Pejuang Move On

Pejuang Move On
Menahan Asa


__ADS_3

Sementara di dalam pesawat Jet Pribadi.


Pesawat jet pribadi yang di naiki Egi, memiliki kelengkapan fasilitas mewah dan salah satu nya sebuah ruangan kamar utama yang di desain khusus seakan benar benar kamar yang ada di rumah sendiri, dalam ruangan kamar itu terdapat sofa panjang ujung kasur yang menghadap ke sebuah layar tipis berukuran besar, dan sebuah sofa tunggal di lengkapi meja kotak kecil di sudut ruangan yang saat ini di duduki oleh Jhon. Selain itu, beberapa barang hiasan lainnya juga ikut melengkapi sehingga terkesan elegan dan mewah.


"Tuan Egi, jangan menelpon lagi!" ucap Jhon yang sedari tadi memperhatikan Egi yang mencoba kembali menelpon Annisa dengan langkah mondar mandir tidak jelas.


"Diam Jhon!" Sentak Egi melihat layar ponsel nya tanpa melihat Jhon.


"Baiklah, baiklah, terserah anda. Tapi bisakah tuan Egi jangan mondar mandir kayak setrikaan, bisa miring sebelah pesawat nya," Saut Jhon.


Egi melirik tajam, membuat Jhon menghela napas pelan dan menggeleng beberapa kali.


"Kenapa jadi susah gini! Tadi masih bisa!" Egi melemparkan ponsel nya ke sembarang, ia mengusak rambut dengan kasar. "Aaarrgh...," geram Egi, menjatuhkan diri dengan posisi terlentang ke atas kasur. Ia menatap kosong lurus ke depan, dan menaruh sebelah lengan di atas kepala. "Annisa, maafkan aku," gumam nya lemah seiring memejamkan mata.


Keheningan beberapa menit dalam ruangan itu, Egi yang masih kalut memikirkan annisa, sedang Jhon tampak tak acuh sibuk dengan lembaran kertas.


"Jhon," panggil Egi bangkit dari tidurannya dengan kaki di tekuk sebelah.


"Iya ada apa," saut Jhon tanpa teralihkan dari berkas dokumen di hadapan nya.


"Annisa terlihat tidak percaya, namun saat di akhir tadi dia terlihat shock bahkan seakan menangis," Egi menghembuskan napas panjang, menundukkan pandangan.


"Ini sebab nya aku tidak bisa bicara langsung, dia masih lemah dan belum sembuh total dari sakit nya. Tapi aku dengan tega meninggalkan nya begitu saja," Egi melirik Jhon.


"Jhon, apa keputusan ku benar? Rasanya aku tak sanggup meninggalkan walau hanya sebentar," tanya Egi, menatap sayu.


Jhon menghentikan kegiatannya, menatap diam ke Egi, kemudian akhirnya berjalan menghampiri dan duduk di sisi kasur dekat Egi. Ia menepuk pelan pundak Egi. "Ini baru awal, saya yakin jika sudah kelamaan nona Annisa akan mengerti dan terbiasa begitu pun dengan tuan Egi," tutur Jhon.


"Kau tahu, saat tadi aku mengabari dan memasang wajah berbohong seakan tidak ada masalah di depan nya. Aku tak tega melihat wajah nya yang akan menangis, dan untung nya dia langsung mematikan lebih dulu panggilannya, aku... ingin memeluknya saat ini, Jhon," ucap Egi dengan wajah memerah dan mata sembab.


Segera Jhon merangkul bahu Egi, memberikan tepuk an pelan untuk menenangkan. "Tuan itu pria, kenapa lembek begini? Apa tuan Egi ini jiwa wanita namun berbadan pria, cengeng sekali," ledek Jhon berharap menenangkan Egi.


"Bisakah kau serius sedikit saja Jhon, hati ku sedang sakit dan bersedih," saut Egi menundukkan wajah menyembunyikan mata sembab nya.


