Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 39


__ADS_3

Kedua bola mata yang jernih itu sedikit melebar, dia menggertakkan gigi merasa geram dengan pegangan tangan di gagang payung meremet kuat.


"Kau sedang apa, gadis bodoh? Malam hari duduk sendiri di sini, kau ingin menumbalkan diri pada preman yang lewat, bahkan tubuhmu basah kuyup begitu. Dimana akal sehat mu, bodoh!" Sentakan suara yang tajam keluar dari mulut Jhon, tak kuasa melihat gadis manis itu yang sudah terlihat lemah.


Rika terdiam bengong menatap kosong, sebelum akhirnya ia tertawa palsu yang pahit. "Hahaha...," Dia menopangkan kedua tangan ke bangku halte untuk membantunya berdiri. Dan dengan gerakan tertatih sedikit oleng akhirnya ia berdiri tepat di hadapan Jhon hanya berjarak selangkah diantara kedua nya, ia menundukkan kepala terasa lemas.


Jhon yang melihat pemandangan itu, ia tertegun diam mematung dengan sorot mata terpaku tajam.


"Jojo." Menghela napas pelan, sebelum melanjutkan bicaranya. "Tidak, bukan, kau...," tunjuk Rika dengan telunjuknya, ia mengangkat wajahnya mendongak, menatap dengan tatapan sayu yang masih penuh air mata. "Jhonathan ivander, kau pria brengsek, yang munafik."


"Kau!" Tercekat Jhon dengan mata melebar terkejut atas ucapan Rika. Ia tak menyangka gadis manis yang selama ini di kenal bodoh, ceroboh tersebut bisa mengatakan hal seperti itu padanya. "Apa maksud dari kata mu? Apa kau sakit? Wajahmu...," terjeda sejenak ia mengulurkan tangan hendak menyentuh dahi.


Plakk.


Rika menepis dengan kasar tangan Jhon yang hendak menyentuh kulit wajahnya. Ia masih menatap sayu dengan mata merah penuh air mata. "Jangan sok baik lagi pada ku... kau bermuka dua."


Jhon semakin bingung dengan apa yang di ucapkan gadis manis itu. "Apa maksud mu, gadis bodoh? Aku? Sok baik, dan kau-"


"Diam!" Bentak Rika membuat Jhon terlonjak dan bungkam seketika. "Aku memang bodoh telah menaruh hati pada mu," ucapnya, kemudian ia hendak melangkah namun baru satu langkah untuk maju tiba-tiba diri nya terhuyung akan jatuh karena merasakan kepala nya berdenyut limbung akibat berjam-jam ia menangis di sertai badannya yang terkena hujan.


Grep.


Jhon segera memegang lengan atas gadis manis itu agar tidak terjatuh.


Rika memegang kepala nya yang terasa berdenyut nyeri, dengan sedikit menunduk dan memejamkan mata. "Aarrgh, sial. Kenapa kepala ku pusing sekali?" Geramnya, Rika kembali mengangkat wajah untuk melihat wajah Jhon yang cukup dekat dengannya.


"Jojo, kenapa wajahmu jadi ada dua? Apa kau sedang menunjukkan wujud asli mu, si muka dua?"


Jhon diam membisu, hanya tatapannya saja berubah semakin tajam dan dingin.


Gadis manis itu, memberontak dan melepaskan dengan kasar tangan Jhon dari lengannya. Lalu berjalan dengan langkah pelan sedikit terseok karena kaki nya terasa lemas, keram juga kepalanya yang limbung. Ia menerjang air hujan yang masih turun meski tidak sederas sejam lalu, dengan langkah tanpa tujuan.


Jhon masih bungkam, raut wajahnya sudah menggelap dengan sorot mata tajam seakan menusuk punggung gadis manis di depannya. Ia membuntuti langkah kaki gadis itu. "Bodoh! Kau mau kemana?"


"Jangan mengikuti ku, Jhonathan ivander. Pergi menjauh, aku bukan mainan mu," oceh Rika di sela langkah gontai, dan lemah.


Alis Jhon tertaut menajam. "Gadis bodoh." Teriak Jhon melangkah maju, melemparkan payung yang di pegang ke sembarang dan dengan gerakan cepat ia menahan tubuh gadis manis yang sudah terhuyung akan terjatuh ke jalanan aspal.


Bruk.


Rika terjatuh lemah di dalam pelukan Jhon. Ia menatap wajah pria tampan yang memangkunya, pandangan matanya mulai kabur buram dan tubuhnya lunglai terasa menggigil berat. "Jojo kau jahat," ucapnya serak nan lemah.


