Pejuang Move On

Pejuang Move On
Gara gara Chat


__ADS_3

Setelah pamitan dengan rika dan Alan untuk memasuki taxi. Kini annisa telah terduduk di dalam sebuah mobil taxi yang akan membawa nya ke rumah Putra.


Annisa termenung menatap keluar jendela memikirkan takdir hidup nya yang berubah dalam waktu sehari semalam yang merubah nya dari status lajang menjadi seorang istri.


Benar. Rencana Tuhan memang siapa yang tahu. Dan aku sebagai hamba hanya bisa menerima dan menjalankan dengan baik untuk menuju Jannah-Nya.


Ketika berpikir merenung terlintas dalam otak annisa memikirkan nasib bekal yang di buat untuk Egi.


Kira kira bekal nya di makan tidak yah sama tuh anak. Dan kira kira dia pulang sekolah jam berapa. Mending aku chat dia saja lah, biar jelas.


Annisa merogoh ponsel dari dalam tas gendong di pangkuan nya, lalu menyalakan dan mulai mengetikkan sesuatu di layar ponsel.


-------


Sementara di sebuah ruangan kelas.


Kelas itu tengah berlangsung nya kegiatan belajar mengajar dengan guru yang tampak sedang menulis di papan tulis.


Dan anak anak murid nya dengan tertib menirukan apa yang di tulis guru nya ke dalam lembaran lembaran kosong buku di atas meja nya. Dengan kegiatan itu, membuat suasana kelas tampak sangat hening dan tenang.


Ting...ting..ting.


Suara notifikasi dari ponsel Egi yang menandakan ada sebuah pesan masuk.


Egi yang semula tengah menulis, menghentikan kegiatan nya lalu merogoh ponsel yang ada di saku jas sekolah nya.


Egi melihat layar ponsel untuk memastikan siapa yang telah mengirim pesan Wa pada nya ketika dia sedang belajar.


Mata egi sedikit memicing melihat nama yang tertera di layar ponsel.


Wanita brandall mau apa dia mengirim pesan pada ku.


Membuka isi pesan apa yang di kirim oleh annisa.


From : Annisa.


"Assalamualaikum. Bocah lagi belajar tidak."


Alis Egi terangkat sebelah melihat isi pesan annisa.


Dia ngelindur atau apa, sudah jelas tau jika jam segini aku masih belajar pakai tanya lagi.


Egi mengabaikan pesan annisa dan hendak menaruh kembali ponsel nya.


Ting..ting..ting.


Ponsel egi kembali berbunyi sehingga mengurungkan niatan nya untuk menyimpan.


Egi membuka lagi pesan apa yang di kirim annisa.


From : Annisa.


"Hey, bocah kalau orang nanya itu di jawab malah di read doang. Hah. Baiklah seperti nya kau males banget membalas pesan yang tak guna seperti ku. Tapi aku hanya ingin bertanya. Bekal yang aku buat tidak kau buang kan?"


Sudah tahu pesan mu nggak guna brandal. Eh, dia menanyakan bekal itu. Apa yang harus ku jawab.


Egi termenung sejenak menatap layar ponsel dan mengingat kembali saat diri nya memakan bekal yang di buatkan oleh annisa.


Saat memakan nya egi sempat berebut lagi dengan Ray karena memang tidak salah yang di katakan Ray jika masakan yang di buat annisa benar benar sangat enak dan cocok di lidah nya sehingga membuat egi ketagihan lagi.


Egi menghela napas pelan.


Jika aku bilang di buang wanita ini tidak akan membuatkan nya lagi. Jika bilang habis di makan oleh ku, dia bisa besar kepala nanti nya. Hah baiklah aku punya ide.


Egi mulai mengetikkan sesuatu di layar nya.


"Tidak. Di habiskan oleh teman." Balas Egi pada pesan annisa.


Lalu 'klik' egi mengirim nya ke annisa.

__ADS_1


Dan tidak lama kemudian pesan egi di balas annisa.


From : Annisa.


"Kenapa kau memberikan nya ke teman mu bocah. Aku buatkan itu bekal untuk mu. Bagaimana kau akan cepat besar dan pintar jika makanan yang jumlah nya sedikit saja kau bagi bagi."


Wanita ini. Dia kira aku masih anak bocah ingusan apa, sampai berkata seperti itu. Awas saja kau brandal jika di rumah.


Mengetikkan membalas pesan annisa kembali.


"Amal." Balasan egi atas pesan annisa.


Dan beberapa lama kemudian annisa membalas pesan egi.


From : Annisa.


"Amal sih amal tapi jika kau tidak memakan nya sama sekali itu bukan amal tapi sama saja memberikan karena kau tidak mau memakan nya. Hah sudahlah jika begitu aku tidak mau membuatkan bekal lagi untuk mu."


Egi mulai sedikit gusar melihat balasan pesan dari annisa.


Bagaimana ini. Jika dia tidak membuatkan nya lagi, rugi aku. Mana aku suka dengan masakan kimbab yang dia buat, rasa nya tidak ada yang lebih enak selain kimbab yang Ia buatkan. Aku harus cari ide yang lain agar dia tetap membuatkan bekal nya.


Egi mengetikkan sesuatu di layar ponsel untuk membalas pesan annisa.


"Teman ku menyukai nya jd menghabiskan semua nya." Balas Egi.


Menghela napas panjang setelah pesan itu terkirim.


