
Rika turun dari mobil, dan melangkahkan kaki nya menuju pintu kaca dorong dengan di buntuti pria berjas yang menjemputnya. Begitu ia menginjakkan kaki nya di ke dalaman kafe, bola matanya ia edarkan yang ternyata suasana di dalam begitu tenang dan sepi.
"Eh, kenapa sepi amat. Kagak ada pengunjung? Biasanya kan kalo malam gini, rame banget sama anak brandal buat nongkrong," gumam Rika sembari berjalan ke arah sofa tempatnya menongkrong.
"Widih, sudah di pesan kan makanannya." Celoteh Rika yang melihat dessert juga minuman di atas meja. Dan tersadar dia tidak melihat gadis yang mengundangnya tak ada di sofa tersebut, Rika kembali mengedarkan ke sekitar untuk mencarinya. "Kemana Asyila, bukannya dia mengundangku kemari?"
Dan pandangan mata nya terhenti ketika mendapati orang yang di cari, berada di atas panggung pentas. Gadis cantik itu, tengah duduk di kursi depan piano.
"Kakak Rika." Asyila memanggil dengan suara ceria dan senyuman mengembang khas keceriaan nya. Ia melambaikan sebelah tangan sebagai isyarat untuk mengajak.
Rika membalas tersenyum hangat, dan bangkit dari duduknya, menghampiri panggung pentas.
"Kafe nya kok sepi, La?" Rika bertanya sambil berdiri sedikit menyender di badan salah satu alat musik yaitu piano.
Asyila mendongak lalu menepuk kursi kecil di sampingnya. "Kakak temani Syila maen piano."
Gadis manis yang bersedekap tangan itu, menurut duduk di kursi yang di tepuk. "Kakak bertanya loh, La. Pada kemana orang-orang di sini?"
Syila meletakkan 10 jemari nya di atas tuts piano. "Syila booking kafe ini karena nggak mau di ganggu." Jemarinya mulai menari indah di atas tuts itu, sehingga menciptakan alunan nada yang enak di dengar. Dia memberi isyarat dengan menekan tuts putih beberapa kali agar Rika mau berkolaborasi memainkan piano di bagian tuts yang kosong.
Rika ikut memainkan jemarinya di atas tuts sebelah kanan dan menyambung mengimbangi nada lagu yang tengah di mainkan oleh Asyila.
Dia sedang sedih... di sela fokusnya memainkan piano, Rika memandang wajah cantik Asyila dari dekat yang terlihat murung dengan tatapan kosong menatap gerakan jemari.
"Ekhem. La, ada apa? Kenapa kayak lagi sedih gitu? Ceritalah. kakak akan mendengarkannya?"
Seketika gerakan jemari Asyila, terhenti. Ia memejamkan mata nya sejenak. "Syila sedang galau," ucapnya dengan nada suara rendah nan lesu.
Rika ikut menghentikan permainannya. Ia menatap gadis cantik di sampingnya. "Ga-galau kenapa?"
Asyila menghela napas pelan, lalu bangkit dari duduknya. "Di sana aja yuk kak, curhatnya." Ajak gadis cantik itu, berjalan turun dari panggung.
Eh, emang kenapa kalau di sini? Rika ikut membuntuti Asyila yang membawa nya ke sofa tempat nongkrong.
"Gimana, gimana cerita sama Kakak?" Rika langsung bertanya saat kedua nya sudah duduk di sofa.
Wajah asyila menunduk sehingga terlihat jelas jika ia sedang di landa kegelisahan. "Kak Rika, bisakah kakak membantu Syila?"
Alis Rika terangkat sebelah menatap tanya. "Kenapa tidak! Jika kakak bisa membantu, maka akan membantu mu."
"Syila suka dengan pria yang selalu dekat bahkan sangat akrab dengan kakak. Dia selalu ada di saat kakak membutuhkannya, juga di saat kakak bahagia dia selalu ada untuk kakak. Dan Syila mau dia membalas perasaan suka Syila... bisakah kak Rika menyatukan Syila dengannya?"
