Pejuang Move On

Pejuang Move On
Merajut Rasa


__ADS_3

Annisa melepas apron yang di pakai nya, ia baru selesai memasak makanan untuk makan malam egi. Setelah kejadian makan siang yang di liputi perdebatan kecil annisa membaca buku sejenak dan melaksanakan shalat ashar lalu kembali sibuk lagi di dapur, sementara egi langsung duduk santai di atas sofa dengan laptop di pangkuan nya yang entah tengah mengerjakan apa, annisa pun masih belum mengetahui nya.


Kini annisa akan memasuki kamar nya untuk membersihkan diri dan bersiap siap magrib.


Ceklek.


Annisa memasuki kamar, begitu dia berbalik dari menutup pintu. Mata nya langsung di suguhkan pada seseorang yang terduduk di sofa, masih anteng dan fokus pada laptop.


Dia ngerjain apa sih, aku perhatikan dari pertama nikah sampai sekarang dia selalu saja sibuk dengan laptop nya, padahal kan anak kuliahan bukan.. kerja juga belum, apa lagi maen game yah..


Menghampiri egi dan duduk di samping nya, lalu mengintip ke layar laptop.


Apa itu...


Egi yang menyadari annisa mengintip segera ia tutup laptop nya dan memberikan tatapan tajam pada annisa.


"Kau sedang apa di sini?" Tanya egi.


"Ya duduk lah."


"Ya duduk, hanya buat apa kau memiringkan kepala mu ke arah laptop?" Tanya egi masih curiga.


"Mengintip." Jawab annisa acuh.


Alis egi terangkat sebelah. "Mengintip? Apa yang kau lihat brandal narsis.."


"Layar laptop lah. Emang apa lagi." Jawab annisa.


Menyodorkan sebelah tangan yang masih di infus ke depan wajah annisa.


"Lepasin," titah egi.


"Tapi kau kan belum terlalu sehat egi.. sini biar aku periksa dulu," menangkup wajah egi dan menghadapkan ke arah nya.


Annisa menelisik raut wajah egi apakah masih pucat atau tidak, dan Ia memeriksa kembali demam egi yang memang sudah turun.


Degh..degh.. jantung egi sudah berdetak sangat cepat karena di pandang begitu dekat oleh annisa.


Wanita ini, sedang apa dia... membuat jantung ku tidak karuan lagi.


Melepaskan tangkupan tangan annisa dan membuang muka. "Tidak perlu kau periksa, aku sudah sehat. Cepat lepaskan infusan nya." Ucap egi.


Annisa menghela napas pelan, lalu beranjak ke arah tas nya dan mengeluarkan kotak medis.


Duduk kembali di tempat nya di samping egi dan menarik tangan egi yang di infus agar berada di pangkuan nya.


"Sebenarnya di lihat dari raut wajah mu seperti nya kau masih belum pulih penuh, tapi jika kau memaksa ingin di lepas ya sudah.." ujar annisa sembari melepaskan jarum infusan di tangan egi.


Sementara Egi memperhatikan wajah annisa yang ada di hadapan nya, dan ada senyuman di bibir nya.


"Dah selesai," ucap annisa setelah menempelkan kapas untuk menekan bekas jarum suntikkan di punggung tangan egi kemudian membuang nya ke tong dekat sofa.


Melirik punggung tangan nya dan menatap annisa. "Aku ingin mandi," ucap egi.


"Ya udah aku siapkan air hangat nya dulu, kau siap siap sana," beranjak menuju kamar mandi.


Pengertian.. gumam egi pelan kemudian tersenyum miring.


----------


Egi telah selesai membersihkan diri dan keluar dari pintu kamar mandi, ia berjalan ke arah sofa dekat ranjang untuk menghampiri annisa yang tampak sibuk dengan buku bacaan nya.

__ADS_1


Duduk di samping annisa dan melirik sampul buku apa yang di baca annisa.


"Buku komik yang aku belikan pada kemana semua egi?" Tanya annisa dengan pandangan tetap fokus ke bacaan.


"Buang." Sembari mengusak rambut basah nya.


