
Annisa dan Egi saling terdiam membisu, memandang kaca jendela mobil. Kedua nya tampak sibuk memikirkan kejadian sewaktu pagi, yang dimana saat annisa terbangun dari tidur nya sudah dalam keadaan posisi memeluk erat ke tubuh Egi, dan alhasil berakhir dengan Egi yang mencium annisa habis habisan.
Annisa mengusap bibir nya dengan jemari dan tersipu merona membayangkan kejadian sewaktu pagi.
Sementara Egi tersenyum senang dan sesekali melirik annisa, karena telah mendapatkan pengakuan cinta Annisa semalam.
Jhon melirik sekilas ke kaca depan untuk memeriksa keadaan dua sejoli di kursi belakang, karena tidak terdengar suara apa pun dari kedua nya. "Ekhem...," Jhon berdehem berharap akan memecah keheningan. Namun, deheman nya tidak membuat kedua nya teralihkan.
Ada apa dengan mereka berdua? Dari sejak pagi kedua nya hanya berdiam membisu tidak banyak berkata. Tapi melihat gelagat nona Annisa, ada yang aneh. Sepertinya aku harus bertanya pada tuan Egi, untuk memastikan.
Mobil sport putih itu, melambatkan laju nya dan memarkirkan tepat di depan gerbang rumah sakit.
"Nona Annisa, kita telah sampai," instruksi Jhon membangunkan annisa dari lamunan.
"Ah, iya kak Jhon." Sahutnya lalu menyerongkan duduk nya menghadap Egi. Annisa mengulurkan tangan. "Mana tangan mu, aku kan pamit dinas."
Egi membalas uluran tangan annisa yang langsung di salami dan di cium punggung tangan nya oleh annisa.
Annisa mengangkat kepala nya dan hendak melepaskan tangan dari pegangan Egi. Namun tiba tiba egi dengan cepat menarik tubuh annisa dan memeluk nya.
"Egi!" Pekik Annisa.
"Jhon, kau keluar mobil!" Peringatan Egi melirik tajam ke depan.
Jhon terkekeh pelan. "Ya, baiklah tuan Egi." Dan membuka pintu mobil lalu keluar.
"Egi jangan begini, bisakah kau melepaskan aku?" Bisik Annisa malu.
"Diamlah, sebentar. Biarkan aku memuaskan dahaga ku Annisa," gumamnya semakin merapatkan pelukan nya.
Annisa membalas pelukan egi dan menepuk pelan punggung Egi. "Kita kan hanya terpisah sementara Egi. Kenapa seakan berpisah lama saja."
Egi melepaskan pelukan nya lalu menangkup kedua sisi wajah annisa, dan mengecup lembut kening dan kedua pipi annisa. "Baiklah, kau boleh pergi." ucap nya mengusap pipi annisa dengan ibu jari. "Selalu kabari aku setiap jam istirahat mu."
Annisa mengangguk mengiyakan lalu melirik keluar mobil. "Ya sudah aku dinas dulu, Assalamualaikum." Salam nya mengulas senyuman.
"Walaikumsalam," jawab Egi menatap Annisa sampai keluar mobil.
Di luar mobil Annisa sempat memberikan salam dan senyuman ramah pada Jhon yang berdiri menyender di depan mobil.
Setelah melihat kepergian Annisa yang sudah memasuki gerbang rumah sakit, Jhon kembali memasuki mobil dan duduk di kursi kemudi. Lalu mulai melajukan mobil nya kembali untuk bergabung dengan kendaraan lain di jalanan.
"Tuan Egi," panggil Jhon.
__ADS_1
"Hemm..," gumam nya dengan tatapan melihat keluar jendela.
"Bisakah anda jelaskan situasi sekarang?" tanya Jhon di sela fokus nya ke jalanan.
Egi melirik ke depan. "Maksud kau?"
Jhon berdehem menetralkan tenggorokkan nya sebelum berucap. "Tuan Egi tidak melanggar kesepakatan terhadap tuan besar kan?" Melirik kaca depan dengan tatapan menyelidik melihat gambaran raut wajah Egi.
"Tidak." Jawab Egi cepat, lalu membalas menatap ke depan. "Dan lagi, apa urusan nya dengan ayah jika aku melanggar atau pun tidak. Aku dan Annisa adalah pasangan yang sudah halal jika melakukan hubungan seperti itu, kenapa Ayah melarang ku sampai harus memisahkan kamar kita!"
Menghela napas panjang, Jhon membelokkan setir nya untuk menyalip kendaraan di depan. "Tuan besar bukan melarang, hanya saja... jika sampai nona Annisa mengandung pada saat ini, tuan Egi sesegera mungkin harus mengadakan pesta resepsi pengakuan, dan tuan tahu akan resiko nya jika di usia tuan Egi yang sekarang serasa kurang pas untuk melangsungkan resepsi itu, dan dampak negatif nya akan jatuh pada nona Annisa sendiri... pasti masyarakat akan memandang nona Annisa serentak menikahi pemuda yang usia nya sangat muda karena telah mengandung di luar nikah. Kita tidak bisa melarang orang lain berpendapat meskipun pendapat mereka hanya bualan fitnah, tapi tetap kita tidak bisa mencegah dengan membungkam satu persatu mulut publik." Jelas Jhon.