Rika tertegun diam menatap terpaku. Sejenak ia merenung mencerna siapa pria yang di maksud oleh Asyila. "Kalau boleh tau siapa pria itu?"
"Kak Rayhan."
Ray... mendengar nama itu, seketika Rika terdiam. Ia melirik wajah Asyila yang sedang menatapnya penuh keyakinan dan keseriusan. Dia menyukai si banci? Bagaimana bisa.
"La-la serius?" tanya Rika memastikan.
"Hemm," Asyila mengalihkan pandangan kembali menunduk. "Syila sudah menyukainya sejak lama, bahkan sebelum kak Ray mengenal kak Rika. Tapi perasaan Syila belum pernah di lihatnya, karena kak Ray menyukai gadis lain."
"Gadis lain?" Sahut Rika penasaran, dengan alis menaut. "Siapa dia? Apa kakak mengenalnya?"
"Hemm." Mengangguk mantap dan menatap serius. "Kakak sangat mengenalnya, karena wanita itu ada di-"
"Lala." Ujar seorang pria yang memanggil dengan suara tinggi menghentikan ucapan Asyila.
Sontak kedua gadis itu, terdiam dan menoleh ke arah suara.
"Kak Ray." Celetuk Asyila lemah, mata nya membulat terkejut namun tidak dengan Rika yang menatap tenang pada pria tampan yang tengah melangkah mendekati.
Terlihat raut wajah Ray menggelap menatap lekat tak teralihkan pada gadis cantik samping Rika. Tatapan itu penuh dengan intimidasi tajam.
Baru lihat aku, raut wajah si Ray yang lagi marah. Tapi marah karena apa?
__ADS_1
Rika tertawa pelan dengan senyuman kepaksa memperlihatkan gigi rapihnya. "Hey Ray, lo kok ada di sini? Nggak ke kantor cab-"
"Ikut." Ray tanpa memperdulikan sapaan Rika, ia dengan gerakan cepat menarik sebelah tangan Asyila sehingga beranjak berdiri. "Lala gue pinjem dulu, lo tunggu di mari jangan kemana-mana," ucap Ray, lalu melangkah pergi sambil menarik Asyila, tanpa mau mendengar jawaban dari Rika.
"Ck, ada apa sebenarnya ini? Hah membingungkan," gumam Rika dan mengambil gelas jus melon di atas meja untuk di minum.
Di dalam ruangan kerja, di dalam kafe.
Brak.
Ray membanting cukup keras pintu tunggal itu, dan melepaskan pegangannya di tangan Asyila. Ia membelakangi gadis cantik yang menunduk sedikit gemetar.
"Lala, apa maksud semua ini? Apa kamu akan membuatnya menjauhi kakak," tanya Ray, sedikit menggeram mengepalkan tangan.
Asyila masih menundukkan pandangan, ia menggigit bibir bawahnya juga mencengkram kuat sisi baju. "Kak Ray."
"Jawab pertanyaan ku!" Bentak Ray membuat gadis cantik itu terlonjak kaget.
Asyila masih terdiam membisu, tak berani bersuara lagi.
"Kenapa kau diam saja, Lala!" Ray membalikkan badan, dan menatap sangar pada gadis yang menunduk di hadapannya.
"Selama ini, aku membiarkan saja semua wanita yang mendekati ku. Kau tegur dengan kekuasaan sampai membuat mereka menjauh dari ku. Tapi jangan untuk yang satu ini, jangan membuatnya menjauh dari ku. Dia wanita yang aku sukai, jangan mendorongnya jauh... bisakah kau mengerti perasaan kakak, La."
Mendengar pengakuan langsung dari bibir Ray. Membuat rasa sakit berdenyut nyeri di hati Asyila, tangan yang terkepal kuat itu bergerak memegangi dada yang terasa sesak. "Hiks... hiks." Ia terisak dengan air mata sudah bergelinang membasahi pipi mewakil kan hati yang sudah tergores bertambah remuk redam oleh luka yang tersayat.
Ternyata benar penglihatan ku, kak Ray menyukai kak Rika.
