
Di kamar Romisa dan Arga.
"Romisa." Ucap Arga sambil memeluk romisa dari belakang.
Saat itu Romisa tengah menutup pintu balkon yang terbuka lebar.
Mengusap lengan arga yang ada di atas perut nya yang sudah mulai membuncit.
"Ada apa suamiku?" Tanya Romisa.
"Cepatlah tidur hari sudah mulai larut, tidak baik untuk kesehatan mu dan s kecil dalam perut." Ucap Arga dan menghadiahkan kecupan di puncuk rambut romisa.
Romisa membalikkan badan menghadap ke Arga. "Iya suamiku." Balas romisa.
Arga menganggkat tubuh romisa ala bridal style dan membawa nya ke ranjang untuk di rebah kan.
Tubuh romisa telah terbaring menyamping di atas ranjang, dan dengan pengertian nya Arga menyelimuti romisa, mempinding sisi ranjang dengan bantal guling dan satu bantal agar romisa nyaman dalam tidur nya.
Menepuk nepuk bantal yang akan di peluk romisa. "Bagaimana, sudah nyaman istriku?" Tanya arga.
Romisa mengangguk mengiyakan dan tersenyum.
Arga mengecup kening romisa dan tidak lupa dia juga mengecup perut buncit romisa dengan sayang.
Lalu arga ikut berbaring menyamping memeluk romisa dari belakang.
"Suamiku." Panggil romisa.
"Iya Romisa."
"Apakah kegiatan An an masih lama di kampus nya? Kenapa selama dia di sana tidak pernah menelpon ku, atau bahkan berkunjung sebentar kemari?" Tanya Romisa.
Mengusap pelan rambut romisa dan memberi nya kecupan. "Sepertinya kegiatan kampus nya masih lama. Dan soal dia tidak mengabari mu, mungkin dia terlalu sibuk jadi tidak sempat mengabari atau berkunjung kemari." Ucap Arga.
"Aku lupa suamiku, jika An an kan tidak punya nomer ponsel ku begitu pun aku lupa meminta nya. Tapi suamiku, segitu sibukkah dia sampai tidak bisa mengunjungi rumah ini untuk melihat egi yang sudah jadi suami nya. Setau ku An an, tidak pernah meninggalkan kewajiban nya walau sesibuk apa pun. Sedangkan di rumah ini, dia sudah mempunyai tanggung jawab sebagai istri egi. Jadi aku merasa ada..." ucapan romisa menggantung karena arga memeluk nya cukup erat.
"Romisa istriku, itu adalah urusan rumah tangga nya mereka. Jadi jangan kau masukkan masalah mereka ke otak mu, di kepala mu hanya boleh kau pikirkan dan masukkan aku dan anak kita ini." Ucap Arga menyela ucapan romisa.
Menghela napas panjang. "Baiklah suamiku, aku hanya kangen saja sama An an yang sudah tiga hari ini tidak bertemu dengan nya." Ucap romisa dengan nada sedih.
__ADS_1
Arga mengusap kembali rambut romisa. "Jika sudah waktunya pulang juga adik ipar akan bertemu dengan mu romisa." Balas arga yang di balas anggukan kepala oleh romisa.
"Romisa, kapan USG lagi anak kita. Aku tidak sabar ingin melihat perkembangan nya lagi, bagaimana jika besok kita lakukan USG nya?" Tanya Arga.
"Baru juga minggu kemarin aku USG masa mau lagi. Nggak suamiku, tunggu satu minggu lagi."
"Tapi ini sudah satu minggu romisa, jadi besok kita USG lagi." Pinta arga sambil mengusap pelan perut romisa.
"Nggak suamiku, janji nya juga dua minggu sekali. Jadi tunggu satu minggu lagi, kasihan dokter Ani yang harus bolak balik untuk memeriksa kandungan ku." Sanggah romisa.
Menghembuskan napas pelan. "Baiklah, jika itu mau mu. aku tidak akan memaksa romisa." ucap arga mengalah.
Lalu arga dengan pelan menarik pundak romisa agar tidur terbaring sedang romisa hanya menurut.
Tersenyum penuh maksud. "Romisa, jika aku menengoki anak kita boleh kah?" Tanya Arga pelan dengan nada sensual ke telinga romisa.
Tersipu malu dan menundukkan pandangan. "Ta..tapi suamiku,.." menghela napas pelan dan membalas tatapan arga lalu mengangguk mengiyakan.
Arga tersenyum senang dan hendak menjalankan ibadah suami istri bersama romisa namun, baru juga arga akan membuka piama tidur nya romisa. Tiba tiba...
