
Sayup sayup Adzan subuh telah berkumandang dengan indah, membangunkan Annisa dari tidur lelap nya.
Annisa mengerjapkan mata dan menggeliatkan tubuh. Lalu Annisa mendudukkan diri dengan menggerakkan kedua tangan untuk meregangkan otot otot nya agar tidak kaku, ketika Annisa melirik ke sebelah kanan mata nya memicing melihat sebuah ranjang lalu Ia melihat sekitar.
Ah, ternyata kejadian yang selama ini terjadi pada diri ku itu bukan mimipi. Aku sudah menikah dengan pria songong yang sangat aku tidak sukai. Hah, tapi ini sudah takdir ku jadi suka, tidak suka aku harus menerima dan menjalani nya.
Annisa bangkit dari duduk nya, melipat selimut dan membereskan bekas tidur nya agar rapih kembali, lalu Ia menaruh kembali perlengkapan tidur ke dalam lemari.
Melihat Egi masih tertidur dengan lelap dengan posisi terbaring sehingga terlihat damai, Annisa sempat tertegun sejenak menatap wajah Egi yang terlihat jelas lalu Ia berdiri di samping ranjang.
Kalau lagi tertidur dia terlihat sangat tampan dan kalem. Hanya saja jika terbangun dia selalu membuat ku kesal setengah mati dengan ucapan tajam nya.
Sudah waktunya subuh dia masih pulas saja. Apa aku bangun kan dia untuk shalat subuh, tp lebih baik aku mandi dulu baru membangunkan nya.
Annisa berbalik melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri nya dan mengambil wudu bersiap siap melaksanakan shalat subuh.
Selesai mandi, Annisa memakai pakaian dengan celana bahan putih dan baju atasan berwarna merah marun sedang kerudung nya senada dengan atasan nya. Tidak lupa Annisa juga menyiapkan pakaian seragam sekolah Egi dan menaruh di atas sofa.
Annisa keluar dari pintu kamar mandi dan berjalan menghampiri ranjang untuk membangunkan Egi yang masih terbaring lelap.
"Bocah. Bangun sudah subuh," teriak Annisa yang sudah berdiri di samping ranjang.
Namun Egi sama sekali tidak bergeming dari tidur nya.
Sepertinya tidak akan berhasil membangunkan hanya dengan teriakan saja, melihat tidur nya sangat lelap sekali.
Annisa menarik selimut Egi."Woy bangun. Subuuuh," teriak Annisa.
Menarik kembali selimut yang di tarik Annisa dan membalikkan badan memunggungi."Heemm..," gumam Egi.
Ternyata masih tidak bangun juga, apa dia benar benar tidak mendengar suara teriakan ku. Padahal jika itu aku, sudah terbangun lagi dari tadi.
"Hey, bocah. Bangun...bangun, Apa kau benar benar tuli tidak mendengar suara ku," teriak Annisa kembali sambil menggoyangkan bahu Egi dengan keras sehingga selimut nya sedikit melorot.
Namun Egi sama sekali tidak menggubris teriakan Annisa dan tidak terusik sama sekali dengan yang di lakukan Annisa, malah menarik kembali selimut nya sampai bahu dan mencari posisi yang nyaman.
Oke, sepertinya aku harus mencoba dengan cara lain agar ni anak bisa terbangun.
__ADS_1
Kraakkk..kraakk.
Dengan geram Annisa menggertakkan jemari tangan nya.
"Kau yang minta yah bocah, suruh bangun saja kau susah sekali," ucap Annisa lalu menyingkap selimut yang menutupi kaki Egi.
Karena dengan cara pelan dan baik baik Egi tidak terbangun juga, Annisa memakai kerudung nya yang menjuntai di depan dada sebagai pembatas kulit karena sudah berwudu, lalu Annisa dengan geram menarik satu bulu kaki Egi sehingga berhasil tercabut.
"Aaarrrgh...," pekik Egi langsung terduduk dan menatap lurus ke depan terbengong dengan mata sayu nya.
Annisa terkekeh dan tersenyum menang dengan melipat kedua tangan di depan.
"Akhirnya kau bangun juga, cepat sana mandi siap siap subuh," ucap Annisa.
