Pejuang Move On

Pejuang Move On
Bab 64


__ADS_3

Sementara di Rumah Rika.


"Assalamualaikum." Salam Pak Adi memasuki rumah di ikuti Farhan.


Seorang wanita paruh baya dari arah belokan ruangan lain, datang dengan jalan cepat menghampiri. "Walaikumsalam, Papa."


Seperti biasa, Pak Adi langsung duduk di sofa panjang. Begitu pun dengan Farhan duduk di sofa tunggal sebrangnya.


"Lembur lagi yah Pah? Sampe pulang malam gini." Ibu Asih menyalami punggung tangan sang suami. Lalu hendak merunduk untuk melepas sepatu yang melekat di kaki Pak Adi. Namun...


Puk...Puk.


Pak Adi menepuk bagian kosong sofa di sebelahnya. "Duduk dulu Mah. Ada yang mau Papa diskusikan."


Alisnya berkerut bingung tambah penasaran, Ibu Asih menurut duduk di sofa samping suami. "Ada apa Pah? Kayak serius banget."


Pria paruh baya itu menatap lurus ke arah pria tampan sebrang sofa nya. "Ini soal saya, Dek Rika dan Kak Jhon." Ucap Farhan.


Seketika Ibu Asih menoleh, mata nya sedikit melebar melihat ada orang lain di rumahnya. "Eh, Nak Farhan? Papa kok nggak bilang kalo ada tamu."


"Mama nya aja nggak lihat sekitar ruangan, Nak Farhan kan sejak tadi juga ada di sana."


Mencebikkan bibir sebal, mencubit pinggang Pak Adi. "Jadi maksud Papa, mata Mama rabun gitu. Karena gak bisa lihat orang segede gini di antara kita."


"Aww...," memegang tangan sang istri untuk melepaskan cubitannya. "Mah, malu di lihatin Nak Farhan. Kalo mau pijitin Papa, nanti saja di kamar." Ucapnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan sebelah alis turun naik.


"Dih Papa." Segera Ibu Asih menatap ke arah pria tampan itu lagi, ia tersenyum ramah sebelum melanjutkan bertanya. "Mau minum apa, Nak Farhan?"


"Ah, tidak perlu tante. Saya di sini hanya sebentar kok," Farhan melirik memberikan isyarat mata pada pria paruh baya di hadapannya.


Pak Adi tersenyum yang mengerti maksud lirikkan isyarat itu, ia memegang sebelah tangan sang istri. "Mah, seperti yang tadi Papa katakan. Ada yang akan kita diskusikan, Mama sudah siap kan mendengarkannya?"


Menoleh dan tersenyum. "Memang apa sih Pah? Mama jadi penasaran."


"Ekhem." Pak Adi mengambil tas kantor, ia mengeluarkan beberapa dokumen dari dalam tas itu lalu menyodorkan untuk di letakkan ke pangkuan wanita di sampingnya. "Lihatlah, dan baca. Mama akan tahu maksud Papa. Tapi... Papa harap Mama jangan kecewa dan syok saat melihatnya."


Ibu Asih memegang dokumen tersebut dengan alis tertaut penasaran bercampur bingung. "Apa ini? Sampai Papa bilang Mama jangan kecewa segala."


"Lihat saja, Mama."


Wanita paruh baya itu mulai membuka lembaran setiap dokumen dalam pegangan tangannya, terlihat jelas dari raut wajahnya tampak biasa saja tak terlihat ada keterkejutan atau ucapan yang keluar dari bibirnya.


Membuat Farhan dan Pak Adi yang memperhatikan mengkerutkan dahi menatap tanya.


"Mama tak apa? Atau ada yang sakit?" Pak Adi akhirnya mengajukan tanya setelah sekian menit keheningan menguasai.


Ibu Asih menggeleng pelan, ia menutup dokumen itu. Lalu menghela napas pelan menatap pada Farhan juga Pak Adi secara bergantian.


