
"Jhon, kau sudah siapkan supir untuk mengantar teman Annisa?" tanya Egi sambil merangkul bahu Annisa yang sudah berada di samping mobil nya.
Alis Annisa berkerut menatap bingung ke arah Egi. "Ma...maksud mu, Rika tidak ikut aku pulang ke rumah?"
Mengusap lembut puncuk kepala Annisa, dan membuka pintu mobil penumpang. "Tentu sayang, karena hari sudah larut malam, kau tidak berniat menyusahkan teman mu kan?"
Annisa menghela napas pelan, melirik Rika yang berdiri tidak jauh dari nya.
Ada benar nya juga kata si Egi.
Rika yang mengerti situasi tersenyum ramah ke Annisa dan menyodorkan kotak kue tart yang di bawa dari tadi. "Benar kata tuan Egi, sudah hampir larut malam. Dan aku menemui mu untuk mengantarkan kue ini, dimakan Annisa," tutur Rika.
Annisa menerima kotak kue itu. "Makasih Rik kau tau saja jika aku sedang kepengen kue buatan mu," melirik Jhon. "Kak Jhon yang antar Rika kan?"
"Bukan saya nona," mengedikkan dagu ke arah mobil belakang Egi. "Pak supir di belakang yang akan mengantarkannya."
"Tidak perlu di antar segala Nis, aku bisa naik taksi atau ojek online," tolak Rika halus.
"Rika," Annisa menatap tidak suka.
"Baiklah," menghela napas pasrah. "Aku akan naik mobil itu."
Egi merangkul kembali bahu Annisa. "Masuklah ke dalam mobil, di luar dingin," titah nya menggiring Annisa agar masuk ke dalam.
"Aku pulang Rik. Kau hati hati di jalan nya," Annisa tersenyum dan melambaikan tangan sejenak menatap Rika sebelum akhirnya memasuki mobil di ikuti Egi dan Jhon.
Kini mobil yang membawa Annisa telah berjalan dengan kecepatan sedang di jalanan kota.
Di dalam mobil.
Egi memindahkan kotak kue yang di bawa Annisa ke belakang kursi. Lalu menarik pinggang Annisa untuk merapatkan duduk nya. "Tidurlah, perjalanan masih jauh. Biar aku bangunkan kau jika telah sampai."
Annisa mengangguk pelan, dan melingkarkan lengan di pinggang Egi lalu menyenderkan kepala di dada Egi. "Kau tahu saja jika aku sedang ngantuk," gumam Annisa di sela pejaman mata.
Egi membelai lembut bahu Annisa. "Mata mu yang berkata pada ku."
Selang beberapa lama.
Annisa telah tertidur lelap dalam pelukan Egi.
"Tuan Egi," panggil Jhon yang pandangan nya tetap fokus ke jalanan.
"Hemm," sahutnya.
"Sepertinya nona belum tahu tentang pembicaraan tuan besar terhadap anda. Melihat reaksi nona dari tadi seperti tidak ada raut wajah kaget atau gelisah," tanya Jhon melirik sekilas ke kaca depan.
"Aku tidak bisa memberitahukan nya Jhon. Aku takut dia marah," Egi melihat wajah lelap Annisa.
"Bukannya waktu nya sangat mepet tinggal esok saja, apa tuan Egi tidak akan memberitahukannya sekarang dan menjelaskan secara pelan pelan. Saya yakin nona akan selalu setia menunggu bahkan menerima semua nya."
Egi mendelik sebal ke depan. "Jelas saja dia akan menunggu dan setia pada ku, Annisa berbeda dengan wanita lain, dia istri ku paling tanggung jawab dan lembut hati nya," sewot Egi menatap tidak suka ke Jhon.
Jhon terkekeh. "Hemm, iya wanita yang lembut hati nya sehingga bisa meruntuhkan gerbang pertahanan hati saya juga."
"Jhon," geram Egi. "Bisakah kau serius dalam pembicaraan penting, jangan memancing emosi ku."