Egi yang masih di ambang kesadaran nya karena baru terbangun dari tidur. Ia menggerakkan kepala menoleh ke arah Annisa dan menatap nya tajam.
"Apa yang kau lakukan pada ku," ucap Egi dengan nada dingin.
Tersenyum cengengesan, dan sedikit melangkah mundur menjauh dari ranjang.
"Ah, itu... aku tidak melakukan apa pun, hanya membangunkan mu saja," ucap Annisa santai merasa tidak bersalah.
"Kau mencabut bulu kaki ku. Hah," bentak Egi membuat Annisa terperanjat.
"Tidak..aku tidak mencabut nya. Sudahlah bocah, kau siap siap subuh keburu habis waktu nya," tutur Annisa mengalihkan.
"Kau berbohong. Lihatlah bulu kaki ku hilang satu, kau mencabutnya," ucap Egi sambil menunjuk kaki nya lalu menatap Annisa tajam.
Membalas dengan tatapan tajam.
"Aku bilang tidak mencabutnya, tapi hanya mengambilnya. Lagian salah kau sendiri di bangunkan susah sekali dan juga hanya bulu kaki saja kau permasalahkan, yang terpenting sekarang itu kau ke kamar mandi dan cepat siap siap untuk subuh. Dasar bocah," cerocos Annisa menggebu karena kesal.
Mengepalkan tangan dan menatap tajam."Kau.. Hah," geram Egi lalu mendengus dan turun dari ranjang.
Beranjak menuju kamar mandi.
Braakkk... menutup pintu kamar mandi dengan kasar.
__ADS_1
Cih, menyesal aku sempat memuji nya tampan dan kalem.
Annisa membereskan tempat tidur Egi agar rapih dan bersih kembali. Lalu Ia berjalan menuju lemari tempat perlengkapan Shalat untuk mengeluarkan dua sajadah, mukena, dan sarung. Sambil menunggu Egi keluar dari kamar mandi Annisa duduk di sofa lalu memakai mukena dan menyempatkan membaca al-Qur'an dulu.
--------
Egi keluar dari kamar mandi dengan memakai baju seragam yang sudah Annisa siapkan.
Seketika bacaan al-Qur'an Annisa terhenti dan menatap Egi yang berjalan ke arah karpet dekat ranjang.
Annisa menyimpan al-Qur'an di meja kecil samping sofa. Lalu berjalan menghampiri Egi.
"Pakai sarung yang ini," titah Annisa menaruh sarung yang di ambil nya tadi ke atas kasur.
Egi melirik Annisa yang sudah menggunakan mukena juga melihat dua sajadah telah terhampar di atas karpet samping ranjang.
"Kau sudah shalat?" tanya Egi meraih sarung dan memakainya.
"Aku menunggu mu untuk shalat berjamaah," tutur Annisa.
"Kenapa tidak shalat sendiri sendiri saja," ucap Egi lalu berjalan ke arah sajadah.
"Berjamaah akan lebih besar pahala nya, dan lebih baik. Apalagi sekarang kau telah menjadi suami ku, jadi sudah seharusnya kau mengimami ku," tutur Annisa dan ikut berdiri di atas sajadah barisan belakang Egi.
Egi mendengus dan tersenyum sinis. Lalu tanpa menjawab ucapan Annisa, Egi mulai fokus menggerakkan anggota tubuh nya untuk melaksanakan shalat subuh yang di ikuti Annisa sebagai makmum nya.
Selesai Melaksanakan shalat subuh, Egi langsung menyambar laptop yang terletak di atas meja sofa lalu berjalan ke arah balkon. Sementara Annisa melipat perlengkapan shalat dan menaruh kembali ke lemari.
Annisa menggeser gorden jendela balkon yang memperlihatkan Egi tengah terduduk di kursi santai balkon sambil menatap serius layar laptop.
Sedang apa dia di balkon, pagi pagi buta gini.
Melihat Egi lalu menghela napas pelan.
"Lebih baik aku menyiapkan sarapan untuk nya," gumam Annisa pada diri nya sendiri lalu beranjak keluar kamar untuk menuju dapur.
Tombol LIKE nya di tekan yaa.
__ADS_1
BERSAMBUNG...