Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 16


__ADS_3

Sudah 2 jam perjalanan yang di tempuh dengan di penuhi obrolan ngalor ngidul oleh kedua wanita yang berada dalam mobil itu, sedang kedua pria saling menyibukkan diri, Egi menyibukkan diri nya dengan bermain game online agar tidak merasa bosan karena tidak mengerti dengan apa yang di bahas Annisa dan Rika, sementara Jhon fokus menyetir dan terkadang menyela obrolan kedua bidadari itu yang asyik berceloteh bernostalgia tentang masa perkuliahannya dulu.


"Sayang, laper. Cari makanan dulu," Rajuk Egi dengan pandangan fokus menatap layar ponsel.


Annisa yang sedang berbicara terhenti, ia menoleh ke arah sampingnya yang dimana Egi tengah menyenderkan kepala ke bahu. "Kamu mau nya makan apa?" tanya Annisa mengusap rambut rapih Egi.


"Pengen makanan yang pedes, dan asem." Jawab Egi masih tak mengalihkan pandangan dari layar ponsel.


"Ck, asam pedes. Maksudnya ikan asam padeh?" Jhon bertanya, di sela fokusnya menyetir.


"Bukan, tp buah-buahan yang di kasih bumbu cabe itu," ujar Egi mencari posisi nyaman menyender di bahu Annisa.


"Oh, itu nama nya rujak buah." Rika membenarkan yang di maksud Egi.


Apa dia ngidam? Annisa merebut ponsel Egi dengan paksa.


"Sayang!" Kaget Egi bangkit dari senderannya menatap Annisa. "Nanggung sebentar lagi mau naik level," Hendak merebut ponselnya kembali.


Segera Annisa menyembunyikan ponsel ke belakang tubuhnya. "Kalau mau makan jangan maen game terus dong. Terus minta nya jangan rujak, sekarang kan belum makan siang nggak baik untuk pencernaan," omel Annisa sebal.


Egi menghembuskan napas pelan, ia mengangkat sebelah tangan Annisa untuk di rangkulkan ke pundaknya. Lalu kembali menjatuhkan kepala nya yang jatuh di bahu sehingga terlihat Annisa memeluk nya. "Aku mau nya rujak. Jhon cariin dan beliin," titah Egi.


"Jangan kak Jhon," seru Annisa cepat.


"Beliin, Jhon." Egi kembali berucap.


"Nggak boleh Egi, pokoknya nggak boleh. Makan dulu yang lain," tegas Annisa, mengedikkan bahu agar Egi terbangun dari senderannya.


"Sayang," Rajuk Egi menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher Annisa yang terbungkus kerudung juga memeluk erat perut Annisa.


"Nggak, Egi." Sahut Annisa tegas.


"Tapi aku mau...," Melas Egi dengan nada suara rendah.


Rika yang mendengar rajukan Egi, hanya menutup bibirnya menahan tawa geli.


Sepertinya ngidam kehamilan Annisa kebalik deh. Kok jadi tuan Egi yang manja dan merajuk.


Jhon yang menatap lurus ke depan, ia ikut bersuara. "Bener nih nggak di beliin aja, Nona Annisa. Mumpung di depan sana sepertinya ada tuh warung yang jualan rujak." Jhon menyalakan api emosi Annisa semakin mengompori.


"Kak Jhon, bukannya jangan di bilangin dih. Malah di sengaja," sebal Annisa melihat Jhon yang tertawa kecil berada di kursi kemudi.


Rika melirik Jhon yang sedang tertawa senang. Dia bisa tertawa juga ternyata, tapi itu pun hanya pada Annisa. Sedang dengan ku hanya omongan lidah tajam nya saja.


Egi mencolek colek pipi Annisa. "Boleh yah sayang," ucap Egi manja.


Annisa masih memberenggut sebal, diam merapatkan bibir tak mendengarkan rajuk an Egi.


Rika mengalihkan pandangan ke arah depan. "Nis, di depan ada tukang donat favorit kita juga loh," ujar Rika menunjuk ke toko donat sebrang jalan.


