Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 20


__ADS_3

Rika terduduk sendirian di salah satu kursi ruangan VVIP yang di sewa oleh keluarga putra. Hanya dua orang penjaga berdiri di dekat pintu, mengawasi sekitar agar tidak ada orang asing yang salah masuk ruangan kecuali dari anggota keluarga putra.


Gadis manis yang terduduk apik itu tengah memainkan ponselnya bermain game online, untuk menunggu anggota lain mengisi kursi-kursi kosong di sekitar meja yang berbentuk persegi panjang dengan satu kursi kepala di ujung meja.


Setelah menunggu cukup lama. Akhirnya orang-orang yang di tunggu Gadis manis itu, satu persatu mulai bermunculan memasuki ruangan, dan mengambil posisi duduk yang sudah di atur. Sejajar untuk kaum adam dan sejajar nya lagi untuk kaum hawa, namun Arga masih tetap berada di samping Romisa dengan Fatih, sehingga tampak Romisa di tengah-tengah suami dan anak nya. Berbeda dengan Egi yang duduk di sebrang meja hadapan Annisa dengan Jhon di samping kiri nya.


Seketika ruangan yang tadinya tenang oleh suara melodi lembut, berubah menjadi gaduh oleh suara-suara dari orang yang baru datang bergabung.


"Hey, bocah ngapain kau di situ?" Egi berseru sebal melihat geram karena Fatih berada di samping Annisa.


"Mama, Ateu cantik. Om Egi marahin Atih lagi," Adu Fatih memegang tangan Romisa dan Annisa sehingga membuat kedua nya menoleh.


"Ck, ngadu saja terus ngadu. Mentang kau masih kecil dan banyak yang bela in," sewot Egi sebal.


Annisa beralih menatap suami nya yang berada di sebrang meja. "Egi, jangan begitu. Bisakah kau berdamai kali ini saja."


"Tapi aku tak suka sayang, dia di samping mu sedang aku di sini." Sinis Egi melirik Fatih.


"Egi sayang," Annisa memanggil dengan lembut dan memberi tatapan peringatan.


Egi menghela napas pelan. "Nggak bisa sayang, aku masih kesal dengan bocah kecil itu." Kemudian beralih melirik ke arah Jhon di samping kiri nya. "Jhon kau pindah sana ke kursi Annisa. Biar istri ku di sini!"


"Kenapa harus saya yang pindah? Jika tuan Egi ingin bersama Nona Annisa, tinggal pinta lah duduk nya di tukar dengan wanita bod-, maksud saya Nona Rika yang berada di samping Nona Annisa."


"Kau tahu kan jika temannya Annisa itu sedang sakit kaki nya. Kau tega menyuruh teman nya Annisa berjalan kemari tertatih," seru Egi kesal.


Jhon terdiam sejenak beralih menatap ke Rika yang kebetulan duduknya di sebrang meja dan gadis manis itu sedang berceloteh ria bersama Annisa dan Asyila.


"Biar gue aja Gi, yang pindah." Ujar Ray di samping kanan nya. Dia menawarkan diri.


Sontak Egi menoleh ke arah Ray dan tersenyum senang. "Bagus, cepat tukar tempat duduk lo."


Rayhan dengan senang hati mendorong kursinya untuk keluar dan bangkit.


Brak... kreet.


Jhon yang melihat itu, menatap dingin tak terbaca pada Ray yang sedang berjalan ke arah kursi Annisa.


"Nisa, di pinta tukar duduk dengan ku oleh suami mu tuh." Instruksi Ray yang sudah berdiri di antara Rika juga Annisa.


Annisa dan Rika yang sedang asyik mengobrol seketika menoleh. "Bertukar?" Yang di balas anggukkan kepala dari Ray. Kemudian Annisa beralih menatap ke suaminya.


Egi terlihat tersenyum penuh arti dan menunjuk kursi kosong di sampingnya.


Hah... gadis cantik itu menghela napas panjang. "Baiklah," Annisa berucap, dan dengan malas bangkit dari duduknya melangkah keluar untuk berpindah duduk di kursi samping suami nya.


Ray duduk di kursi bekas Annisa yang di sambut senyuman ceria oleh Asyila dan wajah santai Rika.


"Om Ray, kenapa duduk di sini? Jadi nya kan Ateu cantik pindah," celetuk Fatih sedih melihat pindah nya Annisa.


Ray menoleh dan tersenyum. "Salahkan Om Egi mu, jangan salahkan Om."


Huh... Fatih memalingkan wajah ke arah lain, cemberut sebal.


"Ck, bocah kecil ini. Pantas si Egi sebal pada nya." gumam Ray mengusak gemas rambut anak kecil itu.


Plakk.


