
Mobil yang di tumpangi annisa dan egi telah sampai di pelataran rumah putra.
Egi tertidur lelap dengan posisi masih memeluk annisa, begitu pun annisa ikutan tertidur dalam pelukan nya.
Pak tarjo yang melirik kedua nya dari kaca depan, mengulas senyuman.
"Ekhem.." dehem pak tarjo, mengusik tidur lelap nya annisa yang berada dalam pelukan egi.
Annisa mengerjapkan mata, dan mengucek nya.
"Nona annisa. Kita sudah sampai rumah." Masih menatap kaca depan memperhatikan kedua nya.
Annisa melepaskan pelukan lengan egi yang melingkar mendekap tubuh nya. Dan menolehkan pandangan nya ke jendela mobil untuk melihat ke sekitar luar mobil.
"Benar sudah sampai. Hah aku sampai ketiduran begini." Ucap nya setelah melihat pelataran rumah putra.
Annisa beralih melirik egi yang masih tertidur lelap menyender ke punggung kursi.
Dan pak tarjo yang mengerti dengan situasi, segera keluar mobil untuk membuka kan pintu dan berdiri di samping mobil.
"Egi, kita sudah sampai. Ayo turun biar pak supir membantu mu." Ucap annisa mengusap pelan pipi egi yang masih memejamkan mata.
Egi membuka mata dan menatap sayu ke annisa. "Heemm.. aku ngantuk." Gumam egi pelan dan kembali lagi tertidur.
Menepuk pelan kedua pipi egi. "Hey, bangun. Tidur lah di kamar mu bukan di sini. Ayo bangun." Ucap annisa.
Tersadar karena tepukan annisa di pipi nya dan mengernyitkan alis. "Hmm.. baiklah, bantu aku bangun." Manja egi dengan suara serak dan merangkulkan sebelah lengan ke pundak annisa.
Menurunkan lengan egi di pundak nya. "Biar pak supir yang membantu mu," ucap annisa.
Menggeleng pelan. "Mau nya kau saja yang membantu ku." Ucap egi merangkul kembali pundak annisa.
"Haish.. hey bocah. Badan mu itu gede dan tinggi pasti sangat berat untuk di bantu oleh ku, jadi minta lah bantuan pada pak supir." Omel annisa dan melepaskan rangkulan tangan egi.
"Jika kau tidak mau. Aku akan tetap di sini saja." Ancam egi dan menyenderkan punggung nya.
"Dih!! Ya sudah jika kau ingin tetap di sini. Aku sih akan keluar." Ucap annisa dan menapak kan kaki nya keluar mobil.
Egi kembali menarik annisa dan memeluk nya dari belakang lalu menaruh kepala nya di bahu annisa.
"Hey Egi..." Pekik annisa terlonjak.
Lalu annisa melirik keluar mobil yang banyak penjaga rumah berjejer di setiap sudut rumah putra dan pak tarjo yang sudah berdiri di luar mobil menunggu annisa dan egi keluar.
"Kau tega brandal, meninggalkan orang sakit di mobil." Gumam egi.
Annisa mencoba melepaskan lengan egi yang melingkar di perut nya. "Egi jangan seperti ini, ada banyak orang di sini. Aku malu." Bisik annisa memiringkan kepala nya menoleh ke egi yang ada di pundak nya.
"Bantu aku dulu, baru akan ku lepaskan." Ucap egi.
Menghela napas kasar. "Baiklah...baiklah aku akan membantu menopang mu ke kamar tapi lepaskan dulu tangan mu."
Egi menurut melepaskan lingkaran tangan nya di tubuh annisa dan duduk menyender ke punggung kursi.
__ADS_1
Annisa keluar dari mobil dan berdiri di samping mobil sementara pak tarjo seakan mengerti, memegang pintu mobil agar terbuka lebar.
"Pak tas saya, maaf bawa kan yah. Saya mau membantu egi ke kamar." Pinta annisa pada pak tarjo.
"Baik nona annisa."
Beralih melongokkan setengah badan ke dalam mobil dan menatap egi. "Ayok egi. Kata nya mau turun." Ucap annisa sambil menarik sebelah lengan egi.
"Hmm.." gumam egi dan menurut mengikuti perintah annisa.
Dengan kondisi nya yang lemas dan pusing egi keluar dari mobil dengan merangkulkan lengan ke pundak annisa dan berjalan tertatih karena penglihatan nya mulai mengabur dan berputar.
Pak tarjo yang akan membantu menopang di sebelah yang kosong, namun niatan nya terhenti karena di cegah oleh egi karena ada isyarat dari nya yang mengangakat satu tangan.
Annisa ikut berjalan gelimpungan karena menopang tubuh egi yang cukup besar dari tubuh kecil nya.
"Kau ini manja sekali sih. Yang benar dong jalan nya, jangan membebankan tumpuan badan mu ke aku semua, aku tidak kuat tau membawa mu." Gerutu annisa karena tampak sedikit kesusahan mengiringi langkah kaki egi.
"Cerewet.. diam." Ucap egi.
