
Pagi telah tiba. Setelah shalat subuh berjamaah, Egi langsung menuju balkon menikmati udara pagi yang sejuk dengan fajar mulai menyingsing naik ke permukaan langit.
Dia tampak sibuk menatap layar laptop yang terletak di meja bundar di hadapannya. Sedang Annisa sudah sibuk di minibar dapur kecil, ia tengah membuatkan kopi latte kesukaan Egi juga susu ibu hamil untuk nya.
"Egi, kopi nya." Annisa meletakkan nampan berisi dua gelas minuman berbeda. Dan tangannya terulur mengambil satu gelas susu untuk di minumnya
Egi melirik sejenak pada Annisa. "Sayang tumben minum susu?"
Annisa yang sudah menenggak setengah cairan putih dari gelas tersebut, ia tersenyum meletakkan kembali gelas susu ke nampan. "Lagi ke pengen aja."
"Hemm," mengangguk kecil, Egi menggeser meja bundar di hadapannya untuk memberi jarak, lalu memegang tangan Annisa yang hendak duduk di kursi sebrang meja. "Kemarilah, sayang," pinta nya merangkul tubuh wanita di hadapannya agar duduk di pangkuan.
"Mau apa Egi? Kau sedang sibuk, biar aku duduk di kursi saja." Masih berdiri di samping kursi pria yang merangkul pinggangnya.
Egi menempelkan kepala di perut istrinya. "Aku mau memeluk mu."
"Hemm, manja deh." Annisa mengusap rambut hitam legam yang sudah di pomade itu.
"Sayang, pulangnya besok aja yah," oceh Egi mempererat pelukannya.
Gerakan tangan Annisa yang tengah mengusap sayang rambut suaminya itu terhenti sejenak, alisnya terangkat sebelah. "Nggak bisa Egi, aku ada tugas besok pagi nya."
"Tapi aku masih pengen di sini bersama mu, itung-itung bulan madu kedua." Ucap Egi merajuk.
Annisa mengusap kembali rambut suaminya. "Nggak bisa Egi sayang, kau juga kan sibuk kerja. Lagian kita kan sudah bulan madu waktu itu, malahan sampe setengah bulan."
Egi mendongakkan kepala menatap melas. "Aku hanya ingin, kita hidup berdua tanpa ada gangguan dari keluarga, terutama si bocah kecil itu."
Tersenyum tenang, Annisa menangkup sebelah sisi wajah Egi dan mengusap lembut dengan ibu jari nya. "Jadi maksudnya kau ingin kita pindah lagi ke rumah lama?"
"Hemm." Egi manggut-manggut manja.
"Kamu yakin?" tanya Annisa yang di balas anggukkan lagi.
Sepertinya ini hari yang tepat.
Gadis cantik itu duduk di pangkuan suaminya kemudian menunduk menangkup kedua sisi wajah Egi, sehingga wajah nya berdekatan dan napas dari hidungnya beradu. Hanya berjarak beberapa inchi saja kedekatan wajah mereka. Ia tersenyum penuh arti.
Glek.
Egi menelan ludah nya dengan kasar, menatap lekat bola mata istri nya yang berwarna hitam itu, dengan tatapan tak percaya karena Annisa tidak pernah bersikap seperti itu padanya. Tubuh Egi menegang mempererat lingkaran lengannya di pinggang Annisa. "Sa-sayang."
Senyuman di bibir Annisa semakin lebar, ia menutup mata nya. "Egi, aku...," terjeda sejenak seiring membuka mata perlahan, menatap bola mata suami nya yang berwarna hazel. "Aku hamil." Setengah berbisik ke bibir Egi.
Mendengar kata terakhir yang di ucapkan istrinya. Sontak mata Egi melebar, raut wajahnya di penuhi keterkejutan dengan bibir sedikit menganga bergetar, ia bertanya untuk memastikan jika pendengarannya tidak salah. "Ha-hamil?"
Cup.
Annisa mengecup pipi Egi dengan lembut lalu mengalungkan lengan ke leher. Ia tersenyum mengangguk mengiyakan apa yang di tanyakan.
__ADS_1
Egi masih terkejut dengan sorot mata menatap lekat wajah Annisa, mencari kebenaran jika itu adalah benar. "Sayang, itu artinya aku akan menjadi orang tua?"
"Iya Egi," mengusap pipi mulus suaminya yang sudah memerah merona.
Aku akan menjadi Ayah? Terlihat air mata mulai beranak pinak di kedua mata Egi. Seketika air mata itu mengalir ke pipi, ia menangkup kedua sisi wajah istrinya dan mengusap lembut.