Jhon memangku dan menggendong ala bridal style tubuh gadis manis tersebut, lalu melangkah ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.


Dia mendudukkan tubuh Rika pada kursi depan, dan ikut menyusul memutari setengah mobil duduk di kursi kemudi.


"Kenapa kau sampai seperti ini, bodoh? Hal apa yang membuat mu sampai seperti ini?" Jhon berucap sembari menyelimutkan mantel yang di ambil dari kursi belakang ke tubuh Rika.


Setelahnya, Jhon menyalakan penghangat suhu yang tersedia di kabin mobil. Lalu mulai melajukan mobil untuk meninggalkan tempat itu.


Sudah beberapa menit, mobil hitam itu masih melaju di jalanan kota.


"Dingin, aku ingin pulang," ceracau Rika di sela pejaman mata nya, tubuhnya bergetar menggigil dengan bibir sudah membiru dan wajahnya pucat pasi.


Pria tampan di sampingnya mengalihkan pandangan dari jalanan. Ia melirik pada gadis manis itu.


Jika membawa mu pulang dalam keadaan seperti ini. Bagaimana pandangan orang tua nya terhadap ku?


Hah... Jhon menghembuskan napas kasar menutup bibirnya dengan jemari telunjuk, ia menatap lurus pada jalanan, berpikir mengenai gadis itu agar baiknya di bawa kemana. Lalu ia merogoh ponsel dari balik jas dan mendial nomer kontak bertuliskan 'Nona Annisa.'


-------------------------------


Mobil hitam itu berhenti di garasi rumah yang berlantai tiga. Jhon keluar dari mobil dan menggendong kembali tubuh gadis manis yang terlihat lemah sudah tak sadarkan diri, ia melangkah tergesa menuju pintu masuk rumahnya.


Brak.


Jhon mendorong sedikit keras pada pintu kembar yang tertutup.


"Atan." Ujar Ibu Lily yang tengah duduk di sofa ruang utama, ia terkejut dengan suara pintu yang di dorong kasar.


"Maaf Ibu. Aku tidak ber-"


"Nak Rika." Celetuk Ibu Lily memotong ucapan Jhon, ia menghampiri dan menelisik penampilan gadis manis dalam gendongan Jhon. "Apa yang terjadi padanya? Kenapa kalian basah kuyup begini?" Menempelkan jemari ke sekitar wajah Rika.

__ADS_1


"Panggilkan dokter Bu, nanti aku jelaskan." Jawab Jhon, lalu melangkah ke arah tangga meninggalkan Ibu Lily yang berdiri mematung menatap terbengong.


"Bu, siapa yang tadi membanting pintu rumah?" Ayah Kusuma yang baru datang dari ruangan lain, mendekati istrinya.


"Anak kita telah berubah," ucap Ibu Lily tersenyum senang lalu berjalan ke arah meja nakas, meraih gagang telepon.


"Berubah? Maksudnya?" Bingung Ayah Kusuma.


"Sebentar ibu panggil dokter. Ayah jangan tanya dulu." Sahut Ibu Lily, kemudian memencet tombol memanggil.


Di kamar Jhon.


Jhon merebahkan tubuh gadis manis yang basah kuyup itu ke atas kasurnya dengan hati-hati dan pelan.


"Emmh," igau Rika menggerakkan kepala ke samping kanan, alisnya mengernyit merasakan sakit di kepala juga sekujur tubuhnya.


"Kau telah sadar." Jhon menghembuskan napas kasar, ia duduk di sisi ranjang.


Rika membuka matanya sedikit menyipit. "Jojo, kau kah itu?" Ucapnya serak nan parau, ia mengerjapkan matanya beberapa kali dengan pelan untuk memperjelas penglihatannya yang kabur.


"Benar ini aku." Sahut Jhon, tangannya terulur memeriksa kening Rika yang memang benar tubuh gadis itu terasa panas menyengat di kulitnya. "Bodoh, kau demam."


Rika kembali memejamkan matanya yang terasa berat, perih dan panas. Ia menggigil mengkeratkan giginya menahan rasa dingin yang menusuk ke tulang, dan dengan reflek tangannya terkepal memeluk tubuhnya dengan menyilang di depan dada.


"Kau kedinginan?" Jhon bertanya, lalu mengambil mantel dan berganti menarik selimut hendak menyelimuti tubuh Rika namun gerakannya terhenti melihat baju basah melekat di tubuh gadis manis itu sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya.