"Benarkah?" Girang Annisa melihat keluar jendela. "Kita beli donat saja, Egi." Melirik Egi di pelukannya.


"Boleh, tapi rujak harus tetap beli," jawab Egi masih memainkan pipi mulus Annisa.


"Hemm, iya iya manja." Pasrah Annisa membuat Egi terkekeh senang.


"Kak Jhon berhenti di depan," ujar Annisa menatap ke depan.


"Baik Nona Annisa. Tuan Egi, rujak nya jadi?" Jhon melambatkan laju mobil dan memarkirkan di pelataran parkir sebuah bangunan kafe.


"Hemm... mangga dan apel nya yang banyak," kata Egi. Ia semakin menenggelamkan kepala nya dalam pelukan Annisa, mencari posisi yang nyaman.


"Baiklah," ucap Jhon melepaskan seat belt. Dan membuka pintu untuk keluar mobil.


Rika ikut melepaskan seat belt. "Nis, biar donat aku yang beli yah. Selera rasa nya masih sama kan seperti dulu?" tanya Rika sambil meraih handle pintu.


Mengangguk kecil. "Masih Rik. Rasa strawberry nya beli agak banyakan, Egi paling suka rasa itu." Ucap Annisa.


"Aku pengen cokelat saja, sayang. Yang strawberry dikit aja," ujar Egi menyela pembicaraan.


"Rik, seperti yang di pinta nya," ucap Annisa.


"Ah, baiklah. Aku keluar dulu Nis," Rika membuka pintu lalu keluar dari mobil menyusul Jhon yang masih berdiri di samping mobil.


Di Luar Mobil.

__ADS_1


Rika mendekat ke arah Jhon. "Pak, saya ke toko sebrang beli donat. Bapak beli rujaknya," kata Rika, dan hendak berbalik melangkah.


Segera Jhon mencekal sebelah lengan Rika. "Sebentar," ujarnya menghentikan pergerakan Rika.


Menoleh, Rika menatap tanya dengan alis terangkat sebelah. "Ada apa?"


Jhon mengeluarkan sebuah dompet dari balik jas nya, lalu mengambil sebuah kartu debit dari dalamnya. "Pakai ini," Dia menyodorkan kartu itu.


Sejenak Rika masih terdiam tidak menerima kartu di hadapannya. Ia masih menatap bingung pada kartu itu. "Pakai uang saya saja pak, beli donat paling berapa," tolak Rika mendorong kartu tersebut.


Jhon menghela napas, Ia menarik lengan Rika untuk di tengadahkan sebelah telapak tangannya.


Plak.


Jhon meletakkan dengan kasar kartu debit itu ke telapak tangan Rika.


"Jangan membantah, simpan uang mu. Perut saya dan orang di dalam mobil tidak menerima uang sumbangan kecil dari mu," ketus Jhon, kemudian melangkah pergi meninggalkan Rika yang masih mematung terpaku menatap kartu debit di tangannya.


Dengan kaku, Rika menggerakkan kepala menatap punggung tegap Jhon yang sudah berjalan menjauh. "Cih, dasar si lidah tajam," umpatnya, lalu ikut berbalik melangkah ke arah jalan raya untuk menyebrang menuju ke toko donat.


Jhon yang berjalan ke warung penjual rujak, Ia memesan empat porsi rujak dengan buah yang beraneka ragam kecuali punya Egi yang di lebihkan apel dan mangga lebih dominan.


Sembari menunggu pesanan, Jhon duduk di kursi yang tersedia di dalam warung, dengan pandangan mata nya terus mengamati Rika di toko sebrang jalan yang sedang mengobrol memesan donat. Ada senyuman kecil terukir dari bibirnya memperhatikan macam ekspresi wajah Rika yang sedang mengobrol dengan ibu-ibu toko.


Hingga beberapa saat kemudian.


Bapak warung penjual rujak menghampiri Jhon dengan menenteng sekantung kresek yang berisi empat mangkuk rujak buah.