Menghela napas pelan kemudian menutup buku yang di baca nya. "Sudah ku duga," ucap annisa.


"Maksud mu?" Menatap ke annisa.


Annisa meletakkan buku di meja sofa kemudian beranjak untuk menuju pintu kamar mandi. "Kau tidak pernah menghargai barang pemberian orang lain," ucap nya dan hilang di balik pintu kamar mandi.


Tersenyum kecil. "Dia mengaku jika diri nya adalah orang lain di sini," gumam egi pelan.


Beberapa waktu kemudian.


Annisa telah selesai membersihkan diri, namun diri nya masih mematung di depan lemari lemari kosong mencari pakaian nya tapi tidak menemukan sehelai pun pakaian wanita di setiap lemari yang di buka nya.


"Segitu niat nya tuh bocah ingin mengusir ku dari sini, sampai sampai semua pakaian ku tidak ada satu pun di sini. Lah aku harus pakai apa jika sudah begini, masa memakai pakaian itu lagi, kan sudah kotor dan bau. Huh.." terduduk di sofa memandang pintu lemari yang di buka nya.


Mata annisa tertuju pada lemari egi, "oke.. boleh ku pilih dan lihat lihat juga nih," gumam annisa kemudian mengobrak abrik isi lemari egi.


Sesaat kemudian.


Annisa telah memakai kemeja berwarna biru langit yang kegedean di badan, hingga hampir selutut panjang ke bawah nya dan dengan bagian tangan yang melorot menutupi membungkus seluruh jemari nya. Namun masih mending dengan celana trening panjang yang pas di pakai nya, meskipun tidak cocok di padukan dengan kemeja, annisa tetap merasa senang karena masih ada pakaian yang bisa pas di badan nya meskipun agak kegedean.


Keluar dari pintu kamar mandi, dengan tangan mengusak rambut basah nya dengan handuk.


"Kau.. pakai baju siapa?" Tanya egi memperhatikan penampilan annisa dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Entah baju siapa, asal nemu aja di lemari." Jawab nya acuh sembari terus mengusak rambut nya yang basah.


Egi yang semula duduk di sofa berjalan menghampiri annisa yang masih berdiri.


Menghentikan gerakan tangan yang tengah mengusak rambut kemudia membalas menatap egi.


"Gimana nggak berani, kau nya saja berani membuang semua barang ku yang ada di lemari," sahut nya acuh dan hendak melewati egi.


Namun egi mencekal sebelah lengan annisa, "aku tak suka jika barang ku di sentuh apalagi di pakai orang lain, lepaskan semua nya!!" Ucap egi geram.


Mendelik sinis ke egi. "Nggak mau," ketus annisa.


Tetap mencekal lengan annisa lalu menghadapkan tubuh nya agar berhadap hadapan. "Lepaskan, atau mau aku yang lepaskan." Ucap egi.


Annisa mendongak menatap menantang," boleh, siapa takut. Cih!! Seperti berani saja kau bocah.."


Egi tersenyum miring kemudian merangkul pinggang ramping annisa dengan sebelah tangan dan mendekatkan ke tubuh nya.


Sementara annisa jantung nya sudah tidak beraturan menatap egi tanpa berkedip dan kaku di tempat nya.


"Kau berkata seperti itu, karena belum tahu jika aku berbicara tidak pernah bohong.." ucap egi kemudian mulai meraih kancing kemeja atas baju annisa untuk di buka.


Mendorong pundak egi dengan kedua tangan nya, "bi..bi..biar aku saja yang melepaskan pakaian ini egi," terbata annisa.


Ceklek.


Pintu kamar egi ada yang membuka nya menandakan ada salah satu anggota keluarga nya yang masuk.


Segera egi merebut handuk kecil yang ada di pegangan tangan annisa dan menutupkan nya ke kepala annisa.


"Hey.. apa yang kau lakukan egi?" Tanya annisa bingung.

__ADS_1


"Diam, jangan bergerak atau pun bicara." Tegas nya setengah berbisik.


Menarik annisa agar berada dalam pelukan dan menenggelamkan kepala annisa di dada bidang nya.