"Mama sudah tahu soal ini, karena pada hari saat Nak Jhonathan melamar si Neng. Dia datang kerumah menggendong si Neng yang tak sadarkan diri, dan menjelaskan jika si Neng bisa seperti itu... karena terkejut akibat lamarannya."


"Hah!" Mata nya melebar terkejut. "Te-terus, Mama menyetujui Nak Jhonathan menjadi mantu kita."


Ibu Asih menoleh dan tersenyum...


Puk... Puk.


Dia menepuk lengan atas suaminya dengan pelan. "Jika bersama dengan orang yang di cintai nya bisa membuat si Neng bahagia, kenapa Mama harus menentangnya? Lagian Nak Jhonathan juga tak terlalu buruk, dia mantu idaman Mama bahkan ibu-ibu komplek sini menggosipkan ingin mempunyai mantu macam Nak Jhonathan, yang tampan, karir mapan dan baik. Hanya satu saja kekurangan dia itu, kurang muda."


Hah... Pak Adi menghela napas lega, ia menggenggam jemari tangan istrinya. "Bukannya Papa juga Nikah sama Mama itu beda 10 tahun? Tapi Papa tetap terlihat lebih muda kan dari Mama?"


Gyut.


Ibu Asih mencubit pipi Pak Adi dengan gemas. "Pipi keriput kayak gini di bilang muda, duh Papa kepedean banget sih."


Terkekeh senang, "memang harus pede Mah, biar tetap ganteng."


Sedang Farhan yang sedari tadi memperhatikan, ia menghembuskan napas tersenyum malu. Apa mereka tidak bisa tidak menunjukkan kemesraan di depan ku yang sedang patah hati ini?


"Ekhem... ekhem." Dehem Farhan cukup keras seketika membuat pasangan suami istri itu berhenti becanda dan menoleh ke arahnya.


"Eh, Pah rupanya Nak Farhan masih di sini?"

__ADS_1


Pak Adi masih menggenggam jemari sang istrinya, ia tertawa pelan. "Memang dia sedari tadi ada di sana Mah."


"Duh malu Mama." Tersipu menunduk malu.


Farhan tersenyum kepaksa menampilkan sederet gigi putihnya. Sikapnya benar-benar sama kayak dek Rika... "Om yang terakhir."


"Ah, iya." Seketika raut wajah Pak Adi berubah serius. "Mah."


Ibu Asih mengangkat wajahnya, menatap. "Apa Pah? Ada lagi yang mau Papa sampaikan ke Mama?"


Mengangguk pelan, Pak Adi mengeluarkan berkas lain dari dalam tas dan meletakkannya kembali di pangkuan sang istri. "Lihatlah, ini soal si Neng yang tak pulang selama sebulan lebih."


"Si Neng lagi?"


"Hemm."


Ibu Asih memegang berkas itu, dan mulai membaca dari perlembar kertas yang di buka. "N-neng...," ucapnya tercekat dengan mata merah melebar terpaku dan mulut menganga tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


"Papa, ini... ini apa?"


"Sekarang si Neng ada di rumah sakit." Timpal Pak Adi memegang kedua bahu istrinya yang bergetar.


Pegangan terhadap berkas itu melemah seiring napasnya yang memburu akibat terlalu syok. Lalu...


Bugh.


Ibu Asih ambruk tak sadarkan diri yang langsung di rangkul oleh sang suami.


"Mama! Mama! Sadar Mah!" Panik Pak Adi menepuk pelan pipi wanita dalam pelukannya.


Farhan segera menyambar tas dokter yang di bawanya lalu berhambur mendekat. "Om, baringkan ke atas kasur segera."


Mengangguk kecil, Pak Adi merangkul merengkuh tubuh wanita itu untuk di gendongnya ala bridal style lalu berjalan tergesa ke arah kamar.


Sesampainya di dalam kamar, ia membaringkan Ibu Asih di atas kasur dengan posisi yang sesuai instruksi dari Farhan.


Setelahnya, Farhan melakukan tugas sebagai dokter memeriksa kondisi Ibu Asih dengan teliti.


Beberapa saat kemudian.