"Jangan menangis, aku tak akan mengasihani mu lagi. Sudah capek kakak melihat tingkah mu yang selalu mengatur dan mengekang hidup ku. Jangan mentang kamu terlahir dari keluarga yang berkuasa di negeri ini, sampai mau seenaknya mengontrol hidup orang. Aku-"
"Lala mencintai kakak!" Teriak Asyila, mengangkat wajahnya. Sontak membuat Ray memebelalak lebar dan terdiam membisu seketika.
Seperkian detik keheningan di antara kedua nya. Ray yang menatap terpaku pada gadis cantik di hadapannya sedang gadis cantik itu kembali menundukkan pandangan, masih terisak dengan tangis.
"Itu tidak mungkin, La! Kamu... kamu hanya ku anggap sebagai adik ku, tidak lebih."
"Aarrrgh, shit..." Ray mengusak rambutnya dengan kasar seiring hembusan napas kasar, ia mencengkram rahangnya mengalihkan pandangan ke arah lain. Ray berusaha menahan amarahnya dengan mengkontrol napas yang sudah memburu juga perasaan yang bergejolak di isi hati dan kepala nya.
"Sampai kapan pun, aku hanya akan menganggap mu adik tidak lebih. Jadi tolong hapus perasaan aneh mu itu, karena di hati ku hanya ada Rika, bukan kamu."
Asyila memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat pria tampan tersebut. "Kak Rika tidak mencintai mu kak."
"Aku tahu." Sahut Ray cepat, ia menatap gadis itu. "Namun aku akan berjuang untuk membuatnya balik membalas perasaan ku."
Tangan Asyila semakin terkepal kuat di depan dada, ia mendengus menundukkan pandangan kembali. "Jika kak Ray begitu terhadap kak Rika, maka Lala juga akan melakukan hal yang sama terhadap kak Ray," ucapnya, lalu berbalik melangkah ke arah pintu keluar.
Dan...
Brak.
Asyila keluar ruangan, dengan keras membanting pintu.
"Aaargh, sial!" Meninju sembarang. "Rika, tidak! Dia masih di sini," gumam Ray berlari ikut menyusul Asyila keluar ruangan.
Di dalam kafe ruangan lain.
Rika masih terduduk santai, menikmati dessert yang berada di atas meja sambil memainkan ponselnya.
Saat fokus nya bermain game online, tiba-tiba terdengar suara riuh para pegawai yang berbisik dan ada salah satu langkah kaki yang begitu tergesa dengan suara isak tangis sesenggukkan dari jarak beberapa meter hingga mendekat ke arahnya.
Gadis manis yang fokus terhadap layar ponsel itu, ia mengangkat wajahnya mengalihkan perhatian pada asal suara itu.
"Syila." Celetuk Rika dengan mata melebar terkejut, ia reflek bangkit dari duduknya menatap gadis cantik yang sudah berurai air mata tengah berjalan menghampirinya.
Asyila menutup bibir sembari terus berjalan menangis tanpa memperdulikan sekitar yang melihat. Ia hampir sampai di meja Rika.
__ADS_1
"Syila." Rika berjalan menghampiri hendak menyapa dan menanyakan. Namun gadis itu hanya melewatinya begitu saja, tanpa melirik atau menoleh.
Sret.
Rika meraih sebelah tangan Asyila dan memegangnya. "Hey, Syila. Ada apa? Kenapa kamu-"
Plak.
Asyila dengan kasar menangkis pegangan Rika. "Jangan mengganggu ku," ketusnya sambil lalu meninggalkan Rika yang terlongo bengong menatap bingung atas kepergiannya.
Apa yang terjadi? Setelah melihat kepergian Asyila yang sudah keluar kafe di ikuti bodyguard, Rika melirik tangannya yang di keplak tadi. "Apa aku melakukan kesalahan."
Di saat riuh suara para pegawai yang berbisik di belakangnya, juga terdengar suara kaki yang berlari dari kejauhan semakin mendekat ke arahnya.
"Hosh... hosh." Suara napas terengah yang berasal dari bibir pria tampan berjas di belakang Rika.