Tok..tok..tok.
"Suamiku, sepertinya di luar ada orang yang ingin bertemu. Lihatlah dahulu." Ucap romisa.
Arga melirik arah pintu kembar dan menatap romisa kembali.
Mendengus kesal lalu menunduk untuk mengecup seluruh bagian wajah romisa. "Aku akan membuka pintu nya dahulu, tidak apakah romisa?" Tanya arga.
Romisa mengangguk dan tersenyum. "Lihatlah suamiku, dan pakai kembali piama mu." Ucap romisa menyodorkan baju piama arga yang teronggok di atas kasur samping tubuh nya.
Menerima dan memakai baju piama, lalu arga turun dari ranjang. Sebelum berbalik melangkah ke arah pintu, arga sempat menyelimuti romisa dan menghadiahkan kecupan di kening romisa.
"Aku akan kembali romisa." Ucap arga. Lalu berbalik menuju pintu kembar untuk membuka pintu tunggal yang sedari tadi di ketuk dari luar.
Tok..tok..tok.
Pintu itu di ketuk cukup keras dari luar.
"Siapa yang berani menggangu ku." Gumam Arga di sela langkah nya.
__ADS_1
Ceklek.
Arga membuka pintu tunggal itu dan memperlihatkan Egi yang tengah berdiri di depan nya sekarang.
Menatap tajam. "Ada apa kau kemari. Ganggu orang tidur, dan sebaiknya apa yang ingin kau sampaikan ini adalah penting egi." Ucap Arga dengan nada tegas.
"Egi ingin meminta nomer ponsel annisa ke misa." Ucap egi.
"Cih!! Kau ke kamar ku, menggedor gedor mengganggu tidur ku hanya ingin meminta nomer ponsel istri mu. Bukannya kau suami nya kenapa nomer ponsel istri saja sampai tidak tahu." Ucap Arga tersenyum mengejek.
"Aku tahu nomer ponsel annisa, hanya saja ponsel ku rusak dan tidak sempat tersimpan di kartu. Jadi mana misa, aku ingin meminta nomer annisa pada nya. Dia kan sangat dekat dengan nya pasti tahu nomer nya juga." Tutur egi dengan nada dingin.
Arga menghadang pintu kamar. "Dia sudah tertidur dan juga, dia tidak mempunyai nomer ponsel istri mu. Jadi sudah sana kau kembali ke kamar mu." Titah arga.
"Bohong!! Mana mungkin misa tidak mempunyai nya, dia pasti tahu. Cepat ambilkan ponsel misa, aku ingin melihatnya sendiri." Tegas egi memaksa.
Menatap tajam. "Kau tidak percaya. Aku bilang tidak ada ya tidak ada. Memaksa sekali kau adik bodoh." Tegas arga.
"Egi tidak percaya sebelum melihat nya sendiri, ambilkan ponsel nya kakak. Jika tidak, jangan salahkan egi akan menerobos masuk." Ancam egi.
"Kau... berani nya," geram arga dan menghembuskan napas kasar. "Dasar gila. Baiklah, bentar kau diam di sini." Tegas arga lalu berbalik masuk ke kamar nya untuk mengambil ponsel romisa yang di minta egi.
Beberapa menit kemudian.
Arga kembali lagi menemui egi, dan menyalakan ponsel romisa yang ada di pegangan tangan nya.
Lalu arga menyodorkan layar ponsel ke hadapan egi yang menunjukkan nama kontak sambil mengscroll ke bawah.
"Lihat tidak ada kan. Kau memaksa sekali. Mengganggu saja," ucap arga.
Egi menatap layar ponsel romisa dan mencari nama annisa dari deretan nama kontak di ponsel itu, namun sia sia. Karena nama annisa atau An an tidak terdapat di kontak romisa.
Arga menarik kembali ponsel romisa dari hadapan wajah egi. "Sudah puas kau melihat nya, jadi sekarang. Kau sana balik lagi ke kamar mu, aku mau tidur." Usir Arga mengibaskan sebelah tangan.
Egi menatap sejenak ke arga dan mendengus lalu berbalik begitu saja melangkah menuju kamar nya.
Brakk. Egi menutup cukup keras pintu kamar.
"Dasar adik bodoh, ternyata dia sudah menyukai adik ipar. Tapi bodoh nya dia, tidak menyadari nya." Gumam arga dan kembali memasuki kamar nya menutup pintu tunggal dan melewati pintu kembar.
__ADS_1
BERSAMBUNG...