Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 29


__ADS_3

"Nisa sudah sampai belum yah?" gumam Rika setelah diri nya turun dari taxi dan berdiri di depan kafe brandal.


Dia melangkah masuk ke dalam kafe yang sudah ramai oleh pengunjung. Pandangan mata nya ia tuju kan pada sudut depan ruangan dekat jendela besar, dimana sofa melingkar terletak dan sudah menjadi tempat khusus untuk mereka nongkrong.


"Mak." Dari kejauhan Ray melambaikan tangan dan tersenyum ceria, menyambut.


Gadis manis yang sempat berdiri diam, dengan memasang wajah cemberut sebal ia melangkah menghampiri pria tampan itu.


"Lo gak ke kafe cabang?" tanya Rika sembari duduk di sofa panjang sebrang dekat Ray.


"Kagak, sudah ada manajer lain juga yang urusin."


Rika menyodorkan paper bag sepatu. "Makasih udah pinjemin. Udah gue cuci bersih."


"Apa ini?" Mengambil dan melihat isi paper bag. "Kenapa lo balikin? Buat lo aja, biar couple an sama gue."


"Ngaco lo, Ray. Dimana-mana couple an itu sama pasangan kekasih." Rika mengangkat sebelah tangan untuk memanggil pelayan.


Ray tertawa pelan. "Kalau gitu lo jadi pacar gue aja. Biar bisa couple an."


"Ck, Ogah." Rika berdecak sehingga ujung bibir nya terangkat mengkerut di sekitar hidung.


"Napa? Harusnya lo kan bilang 'iya' secara gue kan ganteng, baik, pekerja keras-"


"Dan playboy... Dah ah hari ini gue lagi gak mood becanda. Gue haus pengen minum." Oceh Rika mengibaskan sebelah tangan lalu mengambil buku menu.


Ray terkekeh geli, tangannya terulur mengusap gemas puncuk kepala gadis manis di dekat sofa nya itu.


Padahal gue nggak becanda, Rik. Soal ingin menjadikan lo pacar bahkan istri gue.


Plak.


Tiba-tiba sebuah tangan besar dengan kasar mengeplak tangan Ray yang masih berada di puncuk kepala Rika.


"Ck, siapa yang berani memukul tangan gue!" Geram Ray berbalik melihat siapa yang memukul nya tadi.


"Sudah di peringatkan, dia bukan anak kecil. Jangan mengusap kepala nya seperti itu." Sahut seorang pria tampan berjas rapih berdiri di belakang sofa yang di duduki Rika.


Rika yang tengah melihat isi buku menu, ia menangkap suara yang begitu di rindukannya juga di harapkannya, dengan gerakan perlahan pelan. Dia menolehkan kepala ke arah belakang. Seketika bola mata nya melebar dengan bibir sedikit terbuka. "J-jo-jo."


Jhon beralih menatap tak terbaca pada gadis manis itu, ia melangkah memutari sofa dan duduk tepat di sebelah Rika. Sehingga tampak Rika di tengah-tengah kedua pria tampan tersebut.


Rika masih menatap terpaku tanpa berkedip mengikuti pergerakan pria di sampingnya.


Ini bukan mimpi kan? Jojo sekarang ada di hadapan ku.


Ray yang melihat ekspresi yang di tunjukkan Rika, ia merasakan berdenyut di hati nya dan tersenyum kecil nan pahit. "Ekhem," dehemnya cukup keras membuat Rika terlonjak dari keterpakuannya.


Rika menundukkan pandangan, menyembunyikan pipi nya yang merona merah.


Ah, Jojo benar-benar ada di sisi ku.


"Egi kemana, bang? Kok malah abang yang tak di undang, yang datang kemari." Ray bertanya, sembari memesan beberapa minuman juga dessert pada pelayan yang sedari tadi berdiri di antara nya.


"Nona Annisa melihat kedai penjual gado-gado di depan. Jadi mampir dulu ke sana." Jhon menjawab dengan pandangan menatap lekat ke gadis manis di sebelahnya. "Hey, gadis bodoh. Bagaimana kaki pincang mu, sudah bisa di gunakan?"


"Eh," Rika terhenyak, mengangkat wajahnya melirik. "Sud-sudah." Lidahnya masih tajam saja.


"Hmph...," Jhon menghela napas pelan, ia tersenyum kecil menatap gadis yang terlihat tersipu malu itu "Kelihatannya kau hidup cukup baik selama ini."


