Pejuang Move On

Pejuang Move On
Makan Siang


__ADS_3

Egi yang melihat annisa hendak melangkah ke arah pintu keluar. "Aku bilang jangan pergi.." teriak egi sukses membuat langkah kaki annisa terhenti dan berdiri terpaku di tempat nya.


Annisa masih berdiri mematung di tempat nya tanpa menoleh ke egi.


Kenapa harus berteriak begitu sih bocah, padahal aku kan hanya mau keluar kamar saja bukan ke asrama.


"Ekhem.." dehem annisa dan membalikkan badan lalu menatap egi.


Egi pun sama tengah menatap annisa, "kembalilah duduk, jangan pergi..." pinta egi.


Menghela napas pelan dan menuruti perintah egi yang menyuruhnya duduk.


Annisa duduk di kursi kecil dekat ranjang sambil melipat kedua tangan di dada dan menatap egi.


Sedang yang di tatap mengalihkan pandangan ke arah lain, "aku mengizinkan mu untuk tinggal dan bersedia berbagi kamar ini, jadi kau tidak perlu pergi ke asrama lagi." Tutur egi.


"Terus."


Menoleh ke annisa. "Terus apa nya maksud mu?"


"Aku minta kejelasan, kenapa kau bisa berubah pikiran dan mengizinkan aku bisa tinggal lagi di kamar ini," menatap menyelidik.


"Agar keluarga ku tidak mencurigai hubungan kita, jika kau berlama lama di asrama, mereka akan bertanya tanya pada ku. Ingat status mu yang tertulis di keluarga ini, jadi kau harus bertanggung jawab atas status mu."


Ternyata hanya itu, dia masih saja belum menerima aku sebagai istri nya. Baiklah, tidak apa... aku menerima nya, karena bagaimana pun status ku adalah istri nya si bocah ini.


"Hmm.. baiklah," jawab annisa acuh.


Menautkan alis heran, "hanya itu tanggapan mu?" Tanya egi.


Annisa mengangguk mengiyakan, "iya, memang harus jawab apa aku menanggapi ucapan mu yang memang benar ada nya itu," lalu bangkit kembali dari duduk nya.


Menarik dan mencekal lengan annisa. "Kau mau kemana lagi, bukannya aku sudah mengizinkan mu untuk tinggal di kamar ini. Jadi kenapa kau masih saja ingin pergi," cerocos egi dengan tatapan tajam.


"Huh.." menghembuskan napas pelan dan menoleh ke egi.


"Aku mau mengambil nampan itu egii.. ini sudah waktu nya kau makan siang, parno amat sih aku pergi dari sini. Apa jangan jangan ..." menunduk mendekati wajah egi dan tersenyum, "kau sudah mulai suka pada ku," celetuk annisa menggoda.


Seketika egi membuang muka dan melepaskan cekalan nya. "Kau jangan narsis dengan izin yang ku berikan pada mu, mana ada aku akan suka pada wanita kasar dan berandalan seperti mu..." lalu egi berdecih. "Cih!!, mimpi saja kau.." sangkal nya.


Tersenyum mengedipkan sebelah mata di hadapan wajah egi, "benarkah kau tidak menyukai wanita imut seperti ku.." goda annisa sambil menangkup kedua tangan di wajah nya.


Melirik sekilas wajah annisa dan kembali mengalihkan pandangan ke arah lain. "Iya imut, jika di lihat dari sedotan minuman.." ketus egi.


Annisa menahan tawa nya dengan menutupi bibir dengan sebelah telapak tangan.


"Tak apalah, setidak nya masih di bilang imut oleh mu. Tapi bocah, biasanya mimpi itu bisa jadi kenyataan loh.. " sambung annisa menegakkan badan nya lalu berbalik ke arah sofa dekat ranjang untuk menyimpan kembali tas gendong dan mengambil nampan makanan.


Cih!! Wanita ini ternyata pintar merayu juga.


Egi melirik annisa yang tengah mengambil nampan dan kembali lagi membuang muka ke arah lain saat annisa telah kembali berbalik membawa nampan untuk mendekati nya.


Duduk di kursi kecil dan memangku nampan besar di pangkuan nya. "Aku buatkan kau kimbap dan makanan pelengkap lain nya, dari tadi pagi kau terus mengigau kan nama nya, pengen makan ini," ucap annisa.


Egi menoleh dan melirik ke atas nampan di pangkuan annisa, "aku tidak menginginkan makanan itu, jadi taruh kembali sana." Tegas egi.


"Yakin nih nggak mau, bukannya tadi kau mengigau ... brandal aku ingin kimbap buatan mu, ingin jus strawberry yang manis nya pas seperti manis nya wajah mu.. hahaha.." goda annisa memeragakan egi saat mengigau.


