Pejuang Move On

Pejuang Move On
Perdebatan Ray & Rika


__ADS_3

"Ekhem...," dehem seorang pria yang berada di belakang kursi Annisa sambil memegang nampan yang berisi dua gelas minuman juga dua mangkuk kecil klapertrat panggang.


Rika mendongak menatap ke arah orang yang berdiri di belakang kursi annisa. "Itu pesanan meja ini kan? Kenapa lama sekali yah baru di anterin sekarang," ucap Rika terselip nada kesal.


Pria itu berjalan setengah memutari meja dan kini berdiri tepat di samping meja. "Santai mbak, saya juga tahu ini pesanan meja kalian. Dan sengaja di lama lamain nganter nya," ucap Pria itu sambil menaruh nampan ke atas meja.


"Ray," celetuk Annisa dengan mata sedikit melebar menatap Ray di hadapan nya


Ray menoleh ke arah annisa dan tersenyum mengedipkan sebelah mata. "Hay, bidadari tak bersayap ku, kita bertemu lagi sudah sekian lama waktu memisahkan kita, makin cantik dan bersinar saja kamu Nisa, bidadari ku," ucap Rayhan dengan gombalan nya.


"Howek...," gaya Rika seakan ingin muntah menutupi mulut nya dengan sebelah tangan. "Kamu kenal Nis sama orang gila ini, kok aku geli yah dengerin omongan nya yang barusan," ucap Rika dengan bergidik ngeri.


Annisa tertawa pelan dan mengangguk mengiyakan. "Dia teman suami ku, dan memang dia orang nya suka humor Rik," ucap Annisa mencari alesan, lalu menatap Ray kembali yang masih berdiri menatap ke arah nya.


"Ray kerja di sini?" tanya Annisa melihat penampilan Ray yang memakai seragam bartender seperti yang di pakai karyawan kafe itu.


Ray menarik kursi dekat Annisa dan menduduk kan diri. "Iya." Jawab nya.


"Hey, bang siapa yang ngizinin duduk di mari!" Tegur Rika.


Menoleh ke arah Rika dan mengangkat sebelah alis. "Abang abang emang gue abang lo. Dan serah gue dong mau duduk atau kagak, lagian gue duduk bukan pengen ngobrol sama lo, tapi karena ada...," ucap Ray sewot lalu beralih menatap hangat ke Annisa dan tersenyum. "Karena ada bidadari tak bersayap di sini," lanjut nya.


Ternyata teman nya si Egi jago ngerayu juga. Biasanya tipe kayak gini cowok playboy.


"Eh...," Annisa tersenyum canggung.


"Biasa aja lah, gak usah nyolot juga. Lebay amat dah nih cowok. Nis suami mu kagak lebay kayak gini kan, soal nya temen suami mu kayak nya otak nya kurang seperempat deh." Cibir Rika kemudian menyuapkan satu sendok klapertart kemulut nya.


Annisa hanya mengulas senyum kepaksa sambil meminum jus melon.


Aku harus jawab apa? Takut si Ray kesinggung.


"Enak aja lo bilang otak gue kurang seperempat. Lo tuh kalau dari wajah keliatan kalem, tapi sayang punya mulut kayak emak emak," ujar Ray kesal.


"Emang gue calon emak emak. Tapi lo, lebay calon banci yah," ejek Rika menambah kekesalan Ray.


"Lo," tunjuk Ray ke arah Rika. "Mata lo picek yah, wajah tampan badan atletis kayak gue di bilang banci," sewot Ray.


"Narsis amat sih bang, tampang pasaran gitu sampe PeDe ketinggian," sahut Rika.


Mereka baru juga bertemu, dan satu meja. Kenapa malah berdebat gini.


Annisa yang menyaksikan perdebatan kedua nya, memandang secara bergantian dan menelan ludah bingung harus ngapain.


"Hey! Diam!" Bentak Annisa menghentikan perdebatan Ray dan Rika sekaligus membuat hampir seisi kafe melihat ke arah meja nya.


"Duh kayak nya ke kerasan deh suara ku," gumam Annisa melirik sekitar nya. Lalu mengulas senyum ramah pada orang orang yang tengah menatap ke arah meja nya. Dan Annisa kembali menatap dua orang yang terbengong menatap ke arahnya.


"Emang kalian ini sudah saling kenal?" tanya Annisa pada dua orang yang ada di hadapan nya.


Rika dan Ray yang menatap bengong ke annisa, menggelengkan kepala bebarengan. "Nggak," jawab kedua nya serempak.


"Terus sudah kenalan?" tanya Annisa lagi.


Kedua nya menggelengkan kembali kepala nya. "Kagak," jawab Rika dan Ray.


Rika kembali mendelik sebal ke Ray. "Lo napa ikut ikutan aja ucapan gue," seloroh nya kesal.


"Siapa juga yang ngikutin lo. Nisa bertanya jadi wajar gue jawab, emang kenyataan nya gue kagak kenal sama emak emak kayak lo," ketus Ray.