"Jojo," ucap Rika mengangkat wajahnya menatap Jhon. "Apakah aku terlihat baik-baik saja di mata mu?"


Jhon tertegun terdiam menatap bola mata hitam di hadapannya yang terlihat sayu nan sendu.


Ray yang memperhatikan interaksi kedua nya. Hanya bisa diam, dengan tangan terkepal dan mengkeratkan gigi geram.


Bersamaan itu, sepasang suami istri datang bergabung ke arah mereka.


"Ehem, ekhem, napa suasana nya sepi gini." Celetuk Annisa membuyarkan suasana yang mencekam. Wanita cantik itu duduk di sofa panjang paling ujung dekat pohon hias.


Egi meletakkan dua kantung kresek berisi beberapa mangkuk berukuran sedang ke atas meja. Lalu ia duduk dekat Jhon dan di samping istrinya.


"Ah, Nisa. Bawa apa tuh?" tanya Rika mengalihkan kecanggungan.


"Ini gado-gado. Aku bawain buat kalian," timpal Annisa sembari melepaskan mantel panjang dari tubuhnya di bantu oleh suaminya.


"Ray, dah pesen minum?" Egi bertanya, sembari membongkar kresek yang berisi satu porsi gado-gado di mangkuk berukuran besar.


"Dah lah, tinggal tunggu aja." Kemudian Ray, beralih melirik Rika. "Mak, lo mau? Gue ambilin buat lo."


Rika mengangguk kecil. "Boleh, yang pedes nya nggak terlalu."

__ADS_1


Ray hendak meraih kantung kresek yang berisi beberapa mangkuk itu, namun tiba-tiba gerakannya terhenti.


"Biar aku ambilin." Jhon mendahului menyambar kantung kresek itu. "Yang mana yang paling pedas?"


Egi yang tengah menyuapi Annisa menoleh. "Sama aja pedas nya sedang."


Jhon mengangguk kecil, mengambil dan membuka kan tutup mangkuk lalu meletakkannya ke pegangan tangan Rika. "Kelihatannya cukup pedas. Jangan terlalu banyak memakannya, bisa kena diare nantinya."


Rika tersenyum hangat, mengangguk. "Iya, Jojo."


"Bang, punya ku mana?" Ray merajuk sebal.


Jhon menjauhkan kresek itu ke ujung meja. "Kau punya tangan kan? Ambil sendiri."


"Ck." Ray melirik sewot sambil bangkit untuk meraih kantung kresek itu.


Selama beberapa saat, suasana hening. Mereka tampak menikmati makanan yang sedang di santap yaitu gado-gado, juga pesanan dessert dan minuman pun telah di antarkan ke meja mereka.


"Aku mau nya minum jus lemon, bukan melon." Annisa membuang muka saat pipet yang di sodorkan oleh Egi ke arah bibirnya.


"Nanti pesen lagi, sekarang minum dulu yang ini, sayang. Kamu kan habis makan yang pedes." Egi memaksa menyodorkan pipet jus melon ke arah bibir istrinya.


Annisa menghela napas pelan, ia dengan enggan menyeruput air jus berwarna hijau itu dengan beberapa teguk an.


Egi tersenyum, mengusap bibir basah Annisa, dan ikut menyeruput jus dengan pipet bekas istrinya.


Sementara tiga orang lainnya, tampak anteng memakan makanannya dengan dua pria sibuk memainkan ponsel sambil makan gado-gado sedang Rika sesekali melirik menatap wajah tampan Jhon yang terlihat serius menatap layar ponsel.


Annisa melihat sekitar kafe yang terlihat ramai oleh pengunjung, namun sepi oleh alunan musik yang biasanya ada sebuah pentas di panggung kecil depan meja pengunjung. Kemudian bola mata nya ia lirikkan pada seorang gadis manis yang tengah menyeruput lemon tea. Dia tersenyum penuh arti. "Rik." Panggilnya membuat Rika menoleh ke arahnya.


"Iya, Nis."


"Aku kangen suara piano yang di ciptakan oleh jemari mu, bisakah kamu mainkan satu lagu saja. Kebetulan tuh di panggung juga lagi kosong."


"Hah!" Gelagap Rika menelan air lemon tea dalam mulutnya sekaligus. Ia meletakkan gelas jangkung itu ke atas meja.


