Pejuang Move On

Pejuang Move On
Romisa Melahirkan part 2


__ADS_3

Sudah 3 jam Arga terus berjalan mondar mandir di depan ruangan bersalin menunggu kabar tentang keadaan romisa. Namun nihil sejak di dorong nya ranjang brankar romisa ke dalam. Pintu ruangan itu masih tetap merapat tidak ada tanda tanda akan terbuka.


Sementara Asyila telah kembali ke kamar nya karena besok akan sekolah, begitu pun Bi Ane kembali ke rumah utama untuk menyiapkan segala keperluan menyambut anggota baru di keluarga putra. Kini hanya tinggal Arga, ayah putra dan Tang beserta para pengawal yang berdiri tegak di setiap sisi lorong ruang kedokteran, menunggu kabar romisa dari team medis yang menangani nya.


Arga mendengus kesal lalu menatap tajam ke Tang yang duduk di samping ayah putra. "Apa yang sedang mereka lakukan di dalam? Kenapa mereka lama sekali menangani Romisa?" tanya Arga dengan nada sedikit meninggi membentak Tang.


"Nak... tenanglah, istri mu sedang melahirkan. Jadi jelas akan memakan waktu yang cukup lama dalam menangani nya," suara tenang Ayah Putra mencoba menenangkan emosi arga yang sudah memuncak.


Arga menghembuskan napas kasar dan beralih menatap pintu ruang bersalin. "Arga ingin melihat kondisi Romisa ayah. Arga sangat tidak tenang dan cemas dengan nya," ucap Arga dengan nada gusar.


"Tang..." panggil Arga.


"Iya tuan," sahut Tang.


"Biarkan aku memasuki ruangan ini, aku ingin melihat kondisi Romisa, suruh salah satu dokter buka kan kunci pintu nya Tang," pinta Arga tanpa mengalihkan pandangan menatap ke pintu di hadapan nya.


Berdiri menghampiri Arga. "Tapi tuan, sudah cukup lama nona di tangani. Mungkin sebentar lagi pintu ini akan terbuka tuan, jadi bersabarlah sejenak tuan," ucap Tang.


Mendelik menatap tajam ke Tang. "Kau mau mengaturku Tang. Aku bilang buka kan pintu nya, aku ingin melihat Romisa!" bentak Arga dengan suara meninggi sehingga menggema di lorong itu.


"Arga!" suara tegas Ayah putra mengintruksi Arga.


"Kau jangan membentak seperti itu pada Tang, dan tenanglah istri mu sedang di tangani jangan kau recoki pekerjaan dokter, duduklah dan tenangkan diri mu."


Menghela napas pelan dan dengan langkah malas duduk di kursi samping ayah Putra. "Aku sangat mencemaskan Romisa ayah," gumam Arga terus menatap pintu tertutup itu.


"Bersabarlah Nak, tenangkan diri mu," tutur Ayah Putra dengan nada tenang kemudian mengisyaratkan mata ke Tang yang masih berdiri untuk duduk kembali di samping nya.


Tang menurut, ia duduk di samping kursi Ayah Putra.


Beberapa menit kemudian.


Pintu ruang bersalin telah terbuka perlahan, Arga yang semula menunduk dengan menangkup jemari menempel di bibir. Sontak Arga langsung berdiri begitu mendengar bunyi jika pintu ruangan romisa tengah terbuka.


Dari balik pintu itu, berdirilah seorang suster dengan menggendong seorang bayi yang terbungkus rapih. Bayi itu tampak sangat tampan dengan kulit putih, mata bulat, hidung mancung dan bibir merah kecil mungil nya menambah ketampanan wajah nya yang menurun dari Arga.


"Selamat tuan Arga, putra anda telah lahir. Dan seorang laki laki yang sangat tampan seperti Ayah nya. Mohon di adzani tuan," ucap suster itu yang masih berdiri di ambang pintu.


Arga segera berhambur berjalan dengan langkah panjang untuk mendekati ruangan bersalin. Namun bukan menghampiri suster yang menggendong anak nya melainkan melewati suster itu begitu saja dan masuk ke kedalaman ruangan mencari Romisa.

__ADS_1


"Eh..." bingung suster itu, terlongo melihat Arga melewati nya begitu saja tanpa melirik atau pun menoleh ke arah bayi yang ada di gendongan nya.


Ayah putra tersenyum lalu beranjak dari duduk nya menghampiri suster tersebut yang tampak bingung.


"Sini biar saya, kakek nya saja yang mengadzani cucu ku," pinta Ayah putra mengulurkan kedua tangan ke depan untuk mengambil alih bayi dalam gendongan suster.


Tersenyum dan mengangguk. "Silahkan tuan besar," ucapnya menyerahkan bayi itu.


"Sangat tampan, semoga sifat kau menurun dari ibu mu jangan dari ayah mu yang tidak sabaran dan kasar," tutur Ayah putra mengusap pipi merah bayi itu yang tampak damai.


Lalu Ayah putra mulai mengumandangkan adzan di telinga sebelah kanan bayi tampan itu, dan iqamah di sebelah telinga kiri.


Sementara sekertaris Tang yang berdiri di samping Ayah Putra tersenyum haru memperhatikan pemandangan di depan nya, dan menatap wajah mungil nan tampan bayi laki laki di gendongan tangan Ayah Putra.


Benar benar membuat ku iri... sepertinya saya juga ingin beristeri dan melahirkan anak seperti tuan Arga.