Tertawa pelan memutar stir mobil untuk membelok arah. "Bukan Jhonathan nama nya jika berkata serius terus," jawab Jhon santai.
"Iya memang kau gila," cibir Egi mengelus kembali kepala Annisa.
Jhon semakin terkekeh menutup bibir nya.
"Jhon, baru kali ini aku mendengar ada wanita yang mengejek mu dengan sebutan bapak bapak anak satu," sindir Egi tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Saya tidak setua itu tuan Egi. Usia saya hanya berbeda 12 tahun dengan anda. Dimana nya saya bisa di katakan tua."
Kali ini Egi yang menahan tawa nya. "Jelas kau tua Jhon, 12 tahun bukan jarak yang kecil. Usia mu sudah memasuki kepala 3, jelas kau sudah sepantas nya di panggil bapak. Kakak ku saja yang berusia 27 sudah memiliki anak satu, dan kau kekasih atau pacar saja belum punya."
Jhon terdiam membisu menatap termenung ke depan.
Dia masih berkabung dengan hal itu. Kenapa bisa keceplosan menyebutkan nama kekasih.
Seketika suasana dalam mobil menjadi sunyi dan hening membentang di antara ke tiga nya. Jhon tetap fokus ke jalanan, sedang Egi masih setia membelai Annisa yang tertidur dalam pelukannya.
--------------------------------
Sementara di rumah Putra.
Romisa tengah mengayun ambing dede fatih dalam gendongan nya untuk di tidurkan dengan di iringi lantunan sholawat dari bibir nya.
"Nona Romisa," panggil bi Ane dari luar kamar.
Seketika lantunan sholawat terhenti dan menoleh ke arah pintu kembar. "Masuk saja bi," instruksi Romisa.
Bi Ane memasuki kamar, menghampiri Romisa dan menunduk. "Sudah dua jam tuan tidak datang ke meja makan, dan masih setia di ruang kerja nya. Apakah saya harus mengantarkan makanan ke ruang kerja?"
Sontak pergerakan tangan Romisa yang tengah mengayun ambing terhenti, menatap bi Ane. "Benarkah bi? Saya kira dia akan makan setelah tadi menolak makan malam bersama di meja makan."
Romisa terdiam sejenak, berjalan mendekati kasur bayi yang terletak di ruangan khusus dede fatih samping ruang baca yang dulu adalah ruang tv.
"Biar saya saja bi yang antarkan. Tolong jaga dek fatih dulu," pinta Romisa sambil menidurkan fatih ke kasur lalu menyelimuti dengan lembut dan mengecup kening nya.
"Baik nona," berjalan mendekat ke arah kasur fatih. "Makanan nya sudah saya siapkan di atas troli di dapur," ucap Bi Ane yang di balas anggukkan kepala Romisa.
Romisa merapihkan hijab nya dan berjalan keluar kamar, menuju dapur untuk mengambil nampan berisi makanan kemudian berjalan ke arah ruang kerja Arga.
Tok...tok...tok.
"Masuk," perintah dari dalam.
Segera Romisa memutar knop pintu dan masuk ke dalam. "Suamiku," panggil Romisa di sela langkah kaki nya.
Arga mengabaikan panggilan Romisa dengan tetap fokus menatap layar laptop. "Kau masih ingat suami mu ternyata, bukannya kau sedang bermesraan dengan si makhluk kecil itu," jawab Arga ketus.
Romisa tersenyum meletakkan nampan di atas meja sofa, kemudian berjalan menghampiri meja kerja Arga. "Apakah kau cemburu lagi pada anak mu suamiku?" tanya Romisa dengan nada lembut.
Mendengus kesal, dan tetap fokus menatap layar laptop.
Romisa merangkul bahu Arga dan memberikan nya kecupan lembut di pelipis. "Berhentilah bekerja, kau belum makan malam suamiku," ucap Romisa lembut.