Mendelik tajam ke annisa. "Kau.. " tercekat sejenak dan kembali berucap. "Kapan aku bersikap memalukan seperti itu? Aku tidak pernah kekanakan begitu," sangkal egi geram.


Tertawa pelan. "Akhirnya kau mengaku juga jika kau memang memalukan dan kekanakan.. haish.. sayang nya aku tidak sempat merekam mu saat mengigau begitu..," ucap annisa.


"Dasar gila, mana ada aku bersikap memalukan. Akal akalan kau saja, yang ingin memuji diri sendiri seakan aku berkata begitu.." ketus egi.

__ADS_1


"Memang susah kalau ngomong sama bocah egois seperti mu egi, tapi meski begitu kau tetap terlihat manis kok... bocah nakal ku.. haha.." goda annisa sambil mencolek dagu egi.


Menepis jemari annisa. "Huh.." dengus egi dan mengalihkan pandangan ke arah lain.


Annisa menghentikan kekehan nya dan beralih melirik nampan. "Hah sudahlah, kau mau makan tidak nih kimbap nya?" Tanya annisa menunjuk satu piring kimbap di atas nampan.


"Tidak."


"Yakiiin tidak mau?"


"Tidak."


"Seriuss niiih.. aku tanya sekali lagi deh, siapa tau berubah pikiran. Mau nggak niih?"


"Tidak dan nggak."


"Tidak dan nggak itu masih satu paket bocah... Hmm.. baiklah, jika kau tidak mau biar aku makan sendiri saja, kebetulan aku lagi lapar. Ah, mending makan nya di meja sofa itu dan duduk menyila di atas karpet pasti akan terasa nikmat.." celoteh annisa bangkit dari duduk nya.


Annisa membawa nampan itu menuju sofa dekat ranjang dan meletakkan nya di atas meja. Lalu Ia duduk menyila di atas karpet bersender ke sofa dan menghadap ke egi.


Dia tidak memaksa ku untuk makan, dasar brandal rakus.. pengen nya makan sendiri.


Mencomot satu potongan kimbap dan menggigit nya di hadapkan ke arah ranjang egi. "Hmmm... enak banget sih masakan buatan ku, pantas saja s bocah sampe ngigau ngigau mau di buatkan kimbap oleh ku.." celoteh annisa di sela kunyahan menikmati makanan di mulut nya.


'Glek' egi menelan ludah nya kasar karena melihat pemandangan yang membuat nya ngiler ingin memakan kimbap.


Benar benar dia sengaja mempermainkan ku, sampe sampe cara makan nya saja di gitu kan. Sial!! Kenapa aku menolak nya sih tadi, mana perut ku sudah mulai lapar.


Annisa kembali mengambil potongan kedua dan mengacungkan agar terlihat jelas oleh egi lalu dengan gaya menghayati annisa menggigit kimbap tersebut. "Ini sih T O P b g t deh rasanya.. kalah para koki di rumah ini dengan masakan ku, lembut nya dan gurih nya.." oceh annisa menggoda egi.


Tersenyum miring. "Narsis kau kumat lagi ternyata, jangan terlalu tinggi memuji diri. Kali nya kau mengaca akan syock nanti melihat nya.." cibir egi.


"Haha.. tidak lah, aku begini karena emang fakta bukan narsis.. kau nya saja yang iri," sahut nya.


Kriiing...kriing..


Tiba tiba ponsel annisa berbunyi, seketika annisa menunduk ke arah saku celana nya.


"Hah mengganggu kenikmatan hakiki ku saja sih," gerutu annisa.


Ia berdiri dan merogoh ponsel di saku celana bahan.


Annisa melih nama siapa yang tertera di layar ponsel nya. "Rika." Celetuk nya.


"Pasti dia sangat cemas karena aku lupa mengabari nya, sebaiknya aku angkat dulu deh." Gumam annisa lalu beralih melirik egi,


"aku angkat telpon dulu yah, sahabat tercinta ku nelpon nih." Ucap annisa.


"Tinggal angkat saja, kenapa kau laporan pada ku. Tidak ada hubungan nya juga dengan ku," jawab egi ketus.


"Dih, dasar bocah. Tapi benar juga yah, napa aku melapor pada nya." Ucap annisa lalu berjalan melangkah agak menjauh dari sofa dan membelakangi ranjang egi menghadap ke arah kaca balkon untuk mengangkat panggilan telpon.


Ada senyuman di bibir egi saat melihat annisa menjauh dari area sofa.