Kenapa dia menangis? Aku belum pernah melihat dia yang seperti ini?
Annisa yang panik melihat Egi menangis sampai mengalirkan air mata. Ia menggigit bibirnya, menatap sedih. "Ka-kamu kenapa Egi? Apa segitunya kamu menolak kehamilan ku, sampai menangis seperti ini?"
Egi menggelengkan kepala nya beberapa kali, masih mengalirkan air mata. Kemudian mencium kening Annisa cukup lama. Setelahnya, tanpa mengatakan sepatah kata apa pun. Ia melepaskan rangkulan tangan Annisa di lehernya, lalu menurunkan tubuh istrinya dari pangkuan agar berdiri.
Egi, kau kenapa begini?
Annisa di buat bingung dengan sikap Egi. Ia menatap heran terpaku di tempatnya, dan mengusap air mata yang berjatuhan dari sudut mata Egi. "A-ada apa dengan reaksi ini?"
Egi ikut berdiri sehingga saling berhadap-hadapan. Ia menarik tubuh Annisa ke dalam pelukannya dan memerangkap erat namun masih membungkam bibirnya tak berkata apa pun.
Annisa tidak membalas pelukan itu, ia masih bingung. "Aku tidak butuh pelukan ini, aku hanya butuh tanggapan mu mengenai kehamilan ku. Apa kau tidak ingin aku hamil? Bukannya kau sendiri yang memperbolehkan saat malam pertama, jika aku boleh mengandung cepat, kenapa sekarang kau seperti ini? Ada apa dengan reaksi mu ini, Egi?"
Menunduk menghirup aroma tubuh istrinya dan mencium di sekitar bahu. Egi menghela napas panjang menetralkan pernapasannya yang sedikit tersendat akibat menangis. Ia membuka bibirnya di iringi desah napas kelegaan.
"Aku menangis karena bahagia, sayang. Aku sangat bahagia, sehingga rasa nya tidak bisa di ungkapkan dengan ucapan. Terimakasih sayang, terimakasih telah mengabulkan keinginan ku untuk menjadi Ayah." Ucap Egi serak bergetar, sambil memeluk erat tubuh Annisa menyalurkan perasaan lewat dekapan itu, bahwa dirinya sangat bahagia.
Apakah ini air mata kebahagiaan mu, Egi?
Terbesit senyuman manis dari bibir Annisa. Ia membalas pelukannya. "Iya Egi."
Egi melonggarkan pelukannya, namun kedua lengan masih melingkar di pinggang Annisa. "Mulai hari ini kita pindah ke rumah lama, aku tak ingin kehamilan mu di ganggu si bocah kecil."
Annisa mengangguk pelan. Dia menatap sedikit ragu. "Tapi aku masih boleh bekerja di rumah sakit kan?"
Tersenyum memegang dagu istrinya sehingga wajahnya sedikit terangkat. "Boleh saja sayang, asal kau jangan terlalu capek dan biarkan dua pengawal itu terus membuntuti mu." Kemudian Egi mendekatkan wajahnya ke wajah Annisa untuk mencium kilas beberapa kali ke bibir tipis merah itu.
Annisa kembali berhambur memeluk tubuh tegap suami nya, dengan senyuman lebar. "Terimakasih Egi, kau selalu mengerti aku."
"Iya sayang, untuk kebahagiaan mu. Apa pun akan aku lakukan, asal kau terus tersenyum seperti ini terhadapku." Egi mengusap punggung Annisa naik turun dan sesekali mencium ke sisi wajah atau pundak.
Eh, ada apa dengan perutku? Raut wajah Annisa berubah, mulutnya sedikit mengembung menahan rasa mual yang sudah naik ke tenggorokan nya. "Ugh, mmph." Kepala Annisa yang berada di dada Egi seketika di jauhkan sedikit memberi ruang agar ia bisa membungkam bibirnya dengan sebelah telapak tangan untuk menahan rasa mual itu.
Muntah? Aku ingin muntah!
Namun Egi yang memeluknya erat masih mengusap punggung, tanpa sadar jika Annisa sedang menahan rasa mual. "Sayang, kenapa bahu mu sedikit bergetar. Apa kau menangis juga?" tanya Egi semakin merapatkan tubuh Annisa dan mengecup beberapa kali puncuk kepala yang terbalut kerudung.
Egi aku ingin muntah, bukan menangis.
Annisa yang merasa lemah tanpa tenaga, ia memukul pelan punggung suaminya agar melepaskan pelukan. "Mmph."
Egi tersenyum menanggapi sikap Annisa. Ia masih mendekap erat tubuh mungil istrinya itu. "Sepertinya kau sangat senang sayang?"
