Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bersiap Pulang


__ADS_3

"Saya sudah boleh pulang kan dok?" tanya Annisa pada dokter Erika yang tengah membuka dan memeriksa perban di kepala nya.


Dokter Erika tersenyum ramah dan mengangguk mengiyakan. "Sudah boleh, tapi...," Melirik ke arah Egi yang tengah berdiri tidak jauh dari ranjang. "Sebelumnya tuan Egi pernah menyampaikan sesuatu pada nona tidak?"


Annisa menatap bingung ke Egi. "Apa itu dok?"


Egi mendekat ke arah ranjang. "Soal hipnoterapi sayang, aku sengaja tidak memberitahukan nya pada mu, biar dokter saja yang menjelaskan." Lalu beralih melirik ke dokter Erika. "Anda jelaskan secara detail nya pada istri saya," titah Egi.


Dokter Erika tersenyum sambil kembali fokus memeriksa bekas jaitan di kepala Annisa di bantu perawat wanita yang tengah melepaskan jarum infusan di punggung tangan Annisa. Kemudian, dokter Erika mulai menjelaskan detail maksud pengajuan untuk melakukan hipnoterapi itu pada Annisa.


Setelah Annisa mendengarkan seluruh penjelasan mengenai hipnoterapi dan mengerti maksud tujuan nya. Ia menatap Egi sejenak lalu menatap dokter Erika. "Itu artinya saya harus tinggal lagi di rumah sakit, saya tidak mau lebih lama di rumah sakit dok. Sudah seminggu an saya di sini, rasa nya sudah jenuh."


Dokter Erika telah menuntaskan pemeriksaan nya pada Annisa dan menyuruh perawat untuk memberikan kerudung bersih ke Annisa. "Terapi ini bisa di lakukan secara berurutan nona, tidak perlu tinggal di rumah sakit lagi. Hanya perlu datang ke mari sesuai yang di jadwalkan."


Menghela napas pelan, Annisa menatap dokter Erika. "Baiklah saya bersedia, jika memang dengan cara seperti itu Nyctophobia saya bisa sembuh," ucap Annisa mantap.


Egi melangkah mendekat berdiri di samping ranjang, dan merebut kerudung yang di sodorkan perawat ke Annisa. "Pemeriksaan nya sudah selesai?" tanya Egi melirik pada dokter Erika.


Dokter Erika mengangguk dan tersenyum. "Sudah, dan nona sudah di perbolehkan pulang hari ini."


Egi merangkul bahu Annisa. "Baiklah, kalian bisa tinggalkan kami berdua," titah nya mengibaskan sebelah tangan.


"Baiklah, kami permisi Nona Annisa dan tuan Egi." Menunduk salam lalu melirik Annisa sejenak. "Untuk hipnoterapi nanti saya akan buatkan jadwal dan persiapan nya, nona Annisa persiapkan diri dan rileks kan pikiran," tutur dokter Erika, kemudian berbalik berjalan ke pintu keluar di buntuti asisten nya.


Sepeninggalan dokter Erika yang menyisakan Egi dan Annisa.


Egi membelai rambut panjang Annisa dan memeriksa bekas luka di kepala annisa. "Masih sakitkah?"


Annisa menggelengkan kepala. "Tidak Egi, kemarikan kerudung nya nanti kalau ada yang masuk gimana," hendak merebut kerudung dari tangan Egi.


Menjauhkan dari gapai an Annisa dan menarik Annisa ke dalam pelukan nya.


"Egi! Kenapa kau tiba tiba seperti ini? Apa ada masalah Egi?" tanya Annisa yang sudah mengerti sikap Egi.


Egi semakin mempererat pelukan nya mengendus di sekitar lekukan leher Annisa yang tertutupi rambut panjang. "Tidak ada, aku rindu dengan aroma tubuh mu."


Alis Annisa berkerut heran, lalu menepuk pelan bahu Egi. "Kau ini, kita kan tiap hari tidur satu kasur dan... dan...," ucapan Annisa terhenti.


