Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 2


__ADS_3

Annisa menatap bingung pada dua orang pria berjas rapih, yang ada di hadapannya.


"Pak Tio, kenapa saya harus di kawal lagi? Suami saya sudah pulang, kenapa kalian masih mengikuti saya?" tanya Annisa.


Pak Tio menundukkan kepala sebagai hormat. "Tuan Egi yang memerintahkan. Saya hanya menjalani tugas," jawabnya.


Annisa menghembuskan napas kasar, berbalik melangkah ke arah pintu geser otomatis untuk memasuki rumah sakit.


Kiarin aku akan terbebas dari dua orang ini. Tapi ternyata masih tidak bisa bebas.


Begitu melangkahkan kaki ke dalaman rumah sakit, Annisa langsung di sambut oleh tatapan orang orang sekitar yang melihat nya, dengan tatapan takjub, dan ada tatapan iri dari sorot mata para wanita dengan senyuman kecil namun sinis. Annisa mengedarkan pandangannya, Alis Annisa sedikit berkerut. Lalu menengok sejenak ke belakang, dimana dua bodyguard nya berada.


Aneh, kenapa semua orang menatap ku seperti itu? Ada apa yah? Jadi serasa deja vu lagi.


Annisa menghembuskan napas pelan, Ia membelokkan langkah kaki nya menuju lorong yang menghubungkan ke ruangannya yang berada di lantai dasar. "Pak Tio," panggil Annisa namun tidak menoleh ke orang yang di panggil.


"Iya Nona," Pak Tio salah satu bodyguard nya melangkah maju, berjalan di samping Annisa.


Annisa melihat lagi ke sekeliling nya, yang dimana orang orang dan para perawat masih menatap ke arah nya. "Kenapa mereka menatap saya seperti itu? Apakah ada yang salah dengan penampilan saya?"


"Nona, sepertinya nona belum melihat berita akhir akhir ini? Bahkan di web pencarian nama berita tentang Nona dan tuan Egi menjadi trending topik urutan teratas." Pak Tio menjelaskan, dengan di akhiri senyuman tipis.


Annisa menoleh. Alis nya semakin berkerut bingung. "Trending topik? Memang berita apa?"


"Nona akan tahu setelah memeriksa web nanti," ucap Pak Tio semakin membuat Annisa penasaran.


"Kau membuat ku semakin bingung," Annisa melangkahkan kaki nya ke arah pintu tunggal tempat ruangannya. Ia memasukkan kunci, dan hendak memutar handle pintu. Namun, gerakannya terhenti oleh seorang dua perawat wanita.


"Bidan Annisa," panggil dua perawat wanita itu berjalan menghampiri Annisa.


Annisa menoleh ke arah suara, dan tersenyum. "Iya, ada apa?" Sahut Annisa.


Dua wanita itu berdiri tepat di hadapan Annisa, dan menundukkan pandangannya. "Anu... emm bo-bolehkah kami minta berfoto bersama dengan bidan Annisa?" Ucap salah satu perawat dengan nada ragu.


Annisa tersenyum. "Bo-" ucapan Annisa tergantung.


"Tidak boleh!" Tegas cepat pak Tio, kemudian menghadang kedua nya agar tidak terlalu dekat dengan Annisa.


"Eh," kaget Annisa menatap heran pada punggung tegap, lebar pak Tio.


"Maaf nona nona perawat, Nona kami tidak boleh sembarang berfoto dengan orang asing, jadi harap mengerti," tutur Pak Tio sopan pada dua wanita itu.


Dua wanita perawat tersebut, mendongak menatap pak Tio. "Emm... ba-baiklah jika begitu, maaf bidan Annisa kami kembali bertugas dulu," ucap kedua nya undur diri, menunduk salam dan berbalik meninggalkan Annisa.


Ketika telah melangkah menjauh, kedua nya sempat bergosip.


"Apa gue bilang, bidan Annisa itu susah di deketin, oleh kita kaum biasa. Sok sok an sih lo minta foto bareng," bisik wanita A ke temannya.


"Bener, pertama sih gue nggak percaya kalau dia itu beneran istri dari anak keluarga putra, tapi setelah lihat berita nya, dan keanehan hak istimewa yang dia tempati di rumah sakit ini, gue baru nyadar ternyata bener." Jawab wanita B.


"Kalau sudah kayak gitu, lo jangan berani mengusik nya. Lo tahu tentang kasus si windi anak mantan wali kota yang jadi tahanan selama 20 tahun lebih?" Wanita A menimpali.


"Iya gue tahu persis kasus itu, yang sempat heboh karena bikin malu nama baik pejabat sampe bapak nya di keluarin dari jabatan wali kota nya. Memang jelas nya kenapa tuh? Gue tahu nya dia kena kasus perencanaan pembunuhan dan lainnya." Tanya balik wanita B.

__ADS_1


"Setau dari para senior sih, gara gara menyukai dokter tampan di sini terus cari masalah ke bidan Annisa yang di sukai dokter itu, dia membully bidan Annisa dan membuat nya harus mengalami cedera di kepala, akibat sengaja di dorong ke dalam lift rusak dan terperangkap di dalam nya. Gila kan tuh cewek sampe nekat gitu." Jelas Wanita A.