Hah.. aku mengambil satu atau dua kimbap nya, dia tidak akan curiga kan.


Melihat kesempatan itu, dengan gerakan pelan dan kehati hatian egi turun dari ranjang dan berjalan pelan tanpa suara membawa tiang infusan untuk menuju sofa yang dimana di sana ada makanan kesukaan nya.


Mata egi berbinar langsung merasakan lapar di kerongkongan dan perut nya ketika melihat makanan yang siap santap ada di hadapan nya sekarang.


Duduk menyila di atas karpet dan memendekkan tiang infusan agar setara dengan tinggi duduk nya.


Egi meraih gelas jus dan meneguk jus strawberry lalu mencomot potongan kimbap. "Memang rezeki nggak bakalan kemana.." ucap nya dan menggigit menyuapkan ke mulut nya.

__ADS_1


Mengunyah menikmati makanan yang di masak oleh annisa, yang selama ini Ia rindukan rasa nya.


Tidak salah dia berkata jika masakan nya jauh lebih lezat dari para koki di rumah. Memang benar ada nya, bahkan ini sudah menjadi candu lidah ku dengan masakan yang dia buat.


Meskipun mulut nya masih mengunyah, Egi hendak mengambil potongan kedua untuk di santap nya lagi.


"Ekhem..." deheman annisa membuat gerakan tangan egi terhenti dan terpaku memegang potongan kimbap di atas piring.


Mendongak melirik ke annisa yang tengah melipat lengan di depan dan menatap nya.


"Rupa nya ada tikus besar yah di kamar ini," sindir annisa.


'Glek' egi menelan makanan di mulut nya sekaligus.


Sial!! Kenapa dia harus kembali di saat seperti ini, memalukan...


Baiklah, aku harus tenang. Biarlah, sudah terlanjur ketahuan mending lanjutkan saja.


Dan tanpa merasa bersalah memasang muka tebal. Egi kembali melanjutkan gerakan nya untuk mencomot kimbap dan menyuapkan nya ke mulut.


"Mana ada tikus di kamar ku, yang ada wanita brandal kasar dan narsis di sini." Tanggap egi.


Annisa duduk di bekas tempat nya tadi dengan saling berhadap hadapan dengan egi.


"Kau tidak melihat nya!! Tikus segede gini kau tidak melihat nya, ya salaam." Ucap annisa lalu menggeleng beberapa kali. "Ckck, memang yah kalau kawan nya tikus pasti akan berpura pura tidak tahu padahal melihat nya." Sindir annisa lagi.


Namun egi tidak menggubris ucapan annisa dan memilih sibuk menikmati makanan nya.


Dasar bocah, lain di perut lain di mulut. Bilang nya tidak mau, tapi perut nya mau.


Annisa hendak mengambil satu potong kimbap di piring, tapi egi dengan sigap menjauhkan nya dari jangkauan annisa.


"Hey.. bukannya kau tidak mau memakan nya, kemarikan itu punya ku." Ucap annisa meraih piring yang di jauhkan egi.


"Itu tadi, sekarang ini milik ku."


"Aku minta satu potong saja egi," masih mencoba menggapai piring yang di jauhkan.


"Tidak mau." Menjauhkan dengan sebelah tangan.


"Kau pelit sekali sih, tadi bilang nya tidak mau sekarang malah di embat. Dasar BOBIL.." ujar annisa dan meraih gelas air putih lalu meminum nya.


Alis egi menaut. "Apa Bobil?" Heran nya.


"Bocah Labil." Ketus annisa lalu beralih mengambil piring berisi ayam goreng kremes untuk di makan nya.


Menurunkan piring dan meletakkan nya di ujung meja agar jauh dari jangkauan annisa. "Cih!! Berasa kau dewasa saja." Timpal egi tersenyum mengejek.


"Memang aku sudah dewasa, ingat yah umur mu itu masih di bawah umur dari ku dua tahun. Jelas yang bocah di sini adalah kamu." Sewot annisa sembari mencocolkan potongan ayam ke sambal lalu menyuapkan ke mulut nya.


Memakan potongan kimbap, "beda dua tahun saja sudah bangga, dan merasa dewasa, dasar brandal narsis." Ketus egi.


"Biarin.. bodo.. teresah aku Bobil," gerutu annisa yang tidak mau kalah.


"Ngomong saja blepotan mau di bilang dewasa."


"Serah aku."


Lalu terlibat lah perdebatan di antara kedua nya selama kegiatan makan siang sampai makanan di atas nampan tandas habis oleh kedua nya.


BERSAMBUNG...


LIKE, VOTE nya jangan lupa yah.. biar semakin semangat author nya..

__ADS_1


__ADS_2