Egi melonggarkan pelukan nya, namun masih merangkul tubuh Annisa dan menempelkan dahi nya dengan dahi Annisa. Saling pandang jarak dekat, Egi menangkup sebelah wajah Annisa. "Dan melakukan madu, begitu pun sekarang aku menginginkan madu," ucap Egi parau lalu mengecup ujung hidung Annisa.


Annisa mengerjap beberapa kali. "Hey, kita akan pulang. Sebaiknya cepat siap siap, aku ingin segera pulang ke rumah." Annisa sedikit mendorong tubuh Egi namun tak bergerak sama sekali.


"Berikan dulu madu, baru aku akan melepaskan mu." Egi merapatkan rangkulan nya.


Mencekal tangan Egi yang ada di pinggang nya. "Kau tidak mengunci pintu, jika ada yang masuk gimana, kemarikan juga kerudung ku."


Egi tersenyum mengusap bibir Annisa, dan mengecup kilas beberapa kali membuat pipi Annisa merah merona, dan terpaku membatu di tempat nya. "Ikat rambut mu mana sayang?"


Annisa melirik meja nakas untuk memberitahukan apa yang egi tanyakan.


Egi mengambil ikat rambut. "Biar aku ikatkan dulu rambut mu, berputarlah," Menghalau tubuh Annisa agar membelakangi nya.


Annisa menurut membelakangi Egi dan membiarkan rambut nya di ikat.


"Egi," sambil memainkan selimut.


"Hemm...," sahut nya, fokus menyisir dengan jemari dan merapihkan rambut panjang Annisa.


"Bagaimana dengan dinas ku selama aku di rumah sakit?"


Egi mengikat asal rambut annisa. Lalu merangkul memeluk tubuh annisa dari belakang. "Kau lupa sayang, dinas mu telah selesai 3 hari yang lalu, dan jangan khawatir soal itu," ucap Egi dengan nada rendah, memberikan kecupan kecil di bahu Annisa.

__ADS_1


Alis Annisa terangkat sebelah melirik Egi. "Pasti aku akan mendapatkan nilai jelek kali ini," kecewa Annisa menunduk, menghela napas pelan.


Mencium pipi Annisa yang kebetulan menoleh pada nya. "Kenapa kau bersedih? Meskipun nilai mu jelek, yang pasti kau dapat jaminan tetap menjadi bidan, " terjeda sejenak ucapan Egi, dan memberikan ciuman di lekuk leher Annisa yang terbuka. "Aku bisa menjamin itu."


Mengedikkan bahu pelan saat Egi mencium leher nya. "Eg...egi bisakah kau bicara normal saja, jangan seperti ini. Kau membuat ku geli," kembali mengedikkan bahu.


Egi menggeleng pelan, merapatkan rangkulan tangan nya. "Aku suka dengan seperti ini."


Hah...Baiklah, memang susah jika sudah keras kepala begini.


Annisa menghela napas panjang. "Egi, aku tahu maksud mu. Kau ingin melakukan kekuasaan keluarga mu kan untuk mempermudahku menjadi bidan dan mendapatkan nilai yang bagus, tapi kali ini aku menolak nya... karena aku ingin lulus dan menjadi bidan sesuai kinerja dan kerja keras ku sendiri," jawab Annisa dengan nada lembut.


Egi semakin merapatkan pelukan nya di bahu dan perut annisa kembali melabuhkan bibir nya di bahu Annisa dengan bertubi tubi. "Kau memang Annisa ku, baiklah aku mendukung kerja keras mu."


"Hemm...," mengangguk mengiyakan, lalu memegang tangan Egi yang melingkar di bahu nya. "Egi kalau boleh tahu, Ayah memanggil mu ingin membicarakan apa?


"Tidak ada, hanya masalah perusahaan." Jawabnya.


Annisa melirik Egi. "Egi mau sampai kapan kau memeluk ku seperti ini, bukannya kita akan pulang? Jadi kemarikan kerudung ku?"