Sementara Ray yang merasa terusik dengan bunyi ponsel egi, Ray melirik egi yang tengah menatap layar ponsel lalu melirik ke arah samping meja yang ternyata bu rina telah berdiri menatap tajam ke Egi.


"Gi." Panggil Ray pelan namun tatapan Ray ke arah bu rina.


Egi tidak menoleh dan tetap fokus pada layar ponsel.


"Hemm." Gumam egi.


Menyenggol lengan egi. "Suit Gi." Panggil Ray lagi.


"Hemm." Gumam egi lagi.


Menyenggol lengan egi lagi. "Gi." Bisik Ray dekat telinga egi.


Menghela napas jengah. "Apa Ray!!" Teriak egi dengan nada tinggi.


Seketika semua anak murid yang ada di dalam kelas menatap heran ke arah meja Egi.


"Ekhem.." dehem bu rina di samping meja egi.


Egi menoleh pada bu rina dan menatap dingin.


"Egii. Sedang apa kau dari tadi tak tik tuk mengetik dan tang ting tung bunyi notifikasi yang nyaring?" Tanya Bu Rina dengan gigi mengkerat geram.


Tetap dengan tatapan dingin.


"Berkirim pesan." Jawab Egi jujur.


Menghela napas panjang.


"Kau tau ini sedang di mana?" Tanya bu rina.


"Di kelas."


Mengepalkan kedua tangan geram.


"Sedang berlangsung apa di kelas?"


"Belajar."


"Kau tahu jika sedang berlangsung pembelajaran di larang pegang handphone apa lagi berkirim pesan?"

__ADS_1


"Iya."


"Dan jika melanggar akan di apa?" Tanya bu rina dan mendekatkan wajah memolototi egi.


"Di hukum." Jawab egi singkat.


Brakk..


Menggebrak meja keras.


"Sekarang kau keluar dan berdiri di depan lorong angkat satu kaki mu. Itu hukuman untuk mu dan sini ponsel mu biar ibu sita." Tegas Bu Rina.


Egi melemparkan ponsel yang ada di dalam tas ke atas meja lalu bangkit dari duduk nya menatap tajam ke bu rina sejenak lalu beranjak keluar kelas.


Ray yang melihat egi di hukum menghembuskan napas kasar lalu beralih menatap bu rina yang masih berdiri di tempat nya.


"Kenapa kau menatap saya seperti itu. Kau juga keluar karena membiarkan teman sebangku mu bermain ponsel." Titah bu rina pada Ray.


"Sa..saya juga bu. Tapi..tapi." Gelagap Ray.


Memolototi Ray. "Keluar Ray atau mau ibu kurangi nilai mu." Tegas bu rina.


"Baik..baik bu saya keluar." Beranjak dari duduk nya dan setengah berjalan tergesa menyusul egi keluar kelas.


------


Di luar kelas di depan lorong.


Egi bukannya menjalankan hukuman yang di berikan bu rina tapi egi malah duduk santai di kursi depan kelas dan mengeluarkan ponsel dari saku jas.


Ray baru datang melihat egi memegang ponsel dan fokus pada layar nya.


"Hey bro, gara gara lo. Gue jadi kena ampas nya juga." Ucap Ray dan duduk di samping egi.


Egi tidak menjawab dan kembali fokus mengetikkan sesuatu di layar ponsel.


Melihat ponsel yang di pegang egi.


"Bukannya ponsel lo udah di lempar di kasih bu rina. Kenapa sekarang ada di lo lagi?"


"Itu ponsel ke dua gue." Jawab egi santai sambil mengetikkan sesuatu di layar.


Merasa penasaran dengan siapa egi berkirim pesan sehingga membuat nya ikutan terseret hukuman, Ray menengok ke layar ponsel egi.


"Cewek brandall." Celetuk Ray membaca nama kontak yang ada di pojok atas layar.


Plaakk.


Egi menimpuk keras kepala Ray.


"Berani nya lo ngintip ponsel gue Ray!!" Bentak egi geram.


Mengusap bekas keplakan egi yang terasa panas di kepala nya.


"Sorry.. gue hanya penasaran saja, siapa yang membuat lo sampe sampe mau di hukum di luar hanya gara gara chat-an. Dan ternyata hanya nama cewek brandal di kontak lo."


"Jangan menyebutkan nama itu dari mulut lo." Menatap tajam ke Ray.


"Kenapa!! Suka suka gue dong. Lagian siapa sih tuh cewek sampe lo bersikap kayak gini." Heran Ray.


"Hanya gue yang boleh memanggil nya seperti itu. Dan siapa itu cewek. Lo nggak perlu tau." Tegas Egi.


Lalu Egi berpindah duduk ke kursi lain menjauhi Ray.


Ray menghembuskan napas kasar.


"Apa tuh anak sudah mulai membuka hati nya. Atau tuh nama kontak nya bu misa. Tapi masa iya bu misa di namai cewek brandal sementara sikap nya jauh dari sikap kasar. Hah jadi bikin pusing gue kalau mikirin masalah hati nya si salegi. Mending tidur aja sampai habis pelajaran si kaleng rombeng, kali aja si bidadari tak bersayap dateng ke mimpi gue." Celoteh Ray pada diri nya sendiri.


Lalu Ray merebahkan tubuh nya ke atas kursi yang berjejer dan mulai memejamkan mata nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


LIKE nya jangan lupa di Tekan yaa.


__ADS_2