Annisa menghela napas dalam dalam. "Kalian bisa diam tidak. Ini itu di tempat umum, tidak malu di lihatin banyak orang, baru kenalan sudah berdebat kayak gini," ucap Annisa melerai Rika dan Ray.


"Kenalan sama cowok alay kayak gini. Dih ogah gue," sewot Rika.

__ADS_1


"Emang gue mau kenalan sama lo, jangan sok ke cakepan lo. Wajah rata kagak ada bentuk nya gitu mau kenalan sama gue yang jelas sempurna, jangan mimpi!" Jawab Ray tak kalah ketus.


Lagi lagi Annisa menghela napas panjang. Lalu mengaitkan tas ransel yang ada di kursi kosong ke sebelah pundak. "Jika kalian hanya berdebat seperti ini terus, lebih baik aku pulang saja, dan soal makanan aku yang bayar Rik," ucap Annisa hendak bangkit dari duduk.


Seketika Rika dan Ray yang tengah saling menatap sinis mendengar ucapan Annisa sontak kedua nya menoleh ke annisa.


Rika meraih tangan Annisa. "Jangan pergi Nis. Maaf aku membuat mu malu, tapi jangan pergi gitu dong, aku kan kesini mau bertemu sama kamu," ucap Rika mencegah Annisa.


"Maaf bidadari tak bersayap, telah membuat keributan, tapi benar kau jangan pergi, aku duduk di mari juga karena ada kamu," ucap Ray merasa bersalah.


Annisa duduk kembali dan menatap kedua nya secara bergantian. "Baiklah, tapi kalian harus baikkan dan kenalan satu sama lain dengan cara yang baik, jangan cekcok kayak gini. Aku jadi bingung, padahal kalian baru bertemu tapi sudah akrab dan seperti punya permusuhan saja di antara kalian," tutur Annisa menyipitkan mata menyelidik.


"Bukan permusuhan Nis. Tapi sikap dia yang lebay dan sok nya itu yang bikin aku ingin langsung mengkritik, dan eh ternyata orang nya tidak mau ngalah," jawab Rika menatap eneg ke Ray.


"Huss... Rika jangan begitu mengkritik orang," ucap Annisa lalu menoleh ke Ray. "Maaf Ray memang Rika itu orang nya ceplas ceplos kalau ngomong, jadi mohon di maklumi," ucap Annisa pada Ray.


"Cih!" Decih Ray menatap sinis ke Rika. Lalu menoleh menatap hangat ke annisa. "Tidak apa Nisa bidadari tak bersayap ku, tapi menurut mu aku lebay nggak, Nisa?" tanya Ray.


Tersenyum canggung. "Se..sedikit," jawab Annisa jujur.


Rika tertawa senang. "Haha... tampang nya sih imut tapi kalau ucapan jangan ikutan alay kayak banci," oceh Rika di sela tawa nya.


"Kalau mau muji tampang gue tampan. Jangan di akhiri hujatan banci di belakang nya, emak emak," sahut Ray kesal.


Rika berhenti tertawa dan meminum jus nya. "Hah... sudahlah, gue capek ribut sama nih banci. Oke kenalin aja lah, lumayan dapet cowok banci kayak lo juga. Nama lo siapa?" tanya Rika menyerah untuk berbaikkan.


"Rayhan. Dan lo?" Jawab Ray.


"Rika," jawab Rika sambil menyuapkan makanan yang dari tadi di anggurin.


Annisa tersenyum melihat kedua nya yang akhirnya akur. "Nah gitu kan enak di denger dan di lihat," ucap Annisa kemudian ikut memakan klapertart di mangkuk yang ada di hadapan nya.


"Aku hanya tidak ingin membuat Nisa malu di lihatin orang sekitar meja," ucap Ray menatap Annisa.


Mengusap tengkuk leher nya. "Nggak lah, aku kenal dekat manager kafe jadi bebas gak bakal ada yang marahin," jawab Ray tersenyum tipis.


"Ah, masa ada bos sebaik itu. Bisa malas malasan dong lo kerja di mari, enak bener," seloroh Rika ikut menimpali obrolan Annisa dan Ray.


Dan terjadilah percakapan di antara ketiga nya, dengan kadang di selingi oleh perdebatan Ray dan Rika yang tidak mau kalah.


Selang beberapa waktu kemudian.


Kriing...kriing. Ponsel Ray berbunyi. Segera Ray merogoh ponsel yang ada di balik saku celana nya.


Ada seringaian di bibir Ray ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel. Kebetulan, kerjain Ah...


"Aku angkat telpon dulu kalian lanjutkan ngobrol nya," ucap Ray yang di balas anggukkan kepala oleh Annisa.


"Tinggal angkat aja. Napa lo izin ke kita," ketus Rika.


"Gue nelpon mau di mari, malas jalan ngejauh nya," sahut Ray kemudian menggeser kursor untuk mengangkat panggilan tersebut.


Sementara Annisa dan Rika kembali melanjutkan obrolan namun dengan suara sedikit pelan.


"Hallo bro," sapa Ray.


"Lo dimana?" tanya Egi.


"Ya di kafe lah, dimana lagi. Ada apa lo telpon gue? Kirain bebeb gue yang telpon malah lo," jawab Ray santai.