Degh... Jhon menangkup rahangnya dengan sebelah tangan, wajahnya memerah merona melihat pemandangan tubuh depan Rika yang tercetak cukup jelas. Segera ia memalingkan wajah ke arah lain dan menyibakkan selimut untuk menutupi seluruh tubuh Rika. "Apa yang ku pikirkan? Aku sudah gila?"


"Jojo...," igau Rika lemah. Membuat Jhon menoleh menatapnya.


"Kau jahat... memanfaatkan ku."


Jhon tersenyum, mengusap lembut pipi mulus putih pucat dengan semu merah akibat demam. "Aku tidak memanfaatkan mu, bodoh. Kenapa kau berpikir seperti itu?"


"Jojo...,"


"Hemm, aku di sini." Mengusap kepala Rika yang terbungkus kerudung putih dan tersenyum kecil.


"Jojo."


"Aku... bukan Sanny."


Mendengar nama yang di gumamkan Rika, seketika senyuman di bibir Jhon memudar matanya melebar terkejut. "Sa-sanny." Ucapnya tercekat dalam tenggorokan. Darimana dia tahu soal Sanny?


"Hiks... hiks, aku bukan peniru," celoteh Rika dan menangis terisak.


Peniru... Jhon mengusap air mata yang mulai mengalir di sudut mata gadis manis itu. "Siapa yang memberitahukan mu soal Sanny? Dan apa maksud mu dengan peniru?"


"Jojo, aku... aku...," ceracauan Rika terdengar samar dan melemah seiring tangisannya terhenti dan kembali tenang namun masih terdengar deru napas yang keras terlihat gelisah.


"Bodoh, jawab aku. Siapa yang memberitahukan soal Sanny?" Jhon bertanya sembari mengusap mata sembab Rika yang terpejam. Ia menghembuskan napas kasar karena tak mendapat respon apa pun lagi darinya. Lalu bangkit dari duduknya menjauh membelakangi ranjang.


"Pasti si bocah tengik itu yang memberitahukannya? Melihat lokasi dia menangis tak jauh dari kafe. Tapi apa yang dia bicarakan pada si bodoh ini. Sehingga dia seperti ini." Jhon menengok melihat wajah lelap Rika. Dan tersenyum menyeringai. "Rupanya dia memakai cara ini untuk menjauhkan ku dari nya."


Dan bersamaan dengan itu.


Kreet.


Pintu kamar yang semula sudah terbuka sebagian, di buka lebar oleh seorang wanita paruh baya yang membawa nampan berisi peralatan kompres.


"Atan." Panggil suara wanita yang sangat akrab di telinga nya, memasuki kamar.


Jhon terhenyak sejenak, ia menoleh. "Ibu, pakaiannya basah. Aku akan keluar sebentar." Ucapnya, berjalan cepat ke arah pintu keluar, melewati ibunya begitu saja dan keluar kamar.


Ibu Lily tersenyum tenang, menggelengkan kepala beberapa kali dia melirik Rika yang terbaring lemah di atas kasur.


Beberapa saat kemudian.


Rika telah tergantikan dengan pakaian yang di ambil Ibu Lily dari lemari anaknya, yaitu switer rajut dengan celana bahan panjang dan kerudung blus miliknya. Gadis manis itu telah di periksa oleh dokter yang menyatakan dia terkena demam tinggi sampai 40° dan kemungkinan terkena flu.


Selama di periksa hingga dokter pulang, Jhon menghilang dari kamar meninggalkan Rika yang terbaring lemah dengan sang ibu yang menemaninya merawat dia dari demam tinggi hingga turun.


Pagi hari telah tiba.

__ADS_1


Rika terbaring sendirian di kasur besar di kamar luas, karena demamnya telah turun. Ibu Lily keluar kamar meninggalkan dia sendirian untuk beristirahat.


Sementara Jhon setelah melaksanakan shalat subuh ia memasuki kamar yang sepi dan tenang itu. Ia berjalan pelan dengan tangan di masukkan ke saku celana, lalu berdiri di ujung ranjang menatap gadis yang masih lelap di bawah selimut. Terbesit senyuman kecil di sudut bibirnya berbalik melangkah ke arah sofa dan duduk menyilangkan kaki menghadap ke ranjang.


"Emmh," igau Rika menggerakkan kepala nya yang terasa pening, ia menopangkan tangan untuk membantunya bangkit dari tidur.


Dengan mata masih terpejam, ia menguap beberapa kali juga menggerakkan lehernya yang terasa pegal dengan gerakan ke kiri dan ke kanan.


"Kau sudah bangun." Suara yang berat nan tajam langsung menyapa telinganya.