"Sayang," Egi memegang jemari Annisa dan memberi tatapan isyarat. Jangan membuat malu teman mu.


Annisa membalas dengan tatapan masa bodo. Lalu beralih menatap Rika. "Gimana Rik, mau kan? Ini kemauan si bayi kayak nya."


Rika sejenak menatap ragu. Namun akhirnya mengangangguk pelan. "Ba-baiklah."


"Tenang aja lah. Lagu twinkle twinkle littel star aja gue masih bisa."


"Itu artinya lo kagak bisa sendiri. Kalo gitu biar gue temenin aja lah. Daripada nanti bikin malu." Ray berucap sembari memasukkan ponsel ke saku jas.


"Begitu lebih bagus tuh." Annisa menyetujui ide Ray.


Rika menatap Annisa dan beralih melirik Ray. "Y-ya boleh deh." Dengan ragu mengiyakan.


Jhon hendak membuka bibirnya menyangkal ide itu. Namun terputus karena Ray menyadari itu dan langsung tiba-tiba beranjak berdiri.


"Kalo gitu, gue kesana dulu buat nyiapin pentas kecil lo." Dia menatap sinis pada Jhon dan tersenyum miring penuh kemenangan, kemudian Ray berjalan pergi menuju ke sebuah ruangan.


Jhon menatap tak terbaca pada kepergian Ray, lalu ia melirik Rika dengan tatapan tak suka penuh protes. Namun sayangnya, gadis manis itu tak menyadari tatapan mata Jhon. "Gadis bodoh...," gumamnya pelan tak terdengar oleh siapa pun.


Beberapa waktu kemudian.


Lampu panggung pentas yang semula padam, menyala seiring dengan seorang pria menaiki panggung itu.


"Tes-tes, selamat sore semua nya." Sapa pria tampan yang mereka kenal, memulai bersuara di mikrofon.


Seketika semua orang yang berada di meja masing-masing memutar kepala nya mengarah ke arah panggung.


Pria itu tersenyum hangat setelah mendapat respon baik dari para pengunjung, kemudian pandangan mata nya menatap ke arah sudut ruangan yaitu ke arah sofa yang di duduki Rika.


"Di sore hari yang tenang, santai ini akan lebih nikmat dan afdol jika di iringi sebuah lagu yang meng-enakkan hati. Ada seorang gadis manis yang berada di sofa panjang, dia bersedia menyumbangkan alunan musik nya untuk menciptakan suasana itu. Dan pasti nya akan saya temani juga, oke langsung saja, kita panggil gadis itu." Ray mengedipkan sebelah mata, dengan melambaikan sebelah tangan.


"Hey ratu manis ku, mari kita berduet untuk menghibur para tamu."


"Ray!" Rika berseru sebal. "Genit amat dah, tuh banci." Gerutu nya sembari bangkit dari duduknya menghampiri panggung.


"Cieee...," sorakan para pengunjung menyoraki. "Cuit-cuit...," bahkan beberapa ada yang bersiul.


Annisa tertawa geli, melihat ke arah panggung. "Si Ray nggak pernah berubah yah, masih manis dengan gombalannya."


Egi ikut terkekeh geli. Ia merangkul pinggang dan mengusap puncak kepala istrinya. "Sayang, inikah rencana mu yang ingin membuat si Jhon sadar?" Bisiknya di telinga Annisa.


Annisa mengangguk kecil. Dan melirik Jhon yang ternyata benar, pria itu sudah memasang raut wajahnya berubah masam, menggelap dengan tatapan tajam tak suka ke arah panggung.


"Siapa suruh kak Jhon mengabaikan Rika sampai dua minggu lama nya. Biar tahu rasa juga kak Jhon."

__ADS_1


Egi mencium kilas pipi Annisa. "Kamu tahu dia mengabaikan teman mu dari mana?"


"Aku sahabat satu-satu nya yang di miliki Rika. Jelas kalau ada apa-apa dengan sahabat ku, pasti aku tahu karena tempat curhatnya kan hanya aku."


Egi terkekeh, mencubit pelan ujung hidung Annisa. "Istriku ternyata peka sekali."


Di panggung.


Rika telah menduduki kursi kecil di hadapan keyboard piano, sementara Ray duduk di sampingnya dengan memangku gitar dan dua mikrofon mengarah ke Rika juga Ray.


