
Tersenyum miring dan dengan gerakan pelan mengusap darah di sudut bibir nya yang perih. "Jika kau sudah tahu.. aku tidak akan sungkan lagi menunjukkan diri ku yang sebenarnya," ucap Alan dengan nada tajam.
Annisa semakin menantang dan mendongakkan dagu menatap Alan. "Laki laki pengecut... bagusnya kata brengsek itu untuk kau bukan untuk suami ku," ketus Annisa lalu dengan gerakan cepat mengibaskan selimut nya, hendak turun dari ranjang di bagian yang kosong.
Baru juga kaki nya menapak sebelah ke lantai tiba tiba kepala annisa terasa limbung berdenyut kembali, dan pandangan nya terasa berputar buram sehingga mau tidak mau annisa meraba ke sekitar untuk mencari pegangan agar tidak terjatuh.
Apa yang terjadi? Kenapa kepala ku sakit sekali dan badan juga lemas serasa tulang ku copot sulit untuk berdiri.
Alan semakin tersenyum menyeringai melihat annisa tidak berdaya. Kemudian ia beranjak dari duduk nya berjalan pelan memutari ranjang untuk mendekati Annisa. "Kau tidak akan bisa lari dek Annisa. Kau sudah di takdirkan untuk menjadi milik ku, jadi ikuti saja keinginan ku. Tinggalkan bocah itu dan hidup bersama ku," ucap Alan.
Sial! Jika saja kondisi ku tidak seperti ini, sudah ku tinju dia dan kabur dari sini...
Annisa yang tengah berjuang menahan sakit. Ia memajukan sebelah tangan yang bebas ke depan ke arah Alan dengan melebarkan telapak tangan sebagai pertahanan diri nya. "Aku tidak menyukai mu... atau lebih tepat nya aku tak sudi untuk hidup dengan pria gila seperti mu!" Teriak Annisa lantang.
Tertawa pelan dan semakin mendekati Annisa. "Jangan berteriak seperti itu dek Annisa... aku tidak akan menyakiti mu, dan memang benar aku pria yang sangat amat tergila gila pada mu," sahut Alan semakin mengikis jarak di antara diri nya dengan Annisa.
Aku harus menjauh... dia sudah berubah, bukan kak Alan yang ramah lagi yang berdiri di hadapan ku.
Annisa menaiki kembali ranjang karena Alan sudah semakin dekat. Lalu annisa merangkak bergerak mundur dengan kekuatan tenaga yang masih tersisa untuk menopang tubuh nya karena kepala nya semakin terasa pusing dan berdenyut. "Haish...sss," desis Annisa ketika tulang kaki nya terbentur meja nakas. "Arrgh...," lengan annisa tergores bagian yang runcing ukiran kepala ranjang.
Alan semakin melangkah kan kaki, kembali berbalik memutari ranjang untuk mendekati annisa, dengan senyuman menyeringai terus mengembang di bibir nya. "Kau cukup nurut saja dek Annisa, maka kau tidak akan terluka seperti itu. Jadi katakan iya jika kau akan hidup bersama ku..." ucap Alan.
Menatap jijik terhadap pria yang melangkah ke arah nya. "Tidak akan dan tidak sudi!" Kekeh Annisa dengan ucapan tegas dan nada meninggi.
Alan yang sudah sangat dekat jarak nya dengan Annisa, hendak maju untuk menarik tubuh Annisa, namun tiba tiba pintu kamar nya di buka oleh bodyguard nya yang berjaga di luar. Dan kedua orang yang berjas rapih itu berjalan memasuki kamar kemudian menunduk memberi salam hormat pada Alan.
"Siapa suruh kalian masuk, kembali ke tugas kalian!" Bentak Alan dengan nada tidak suka ke kedua orang yang ada di hadapan nya, karena telah mengganggu di waktu yang tidak tepat.
Menunduk kan pandangan. "Maaf tuan, di bawah ada tuan besar ingin bertemu anda," ucap salah satu dari mereka.