"Eh," Rika membuka matanya perlahan untuk melihat orang yang bersuara itu. Seketika mata nya membulat. "Jo-jo," ucapnya tercekat. Kemudian ia melihat sekeliling kamar yang terlihat asing di mata nya.


Ini dimana? Kenapa aku ada di sini?


Jhon bangkit dari duduknya, melangkah mendekati ranjang. "Kau ada di kamar ku." Ucap Jhon menjawab pertanyaan yang ada di pikiran Rika.


"Kamar mu?" Menatap terlongo kaget, dengan tangan gemetar dan kaku Rika meraih selimut yang menutupi tubuhnya. "Ba-baju ku si-siapa yang ganti." Kagetnya melotot, ia mencengkram kuat selimut yang di pegangnya. Lalu Rika menatap tajam pada Jhon yang tersenyum penuh arti, berdiri di ujung ranjang.


"Tentu saja aku, yang menggantikan baju mu."


"Aaaa... kau brengsek! Pria bejat! Mesum! Cabul gilaa." Umpat Rika melemparkan apa saja yang ada di atas kasur ke arah Jhon.


"Hey, bodoh. Apa yang kau lakukan?" Jhon menangkap setiap benda yang di lempar Rika padanya.


"Kau yang bodoh, mesum!" Teriak Rika masih melemparkan bantal dengan perasaan amarah.


"Tenanglah bodoh. Hey, berhenti!" Bentak Jhon sambil menangkap bantal guling.


Rika berhenti melempar, ia terkulai lemas menundukkan pandangan, tubuhnya gemetar menahan emosi yang sudah menggunuk. "Aku sudah kotor. Kau menodai ku, brengsek."


Sejenak Jhon tertegun, ia meletakkan bantal juga guling yang di lempar tadi ke atas sofa. Lalu dia berjalan mendekati ranjang dan tersenyum kecil. "Tenang saja aku akan bertanggung jawab. Jadi kau jangan mengumpat ku seperti itu."


"Segampang itu kau bilang, dasar gila." Sahut Rika mendelik tajam.


Jhon menahan senyumannya, berdiri di sisi ranjang. "Lalu aku harus apa, gadis bodoh?"


"Kau menarikku pada dosa besar, pria brengsek!" Teriak Rika mengangkat wajahnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca memerah. Lalu ia menyibakkan selimut dan menurunkan kedua kaki hendak berdiri.


"Bodoh." Jhon hendak memegang sebelah lengan Rika.


Plakk.


Rika memukul kasar tangan Jhon. "Jangan sentuh aku." Dan melangkah ke arah pintu keluar.


"Berhenti!" Teriak Jhon menggema di ruangan kamar, menghentikan langkah kaki Rika yang baru beberapa langkah. Ia berjalan pelan mendekati Rika yang mematung diam masih gemetar menahan tangis dan amarah.


Pria tampan itu, mengusap puncuk kepala Rika dengan pelan. "Maafkan aku, telah melukai mu." Ucap Jhon terdengar rendah nan parau.


"Pak Jhonathan ivander aku sekarang sangat membencimu, jangan muncul di hadapan ku lagi." Rika melanjutkan langkahnya, menyambar tas selempang miliknya yang berada di sofa lalu hendak melangkah ke arah pintu.


Namun tiba-tiba...


Ceklek.


Pintu kamar itu terbuka, memunculkan seorang wanita paruh baya yang membawa peralatan shalat untuk wanita.


"Tante." Celetuk Rika, terdiam mematung diam di tempatnya.


Ibu Lily, melangkah menghampiri. "Kamu sudah bangun, Nak. Syukurlah, semalam ibu sangat mencemaskan mu."


"Ah, i-iya." gelagap Rika mengusap kasar air mata nya yang akan mengalir.


"Ibu, tenangkan dia dan jelaskan keadaan semalam. Aku keluar duluan." Jhon berjalan melewati kedua nya begitu saja dan keluar kamar.


Ibu Lily tersenyum, menangkup sebelah sisi wajah Rika dengan lembut. "Kau subuh dulu yah, Nak. Nanti turun ke bawah untuk sarapan. Sudah kuat kan berjalan?" Menyodorkan mukena yang langsung di terima.


Rika mengangguk pelan dan membalas tersenyum kikuk. "Ba-baik tante."


"Panggil ibu jangan tante."


"Ib-ibu." Terbata Rika canggung.


Ibu Lily kembali tersenyum ramah, mengusap lembut pipi mulus gadis manis itu. Lalu berbalik keluar kamar.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...


__ADS_2