Mendengar itu, Rika membalikkan tubuhnya sehingga kini dirinya berhadapan dengan Ray yang terlihat sedang mengatur napas.
"Apa yang lo lakukan pada Asyila? Kenapa dia seperti itu setelah lo bawa pergi tadi?"
"Hah...," Ray menghembuskan napas panjang. Ia menatap gadis manis itu. "Emang dia kenapa? Sampe lo nyolot gini."
"Dia menangis Ray, apa yang lo lakuin padanya?" Seru Rika dengan nada suara cukup tinggi.
"Gue bilang gue kagak lakuin apa pun pada nya, Mak. Dia nya aja cengeng di bentak dikit langsung mewek, bikin kesel aja." Ketus Ray, hendak melangkah masuk ke meja untuk duduk.
Melihat sikap santai tidak merasa bersalah dari Ray. Seketika Rika mengepal kesal, gigi nya gemertak geram. "Kenapa lo ngebentak nya hah? Apa karena cewek itu? Syila itu suka sama lo, jangan lo sia-siain dia, banci?"
Sontak langkah kaki Ray terhenti, ia berdiri mematung di tempat. Dengan kedua tangan di masukkan ke dalam saku celana. "Tapi gue kagak suka sama cewek manja dan seenaknya kayak dia."
"Dia itu ceria bukan manja. Emang wanita yang lo taksir kayak apa hah, apa lebih baik dari nya?"
"Jauh lebih baik darinya, meskipun wanita itu bodoh dan ceroboh."
"Pantas lo ikutan bodoh, wanita yang lo suka juga ternyata bodoh," ketus Rika. Ia berjalan ke arah sofa dan mengambil tas tangannya lalu hendak melangkah.
"Lo mau kemana?" Ray mencekal sebelah lengan Rika.
"Mau pulang lah. Males ladenin cowok bodoh kayak lo, yang nggak bisa menghargai hati wanita."
Ray menghela napas pelan, menundukkan pandangan. "Ada yah orang bodoh berkata bodoh."
Alis Rika berkerut menatap tanya. "Maksud lo?"
"Maksud gue, cewek bodoh dan ceroboh itu adalah lo."
"Hah!" Kaget Rika menatap dengan mata melotot dan bibir menganga. "Ma-maksud lo?" Gagap Rika yang tidak percaya.
Ray memegang kedua bahu Rika untuk menghadapkan padanya. "Gue suka dan cinta sama lo, Mak. Jadi lah istri gue," ucapnya dengan tatapan hangat memohon.
Dia... dia kenapa? Rika semakin terpaku diam menatap terlongo tak mampu berkata.
Tunggu... tunggu, ini pasti hanya candaan iya hanya candaan. Dia kan suka becanda gak jelas kayak gini.
"Heh... hehehe," Rika tertawa kepaksa menampilkan gigi rapihnya, ia menepuk bahu Ray beberapa kali. "Ray, kalo lo mau becanda jangan gini amat dah. Gue tau lo lagi dilema soal percintaan lo dengan wanita itu dan Asyila. Tapi jangan maen becanda kaya gini juga ke gue." Serentak tawa itu memudar dari bibir Rika, tatapannya berubah serius. "Situasi kayak gini di ajak becanda, kagak lucu."
Kemudian Rika menepuk kembali dengan keras sebelah bahu Ray. "Dah ah, gue mau pulang dah malam. Mama, papa gue pasti khawatir," ucap gadis manis itu, hendak melangkah pergi.
Namun lagi-lagi Ray menarik lengan Rika hingga mencekalnya cukup kuat.
Rika menoleh menatap pada cekalan itu yang terasa sakit. "Ray, sakit tau, lo kenapa sih?"
Raut wajah Ray menggelap, dengan rahang mengeras menahan emosi yang menggunuk. "Gue... gue." Menghembuskan napas kasar, lalu berjalan sambil tetap menarik lengan Rika.
"Gue... gue napa? Hey, pelan-pelan napa jalannya, jangan maen tarik gini." Gerutu Rika mengimbangi langkah kaki Ray, yang cepat untuk keluar kafe.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...