Arga tidak goyah dengan rayuan Romisa masih tetap fokus ke laptop. "Aku tidak lapar," ketus nya.
Mengusap pelan pipi Arga. "Benarkah? Jika begitu aku kembali ke kamar lagi," Romisa melepaskan rangkulan nya di bahu Arga dan hendak berbalik melangkah.
Segera Arga menarik tangan dan merangkul pinggang Romisa sehingga terduduk di pangkuan nya. "Masih butuh berapa waktu lagi kau habiskan hanya berdua dengan si makhluk kecil! Aku juga suami mu yang butuh sentuhan mu Romisa, kau pilih kasih," ucap Arga merajuk menaruh kepala di dada Romisa.
Romisa terkekeh geli. "Jangan merajuk seperti anak kecil, anak mu saja sangat pengertian tidak pernah menangis keras." Mengusap lembut rambut Arga.
Arga memeluk erat tubuh Romisa. "Jangan bandingkan aku dengan si makhluk kecil."
"Hemm, baiklah, baiklah," Romisa mengangguk dan memberikan usapan turun naik di punggung Arga. "Sekarang waktunya kau makan malam. Kau tidak berniat untuk sakit kan? Jadi makanlah."
"Biarkan aku sakit saja, biar kau sepenuhnya mengurusi ku," gumam Arga mencari posisi nyaman dalam usapan Romisa.
"Suamiku, jangan seperti ini. Makanlah dulu," bujuk Romisa.
"Baiklah," Arga menegakkan kepala nya untuk menatap Romisa, lalu dengan cepat mencium kilas beberapa kali bibir Romisa. "suapi aku."
__ADS_1
Romisa mengangguk dan turun dari pangkuan Arga, kemudian berjalan ke arah sofa bersama Arga.
Di atas sofa, Arga kembali merangkul pinggang Romisa. "Romisa, kapan kau akan selesai masa libur nya?" tanya Arga menatap penuh arti.
Menyuapkan satu tusuk daging steak ke mulut Arga. "Maksud mu masa libur apa suamiku? Bukannya aku selalu di rumah."
Arga mengusap lembut bibir merah Romisa. "Masa libur wanita setelah melahirkan," ucap nya, lalu mendekat ke arah wajah Romisa. "Dokter mengatakan aku harus bersabar selama 5 bulan lama nya."
Romisa mengalihkan pandangan untuk menghindari kontak mata dengan Arga, menyuapkan kembali steak ke mulut Arga. "Maaf suamiku, kau telah di bohongi karena ku, sebenarnya masa nifas ku telah berakhir 40 hari setelah melahirkan," jelas Romisa sambil memotong steak di piring.
Arga menatap Romisa dengan alis terangkat sebelah. "Rupa nya kau berubah licik Romisa, dan bukannya sekarang sudah hampir memasuki akhir bulan ke 4, Apa kau akan terus membayar dokter untuk membohongi ku," semakin mengikis jarak wajah nya dengan wajah Romisa.
"Anu...emm maaf suamiku aku...aku salah," menunduk merasa bersalah.
Arga mendengus kesal, membuang muka. "Kenapa kau takut mengakui, Romisa? Sebenarnya aku sudah tahu tentang hal ini, hanya saja aku ingin kejujuran mu. Apa yang membuat mu tega berbohong pada ku?"
Romisa masih menunduk tak mampu menatap tatapan Arga yang sudah di penuhi emosi. "Aku hanya belum siap melakukan itu lagi dengan mu," ucap nya lemah.
Arga kembali mengikis jarak wajah nya dengan wajah Romisa. Lalu meraih dagu Romisa untuk di dongak kan agar menatap ke arah nya. "Jika sedang berbicara dengan ku, tatap mata ku!"
Romisa mengambil satu tusuk daging steak. "I...iya," gagap Romisa lalu menghadang bibir Arga dengan sepotong daging, karena Arga sudah akan nyosor ke bibir nya. "Kau belum menghabiskan makanan nya," tersenyum manis kepaksa.