Sontak Alan terhenyak mendengar penuturan orang di depan nya. Ayah! Mau apa Ayah kemari?
Kemudian Ia berdehem untuk menetralkan keterkejutan nya. "Aku akan segera ke sana," ucap Alan. Lalu kembali mengalihkan pandangan menatap annisa, yang masih berdiri di samping ranjang dekat dengan nya hanya tinggal satu langkah lebar Alan bisa dekat dengan Annisa.
Alan mengulurkan sebelah tangan hendak mengusap pipi Annisa, namun dengan sigap annisa memalingkan wajah nya sehingga jemari alan tak sampai ke kulit pipi nya.
Menarik kembali tangan nya. "Dek Annisa... minumlah obat mu di atas meja nakas itu, agar sakit kepala nya reda. Aku akan ke bawah dulu menemui ayah," tutur Alan yang tidak di jawab oleh Annisa.
Tak sudi aku meminum obat dari nya, bisa saja obat itu adalah obat tidur atau bius untuk melemahkan ku, untuk nya agar bisa seenaknya melakukan hal bejat terhadap ku.
Setelah berkata pada annisa yang tidak mendapat jawaban, Alan melangkah kan kaki nya menuju pintu keluar dengan di ikuti dua bodyguard tadi.
"Jaga dia, jangan sampai kabur," titah Alan pada beberapa bodyguard yang bejejer di luar kamar, untuk berjaga di luar dan beberapa orang masuk ke dalam kamar Annisa untuk berdiri mengawasi nya.
Alan berjalan dengan cukup cepat menuruni setiap anak tangga dengan di kawal dua bodyguard di belakang nya. Tujuan Alan hanya tertuju pada Ayah nya yang telah menunggu di lantai dasar.
__ADS_1
Begitu kaki nya menginjakkan di lantai dasar, mata Alan seketika menyipit menajam melihat sesosok orang yang sangat di benci nya, terduduk santai di sebrang sofa yang ayah nya duduki.
Mau apa bocah brengsek itu ada di sini. Apa ingin mengambil Dek Annisa lagi dari ku. Itu tidak akan terjadi...
Alan berjalan menghampiri tuan Atmadja, Egi dan sekelompok orang di belakang kedua nya.
Tersenyum miring menatap sinis ke Egi. "Ayah, apa tujuan mu membawa si bocah brengsek ini kemari?" tanya Alan setelah diri nya berdiri tidak jauh dari Ayah nya.
Tuan Atmadja tersenyum tipis. Kemudian mengisyaratkan agar Alan duduk di sofa tunggal dekat sofa nya. "Duduklah dahulu, ternyata begitu cara mu menyambut ayah," tegas nya.
Alan menurut duduk di sofa yang di tunjuk ayah nya. Namun tatapan fokus menatap tajam penuh kebencian ke Egi.
"Kau memang perlu banyak didikan anak ku. Ayah sudah tahu semua nya, kau membawa kabur istri orang... apa kau sudah gila sehingga melanggar hukum? Dimana akal sehat mu?" Ucap tuan Atmadja melanjutkan bersuara.
"Tapi Ayah, aku lebih dulu menemukan Annisa. Dia yang merebutnya dari ku, jadi sudah seharusnya aku mengambil milik ku kembali," sangkal Alan mengalihkan menatap Ayah nya.
Egi yang merasa sudah tidak sabar ingin bertemu Annisa. Ia bangkit dari duduk nya, kemudian tersenyum miring ke Alan. "Tuan besar Atmadja, saya ingin melihat istri saya. Untuk urusan selebihnya, biar Jhon yang akan mendengarkan anda," tutur Egi tenang lalu melangkah hendak menuju tangga.
Namun, tiba tiba Alan dengan tegas mengintruksi semua bodyguard di belakang nya untuk menjegat egi. "Kau tidak bisa semudah itu merebut kembali dek Annisa dari ku, bocah brengsek!" tegas Alan penuh penekanan.