"Den rujaknya," Bapak warung menyodorkan kresek.


Jhon terhenyak dari lamunannya, Ia beralih mengambil dompet dari balik jas dan mengambil kartu debit. "Ini pak," kata Jhon sambil mengambil alih kantung kresek dari tangan bapak warung.


Bapak warung yang menerima kartu debit dari Jhon, ia terlongo menatap bingung ke kartu tersebut. "Ada uang tunai tidak Den? Di sini kedai kecil tak bisa gesek kartu." Menyodorkan kembali kartu tersebut.


Jhon meletakkan kresek rujak, menerima kembali kartunya. "Sebentar," Dia mengorek ke kedalaman dompetnya mencari uang tunai, namun tak menemukannya hanya sederet kartu debit juga kartu kredit yang terdapat di dalam dompetnya. Dia menatap kikuk ke bapak warung, tersenyum ramah. "Berapa semuanya pak?"


Membalas senyuman Jhon. "100 rb Den," jawab ramah Bapak warung.


Jhon menggaruk keningnya yang tak gatal, melirik rujak yang di letakkannya di atas meja. "Saya ke mobil sebentar, soalnya saya tidak bawa uang tunai." Ucap Jhon, menunjuk ke sebuah mobil hitam.


"Tidak. Saya tinggal sebentar pak," Jhon melangkah keluar warung setelah mendapati anggukkan kepala dari bapak warung.


Jhon berjalan menuju ke mobil hitamnya yang terparkir tak terlalu jauh dari warung rujak. Ketika berjalan, ia sempat melihat ke arah toko donat tempat dimana Rika berada.


Di depan toko itu, terlihat Rika sudah menenteng sebuah box berukuran cukup besar yang berisi donat. Gadis berwajah manis tersebut tengah celingak celinguk melihat kendaraan yang berlalu lalang, untuk bersiap menyebrangi jalan.


Melihat hal itu, seketika langkah kaki Jhon terhenti. Pandangannya fokus menatap Rika yang akan menyebrangi jalan dengan kendaraan yang cukup padat. Terlihat jelas rahang tegas Jhon mengeras menandakan kecemasan dengan sebelah tangan terkepal.


Rika melangkahkan kaki di jalanan sembari mengulurkan sebelah tangan sebagai isyarat agar kendaraan melambat. Dan pada saat tinggal beberapa langkah lagi menuju trotoar jalan, tiba tiba sebuah motor dari arah kanan melaju dengan kecepatan cukup tinggi.


Jhon yang melihat motor tersebut, mata nya melebar. "Rika!" Teriak Jhon berhambur secepat mungkin berlari ke arah gadis itu dan menarik lengan Rika, sehingga kedua nya terlempar ke trotoar jalan.


"Arrgh," pekik Rika bibirnya terangkat berkerut di sekitar hidung, mengernyit kesakitan saat sebelah telapak tangannya yang kosong tergesek ke tanah juga kaki nya terbentur cukup keras pada gundukkan pembatas jalan.


Sedang Jhon walau ikut terlempar, Ia masih berdiri membungkukkan badan memegang lutut. Sejenak dia menetralkan napasnya yang memburu akibat emosi juga gerakan tiba-tiba nya. Perlahan bola mata nya melirik ke arah Rika.


"Wanita bodoh, tidak bisakah kau hati hati saat menyebrangi jalan. Kau bisa mati tertabrak motor jika tidak cepat melangkah, dasar bodoh. Mata mu masih normal tapi tak di gunakan dengan benar," cerocos Jhon mengomeli Rika.


"Hey, bukannya bapak membantu saya berdiri malah mengomeli. Yang terpenting kan saya masih hidup belum mati tertabrak," Rika tak kalah kesal mengoceh sambil berusaha bangkit dan merapihkan pakaiannya yang terkena debu jalanan. Lalu mengambil box yang tergeletak di bawah.