__ADS_1
Lepaskan aku Egi, aku sudah nggak kuat menahan nya.
Dengan segenap tenaga tersisa. Annisa mendorong tubuh Egi agar memberikannya jarak, namun karena lingkaran lengan Egi di pinggangnya begitu erat sehingga hanya memberi jarak sedikit. Dan lalu...
Ugh... hoek...
Annisa memuntahkan apa yang sudah di tahan sedari tadi keluar dan mengenai bagian depan tubuh Egi.
"Sayang!" Mata Egi melebar terkejut, lingkaran lengannya di pinggang Annisa perlahan terlepas.
Gawat aku memuntahi nya! Annisa hendak mendongak melihat reaksi raut wajah suaminya, namun belum juga wajahnya terangkat, rasa mual itu kembali menyerang dan...
Hoek. Hoek.
Ia kembali memuntahkan isi perutnya masih
mengenai pakaian Egi.
Egi memegang kedua bahu Annisa. "Sayang! Apa yang sakit?" Paniknya mengusap tengkuk leher Annisa.
"Hmm," menggelengkan kepala memegangi perutnya yang masih bergejolak mual. Lalu...
Hoek, hoek.
Apa dia marah? Annisa masih memuntahkan isi perutnya yang keluar hanya sebuah cairan berwarna putih seperti susu yang sempat di minumnya tadi. Muntahan itu mengenai bagian celana jeans juga kemeja navy yang di kena kan Egi.
Egi membantu memijit pelan tengkuk leher, ia tak peduli pada pakaian yang sudah basah dan bau oleh muntahan istrinya, hanya sorot mata kepanikan juga kecemasan yang di tunjukkan Egi pada gadis cantik di hadapannya. "Muntahkan semua nya, jika itu merasa lega untuk perut mu, sayang."
Gejolak mual dalam perut Annisa perlahan mulai hilang, seiring tubuhnya yang melemas tak bertenaga. "Egi, pakaian mu...," ucap Annisa lemah.
"Jangan khawatirkan pakaian ku, lihatlah kondisi mu, sayang." Segera Egi merangkul pinggang dan mengangkat tubuh Annisa yang akan ambruk untuk di gendong ala bridal style. Ia masuk ke dalam kamar, berjalan ke arah ranjang, untuk meletakkan tubuh istrinya di atas kasur.
"Aku tidak apa-apa, Egi. Ini hal biasa bagi ibu hamil," tutur Annisa yang sudah di baringkan setengah duduk menyenderkan punggung pada bantal yang di tumpuk di kepala ranjang.
Egi mengusap pipi putih pucat dan menatap khawatir ke sorot mata sayu Annisa. "Hal biasa? Kau bilang hal biasa? Lihatlah, wajah ini, sangat pucat dan juga tubuhmu lemah sayang, kau harus di periksa dokter, baru aku akan tenang." Dia beranjak, menyambar ponsel di atas meja nakas untuk menelepon seseorang.
Annisa menghela napas pelan, memejamkan mata nya lalu menjatuhkan kepala ke senderan. "Aku bidan, jadi aku tahu mengenai kondisi ku yang saat ini sedang hamil. Kau tidak perlu memanggil dokter itu kem-"
Sontak Egi menempelkan telunjuknya ke bibir Annisa agar terdiam, membuat Annisa seketika membuka mata nya menatap heran. "Sayang," peringatannya menatap dingin. Egi mematikan panggilan telepon setelah mengucapkan beberapa kalimat perintah lalu melemparkan ponsel ke sembarang. ia menghela napas pelan sebelum melanjutkan ucapannya. Mengusap pipi Annisa dengan lembut.
"Bukan maksud ku meragukan profesi mu sebagai bidan. Tapi saat ini kondisi mu memerlukan dokter untuk memeriksa nya, mana mungkin kan, kau memeriksa diri sendiri di saat seperti ini."
Annisa membalas tatapan mata Egi dan menghela napas pelan. "Baiklah, sekarang kau bersihkan diri dan ganti pakaian mu."
Tersenyum, mencium kening Annisa cukup lama. Lalu pandangannya turun menatap ke kedua bola mata hitam istrinya. "Dokter akan kemari 15 menit lagi, aku mandi dulu."
"Hemm," mengangguk mengiyakan.
Egi beranjak dari duduknya,melangkah menuju pintu kamar mandi. "Biarkan dia menunggu, jangan di buka kan pintu nya, jika aku masih belum keluar dari kamar mandi." Ucap Egi sebelum hilang dari balik pintu kamar mandi.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...