"Alan!" Teriak tuan Atmadja, lalu mendelik ke beberapa bodyguard nya yang menghadang Egi agar memberi jalan. "Tahan Anak ku!" Perintahnya lagi pada beberapa bodyguard yang berdiri tidak jauh dari sofa Alan.
Dua orang bodyguard langsung memutar tangan Alan yang ada di lengan sofa ke belakang tubuh dan memborgol nya. Juga mencengkram dari sisi kiri dan sisi kanan pundak Alan agar tidak bisa bergerak kemana mana.
Memberontak dari ringkusan bodyguard Ayah nya. "Ayah kenapa kau melakukan ini pada ku? Seharusnya kau membela aku yang sebagai anak mu, bukan si bocah brengsek itu...," teriak Alan tidak terima karena melihat Egi tersenyum senang.
Egi berjalan mendekat ke sofa yang dimana Alan di ringkus tak berkutik. Sejenak Egi memberikan tatapan tak terbaca ke arah tuan Atmadja, lalu kembali melirik ke arah Alan lagi setelah tuan Atmadja merespon tatapan Egi dengan tatapan pasrah dan helaan napas pelan.
Bugh... Plak... Egi memberi beberapa pukulan di ulu hati dan menampar keras beberapa kali di wajah Alan. Sehingga mampu membuat Alan memuntahkan cairan pekat di sertai darah dari mulut nya. Juga sudut bibir nya robek akibat tamparan egi yang begitu keras dan bertubi.
"Bocah brengsek...," umpat nya lalu tersenyum miring. "Dek Annisa.. tidak akan pernah menyukai mu, karena aku telah mencemari otak nya," ucap Alan dengan nada pelan namun tegas.
"Sialaan..." geram Egi melayangkan tinju ke wajah Alan beberapa kali hingga meninggalkan jejak biru di pipi Alan dan keluar kembali tetesan darah dari hidung dan sudut bibir nya.
Menarik kerah kemeja Alan dengan kasar. "Apa yang kau tunjukkan pada Annisa ku hah?" Teriak nya dengan nada kesal. Kemudian menghempaskan kembali dengan kasar kerah baju alan karena melihat alan telah lunglai lemah.
Hah... mendengus kesal. Lalu Egi membersihkan dan membuang kain kasa yang robek di tangan nya.
Kemudian egi melirik dan tersenyum ramah ke tuan Atmadja yang tampak nya hanya berdiri tidak bisa mencegah apa yang egi lakukan ke anak nya. "Maaf tuan besar Atmadja, saya kelepasan... kalau begitu saya permisi karena istri saya telah menunggu," ucap Egi dengan suara tegas dan tenang.
Egi dengan santai melangkah menuju anak tangga untuk menemui Annisa di lantai dua. Meninggalkan lantai dasar begitu saja.
Tuan Atmadja menatap iba terhadap anak nya kemudian menghembuskan napas kasar. "Bawa dia!" Perintah nya dengan mengisyaratkan mata pada beberapa bodyguard nya, agar membawa Alan keluar dari villa itu untuk di naikkan ke dalam mobil.
Alan yang sudah lunglai babak belur akibat pukulan dari egi. Di giring oleh beberapa bodyguard mengikuti tuan Atmadja menuju pintu keluar.
__ADS_1
Dan Jhon yang di tugaskan oleh Ayah putra untuk mengawasi dan mengatur keadaan di villa itu untuk Egi. Ia tetap berdiri hanya menggiring mengantar sampai pintu keluar, untuk kepulangan tuan Atmadja menaiki mobil.
Menepuk keras pundak Jhon. "Sampaikan maafku pada tuan besar Putra. Aku akan lebih mendidik anak ku, dan mohon ku agar tuan besar putra tidak mengambil tindakan yang di luar kesepakatan," tutur tuan Atmadja.
"Baik tuan Atmadja, akan saya sampaikan."
-----------
Beberapa bodyguard yang di perintahkan menjaga Annisa, segera memundurkan langkah menuruni lantai dua saat bersamaan egi menaiki lantai dua. Para bodyguard itu pergi meninggalkan villa tersebut untuk mengikuti tuan nya yang telah di bawa ke mobil.