Ada apa ini bocah, main tarik dan peluk saja. Untung kau sudah jadi suami ku, jika bukan sudah ku hajar dan tendang burung mu karena berbuat seperti ini pada ku.


"Kak egi, syila dengar kaka sedang sakit. Gimana keadaan nya, kenapa kakak berdiri di sini?" Tanya syila yang baru masuk kamar.


Egi berdiri membelakangi syila, ia menolehkan kepala nya untuk melirik syila.


"Aku sehat, kau keluar dari kamar ku sekarang syila," tegas egi.


Oh, ternyata ada asyila. Tapi kenapa harus menyembunyikan aku seperti ini juga egii.


Alis syila berkerut bingung. "Kenapa kakak mengusir syila? Oh, iya dimana kakak ipar kedua. Syila dengar kakak ipar kedua sudah kembali dari pagi," tanya syila karena tidak melihat annisa yang ada di pelukan egi.


Syila hendak melangkah mendekati egi.


"Diam di situ, jangan mendekat syila." Teriak egi.


"Ada apa kakak? Kenapa syila nggak boleh mendekat, syila kan ingin melihat keadaan kakak lebih jelas." Heran nya.


"Kakak bilang sudah sehat tak perlu kau mendekat dari situ saja kau sudah bisa melihat keadaan ku, dan kakak minta kau keluarlah dahulu syila, nanti lain kali kau kemari lagi jika ingin bertemu dengan nya."


Menghela napas pelan. "Kak egi aneh banget deh tiba tiba galak gini sama syila.. padahal syila kan hanya ingin menjenguk kakak dan bertemu kakak ipar kedua, tp melihat kondisi kakak yang baik baik saja. Syila jadi lega.. ya sudah syila keluar, cepat sembuh saja kak egi, " tutur syila lalu berbalik melangkah keluar dari kamar egi dengan perasaan kesal.


Sepeninggalan syila.


Egi menunduk melihat annisa yang masih ada dalam pelukan nya,


Annisa mendongak menatap heran ke egi. "Kenapa kau menyembunyikan aku, kau ingin menjauhkan aku dengan keluarga mu egi," ucap annisa.


Melepaskan pelukan di tubuh annisa dan membuang muka ke arah lain, "ekhem.." dehem egi menetralkan kecanggungan.


Kemudian egi berjalan ke arah sofa dan duduk di atas sofa panjang.


"Bukan menjauhkan, hanya menjaga aurat mu, kau kan sedang tidak memakai kerudung." Ucap egi sembari mengambil laptop yang ada di atas meja.


Annisa ikut duduk di samping egi. "Tapi kan syila itu adik mu, dan dia itu perempuan. Jadi tidak apalah jika aku membuka kerudung di hadapan nya.." sanggah annisa.


Mendelik menatap annisa tajam. "Meskipun dia adik ku dan seorang perempuan kau tidak boleh asal membuka aurat di depan nya." Tegas egi.


"Kenapa tidak boleh, suka suka aku dong egi." Melipat kedua tangan di depan.


"Pokok nya tidak boleh.. ya tidak boleh." Ucap nya dengan nada penekanan.


"Ya kenapa tidak boleh nya egi.."


"Karena aku tak suka rambut mu di lihat orang lain selain aku." Teriak egi.


Huh.. mendengus dan membuang muka ke arah lain, "baiklah jika itu ingin mu egi, aku menuruti nya karena kau adalah suami ku." Ucap annisa pelan lalu beranjak dari duduk nya.


Mencekal sebelah lengan annisa. "Kau mau kemana, aku bicara belum selesai."


"Mau ganti baju, bukannya kau melarang ku memakai baju mu." Ketus annisa.


"Tidak perlu, lagian selepas kau pakai baju itu aku buang." Ucap egi.


Annisa menoleh dan duduk kembali di samping egi. "Kau segitu nya jijik pada ku egi.."


"Hemm.." gumam nya acuh dan kembali fokus ke layar laptop.

__ADS_1


"Cih dasar bocah. Benar benar tidak berubah sifat arogan nya." Oceh annisa dan mendengus sebal.


BERSAMBUNG...


__ADS_2