Arga mengunyah dengan kesal daging itu, dan menjauhkan diri dari Romisa. "Segitu nya kau tidak mau ku cumbu," ucap Arga, mengambil air putih dan menenggak habis. Lalu bangkit dari duduk nya. "Aku sudah kenyang."
Segera Romisa mencekal lengan Arga. "Bukan tidak menginginkan nya!" Ucap Romisa terjeda sejenak, menundukkan pandangan. "Tapi...tapi karena habis mengandung, aku malu pada bentuk tubuh ku sekarang yang kurang enak di pandang," gumam Romisa pelan.
Arga tertegun, menelan ludahnya kasar dan kembali duduk di samping Romisa. "Jadi selama ini kau menghindari berhubungan dengan ku, dan menyuruh dokter untuk mengatakan itu padaku karena hal ini?"
Romisa mengangguk pelan sebagai jawaban iya.
Segera Arga menarik dan merengkuh tubuh Romisa untuk di peluk nya. "Kenapa harus melakukan seperti ini Romisa? Aku akan selalu menerima mu bagaimana pun keadaan dan bentuk mu, jadi jangan pernah melakukan kebohongan yang akan menyakiti perasaan ku."
Romisa mendongak menatap wajah Arga. "Apa kau marah?"
"Aku tidak bisa marah pada mu, hanya sedikit kesal saja," sahut Arga memeluk Romisa erat.
Membalas pelukan Arga. "Maafkan aku suamiku, aku hanya...," ucapan Romisa terhenti karena dengan cepat Arga menggendong tubuh Romisa.
"Suamiku, aku...aku," gagap nya.
"Kita tidur di lantai atas malam ini, biar makhluk kecil itu di temani bi Ane dan para babysitter nya." Ucap Arga tersenyum penuh minat, terus menatap wajah Romisa dan hendak melangkah ke pintu keluar.
Romisa memberontak dari gendongan Arga. "Suamiku, turunkan saja aku, jika ayah melihat nya akan sangat malu untuk kita," pinta Romisa masih berusaha untuk turun dari gendongan Arga.
Arga menghela napas pelan, dan akhirnya menurut menurunkan Romisa, namun berganti merangkul pinggang untuk merapatkan tubuh. "Begini tidak akan malu kan?" Ucap Arga, kemudian melangkah menggiring Romisa keluar dari ruangan kerja.
Baru saja Arga dan Romisa melangkah di sebuah ruang utama hendak menaiki anak tangga, tiba tiba diri nya bertemu pandang dengan Egi yang tengah menggendong Annisa yang tertidur dalam gendongan.
"An an, dia sudah pulih dan pulang," celetuk Romisa hendak menghampiri Egi, namun di cekal kuat pundak nya oleh Arga.
"Malam kakak, kakak ipar juga, istri ku sudah sembuh dan mulai sekarang akan tinggal kembali di sini, " sapa Egi menatap Arga. "Sepertinya ada yang lagi mesra mesraan di ruang umum," sindir Egi.
Mata Romisa sedikit melebar mendengar panggilan kakak ipar dari bibir Egi.
Arga tersenyum miring. "Bukannya kau juga sama," ledek nya.
Egi melirik Annisa yang tampak damai dalam lelap nya. "Heh... sama, jelas tidak," kembali menatap Arga. "Kakak mau kemana? Bukannya arah kamar kalian ada di sebelah sana," tunjuk Egi dengan dagu ke arah berlawanan.
Arga berbalik melangkah menaiki tangga. "Aku mau masuk kamar mana, bukan urusan mu. Dan cepat tidurkan adik ipar, jangan terlalu lama di gendong di luar, cuaca cukup dingin," tutur Arga di sela langkah kaki nya, merangkul Romisa.
"Ck," decak Egi melangkah ke arah koridor yang menghubungkan jalan ke kamar nya. "Sok perhatian dengan Annisa."
BERSAMBUNG...
__ADS_1