Jhon terkekeh. "Ternyata tuan Egi bisa di buat bersedih dan tertawa oleh nona Annisa, sungguh hebat nona. Terakhir kali saya melihat tuan bersedih saat Nyonya tiada, tapi kali ini...," ucapan Jhon terhenti.


"Jhon," terjeda sejenak, Egi menghembuskan napas kasar. "Aku ingin pulang, putar balik arah pesawat nya," gumam Egi.


"Tuan pikir mengemudi pesawat itu bagaikan mengemudi mobil atau sepeda, tinggal belokkan stir langsung membelok."


Jhon melepaskan rangkulan di bahu Egi, dan menatap sebal. Lalu beranjak berdiri. "Tuan Egi, sudah melangkah sejauh ini. Apa anda akan menyerah begitu saja? Bahkan nona telah mengorbankan air mata nya, anda hanya menghargai nya beberapa jam saja," Jhon melangkah kembali ke arah kursi.


"Bersabarlah, masa masa seperti ini hanya sementara, seiring berjalan waktu akan kembali normal dan terbiasa satu sama lain." Lanjutnya sambil duduk dan meraih berkas dokumen yang akan di periksa nya.


Egi beranjak dari duduk nya. "Jhon pakaian ku di mana?" tanya Egi masih menunduk.


"Tuan Egi tidak lihat di sofa depan tuan sendiri," jawab Jhon.


"Kau keluar dari kamar ini, aku mau ganti pakaian." Instruksi Egi melirik sejenak pakaian ganti di atas sofa panjang, lalu berjalan ke arah kamar mandi.


Di dalam kamar mandi.

__ADS_1


Egi menatap diri nya di depan cermin wastafle, wajah nya yang terlihat kusut, layu, dengan lingkaran hitam di sekitar mata sembab merah nya dan bibir sedikit pucat.


Ia menyenderkan punggung nya di pintu kamar mandi, lalu menutup mata nya yang sudah berair dengan sebelah telapak tangan. Ia menundukkan kepala menumpahkan segala isi hati menahan gejolak rasa kekhawatiran, rindu yang bercampur aduk terhadap Annisa.


Annisa, kau harus baik baik saja.


----------------------------------


Adzan dzuhur telah lewat, namun setelah shalat, Annisa setengah harian itu terus mengurung diri nya di dalam kamar, Ia mematikan ponsel yang terus berdering juga membungkam bibirnya membisu, bahkan tidak makan atau pun minum air seteguk pun. Annisa masih tetap dengan posisi nya tertidur menyamping, dan menatap kosong ke depan dengan sesekali air mata keluar dari sudut mata nya.


Romisa yang tidak mendapati Annisa di meja makan saat sarapan juga makan siang. Dan setelah mendengar penjelasan dari Arga juga ayah putra penyebab Annisa seperti itu. Ia segera mendatangi kamar Annisa karena merasa khawatir akan kesehatannya.


Romisa berusaha membujuk Annisa untuk memakan sesuap makanan yang di bawa pelayan, namun usaha nya tidak berhasil sedikit pun. Annisa dengan keras kepala mengabaikan kehadirannya, tak bergerak sama sekali dari posisi nya yang memunggungi bahkan menjawab ucapannya hanya sekedarnya saja.


"Masih tidak mau makan yah kakak ipar kesatu?" tanya Syila yang melihat raut wajah sedih Romisa yang baru keluar dari kamar Annisa.


Romisa mengangguk pelan, dan menghela napas panjang. "Kakak takut dia sakit lagi. Bahkan cedera nya masih dalam masa pemulihan dan butuh asupan makanan untuk meminum obat."


Asyila mengepalkan tangan sebal, menatap pintu kamar yang tertutup rapat di hadapan nya. "Ini semua salah kak Egi, kenapa pergi tanpa pamit pada kakak ipar kedua? Kalau kakak ipar kedua sampai sakit lagi, akan Syila hajar habis habisan kak Egi!" gerutu Syila menggebu karena kesal.