Sehingga meninggalkan Annisa sendiri meringkuk terduduk lemas di sisi ranjang karena tubuh nya terasa tidak ada tenaga juga kepala nya masih berputar limbung.
Egi memutar kenop pintu kamar yang dimana Annisa berada di dalam nya. Dan membuka nya lebar agar diri nya bisa masuk ke dalam. Ia mengedarkan pandangan nya mencari sesosok wanita yang saat ini memenuhi otak dan kecemasan dalam hati nya.
Tatapan Egi terhenti pada wanita yang meringkuk lemah di sisi ranjang. Seketika binar kelegaan dari sorot mata nya melihat wanita yang di cari nya telah tertangkap oleh indra penglihatan nya. Egi dengan langkah pelan ia mendekati Annisa.
"Annisa," panggil Egi pelan namun jelas setelah diri nya berjongkok bertumpu dengan satu lutut di hadapan Annisa.
Mendengar suara yang amat di kenal dan di harapkan, Annisa menengadahkan pandangan nya menatap ke arah orang yang ada di hadapan nya.
"Egi... kau kah itu?" tanya Annisa seakan tidak percaya dengan yang di lihat nya karena pandangan nya masih terlihat buram oleh rasa pusing yang berdenyut.
Egi mengangguk dan tersenyum, lalu mengulurkan sebelah tangan nya untuk mengusap wajah Annisa yang terlihat pucat dan layu. "Hemm... ini aku," gumam nya meyakinkan Annisa.
Annisa menyipitkan mata nya untuk menajamkan penglihatan nya terhadap egi, lalu setelah yakin yang di hadapan nya adalah egi. Segera Annisa berhambur memeluk tubuh egi dengan erat dan membenamkan wajah nya ke dada egi. "Akhirnya kau.. kau ada di sini egi... aku sangat takut," ceracau Annisa dengan nada bergetar dalam pelukan egi.
Mengusap pelan puncak kepala annisa dan membalas pelukan nya. "Maafkan aku, karena datang terlambat," ucap egi.
Annisa semakin erat dan mencengkram kuat mantel yang di pakai egi, untuk menyalurkan rasa sakit di kepala nya."Tidak apa... yang ter..penting kau da..tang...," gumam Annisa terbata karena air mata nya telah beranak pinak di sudut mata.
"Aku di sini Annisa, jangan takut lagi," ucap Egi menenangkan sembari terus mengusap puncuk kepala dan membalas pelukan Annisa semakin erat.
Namun tiba tiba pelukan tangan Annisa yang melingkari pinggang egi mengendur tangan nya lunglai, annisa kembali tak sadarkan diri lagi.
Merasakan pelukan Annisa melemah, egi mengguncang pundak annisa dengan cukup kuat. "Annisa... hey, kau tidak apa apa," ucap egi. Lalu menghalau kepala annisa yang ada di pelukan nya ke sebelah lengan agar bisa melihat wajah annisa.
Egi sedikit kaget melihat annisa memejamkan mata nya dengan wajah yang putih pucat. Menepuk pelan pipi Annisa. "Annisa ku, sayang jangan menakutiku.. bangun dan buka mata mu," ucap egi.
Karena tidak mendapat respon dari annisa, dengan gerakan kehati hatian egi menyelipkan lengan nya di antara tengkuk lutut annisa untuk memangku dan menggendong annisa agar di baringkan ke ranjang.
"Jhon!" Teriak egi menggema. Setelah diri nya membaringkan annisa di atas kasur.
Seperkian detik, jhon yang di panggil egi segera memasuki kamar dengan langkah cepat. "Iya tuan egi," sahut jhon yang telah berdiri di hadapan egi.
"Cepat panggilkan dokter!" titah Egi.
__ADS_1
"Baik tuan egi," jawab Jhon lalu segera berbalik meninggalkan Annisa dan Egi di dalam kamar.
BERSAMBUNG...