"Mau nyanyi apaan?" Bisik Rika memutar setengah tubuh mengahadap Ray.


Ray mengedikkan dagu ke arah kertas lirik lagu yang menempel terjepit di dekat piano. "Ikuti aja liriknya, tulisan berwarna biru gue yang nyanyiin dan yang merah itu lo yang nyambung. Ini kan lagu duet."


Rika menatap cermat pada selembar kertas itu sejenak. Lalu melirik Ray. "Oke gue dah ngerti, mulai aja langsung." Ucapnya yang di balas anggukkan kepala oleh Ray.


Dia kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah piano dan mulai menyentuhkan jemari lentiknya ke atas tuts berwarna putih hitam.


Ray ikut mengimbangi dengan petik an gitar yang di petik oleh jemari nya. Sehingga menciptakan alunan musik yang indah dan enak di dengar. Kemudian di pertengahan nada. Pria tampan itu, mulai mendekati mikrofon dan bernyanyi sembari menatap Rika.


Ucapkanlah kasih.


Satu kata yang ku nantikan.


Sebab ku tak mampu membaca mata mu.


Mendengar bisikmu.


Setelah bernyanyi satu bait, Ray mengedikkan dagu sebagai isyarat. Yang langsung di mengerti Rika ikut bernyanyi sembari membaca lirik lagu.


Nyanyikanlah kasih.


Senandung kata hati mu.


Sebab ku tak sanggup.


Mengartikan getar ini.


Sebab ku meragu pada diri mu.


Setelahnya Rika kembali fokus menggerakkan jemari nya di atas tuts mengikuti lirik nada di selembar kertas itu.


Sedang Ray melanjutkan bernyanyi dengan pandangan masih melekat menatap Rika penuh harap, dan menghayati setiap kata yang di nyanyikannya.


Mengapa berat. Ungkapkan cinta.


Padahal ia ada. Dalam rinai hujan.


Dalam terang bulan. Juga dalam sedu sedan.


Mengapa sulit. Mengaku cinta.


Padahal ia terasa. Dalam rindu dendam.


Hening malam. Cinta terasa ada.


Semua para pengunjung begitu menikmati nyanyian yang di mainkan dua insan di atas panggung itu. Senyuman juga tatapan hangat dari para pengunjung membuat Rika tersenyum senang. Begitu pun dengan Egi dan Annisa, sangat menikmati alunan musik yang di nyanyikan Ray.


Namun tidak dengan salah satu pria yang sedari awal Rika menaiki panggung. Dia sudah memasang wajah gelap penuh amarah, tangannya terkepal kuat dengan geraham yang mengkerat geram. Ia menatap tajam tak suka ke arah Ray yang terus menatap minat pada gadis manis yang sedang memainkan piano.


Egi mengambil gelas minum yang kebetulan dekat dengan adanya Jhon. Alisnya terangkat sebelah, dengan sudut bibir terangkat sedikit. "Kau cemburu Jhon."


"Iya." Sahut cepat, Jhon tanpa mengalihkan pandangannya dari panggung.


Egi terkekeh geli, meminum jus strawberry. "Kalau cemburu, itu artinya kau tertarik dengan temannya Annisa."


"Iya." Sahut Jhon lagi tanpa mencerna ucapan Egi.


Egi menepuk sebelah pundak Jhon. "Akhirnya, kau mengaku tertarik juga pada wanita itu."


"Hah!" Tersadar Jhon menoleh bingung. "tertarik? Kapan saya bilang begitu?"


Egi tertawa senang, masih menepuk bahu Jhon. "Barusan... Sudah akui saja Jhon, dari pada wanita mu di rebut oleh si Ray." Kemudian Egi mengedikkan dagu ke arah panggung yang ternyata pentas nya telah selesai. "Lihatlah, tatapan matanya, si Ray terhadap wanita itu. Sangat jelas jika dia mempunyai ketertarikan dan rasa suka terhadap temannya Annisa itu."


Jhon menghela napas pelan, tersenyum miring tak menjawab ucapan Egi. Dia melepaskan tangan Egi dari pundaknya lalu mengambil gelas minumnya untuk di tenggak.


Kalau bersaing dengan si bocah tengik tak masalah, karena pasti aku yang akan menang. Hanya saja ada satu saingan lagi yang akan sulit untuk di hadapi.


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...

__ADS_1


__ADS_2