--------


Arga memasuki ruangan dimana Romisa berada, pandangan mata nya beredar mencari keberadaan Romisa. "Romisa... istriku," seru Arga begitu sorot mata nya telah terpaku pada wanita yang tengah terbaring lemah dan berwajah pucat di ranjang yang cukup besar.


Para wanita berjas putih kedokteran yang sebagai team medis Romisa, begitu mendapati Arga memasuki ruangan itu, segera mereka menunduk setengah membungkuk untuk undur diri dari ruangan karena memang tugas nya telah selesai.


Berdiri tepat di samping ranjang, dan dengan gerakan pelan duduk di sisi ranjang yang kosong.


Arga menangkup sebelah sisi wajah romisa dan menatap nya sendu. "Kau baik baik saja Romisa istriku, Maafkan aku...," ucap Arga dengan nada suara rendah.


Mengangguk lemah, "aku baik baik saja suamiku. Bagaimana anak kita? Dimana dia, aku ingin melihat nya? Karena sejak suster membawa nya untuk di bersihkan, aku tidak melihat nya lagi," tanya Romisa.


Arga menarik Romisa kedalam pelukan nya dan mengusap pelan puncuk kepala romisa. "Jangan tanyakan dia. Gara gara anak itu, kau harus merasakan sakit ini. Gara gara anak itu juga, kau harus menderita selama 9 bulan membawa nya kemana pun kau bergerak tanpa mau di tinggalkan. Aku...," tutur Arga panjang lalu mengecup lama puncuk kepala Romisa yang terbungkus kerudung. "Sangat mencemaskan mu Romisa istriku, jangan bahas dia di hadapan ku," lanjut Arga dengan nada tegas sedikit merajuk.


Romisa melepaskan diri dari pelukan Arga yang tidak erat di tubuh nya, lalu mendongak menatap kedua manik mata Arga. "Suamiku, dia adalah pelengkap kebahagiaan keluarga kita. Jadi kamu jangan berkata seperti itu pada anak kita. Aku merasa tidak menderita atau pun sakit saat melahirkan nya ke dunia ini, justru aku sangat bahagia dengan kehadiran nya suamiku," tutur Romisa lembut.


Mengecup kening Romisa cukup lama, dan mencium sekilas bibir Romisa, lalu menjauhkan bibir nya dari bibir romisa. "Aku sangat mencintai mu Romisa istri ku, cukup satu anak saja untuk ku. Tidak untuk lain kali lagi, karena aku tak mau melihat mu menderita lagi," ucap Arga membuat Romisa mencubit pelan perut arga.


Romisa memalingkan muka ke arah lain. "Tapi aku ingin anak perempuan juga, jadi biar adil perempuan satu laki laki satu. Aku harus melahirkan lagi satu," ucap Romisa.


Menghela napas pelan lalu menangkup wajah Romisa dengan kedua tangan. "Aku tidak mau kau menderita lagi Romisa, jadi cukup satu."


"Aku ingin nya dua. Dan satu nya lagi harus perempuan suamiku," kekeh Romisa.

__ADS_1


"Romisa...," tegas Arga kemudian memeluk lagi tubuh Romisa.


----------


Sementara di rumah Egi.


Adzan subuh telah di kumandangkan sangat indah di masjid perumahan itu.


Perlahan Annisa menggerakkan kepala nya.


Eh, kenapa serasa ada yang menekan pipi ku.


Annisa meraba apa yang membuat nya sedikit berat di sebelah wajah, bersamaan dengan mata nya terbuka perlahan.


Egi... kenapa bisa tidur di posisi seperti ini? Perasaan semalam, kami berpelukan bukan seperti ini.


Memicingkan mata heran dan menurunkan pelan tangan egi yang ada di wajah nya. Lalu Annisa bangkit dari tiduran nya, masih memperhatikan wajah damai egi.


"Bangunkan nya nanti dulu deh, selesai aku mandi," gumam Annisa dan bergerak turun dari ranjang untuk menuju kamar mandi.


Sepeninggalan Annisa.


Ting... ting. Ponsel annisa berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk.


Egi menggeliat pelan merasa terusik dengan bunyi notifikasi ponsel annisa yang berbunyi beberapa kali. Lalu egi meraba raba ke atas meja nakas dengan mata masih terpejam.


Mengambil ponsel kemudian membuka pesan siapa yang mengganggu nya. Mata egi sedikit memicing melihat beberapa gambar foto seorang bayi yang di kirimkan oleh Tang dan ada sebuah tulisan beberapa kata di bawah foto itu.


From : 08××××××××


"Nona Annisa, keponakan anda telah lahir. Tadi pukul. 04 lebih menjelang adzan subuh. Mau saya jemput atau memang akan di antarkan tuan egi?"


Egi tersenyum miring, lalu menghapus semua pesan Tang sekaligus nomer yang belum terdaftar di kontak annisa tersebut.


"Benar benar tidak mau menyerah s Tang yang ingin mendekati istri ku. Tidak akan ku biarkan," gumam egi kesal lalu meletakkan kembali ponsel annisa ke tempat semula.


Egi melirik kasur samping nya yang udah kosong tidak terdapat Annisa. "Ternyata dia sudah bangun... Ah, mending tidur lagi agar di bangunkan oleh tingkah nya yang menggemaskan itu," ucap Egi lalu kembali merebahkan tubuh nya dan memejamkan mata nya.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2