Ayah putra yang sudah mendengar jika egi sakit dari pak tarjo. Telah mempersiapkan dokter untuk memeriksa nya.
Di kejauhan Ayah putra melihat annisa membantu egi dan berjalan kesusahan, Ayah putra hanya bisa tersenyum.
Anak bodoh itu sudah ada perkembangan.
"Tuan besar, apa kita harus membiarkan nona annisa kesulitan seperti itu?" Tanya jhon yang berdiri di samping Ayah putra.
Mengangguk paham. "Tuan besar, dokter frans sudah datang untuk memeriksa tuan egi. Kapan dokter bisa menemui tuan egi?" Tanya jhon lagi.
"Sekarang lebih baik. Mari kita ikuti mereka." Titah putra.
"Baik tuan besar, saya akan panggilkan dahulu dokter frans di ruang tamu." Menunduk hormat pada ayah putra lalu melangkah pergi.
--------
Di kamar Egi.
Brukk.. dugh.
"Aaaaa... Haish..huft.. egii." Suara cempreng annisa.
Annisa dan egi terbanting di atas kasur bersamaan dengan egi berada di atas nya annisa, menumpu kan beban badan nya pada tubuh annisa.
"Egii, minggir kau dari tubuh ku. Enak sekali kau menjatuhkan tubuh besar mu pada ku." Omel annisa menepuk nepuk pundak egi yang saat itu, egi ada di atas nya dengan kepala di dada annisa dan memeluk tubuh nya.
"Tidak mau." Gumam egi di sela pejaman mata nya dan mendusel dusel kepala nya.
menunduk melihat ke egi. "Hey bocah, kau taruh di mana kepala mu itu. Minggir egi.."
"Nyaman nyaa." Gumam egi.
Mendorong pundak egi. "Mama, kenapa bisa aku punya suami seperti ini. Cepatlah ming...gir berat tau badan mu ini." Menghela napas dan terengah karena terhimpit tubuh egi.
__ADS_1
Egi malah mencari kenyamanan dan melingkarkan lengan nya di tubuh annisa. "Hangat nya." Gumam egi.
"Kau... aku yang tersiksa di sini egiii.." teriak annisa.
Ceklek.
Pintu kamar egi terbuka dan muncul lah Ayah putra memasuki kamar egi.
Terbelalak kaget melihat posisi egi dan annisa.
"Egi.. Nak annisa." Celetuk ayah putra membeku di tempat nya.
Annisa menoleh ke arah suara, namun tidak dengan egi. Dia semakin mencari posisi yang nyaman di tiduran nya dan memejamkan mata nya.
"A..yah.." kaget annisa.
Menepuk nepuk cukup keras pundak egi.
"Egi ada ayah di sini. Cepatlah bangun, jangan membuatku malu.. egi.. egi.." Cerocos annisa di sela tepukan tangan nya berusaha membangunkan egi.
"Heemm... Diamlah aku ngantuk, hmm Nyaman dan hangat." Oceh egi semakin memeluk tubuh annisa.
Annisa menunduk melirik egi dan melirik malu ke Ayah putra.
Mama, Papa. Kenapa situasi seperti ini bisa terjadi lagi pada ku. Malu nya wajah ku.
"Ekhem.." dehem ayah putra dan menutup mata nya dengan sebelah telapak tangan namun masih mengintip intip di sela jemari nya.
Ceklek.
Pintu kamar egi sedikit terbuka karena jhon dan dokter Frans akan memasuki kamar egi.
"Jhon kau dan dokter frans kembali lah jangan dulu masuk ke kamar." Titah ayah putra yang mendengar suara pintu di buka.
Belum juga kaki nya melangkah, Jhon mundur kembali. "Ba..baik tuan besar." Berbalik dan menutup kembali pintu kamar egi.
"Ayah.." Panggil Annisa menundukkan pandangan karena malu.
Sambil menutup mata dengan telapak tangan.
"Sepertinya ayah datang di waktu yang salah. Baiklah kalian teruskan lah dahulu, jika sudah siap untuk di periksa. Panggilah kami lewat interkom itu." Ucap ayah putra masih menutup mata nya.
"Ayah.. tunggu, kita..kita.. tidak melakukan hal apapun," sangkal annisa masih mencoba membebaskan diri dari egi yang ada di atas nya.
Terkekeh pelan. "Tenang saja. Ayah tidak melihat nya nak. Baiklah lanjutkan, ayah permisi dulu." Ucap ayah putra dan berbalik melangkah pergi dengan senyuman yang di tahan di bibir nya.
"Ayah... tunggu. Ini.. ini bukan seperti yang..di pikirkan.. " ucapan annisa terhenti karena ayah putra telah keluar dari kamar egi. "Haish.." geram annisa.
Lalu beralih menatap egi kembali. "Egii. Cepat menyingkirlah dari tubuh ku. Lihatlah ayah mu, jadi salah paham lagi kan." Omel annisa kembali mendorong cukup keras tubuh egi.
Namun egi masih tak bergeming di tempat nya, dan semakin mempererat pelukan di tubuh annisa.
BERSAMBUNG...
__ADS_1