"Serius lo? Emang setampan apa sih dokter nya? Tuan muda kedua sama tuh dokter tampanan mana?"


"Bener, serius. Jelaslah tampanan tuan muda kedua."


"Wah itu sih keterlaluan juga si windi. Pantas bidan Annisa sampai di kawal bodyguard segala, kalau gue posisi nya di tuan muda kedua juga, gue bakal ngelakuin hal yang sama. Soalnya itu taruhannya nyawa...," ucapan wanita A terhenti.


"Ekhem... petugas rumah sakit ada penggosip juga yah?" Suara wanita berjas medis dari arah belakang menghentikan ocehan wanita A.


Seketika kedua nya menoleh ke belakang, dan tersenyum canggung. "Eh, dokter. Pagi dok." Sapa wanita A.


"Pagi, seneng yah, menggosipin bidan di sini?" Wanita yang di panggil dokter itu bersuara kembali.


Wanita A tersenyum canggung. "Ma-maaf dok, kami permisi," kedua nya menunduk salam dan berbalik hendak berjalan.


"Selain penggosip, ternyata tidak punya sopan santun juga. Saya belum selesai bicara loh, kalian sudah langsung main tinggalin aja." Tutur dokter itu, membuat kedua nya kembali berbalik menghadap nya, dan menundukkan pandangan.


"Maaf Dok. Apa...apa ada yang bisa kami bantu?" tanya Wanita B.


"Saya hanya bertanya, dimana ruangan bidan yang kalian gosipi tadi?"


"Dari lorong ini, belok kanan dan ada dua bodyguard di luar pintu. Itulah ruangan bidan Annisa," jelas wanita B.


Dokter wanita itu mengangguk, kemudian menepuk sebelah bahu kedua nya. "Lain kali jangan menggosipi orang, belum tentu orang yang di gosipi senang meski di bela. Dan terimakasih petunjuk jalan nya," Dokter wanita tersebut, berbalik dan meninggalkan kedua perawat yang menghela napas lega.


Kedua perawat itu, mengangkat wajahnya melihat kepergian wanita berkerudung dan berjas kedokteran itu.


Mengangguk kecil. "Tapi, buat apa dia bertemu bidan Annisa?" Bingung wanita B.


Wanita A berbalik, melanjutkan kembali melangkah di koridor. "Mana gue tahu, tanya aja ke orangnya."


---------------------------


Di kantor perusahaan Putra.


Egi dan Jhon tengah terduduk di sofa membahas beberapa dokumen, terlihat kedua nya sangat serius dalam berbicara dan mengamati.


Kriing...kriing.


Suara ponsel Jhon yang berada di atas meja berbunyi nyaring.


Seketika penjelasan Jhon terhenti, Ia melirik ke layar ponsel nya. Melihat nama yang tertera di layar, Jhon langsung mematikan panggilan tersebut. Lalu Ia kembali menjelaskan isi dokumen yang tengah di pegang nya ke Egi. Namun tidak beberapa lama...


Kriing...kriing.


Ponsel Jhon kembali berbunyi nyaring.


Egi melihat ada raut wajah jengah dari wajah Jhon dan helaan napas sebal ketika menatap layar ponsel itu. "Angkat aja, siapa tahu penting Jhon. Memang siapa si penelpon nya sehingga kau tidak mau mengangkat nya?" tanya Egi yang penasaran karena melihat reaksi wajah Jhon.


Jhon menghembuskan napas kasar, Ia mengambil ponsel nya yang berdering terus, dengan kekesalan Ia menonaktifkan ponsel nya dan meletakkan dengan kasar ke meja. "Nggak penting dari siapa, oke kita lanjutkan lagi tadi sampai mana saya menjelaskan mengenai dokumen ini, tuan Egi?" tanya Jhon mengalihkan topik.


Egi menunjuk ke salah satu tulisan di kertas. "Benefit," ucap Egi singkat.

__ADS_1


Jhon mengangguk dan kembali menjelaskan lagi mengenai dokumen itu, namun baru beberapa patah kata yang keluar dari bibir Jhon, tiba tiba...


Kriing...kriing.


Suara ponsel berdering nyaring, kini bukan berasal dari ponsel Jhon melainkan ponsel Egi.


Egi menginstruksi dengan mengangkat sebelah tangan ke Jhon agar berhenti sejenak. Ia merogoh ponsel nya yang ada di balik jas kantor. "Sepertinya aku tahu panggilan dari siapa kau tadi," ucap Egi tersenyum miring, menatap Jhon yang mendengus sebal. Kemudian Egi mengangkat panggilan itu.


"Walaikumsalam, tante," sahut Egi pada orang di sebrang telpon.


Alis Egi terangkat sebelah, melirik Jhon yang tengah merebahkan punggung ke senderan sofa. "Ada, baik tante akan saya sampaikan... iya, walaikumsalam," ucap Egi, lalu mematikan panggilan telpon itu.


"Apa yang di katakannya lagi oleh si ratu hati?" Jhon bertanya dengan nada suara dingin.