Egi terdiam sejenak mencerna penuturan Jhon yang memang ada benar nya. Jika keadaan diri nya saat ini, kurang memungkin kan untuk melakukan resepsi publik. "Kau benar, aku tidak berpikir ke situ." Menghembuskan napas kasar, lalu mejatuhkan punggung nya ke senderan kursi. "Tapi aku tidak bisa terus terusan mengkontrol diri ku, Jhon. Ketika bersentuhan dengan Annisa, rasa nya ingin melakukan hal lebih dari apa yang aku lakukan terhadap nya, perasaan panas bergelora tiba tiba muncul jika aku menyentuh Annisa."
Jhon tertawa pelan, dan melirik sekilas ke kaca depan. "Memang benar jika saya berada di posisi tuan Egi, mungkin saya akan merasakan hal yang sama. Tapi menurut saya tinggal lakukan sajalah tuan Egi jangan di tahan tahan. Nona Annisa kan calon bidan, pasti tahu cara mencegah kehamilan," tutur Jhon.
Egi melirik ke depan. "Memang ada cara untuk pencegahan nya?" tanya nya polos.
"Ada." Sahut Jhon cepat.
"Dengan cara apa pencegahan nya Jhon?" tanya Egi yang penasaran.
Jhon tersenyum jahil. "Operasi."
Egi menendang kursi depan dengan keras.
"Jangan bicara!" tegas nya sebal.
Jhon tertawa pelan menanggapi ucapan Egi. Lalu menyodorkan ponsel nya ke belakang. "Carilah di internet, cara paling akurat untuk pencegahan kehamilan... haha," saran nya.
Egi merampas ponsel dengan kasar. "Kau lajukan mobil dengan benar Jhon, jangan sampai menabrak. Aku belum merasakan surga dunia dan mempunyai anak dari annisa."
Jhon semakin tergelak tertawa. "Saya pun sama tuan Egi. Nasib kita sama," jawab nya di sela tawa dan fokus nya menyetir.
------------------------
Di rumah sakit.
Annisa memasuki ruangan untuk para anak dinas menyimpan barang barang pribadi nya.
Ketika kaki annisa melangkah, memasuki ruangan tersebut. Semua mata tampak memandang sinis, dan saling berbisik bisik satu sama lain bahkan ada yang berjalan menjaga jarak dari annisa.
Tatapan itu, Hah... biarkanlah.
__ADS_1
Annisa mengabaikan nya dan terus melangkah untuk menuju lemari loker tempat nya menyimpan tas ransel.
Apa ini?
Mata annisa melebar dan berdiri kaku di depan lemari loker. Di pintu loker milik nya, terdapat coretan dengan kata kata tak senonoh penuh caci merendahkan annisa, dan bahkan ada foto annisa dengan dokter frans yang tengah berjalan beriringan saat kemarin.
Tangan annisa bergetar meraih gagang loker tersebut, bukan karena takut atau pun benci tapi seakan teringat kembali masa pembullyan annisa di waktu sekolah dasar nya. Ia Menghela napas panjang, membuka pintu loker tersebut dan melempar tas ransel nya ke dalam loker.
Blam... Annisa menutup keras pintu loker nya.
Siapa sebenarnya yang melakukan hal ini pada ku, apa salah ku pada mereka? Padahal aku tidak pernah mengusik kehidupan siapa pun di sini.
Orang orang sekitar tampak mengelilingi, memperhatikan dan masih berbisik bisik menggosipkan annisa.
Padahal aku sudah menegaskan beberapa kali jika aku tidak punya hubungan apa pun dengan dokter frans. Dan bahkan menunjukkan foto si Egi sebagai bukti jika aku sudah memiliki kekasih.
Annisa berbalik dan berjalan menunduk termenung, menuju pintu keluar, melewati orang orang yang tengah menggosipi nya.
Setelah di luar ruangan, annisa di kagetkan dengan sepasang sepatu dokter frans yang berdiri tegap tepat di hadapan nya menatap annisa.
"Nona Annisa," panggil nya lirih.
Annisa mendongak menatap dokter frans. "Anda lagi," ucap nya lalu berbelok arah hendak melewati dokter frans.
Kenapa harus menemui ku di saat seperti ini dokter frans...
"Nona." Menarik lengan jas Annisa.
Annisa melirik ke arah lengan jas nya yang di tarik dokter Frans. "Lepaskan dok. Sudah waktu nya saya akan tugas," tegas nya tanpa membalikkan badan.
Dokter frans masih tidak mau melepaskan pegangan nya di jas annisa. "Maafkan saya nona, tapi saya janji akan membersihkan nama nona lagi," ucap nya dengan nada bersalah.
"Dokter tahu tidak." Annisa mengedikkan tangan nya dengan kasar agar pegangan dokter frans dari jas nya terlepas. Lalu berbalik menatap tajam. "Dengan cara begini saja dokter telah membuat kesalah pahaman semakin besar, jadi jauhi saya. Jangan pernah mendekati saya lagi," ucap Annisa sambil berlalu meninggalkan dokter frans.
Dokter frans menatap kepergian Annisa sampai hilang di belokan koridor. Menghembuskan napas kasar. "Siapa orang itu yang sampai berani berlaku seperti ini pada nya. Jika sudah begini, dia jadi membenci ku... Aarrgh," geram nya melirik sekitar yang tampak beberapa orang memperhatikan nya.
Pasti di antara mereka ada salah satu nya, sebaiknya aku melihat rekaman cctv saja.
Di kejauhan dari balik tembok sekat koridor. Tampak satu pasang mata yang menatap tajam ke arah dimana dokter frans dan Annisa bertemu. Orang itu mengepalkan tangan kuat dan menggertakkan gigi geram. "Kurang cukup aku menghukum nya, untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dasar wanita penggoda," ucap nya geram.
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaa...
__ADS_1