Jhon merebut box itu dan mencekal lengan Rika. "Mati! Jangan sekali kali kau berkata mati di depan saya!" Sentaknya, kemudian melangkah ke arah mobil sembari sedikit menyeret Rika.


"Bapak, bisa nggak sih sedikit lebih pelan. Kaki saya sakit tau," oceh Rika memberontak dari cekalan tangan Jhon.


"Diam! Masuk ke mobil!" Sentak Jhon membuat Rika terlonjak kaget. Kemudian kembali melangkah ke arah mobil. "Jika kau di biarkan berkeliaran di luar, otak bodoh mu akan berbuat yang berbahaya lagi," tukas Jhon.


Tidak bisakah dia itu berkata yang baik baik di saat seperti ini. Sabar Rika... sabar. Jangan menangis, jangan menangis. Lihat ini di jalan dan di mobil ada Annisa juga suami nya. Jadi kau harus kuat, jangan membuat Annisa khawatir terhadap mu.


Rika terdiam membisu, ia berusaha dengan keadaan kaki nya yang terasa perih, berdenyut nyeri untuk mengikuti langkah kaki Jhon yang tengah menyeretnya ke arah mobil.


Sesampainya di samping mobil. Jhon membuka kan pintu mobil untuk Rika. "Masuk!" titahnya dengan tegas.


Rika menuruti masuk ke dalam dan duduk di kursinya.


Kemudian Jhon setengah memutari mobil membuka pintu penumpang memberikan box donat ke Annisa, lalu beralih membuka pintu mobil kemudi dan mengobrak abrik laci dashboard mencari uang tunai yang akhirnya menemukan beberapa lembar uang ratusan ribu. Tanpa mengucapkan sepatah kata apa pun, ke orang-orang di dalam mobil yang memandang bingung padanya. Jhon keluar mobil dan melangkah pergi ke arah warung rujak.

__ADS_1


Sepeninggalan Jhon.


"Rik, kamu nggak apa apa kan? Tadi aku melihatnya saat kak Jhon menarik tangan mu untuk cepat menepi di trotoar sampai terlempar gitu. Apa yang terluka Rik? Coba ku lihat." Cemas Annisa mencondongkan badan memeriksa keadaan Rika.


Rika tersenyum tenang. "Aku nggak apa apa Nis, aku baik baik saja." Jawab Rika menyembunyikan telapak tangannya yang berdarah dan memerah.


Annisa menatap menelisik raut wajah Rika. Hingga seperkian detik tidak ada ucapan dari bibirnya, hanya keheningan dengan sorot mata saling tersambung menatap.


Rika tahan... jangan perlihatkan raut wajah kesakitan mu di depan Annisa.


"Kamu tidak lagi berbohong kan, Rik?" tanya Annisa masih khawatir.


Rika menggelengkan kepala beberapa kali lalu tersenyum manis. "Aku baik baik saja, umii bawell. Sudah duduk yang bener Nis," kata Rika mencengkram sedikit mendorong sebelah bahu Annisa dengan tangannya yang tidak terluka.


Annisa menghembuskan napas pelan, dan menurut membenarkan posisi duduknya.


Egi yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi. Ia melirik ke arah Rika yang kepergok tengah mengusap telapak tangan berdarahnya oleh tisue basah. "Maafkan si Jhon jika bersikap cukup kasar pada anda, nona Rika. Dia sebenarnya tidak bermaksud begitu," ujar Egi.


Gerakan tangan Rika yang tengah membersihkan luka tangannya terhenti sejenak. Tidak bermaksud namun sering begitu.


Dia mengangguk pelan. "I-iya, saya selalu memaafkan," jawab Rika.


"Tapi sikapnya tadi membuat ku shock. Apa dia sering bersikap seperti itu pada mu, Rik?" tanya Annisa menatap punggung Rika yang kursi nya ada di hadapan.


Bola mata Rika melirik dalam ke sudut mata.


Sering bahkan selalu seperti itu Nis.


"Tidak. Hanya tadi saja dia seperti itu. Mungkin karena kesal juga akibat kecerobohan ku, Nis." Jawab Rika berbohong.