Romisa menepuk pundak Syila beberapa kali. "Kakak mengharapkan bantuan mu, mungkin An an akan bisa mendengarkan syila, jangan biarkan kakak ipar kedua sakit lagi," mohon Romisa menatap melas ke Syila.


Syila menggenggam sebelah tangan Romisa dan mengangguk. "Akan syila coba," ucap Syila mantap. Lalu berjalan membuka pintu kamar Annisa.


Di dalam kamar.


Syila berjalan mendekat ke arah ranjang dan duduk di sisi ranjang. "Kakak ipar kedua," panggil Syila memegang bahu Annisa yang tertidur membelakangi nya.


"Syila tahu kakak marah pada kak Egi yang pengecut dan brengsek itu, tapi jangan menyiksa diri seperti ini. Syila janji akan menghukum kakak yang pengecut itu dengan tangan syila jika dia kembali nanti, jadi kakak ipar jangan...," ucapan Syila terhenti.


Annisa membalikkan badan menatap Syila. "Jangan mengumpat kasar terhadap suami kakak, Syila." Annisa mengusap jejak air mata di pipi. Lalu dengan perlahan Annisa terbangun dari tiduran nya.


Segera Syila membantu Annisa untuk terbangun dan duduk setengah terbaring.


"Kakak hanya tak habis pikir saja, kenapa dia tidak memberitahukan secara baik baik dan berpamitan pada kakak. Apa sebenarnya arti kakak di hati kakak mu, syila?" tanya Annisa menatap.


Apa dia masih menganggap ku orang asing? Dan masih mencintai mbak misa?


Syila terdiam, membisu sejenak. "Kakak ipar kedua tentu kakak ipar kedua nya Syila dong, orang yang paling syila sayangi," jawab Syila tersenyum ceria.


Bahkan sepertinya hanya aku seorang yang tidak tahu menahu tentang rencana kepergian nya ini.


Annisa menghela napas pelan, mengusap tangan Syila yang ada di pangkuan nya. "Kakak bertanya tentang arti kakak di hati kakak mu Egi, itu yang terus terpikir di otak kakak seharian ini," gumam Annisa.


Syila menggenggam jemari Annisa. "Kakak ipar kedua adalah istri dan wanita yang sangat berarti bagi kak Egi. Mungkin terasa menyakitkan bagi kakak ipar karena merasa tidak tahu apa apa tentang kepergian kak Egi." Menepuk lembut punggung tangan Annisa.


"Tapi kak Egi melakukan semua itu demi kakak ipar, karena dia akan sulit melangkah jika melihat air mata kakak ipar terjatuh," tutur Syila di akhiri senyuman hangat.


Syila... kamu tidak tahu, rasanya tidak di percaya dan tidak di anggap.. itu paling menyakitkan.


Annisa kembali menghela napas. Mengalihkan pandangan ke arah lain. "Justru dengan cara seperti ini sangat menyakiti ku, merasa tak di anggap sebagai...," ucapan Annisa terhenti karena Syila menempelkan telunjuk nya di bibir Annisa.

__ADS_1


"Jangan pernah berpikiran seperti itu kakak ipar kedua, meskipun syila juga sangat kesal pada cara kak Egi, tapi kakak ipar jangan pernah meragukan ketulusan kak Egi. Dia benar benar mencintai kakak ipar kedua, karena hanya pada kakak ipar kedua, kak Egi bisa bersikap hangat, tertawa dan bahkan rela melakukan apa pun demi kakak ipar kedua, dan asal kakak ipar tahu. Keputusan nya menjalankan perusahaan dan kuliah ke inggris juga itu karena ingin membahagiakan kakak ipar kelak, sebelumnya kak Egi sangat menolak keras pergi kesana, tapi...," cerocosan Syila terhenti.


"Cukup Syila!" Sanggah Annisa menghentikan ocehan Syila.


Sehingga membuat Syila terdiam seketika.


