjauhkan troli makanan dari ranjang. "Biar ku bantu," ucap Egi merangkul pinggang Annisa.
"Eh, tidak usah Egi." Memegang tangan Egi yang sudah bertengger di pinggang nya. "Aku bisa sendiri."
Egi mengambil botol infusan dan menyodorkan ke tangan Annisa. "Peganglah," titah nya. Yang di turuti Annisa memegang botol infusan itu.
Kemudian egi menyelipkan tangan nya ke bawah lutut dan menggendong Annisa.
"Egi!" Pekik Annisa reflek mengalungkan tangan ke leher egi. "Aku bisa berjalan. Kenapa harus di gendong segala. Kan yang terluka kepala ku bukan kaki."
Melangkah kan kaki menuju kamar mandi. "Diamlah," ucap Egi.
Annisa menghela napas pelan, menunduk menyenderkan kepala ke dada Egi.
Egi mendudukkan Annisa di atas kloset duduk. "Mau aku temani di dalam?" tanya nya.
"Eh...," Speechless menatap Egi. Lalu mebuang muka ke arah lain karena pipi nya sudah merona merah. "Ti..tidak perlu, aku...aku bisa sendiri," ucap Annisa gugup.
Egi mengusap lembut pipi Annisa. "Baiklah, aku tunggu di depan pintu." Berbalik melangkah keluar kamar mandi meninggalkan Annisa.
Annisa menghembuskan napas panjang sambil menaruh tangan di depan dada. "Membuat jantung ku tak karuan saja si Egi," gumam nya, dan mengaitkan botol infusan ke kaitan tempat infus di dinding dekat wastafle.
"Aku ingin memeriksa, soalnya sekarang kan sudah tanggal nya." Oceh Annisa mulai melakukan apa yang ingin di lakukan di dalam kamar mandi.
Setelah beberapa waktu.
Ceklek.
Annisa membuka sedikit pintu kamar mandi yang langsung di sambut Egi yang berdiri menyender ke dinding dan bersedekap tangan menatap Annisa.
Dia masih di sini.
Annisa hanya mengembulkan kepala, sedang badan nya masih di dalam kamar mandi. Menatap ragu ke arah Egi. "Anu... emm, Egi bi...bisakah aku meminta tolong," ucap nya.
Alis Egi terangkat sebelah dan menggeser tubuh nya agar berada dekat dengan Annisa. "Ada apa Annisa? Kenapa kau terlihat ragu? Katakanlah?"
Annisa mengisyaratkan dengan gerakan jemari agar egi menunduk untuk lebih mendekatkan wajah nya. Egi menurut menunduk mendekatkan wajah nya dengan wajah Annisa. "Aku butuh pembalut, di kotak darurat toilet tidak ada sama sekali." Bisik Annisa di telinga Egi.
__ADS_1
Sontak mata Egi memicing dan Alis nya menaut. "Kau terluka sayang? Tunjukkan pada ku biar aku yang membalut luka mu," seloroh Egi mendorong pintu kamar mandi sehingga tampaklah Annisa sepenuhnya.
"Iiih, bukan pembalut perban untuk luka tapi pembalut... yaa pembalut," oceh Annisa mulai kesal.
Egi memegang kedua bahu Annisa dan memeriksa seluruh badan Annisa untuk memastikan tidak ada luka. "Bukannya pembalut hanya untuk luka Annisa, jadi dimana bagian yang luka nya. Tunjukkan pada ku." Memidai badan Annisa.
"Egii...," geram Annisa. "Bukan pembalut perban tapi pembalut kewanitaan!" Ucap Annisa menggeram kesal.
Egi teridam terpaku mendengar penuturan Annisa, dan menatap Bingung. "Pembalut kewanitaan? Seperti Apa? Memang ada?"
Annisa menghela napas jengah. "Ada," sahutnya cepat lalu mengibaskan satu tangan. "Hah, sudahlah aku panggil perawat saja. Melihat kau seperti nya tidak mengerti," ucap Annisa dan berjalan melewati Egi untuk ke arah tombol panggilan darurat.
Egi yang membuntuti langkah Annisa. "Jangan, biar aku saja yang ambilkan benda itu untuk mu." Cegah Egi memegang bahu Annisa.
Annisa menatap Egi. "Tapi kau bilang tidak tahu jadi sudah tidak perlu. Biar perawat saja yang bawakan untuk ku," tolak Annisa melanjutkan langkah kaki nya.
Menghela napas pelan dan dengan gerakan cepat, Egi merangkul pinggang Annisa lalu menggendong nya.
"Egi!" Seru Annisa kaget karena tiba tiba di gendong lagi oleh Egi.
Egi melangkah ke arah ranjang, mendudukkan Annisa di sisi ranjang dan mengaitkan kembali botol infusan. "Kau diamlah di sini. Biar aku ambilkan benda itu, tapi beritahu aku dimana aku bisa mendapatkan benda itu?" tanya Egi sambil membungkuk kan setengah badan mensejajari wajah Annisa.
"Di minimarket rumah sakit." Jawab Annisa dan membalas tatapan Egi. "Kau yakin akan membelikan nya?"
Mengangguk yakin. "Tentu saja, apa yang enggak untuk mu sayang." Ucap nya mengusap pipi Annisa.
"Ya sudah, belikan sekarang. Aku butuh nya sekarang." Memalingkan muka ke arah lain, karena pipi nya sudah mulai merona.
Egi menegakkan punggung nya masih berdiri di depan Annisa. "Hanya itu yang kau butuhkan tidak ada lagi?"
Sebenarnya sih ada satu lagi. Tapi apa dia benar mau membelikan nya untuk ku?
Annisa mendongak menatap ragu ke Egi. "Ce..Ce..," ucap nya tercekat dan mendesah. "Sudah tidak ada lagi," menundukkan kembali kepala nya.
"Mata mu terlihat mengatakan ada lagi yang kau butuhkan, katakanlah biar aku penuhi itu."
Baiklah, kau yang memaksa Egi.
Annisa kembali mendongakkan pandangan nya menatap Egi. "Ce...celana dalam," celetuk Annisa pelan dan langsung menunduk menyembunyikan wajah nya yang sudah merona. "Aku membutuhkan itu juga," cicit nya pelan.
Egi tertawa pelan. "Kau tunggu di sini, aku akan keluar membelikan nya untuk mu," tutur Egi sambil mengecup puncuk kepala annisa. Lalu berbalik melangkah menuju pintu keluar.
Sepeninggalan Egi.
Dua bodyguard yang ada di luar kamar, tiba tiba masuk ke dalam kamar dan berdiri di depan pintu menghadap ke Annisa dengan wajah tanpa ekspresi.
Eh, kenapa mereka masuk ke dalam kamar? Tapi tidak apa deh, itu jauh lebih baik. Agar aku tidak berduaan dengan kak Jhon di dalam.
Annisa menundukkan pandangan dan menghembuskan napas panjang. "Apa benar dia bisa membeli nya, sementara dia terlihat tidak mengetahui nya." Gumam Annisa, dan mengalihkan pandangan ke arah lain.
Melihat Jhon yang tampak damai tertidur. Annisa mengambil botol infus, dan berjalan ke arah lemari kecil tempat peralatan ranjang dekat tv, untuk mengambil selimut.
Sepertinya ini ruangan kamar VVIP, bahkan semua nya lengkap.
Annisa membawa selimut yang cukup tebal dan menyelimuti tubuh Jhon sampai sebahu. Setelah nya kembali ke ranjang dan duduk menunggu Egi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...