"Benarkah? Tapi aku mel-"


"Sayang," Egi memegang tangan Annisa untuk menghentikannya bertanya lebih lanjut pada Rika.


Bersamaan dengan itu, Jhon masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi. Dia menyerahkan kantung kresek yang berisi rujak, ke kursi belakang yang langsung di terima oleh Annisa.


Setelahnya. "Kemarikan tangan mu," Jhon menarik tangan Rika yang terluka dengan cukup kasar.


"Eh," Kaget Rika menatap Jhon.


Pria berjas itu, membuka sebuah kresek putih berisi obat antiseptik juga bundelan kain kasa yang di beli nya tadi. Dia memeriksa telapak tangan Rika yang lecet parah dengan kulit mengelupas di sekitarnya. Kemudian, Jhon mulai membersihkan luka itu dengan cairan antiseptik.


Sementara Egi yang memperhatikan adegan itu hanya bisa diam menganggap tak melihatnya, sedang Annisa yang hendak bersuara protes akibat kebohongan Rika yang mengatakan tidak apa apa, Annisa langsung di bungkam bibirnya dan di tahan oleh Egi sehingga ikut bediam diri mengabaikan dua sejoli di kursi depan.


"Hiss, pelan pelan dong Pak. Perih," oceh Rika meniup dari jauh ke arah telapak tangannya.


Jhon mencoba sehati-hati mungkin membersihkan luka itu, sembari meniupi nya dengan lembut. "Tau sakit juga kau. Kalau sudah tau, jangan bertindak bodoh lagi, dan latih otak mu untuk lebih pintar agar tidak ceroboh seperti ini," Omel Jhon mengambil kain kasa.


"Ck, siapa yang tahu juga akan seperti ini. Tapi...," Terjeda sejenak, Rika menatap hangat pada Jhon. "Terimakasih tadi bapak sudah menyelamatkan saya, walaupun berakhir dengan seperti ini."


"Tidak perlu berterimakasih, karena itu sudah tanggung jawab saya yang sudah berjanji pada Papa mu, untuk mengantar kau kembali kerumah dalam keadaan selamat. Dan kau yang ingin membantu saya, mulai sekarang kau harus berpikir sebelum bertindak ceroboh lagi," tutur Jhon sembari membalut telapak tangan Rika.


"Hem." Rika mengangguk pelan dan tersenyum.


Tidak apa dia selalu berkata tajam seperti ini. Setidaknya, dia masih bersikap baik dengan mau membeli obat bahkan membalut luka ku.


Pandangan mata Rika tak lepas mengamati wajah Jhon yang terlihat serius. Karena terlalu terbawa suasana mereka berdua merasa seakan hanya mereka berdua dalam mobil itu.


Pak Jhon, sungguh tampannya jika dia bersikap tenang dan serius seperti ini.


Annisa dan Egi yang menonton drama langsung di hadapannya. Tersenyum dengan mulut mengunyah memakan donat dan rujak buah, mereka berdua menonton berkedip anteng.


"Ekhem-ekhem...," dehem Egi membuat kedua sejoli itu tersadar dan menoleh ke kursi belakang.


Annisa tersenyum cengengesan. "Donat nya enak," Mengangkat satu buah donat yang sudah di gigit.


"Rujak nya juga mantap," Egi menambahkan sambil mencolok irisan buah mangga dalam mangkuk yang di pegangnya untuk di celupkan ke sambal gula lalu di suapkan ke mulut.


Seketika pipi Rika merona malu, tersenyum kikuk mengalihkan pandangan ke arah lain. Begitu pun Jhon segera menyelesaikan untuk mentali kan simpul kain kasa itu, lalu membenarkan posisi duduknya.


"Kita... kita pasti ketinggalan jauh dari keluarga lainnya," gugup Jhon menyalakan mesin mobil, dan melajukan untuk keluar dari area parkir hingga mobilnya melaju di jalanan bergabung dengan kendaraan lain.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2