Egi memasukkan kembali ponselnya ke saku jas, Ia tersenyum miring. "Ibu mu bilang, akhir pekan kau harus datang di jamuan makan malam dan jangan ada penolakan jika tidak mau di bilang anak durhaka," tutur Egi.


Jhon menghembuskan napas kasar, memejamkan mata nya sejenak dan memijit pangkal hidung. "Dia pasti berencana menjodohkan lagi, gadis mana yang akan dia kenalkan lagi padaku, dan dia tahu saja, dengan ancaman terakhir yang tidak bisa membuat ku menolak," ucap Jhon merasa frustasi.


Egi tertawa pelan, Ia menepuk sebelah bahu Jhon. "Apa salah nya Jhon membuka hati dan memberikan kesempatan untuk wanita lain yang ingin mengenal mu. Jangan terlalu memagari diri karena tidak bisa melupakan dia, kau harus menghargai diri mu untuk hidup bahagia. Dia sudah ada bagiannya untuk bahagia di alam sana, karena bagaimana pun kau masih hidup dan berhak melangsungkan hidup dengan seseorang yang mendampingi mu," nasihat Egi.


Jhon melirik Egi. "Jika nona Annisa tiada, apa tuan akan menikah lagi? Atau hidup seperti ku?" Pertanyaan Jhon seketika membuat Egi terbungkam diam.


Keheningan sesaat membatasi keduanya.


Egi menghembuskan napas panjang, tersenyum kecil. "Aku memang tidak akan menikah lagi karena bagi ku dia yang pertama dan terakhir sebagai istriku. Tapi kasus ini berbeda dengan mu, kau belum pernah beristri dan bisa juga cinta kau belum termasuk sejati, karena setau ku cinta sejati itu adalah dua sejoli yang halal saling mencintai sampai tua menua dan maut memisahkan kedua nya." Ujar Egi, ia melirik sebal ke Jhon. "Jangan membandingkan kisah cinta ku dengan kisah cinta mu, jelas berbeda. Karena kisah mu belum halal, jadi menurut ku... cobalah untuk buka hati mu Jhon."


"Membuka hati bukan perkara yang mudah bagai membalikkan telapak tangan. Dan juga, setiap wanita yang ibu ku kenalkan, semua nya terlalu memperlihatkan penampilan gaya bicara, gaya makan. Mereka semua bagai robot yang tidak menunjukkan asli nya, bagai wanita peniru kebiasaan sanny, dan hal itu membuat ku semakin sulit melupakan sanny. Dan kali ini aku yakin wanita itu pasti telah di latih oleh ibu ku sendiri agar semirip sanny, sebelum di perkenalkan pada ku. Aku ingin menolak nya namun tidak mau melukai hati ibu," tutur Jhon, merasa sedih dengan suara berat nan dingin.


Egi merasa prihatin melihat raut wajah Jhon yang terlihat jelas merasa putus asa, dan sedih yang terlalu mendalam. Ia jadi teringat pertama kali diri nya saat di nikahkan paksa oleh ayah putra, dan akhirnya bisa melupakan misa. Mengingat hal itu, terlintas ide di pikiran Egi, Ia tersenyum tipis bagai menemukan jalan penerang.


"Jhon," seru Egi sambil menepuk keras bahu Jhon.


"Hemm...," sahut Jhon, melirik Egi. "Kenapa tuan tersenyum seperti itu? Jangan membuat ku takut dengan senyuman aneh itu."


"Aku punya saran buat mu, dan aku yakin saran ku ini bisa membuat mu terbebas dari kekangan orang tua yang menjodohkan juga bisa membuat mu membuka hati," ucap Egi, tersenyum misterius.


Jhon menghela napas pelan, mengalihkan pandangan ke arah lain. "Saran apa tuan? Jangan yang aneh aneh."


"Tenang, aku yakin saran ini akan berhasil." Egi berucap, sambil mendekatkan diri ke Jhon untuk membisikkan sesuatu kalimat.


Alis Jhon terangkat sebelah, menatap Egi bengong setelah mendengar apa yang di bisikkan Egi pada nya. "Kenapa aku tidak kepikiran ke situ? Boleh juga ide tuan, tapi apa mungkin akan berhasil mengelabuhi ibu ratu?" Sedikit keraguan di sorot mata Jhon.


Egi menepuk bahu Jhon dan terakhir melempar berkas dokumen ke hadapan Jhon. "Yakin 100% berhasil, sekarang kau cepat jelaskan kembali mengenai dokumen ini. Satu jam lagi aku ingin menelpon dengan istri ku," tegas Egi.


Jhon mendengus sebal, Ia meraih dokumen itu dan membuka nya perlembar. "Tidak bisakah jam istirahat nya di maju kan, aku lagi bad mood."


"Kalau di pajukan, Annisa belum selesai tugas Jhon. Cepatlah, jangan membuang waktu berharga ku!" Seru Egi, kesal mengetuk meja.


"Hah... iya iya, bawel juga tuan Egi."


BERSAMBUNG...


Jangan lupa Klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2