"Kau bilang istri Om hanya mengalami shock ringan, mengapa sudah 15 menit belum tersadar juga."


"Sabar Om, saya sudah mengecek keseluruhannya. Tidak terjadi masalah yang buruk terhadap jantungnya."


"Tapi dia kenapa masih terpejam? Apa kita bawa ke rumah sakit saja?"


Sejenak Farhan terdiam menatap tak terbaca. "Jika itu yang ter-"


"Papa." Suara serak nan lemah dari arah ranjang menghentikan ucapan Farhan.


"Mama, Mama sudah sadar." Pak Adi segera berhambur mendekat ke arah ranjang. Ia langsung memegang sebelah tangannya dan menciumi secara bertubi punggung tangan sang istri. "Ada yang sakit, Mah? Dimana yang sakit?" tanyanya menatap penuh cemas sembari mengusap puncuk kepala yang terbalut kerudung.


Namun hanya di balas gelengan kepala juga derai air mata dari Ibu Asih yang memilih bungkam tak bersuara.


Farhan beranjak dari duduknya, menghampiri ranjang. "Om, boleh saya periksa kembali?"


Pak Adi mengangguk kecil, dan melangkah mundur sedikit menjauh. Lalu Farhan mulai memeriksa kembali kondisi tubuh wanita yang terbaring lemah itu.


Hah... menghela napas pelan, sambil menurunkan earpieces dari telinga. Farhan bergerak mengeluarkan beberapa botol obat dari dalam tas dan meletakkannya ke atas meja nakas. "Om tak perlu khawatir, obat itu di minum sebelum tidur, usahakan jangan membuat tante larut dalam emosi lagi."


"Terimakasih Nak Farhan. Baik Om akan usahakan."


Manggut-manggut kecil, lalu tersenyum. "Sepertinya saya harus pulang sekarang." Sebelum melihat kemesraan kalian lagi yang akan membuat hati ku iri dan tersiksa.


"Baiklah, mau Om antar sampai depan?"


"Ah, tidak perlu Om. Tolong jaga tante saja." Farhan melirik ke arah ranjang, memberikannya senyuman ramah. Kemudian ia berbalik melangkah pergi keluar kamar meninggalkan pasangan suami istri itu.


Sepeninggalan Farhan.


Pak Adi duduk kembali di sisi ranjang, menggenggam jemari istrinya di selingi ciuman. Ia masih menatap cemas mengusap air mata di pipi mulus sedikit ada garis penuaan itu. "Mama... jangan menangis lagi, si Neng baik-baik saja."

__ADS_1


"Hiks... hiks... antarkan Mama sekarang ke rumah sakit, Mama ingin lihat si Neng."


"Ini udah malam Mah, nanti pagi kita kesana."


"Tapi Mama inginnya sekarang, dia pasti sekarang sendirian di sana, dia pasti sangat sedih kesepian. Neeng, Mama sangat merindukannya Pah... antarkan Mama kesana sekarang, Mama ingin-"


"Ada Ibu Rosselly dan Nak Jhonathan di sana yang menemani putri kita." Ucap Pak Adi menghentikan ocehan sang istri.


Ibu Asih menghembuskan napas kasar, air mata nya masih mengalir di sudut mata. "Nak Jhonathan? Tapi Mama sangat ingin melihatnya... hiks... hiks. Ibu macam apa Mama ini, sampai... sampai tak mengetahui anaknya terkena musibah dan... dan bahkan koma."


Pak Adi menempelkan jemari tangan yang di genggamnya ke dahi, ia memejamkan mata. "Mama tenang, jangan menyalahkan diri. Harusnya Papa yang minta maaf karena telah menyembunyikan hal besar ini dari Mama."


Ibu Asih terdiam menatap pria itu masih dengan isak tangis, menetralkan napasnya yang terasa memburu akibat tangisan. Neng, anak Mama... maafkan Mama telah berpikir yang tidak-tidak selama sebulan ini.


---------------------------


Pagi hari.


Di rumah sakit.