Fatih menepis kasar tangan Ray. "Jangan sentuh Atih, Om Ray sama-sama jahat kayak Om Egi."


"Dek Fatih, jangan begitu!" Asyila menegur namun hanya di balas dengusan sebal dari Fatih. Lalu Ia beralih menatap Ray dan tersenyum canggung. "Kak Ray, maafin Dek Fatih. Memang dia anaknya begitu."


"Tidak apa, Lala. Kakak tahu, lagian dia hanya anak kecil."


Dan bersama itu para pelayan yang membawa buku menu, menghampiri meja mereka untuk menanyakan menu apa yang akan di pesannya.


Salah satu pelayan yang berdiri di antara Rika dan Asyila bertanya. "Pesan apa Mbak?"


Rika yang sedang melihat isi menu hendak bersuara, namun tiba-tiba ke duluan oleh seseorang sehingga membuatnya bungkam.


"Sup Tomyam tambah telor ceplok," ujar Ray menjawab pertanyaan pelayan.


Seketika Rika, Asyila dan Jhon yang mendengar menoleh ke arah Ray.


Rayhan tersenyum. "Itu pesanan untuk dia, Mbak," sambungnya lagi menunjuk Rika.


"Baik Mas, minumnya?" Pelayan wanita itu bertanya kembali.


Rika hendak menjawab, namun kembali keduluan.


"Lemon tea di kasih serutan es," jawab Ray cepat.


Pelayan wanita itu tersenyum sembari mencatat apa yang di instruksikan. Kemudian bertanya pada Asyila yang terlihat bengong menatap Ray.

__ADS_1


Rika melirik sebal. "Lo kebiasaan memotong ucapan gue. Kalau gue mau pesan yang lain, gimana? Maen pesenin aja."


Rayhan tersenyum, alis nya terangkat dan mendesah pelan. "Gue tahu lo mau pesen itu, maka nya gue pesenin sekalian. Hemat suara juga kan buat lo."


"I-iya sih gue mau pesen itu, tapi kan gue juga pengen pesen yang lain."


Jhon memperhatikan obrolan Rika dengan Ray yang terlihat sangat akrab. Dia menatap wanita yang berada di hadapan sebrang meja itu, dengan tatapan dingin tak terbaca.


"Mbak, tambahin makanan penutupnya smoothie bowl porsi kecil," ujar Ray dengan pandangan menatap lekat pada Rika.


Pelayan wanita yang tengah menulis pesanan Asyila menoleh sejenak. "Baik Mas," ucapnya tersenyum dan mencatat.


"Lo bisa baca pikiran gue yah. Kenapa semua nya tepat?" Semprot Rika menatap Ray tak sadar jika diri nya tengah di tatap oleh Jhon yang sedari tadi diam mengamati.


Ray tertawa kecil. "Emak... Mak. Gue kenal lo sudah hampir 5 tahun lebih. Jelas gue tahu semua makanan kesukaan yang terus lo bawa jika maen ke kafe."


Gadis manis itu, mendengus menutup buku menu. "Iya, iya dah banci setengah laki." Cetus Rika yang di tanggapi tawa oleh Ray.


"Mas nya mau pesan apa?" tanya pelayan wanita tadi pada Ray.


"Sama aja, tapi telor nya nggak."


Mereka berdua tidak sadar jika percakapan yang terlihat akrab itu, sedang di amati oleh kedua pasang mata sinis, yaitu oleh seorang pria yang berada di sebrang meja juga seorang wanita yang berada di samping Rika.


Sementara Egi yang berada di dekat Jhon. Ia mendekat ke Annisa, sambil menunjukkan buku menu. "Mau makan apa?"


"Terserah apa aja." Annisa menjawab menepuk buku menu itu dengan pandangan masa bodo.


"Sup bunga teratai, mau?"


Alis Annisa terangkat. "Teratai? Nggak mau sup-sup an, Egi."


Egi kembali memeriksa menu mencari nama masakan dari daftar menu yang menurutnya enak. "Gyudon, gimana?"


Annisa menggeleng beberapa kali. "Nggak mau, yang lain aja."


Pria tampan itu menghela napas panjang. "Terus kamu mau nya apa, sayang?"


"Ya pokok nya terserah kamu aja, asal jangan yang kamu sebutin tadi." Ketus Annisa.


"Baiklah," Egi kembali memeriksa buku menu. "Sayang, kalau sushi mau? Kamu kan suka ikan."


"Nggak mau! Itu kan ikan mentah. Yang beneran dikit napa, nawarinnya!" Ucap Annisa ngegas.


"Kamu mau nya apa, sayang ku?" Egi bertanya dengan tersenyum memaksakan dan berusaha tenang menahan emosi nya.