"Masalah kerjaan kafe, lo urus semua. Soal laporan biasa kirim lewat email saja, untuk sekarang dan kedepan nya gue kagak bisa dateng ke kafe secara sering," tutur Egi dengan nada suara tegas dan memerintah.


"Rebes lah, gue juga udah tahu masalah lo dari bang Jhon, yang kata nya gak bisa ke mari sering sering," ucap Ray lalu melirik Annisa yang tengah meminum jus. "Tapi lo yakin hari ini kagak mau kemari, ada yang spesial loh," goda Ray.

__ADS_1


"Spesial? Apa?" tanya Egi yang mulai kepancing omongan Ray.


"Dengerin nih," ucap Ray lalu sedikit memiringkan tubuh mendekati Annisa dan menjauhkan ponsel dari telinga nya ke arah Annisa yang tengah asyik mengobrol tanpa menyadari jika Ray sedang menelpon dengan Egi.


Ray kembali menempelkan ponsel ke telinga nya. "Gimana denger kagak, suara siapa itu," ucap Ray dan tersenyum senang.


"Ray! Apa itu Annisa istri gue?" tanya Egi dengan suara menggeram kesal.


"Wah, tepat sekali tebakan anda," jawab Ray.


"Jangan bilang kalian lagi makan bersama," suara Egi semakin menggeram oleh amarah.


"Bukan makan bersama saja, lebih tepat nya bercengkrama bercerita seperti hal nya ngedate," ucap Ray memanasi Egi.


"Berikan ponsel nya pada Annisa!" Teriak Egi di sebrang sana.


Ray menjauhkan ponsel nya dari telinga karena mendengar suara Egi yang meninggi. "Santai napa bro, telinga gue sakit woy."


"Berikan ponsel nya pada Annisa!" Teriak Egi kembali masih dengan suara bentak kan.


"Iya... iya, berisik amat dah." Oceh Ray namun ada senyuman puas karena berhasil membuat Egi marah. Lalu Ray menyodorkan ponsel nya ke Annisa.


Seketika obrolan Annisa dengan Rika terhenti dan menatap bingung ke Ray. "Ada apa Ray?" tanya Annisa.


"Egi pengen ngomong," ucap Ray.


Egi? Jadi dari tadi yang menelpon itu si Egi. Apa dia nggak bakalan marah karena ada si Ray di sini?


Dengan gerakkan ragu Annisa mengambil ponsel Ray, dan menempelkan ke telinga nya. "Ha...hallo," ucap Annisa tercekat di tenggorok kan nya.


"Pulang sekarang," titah Egi dengan nada suara tegas dan dingin.


"Eh, ma..maksud mu apa Egi?" tanya Annisa memastikan.


"Kau tidak dengar. Pulang sekarang juga ke rumah!" titah Egi masih dengan intonasi yang sama.


Dia seperti nya masih marah, mendengar nada suara nya saja bisa ngebayangin wajah dingin dan tatapan tak terbaca nya itu. Hah... sebaik nya aku menuruti nya saja, dari pada si Egi semakin marah dan susah di bujuk.


"Kau dengar tidak! pulang! Aku akan telpon dalam waktu 15 menit, jika kau masih saja ada di sana, terima hukuman mu saat aku pulang nanti," tegas Egi kemudian panggilan pun terputus sepihak.


Annisa terlongo menatap layar ponsel yang sudah meredup. Lalu mengembalikan ponsel ke Ray yang tengah menatap nya.


"Ada apa Nis?" tanya Rika khawatir melihat raut wajah Annisa yang berubah jadi sedikit linglung.


Annisa menengadahkan pandangan menatap rika dan Ray. "Aku akan pulang sekarang rik. Kamu tidak apa apa kan di tinggal?" tanya Annisa.


"Ah, tidak apa Nis. Lagian udah mau magrib juga, sepertinya aku juga mau pulang," ucap Rika.


"Ya sudah aku yang bayar yah, kita pulang bareng kan searah jalan nya," ucap Annisa bangkit dari duduk nya dan mengaitkan ransel ke pundak.


Rika ikut berdiri. "Biar aku saja Nis."


Ray yang masih duduk menatap kedua wanita yang sudah berdiri di hadapan nya. "Sudahlah, biar aku saja yang traktir kalian. Laki gantle man," ucap nya bangga.


"Wah bener nih lo bayarin, makasih kali kali traktir lagi yah," sahut Rika.


"Boleh lah, itung itung pajak perkenalan. Oh iya mau di anterin Nisa?" tawar Ray menatap Annisa.


"Ah, tidak usah... kita bisa naik taksi, dan makasih traktiran nya," tolak Annisa sambil mengambil paper bag yang isi nya kotak kado dari Alan.


Menghembuskan napas kecewa. "Ya sudah aku tak memaksa. Hati hati di jalan saja Nisa," ucap Ray yang di balas anggukkan kepala dan senyuman oleh Annisa juga rika.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Setelah Membaca Budayakan Tekan Tombol LIKE dan Tinggalkan JEJAK yaaa. Biar tambah semangat Author nya.


__ADS_2