Tertawa memeluk Annisa erat sejenak, dan mencium beberapa kali pipi annisa, baru Egi melepaskan pelukan nya, kemudian memakaikan kerudung di kepala Annisa.


-------------------


Sementara di lantai bawah.


Rika baru saja memasuki ke dalaman rumah sakit, dan berjalan dengan menenteng sebuah kotak yang berisi kue tart kesukaan Annisa. Ia berniat untuk menjenguk Annisa. Saat berjalan ke arah lift yang pandangan nya menunduk merapihkan jas almamater tiba tiba...


Bruk.


Rika menabrak punggung seseorang tepat di depan lift.


Segera Rika menunduk kan kepala beberapa kali dan melihat sepatu pria yang mengkilap warna hitam di hadapan nya.


Dia bapak bapak.


"Maaf pak, saya tidak sengaja. Tolong maafkan saya," ucap Rika memohon maaf.


"Bapak," suara pria bernada dingin menggeram tidak suka.


Ting.


Suara pintu lift terbuka, pria itu memasuki lift. Melihat orang di hadapan nya telah memasuki lift segera Rika tanpa melihat pria tadi itu siapa, segera beranjak memasuki lift.


Selama di dalam lift. Rika terus menunduk kan pandangan nya tidak berani menengok ke arah sebelah kanan yang dimana pria di tabrak nya tadi berada.


Hah... kenapa di dalam lift ini hanya berdua lagi. Terus siapa bapak bapak yang ku tabrak tadi yah.


Dengan malu malu dan canggung, Rika menatap lurus ke depan untuk melihat pantulan diri nya dan pria di sebelah kanan nya. Mata Rika melotot kaget, melihat pantulan pria itu.


Dia kan pak Jhon?


Lalu dengan gerakan kaku, Rika menoleh ke samping langsung menundukkan kepala sebagai hormat. "Maafkan soal tadi saya menabrak bapak," ucap Rika merasa bersalah.


"Cih!" Decih Jhon melirik sinis ke Rika, dan bertepatan pintu lift terbuka menandakan tujuan kedua nya telah sampai ke lantai tempat Annisa di rawat.


Jhon melangkah keluar lift yang di sambut para bodyguard berjejer menunduk hormat pada nya.


Rika dengan ragu mengikuti keluar lift, menatap terlongo pada para sikap bodyguard terhadap Jhon.


Dia bahkan sangat di hormati oleh para robot tanpa ekspresi ini. Sedang aku sudah berapa kali kemari, hanya di sambut oleh ke kaku an muka datar mereka.

__ADS_1


Jhon melangkah di koridor untuk menuju kamar inap Annisa sambil menenteng dua paperbag plastik. Rika yang telah tersadar dari lamunan, ikut membuntuti Jhon dari belakang.


Bruk.


Lagi lagi Rika kembali menubruk punggung tegap Jhon yang memberhentikan langkah secara mendadak.


Sial ini pak Jhon mau nya apa sih. Maen berhenti secara mendadak segala.


Jhon berbalik menatap tajam ke Rika. "Anda tidak punya mata?" tanya Jhon kesal.


Rika memasang senyuman manis kepaksa menatap Jhon. "Mata saya masih lengkap dan normal, bahkan sekarang bola mata saya sedang menatap anda pak Jhon." Lalu Rika mengangkat kotak kue yang di bawa nya. "Dan pak Jhon jika mau mengerem berjalan, berikan tanda. Untung saja kue saya tidak jatuh. Asal bapak tahu, kue ini sangat spesial saya buatkan untuk Annisa, jika saja kue ini jatuh. Pak Jhon harus bertanggung jawab."


Tersenyum sinis. "Siap yang nanya soal kue," ketus Jhon, kemudian melihat sekitar. "Dan Jalanan masih lebar, saya tidak meminta anda membuntuti langkah saya," ucap Jhon dingin lalu berbalik melanjutkan kembali melangkah.