"Aku bilang terserah, ya terserah! Pokoknya yang lain jangan yang itu," Annisa berucap masih dengan nada sebal.


Hah... Lagi-lagi Egi menghela napas panjang. Ia melirik tajam sekilas pada pelayan wanita yang menahan tawa, memperhatikan dari tadi interaksi nya. "Baiklah, menu biasa saja deh, siapa tau dia mau." Gumamnya mencari masakan dari deretan daftar menu. "Sayang, kalau beef steak gimana. Mau?"


Annisa melirik suami nya dengan sinis. Lalu merebut buku menu itu. "Sini, biar aku saja yang pesen! Pilihan kamu nggak ada yang bener!" Ketusnya.


Egi terdiam menggelengkan kepala beberapa kali. Ada apa dengan istriku ini? Tadi masih baik-baik saja. Apa karena di suruh pindah, jadi marah?


"Sate maranggi satu porsi, minumnya jus melon." Annisa menyebutkan yang di pesan.


"Tuan muda kedua, mau pesan apa?" Pelayan wanita itu bertanya saat telah mencatat pesanan Annisa.


"Eh," Egi terhenyak dari keterpakuannya menatap Annisa. ia hendak membuka bibirnya untuk menjawab. Namun...


"Suami saya, beef steak saja, dan minumnya jus strawberry. Tambah lagi es tea, banyakin es nya." Annisa mendahuluinya.


"Oh, baiklah. Ada lagi Nona?" Pelayan wanita tersebut bertanya kembali, yang mendapat gelengan kepala dari Annisa. Pelayan itu menerima buku menu, lalu menunduk dan berbalik pergi.


"Sayang, aku bukan kepengen itu loh. Kenapa di pesenin steak?" Egi bertanya heran.


"Tapi aku ingin nyobain kedua-dua nya."


"Ya kan kamu bisa pesen kedua-dua nya, biar aku pesen yang lain."


Annisa mencubit pipi mulus suami nya. "Aku hanya ingin nyobain saja, kamu yang habiskan nanti. Kamu tahu kan arti nyobain?"


Egi menghela napas pelan, terdiam sejenak. Dan mengangguk pasrah.


Lebih baik aku menurutinya dari pada dia bersikap ketus lagi kayak tadi.


Annisa tersenyum senang, beralih mencubit ujung hidung pria di hadapannya. "Ngegemesiin...," ucapnya, memainkan hidung Egi.


Egi tersenyum tenang, menatap terpaku. Bahkan mood nya cepat berubah?


Beberapa waktu kemudian.


Para pelayan memasuki ruangan dengan mendorong troli untuk mengantarkan makanan yang di pesan.

__ADS_1


Rika menerima mangkuk sup dengan satu piring kecil yang berisi dua telur ceplok. Begitu pun dengan Ray.


Ray mengambil alih piring telor dan memisahkan kuning telur dari putih nya.


"Rupanya lo masih suka ngambil kuning telor gue." Ucap Rika melihat apa yang di lakukan Pria di sampingnya.


Pria itu nyengir. "Dari pada mubadzir mending kasih gue yang siap nampung." Dia menggeser kembali piring kecil ke hadapan Rika.


Rika memanyunkan bibirnya sebal, ia mengaduk sup nya untuk siap di santap.


Sementara Jhon dan pasangan suami istri di sebrang meja, memperhatikan apa yang di lakukan Ray terhadap Rika.


Egi menyenggol lengan Jhon sehingga membuat pria yang di senggol menoleh. "Gimana? Si Ray, sangat akrab kan dengan temannya Annisa. Sudah pasti mereka akrab, karena bagaimana pun mereka telah kenal lama. Sampai lima tahun lebih," ucap Egi memprovokasi.


"Apa nya yang harus di bangga kan dengan mengenalnya cukup lama. Memahami seseorang tidak harus di lihat dari waktu perkenalan." Jhon menimpali sembari mengaduk sup di mangkuk dengan pandangan terus menatap Rika.


Egi menyeringai. "Kalau soal memahami, si Ray sudah sangat memahami dia. Lihatlah perhatian nya, bukannya dia sangat pengertian dan lembut." Ujarnya melirik Rayhan sejenak. "Bahkan baru kali ini, aku melihat si Ray selembut itu ke wanita."


Jhon menggenggam kuat sendok yang di pegang, rahang tegasnya mengeras geram. Sejenak dia menatap tak terbaca pada gadis di sebrang meja itu, kemudian menghembuskan napas kasar dan menunduk mengaduk sup.


Dan hal itu tak luput dari pengawasan mata Egi yang tersenyum puas karena telah berhasil memprovokasi Jhon. "Jika si Ray aku jodohkan dengan temannya Annisa, menurut mu gimana? Cocok kan mereka?"