Rika tengah terduduk setengah terbaring menyender, dengan di temani seorang pria di samping ranjang. Sedang Ibu Lily telah kembali kerumah untuk mengurusi keperluan suaminya.


Dia baru saja melakukan pemeriksaan pagi oleh tiga dokter sekaligus, perban di tangan kanannya telah di buka dan melakukan terapi untuk melenturkan otot pada tangan agar tidak kaku, sedang perban di kakinya belum bisa di lepas di karenakan cedera yang di alami cukup parah hingga membutuhkan waktu berbulan untuk sembuh.


"Jojo, kaki ku benar-benar tidak bisa sembuh cepat. Aku sudah bosan di rumah sakit." Keluh Rika memberenggutkan bibir sebal.


Jhon tersenyum mengusap puncuk kepala yang terbalut kerudung itu dengan sayang. "Kalo kau bosan, kita rawat jalan saja dan sewa dokternya untuk datang kerumah."


"Aku tak sekaya dirimu Joe, bahkan uang tabungan ku saja pastinya tak akan cukup hanya untuk membayar pengobatan rawat jalan, apa lagi sewa dokter ke rumah. Aku bukan sultan, Jojo."


Terkekeh geli, Jhon kembali mengelus puncuk kepala Rika dengan gemas. "Aku bisa jadi atm berjalan mu."


"Ck," berdecak memalingkan wajah ke arah lain. Dia pikir aku cewek matre apa, huh... Kemudian perhatian Rika teralihkan pada suara yang di keluarkan oleh benda persegi panjang di ujung ranjang. Dia menoleh mendengarkan apa yang di beritakan dari dalam televisi serta melihat gambaran apa yang terpampang.


"Jojo... dia... dia kan wanita itu!" Antusias Rika menunjuk ke arah layar televisi.


Jhon ikut melihat arah pandang Rika. "Dia siapa?"


"Wanita yang hendak mencelakai Annisa di kafe."


Dalam berita itu, memberitakan jika wanita tersebut adalah seorang tahanan yang memilih bunuh diri setelah di vonis dengan hukuman puluhan tahun di penjara.


"Kasihan sekali dia, padahal usia nya masih muda dan wajahnya sangat cantik. Malah berakhir tragis seperti itu." Tutur Rika melemah merasa simpati.


Jhon menyeringai, tangannya terulur untuk menggenggam jemari tangan gadis manis itu. "Dia pantas mendapatkan akhir tragis hasil perbuatannya sendiri," ucapnya dingin.


Rika tertegun melihat raut wajah dan seringaian tajam di wajah pria tampan itu. Jojo, bisa tersenyum begitu juga ternyata.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka lebar, membuat gadis manis itu seketika langsung menoleh.


"Mama." Kagetnya dengan mata melotot ke arah pintu.


"Neng, anak Mama." Lirih Ibu Asih berjalan pelan dengan pandangan sendu menatap gadis manis yang terduduk di ranjang.


Pak Adi yang berada di belakang tubuh istrinya bersuara memberikan isyarat mata. "Nak Jhonathan."


Mengangguk kecil mengerti akan isyarat itu, Jhon mengusap lembut puncuk kepala Rika. "Gadis bodoh, aku keluar dulu. Kau lepas rindu dengan Mama mu."


Rika mengangguk pelan, dengan pandangan masih menatap ke arah sang ibu yang sudah berdiri di sisi ranjang.


Sedangkan Jhon dan Pak Adi melangkah keluar kamar.


Ibu Asih langsung merengkuh, memeluk erat tubuh anak gadisnya dengan usapan pelan di punggung. "Neng, putri Mama." Lirihnya, meneteskan air mata.


"Mama... Ika kangen." Rika melingkarkan kedua tangannya membalas pelukan sang Ibu.


"Mama juga kangen kamu Neng, maafkan Mama yang tak tahu menahu soal kecelakaan itu... hiks... hiks."


Rika mengangguk pelan menumpahkan isi hatinya yang sudah di landa rindu.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa....


__ADS_2