Rika mengepalkan tangan geram, menggertakkan gigi menatap kesal ke arah punggung Jhon. "Siapa juga yang membuntuti mu, dasar bapak bapak gila" umpat Rika menghentakkan kaki, dan kembali melangkah.


Di dalam kamar inap Annisa.


Egi masih asyik menggoda Annisa dengan duduk di atas kasur, dan memainkan kerudung yang tengah di kenakan Annisa.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, memunculkan Jhon dan di susul Rika di belakang Jhon.


"Ekhem...," dehem Jhon yang membawa dua paperbag plastik, menghampiri ranjang yang dimana dua sejoli tampak mesra di atas kasur.


Annisa menoleh ke arah Jhon. "Eh, kak Jhon. Sudah pulang kerja kak?"


Sementara Egi merapihkan kerudung Annisa dan tampak cuek dengan sekitar.


Jhon mengangguk menaruh paperbag plastik itu ke atas kursi. "Bagaimana nona sudah boleh pulang kan? Dan ini pakaian ganti nona, dan tuan Egi."


Annisa tersenyum. "Sudah boleh kak Jhon." Lalu membenarkan posisi tubuh nya untuk menghadap ke arah mereka. Alis annisa berkerut menatap Rika yang masih berdiri di dekat sofa. "Rika ngapaian kamu di situ? Dan sepertinya...," melirik Jhon. "Kalian dateng barengan yaah," tuduh Annisa.


Rika menggeleng cepat dan melambaikan sebelah tangan ke depan. "Tidak, tadi hanya kebetulan bertemu di lobi. Ya kan pak Jhon?"


Wajah Jhon berubah muram saat di panggil bapak lagi, melirik tak suka ke Rika. "Saya bukan bapak anda, jangan panggil saya dengan sebutan bapak. Usia saya masih muda."


"Eh, ma...maaf," Rika menundukkan kepala nya tidak mampu menatap lirikan Jhon yang begitu menyeramkan bagi nya. "Sa...saya tidak tahu jika usia anda masih muda, karena di lihat dari pakaian dan raut wajah anda terkesan seperti bapak bapak yang sudah beranak satu," celetuk Rika pelan namun masih terdengar oleh orang orang di sekitar nya.


Seketika Annisa dan Egi tersenyum geli menahan tawa.


Sementara raut wajah Jhon telah berubah menggelap, merasa tersinggung lagi atas kritikan Rika. "Anda," geram Jhon mengepalkan tangan dan mendengus mengalihkan pandangan ke arah lain.


Egi menpuk pundak Jhon. "Kau siapkan mobil, kita akan pulang sekarang," titah Egi memecah hawa mencekam antara Rika dan Jhon.


Jhon menghela napas pelan dan mengangguk. "Baiklah," berjalan ke arah pintu, lalu sejenak menatap Rika. "Anda keluar kamar, tuan dan nona akan berganti pakaian." Instruksi Jhon sebelum memutar knop pintu dan keluar.


Rika yang mengerti maksud Jhon, menunduk hormat ke Egi dan Annisa. "Saya keluar dulu nona Annisa," pamit Rika, lalu berbalik ikut menyusul keluar kamar.


"Eh, Rik mau...," ucapan Annisa tergantung karena Egi mengusap tangan nya. Annisa beralih menatap bingung ke Egi. "Kenapa harus menyuruh nya keluar? Kan bisa aku berganti di kamar mandi."


Egi mencubit pelan pipi Annisa. "Tentu, tapi kita berganti baju satu ruangan dan saling membantu melepaskan pakaian." Ucap Egi tersenyum penuh arti.


Seketika pipi Annisa merona merah, terdiam menatap Egi, menelan ludah nya kasar. "Tid...tidak perlu, biar aku...aku di kamar mandi saja," gugup Annisa sambil menyambar paperbag yang berisi pakaian nya. Lalu dengan cepat berlari terbirit ke toilet.


"Sayang jangan berlari, kau baru saja sembuh." Tegur Egi, menggelengkan kepala beberapa kali dan terkekeh melihat tingkah Annisa yang malu malu.


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2