"Kakak tahu semua tentang itu," Annisa menunduk menyembunyikan wajah nya yang merah karena air mata nya sudah terjatuh. Ia memegang dada nya yang terasa sesak.


Sakit ku bukan karena di tinggal tanpa pamit saja, tapi rasa kecemasan tentang diri nya juga... dia masih labil, bagaimana jika dia...


Menghela napas kasar. "Kakak hanya takut dia tergoda wanita cantik di luar sana, karena bagaimana pun dia masih remaja labil dan perasaan cinta nya pun masih bisa goyah."


Tangan Syila terulur ke depan."Kakak ipar kedua," ucap Syila tercekat dalam tenggorokannya, lalu memegang kedua bahu Annisa. "Ma...maaf, syila sudah menyinggung perasaan kakak ipar kedua," tutur Syila merasa bersalah, mengusap air mata Annisa yang mengalir di pipi.


Annisa menarik Syila dan memeluk nya. "Tidak apa, kakak baik baik saja." Saut Annisa serak oleh tangis.


Kenapa aku sampai menyentak Syila, dia masih anak ABG yang tidak tahu apa pun...


Syila membalas pelukan, mengusap pelan punggung Annisa. "Yakinlah kakak ipar kedua, kak Egi bukanlah seorang pria playboy, dia pria yang setia dan tidak pernah ingkar janji. Syila berkata seperti ini bukan untuk memuji nya, tapi syila tahu sikap dan sifat kak Egi semua nya," ujar Syila menenangkan Annisa.


Annisa mengangguk pelan. "Semoga saja, karena kakak akan selalu menunggu nya pulang sampai kata talak keluar dari mulut nya sendiri."


Hanya ikrar janji suci yang bisa aku harapkan agar dia kembali.


Lama kedua nya berpelukan yang akhirnya Annisa melepaskan pelukannya dari Syila.


Annisa tersenyum, mengusap mata nya. "Kenapa kakak jadi lemah gini yah? Padahal dia baru juga pergi belum ada setahun," ucap Annisa malu sendiri.


Syila tertawa menarik pelan kedua pipi Annisa. "Iya kakak ipar kedua cengeng," mengepalkan tangan kuat. "Lihat saja nanti, pelajaran apa yang akan syila berikan pada kak Egi jika berani melukai kakak ipar kedua lagi," ujar Syila semangat.


Annisa ikutan tersenyum menanggapi Syila. Dia sangat imut, bahkan bola mata nya sangat sama dengan si Egi... hah, baru di tinggal sebentar rasanya udah rindu.


"Oh, iya kakak ipar kedua. Gimana kalau kakak ipar kasih sedikit pelajaran untuk kak Egi karena sudah berani pergi tanpa pamit begini," usul Syila mengedipkan sebelah mata.


Annisa menatap memicing penasaran. "Pelajaran? Seperti apa?"


Syila mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Annisa. Membuat Annisa yang di bisikkan mengangguk tersenyum. "Baiklah, benar juga hati kakak masih sedikit kesal pada nya jadi kalau sedikit pelajaran kan nggak apa."


Syila mengacungkan satu jempol nya. "Ah, sekarang kakak ipar kedua waktunya makan yah, bisa di kata gagal dong syila bujuk kakak ipar jika kakak ipar kedua nya tidak makan." Ucap Syila yang di balas anggukkan kepala Annisa.


Segera Syila beranjak dari duduk nya untuk menarik troli makanan.


Sedang Annisa memperhatikan keceriaan Syila dan tersenyum.


Benar kenapa aku harus sedih dengan kepergian mu yang akan kembali? Sementara keluarga mu begitu sangat hangat dan benar menyayangi ku seperti keluarga nya sendiri, bahkan syila saja sampai mengumpat mu karena melihat menyakiti ku.


Egi, Aku akan menunggu mu, kembalilah sesuai janji mu yang tertulis di kertas itu...


BERSAMBUNG...


Sempatkan klik LIKE dan tinggalkan JEJAK yaaa...

__ADS_1


__ADS_2