Glekk. Jhon menelan bulat cairan sup dengan sayuran di dalam mulutnya.


"Uhuk...uhuk," Jhon terbatuk karena tersedak, ia segera menyambar gelas minumannya.


Egi tertawa pelan, menutup bibirnya. Dan menepuk belakang leher Jhon untuk membantu nya melegakan tenggorokan orang yang sedang tersedak itu.


"Ekhem... ekhem," Jhon berdehem beberapa kali menetralkan tenggorokannya yang terasa panas dan perih. Ia menatap sebal ke orang yang menertawakannya.


"Dia masih terikat dengan saya mengenai misi itu, jadi sebaiknya tuan Egi urungkan niatan untuk menjodohkan mereka. Tunggu sampai misi saya selesai." Tutur Jhon serak namun jelas.


Egi menepuk pelan bahu Jhon. "Tenang saja, aku hanya bertanya mengenai kecocokkan mereka. Kenapa kau terlihat panik begitu?"


Jhon mendesah pelan, kembali meraih gelas minumnya. "Panik?" ia tersenyum miring dan menenggak air dari gelasnya.


"Untuk apa saya panik mengenai perjodohan wanita itu. Hanya saja menurut saya, mereka tidak cocok. Karena si Ray merupakan laki-laki cukup sempurna sedang wanita itu, terlihat bodoh dan sering bersikap ceroboh, bahkan di lihat dari wajah juga sangat jelek, tak pantas di sandingkan dengan si Ray yang tampan."


Egi terkekeh melirik ke orang yang sedang di bicarakannya. "Begitukah? Tapi menurutku mereka terlihat cocok."


Humph... Jhon mendengus tersenyum sinis.


"Egi," panggil Annisa.


Segera Egi beralih menoleh ke istrinya. "Iya sayang."


Annisa menyodorkan sepiring sate yang masih penuh, hanya termakan 2 tusuk saja. "Aku ingin makan steak punya mu, dan habiskan ini."


Egi melirik piring itu. Dan beralih melirik piring steak di hadapannya yang belum tersentuh sama sekali. "Baiklah, sebentar aku iris dulu steak nya, biar kau tinggal memakannya." Ia memotong daging steak sehingga menjadi bagian terkecil.


"Lama! Aku keburu mau, tau." Sebal Annisa mencolok daging steak yang sudah di potong sebagian. Lalu menyuapkannya ke mulut.


Egi menghela napas pelan, tersenyum dan memindahkan piring steak ke hadapan istri nya. "Pelan-pelan sayang makannya. Jangan terburu seperti itu." Mengusap bagian ujung bibir Annisa yang blepotan oleh bumbu.


Ck. Decak Annisa dengan bibir gembul oleh daging. Ia menatap sebal pada piring steak yang baru di makannya dua potong. Lalu menggeser ke Egi kembali. "Aku udah kenyang, habiskan oleh mu."


"Hah," kaget Egi terlongo menatap Annisa dan melirik bengong pada dua piring makanan di hadapannya.


Ada yang salah dengan Annisa. Dia tidak pernah seperti ini...


Annisa terlihat acuh tak acuh, meminum jus melon sampai habis setengahnya. Ia melihat Egi masih diam menatap dua piring. "Kenapa? Kamu jijik yah karena bekas aku?" Ucap nya dengan tatapan sedih.


Dengan kaku dan pelan, Egi menoleh ke istrinya. Nyengir, tersenyum di paksakan. "Tid-tidak sayang, mana mungkin aku jijik."


Masih memberikan tatapan sedih,memberenggut merajuk. "Tapi kamu nggak memakannya, hanya di lihatin saja."


"Eh," terdiam sejenak menatap tanpa berkedip. Lalu dengan gerakan cepat Egi meraih piring sate dan mengambil tusukkan sate untuk di makan. "Aku makan, nih di makan kan, sayang. Jadi jangan sedih."


Annisa tersenyum senang, mengangguk kemudian mengusap bibir Egi yang terdapat bumbu sate. "Makannya jangan belepotan kayak anak kecil."


Egi membalas tersenyum sehingga menciptakan kerutan di sekitar hidungnya. "Maaf." Ucapnya, mengusap puncuk kepala Annisa.


"Iih, tangan mu kotor Egi. Bekas ngambil tusuk sate." Omel Annisa menurunkan tangan suaminya.


Egi cengengesan, mencium sekilas pipi Annisa. "Kamu nya ngegemesin sayang."


Annisa mengusap pipi nya yang basah berbau bumbu sate. "Egii," geramnya melirik sebal.


Egi terkekeh senang di kembali mendekati wajah istri nya hendak menciumnya. Namun Annisa dengan sigap menutup wajahnya.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2