
Di Rumah Sakit.
Di ruang inap Annisa.
Egi masih setia menemani sang istri dengan duduk di kursi sisi ranjang. Tangannya terus mengusap lembut jemari tangan Annisa yang lembut dan hangat, gadis cantik itu masih saja memejamkan mata belum tersadar.
"Rikaa...," igau Annisa lemah dan perlahan kelopak mata nya bergerak hingga membuka dengan pelan.
Tes...tes.
Air mata Annisa mengalir di setiap sudut kedua matanya. Ia mengerjap pelan. "Rikaa." Gumamnya.
"Sayang, kau sudah sadar." Ujar Egi senang, ia beranjak dari duduknya menekan tombol darurat pemanggil dokter. Lalu ia membungkuk untuk mengecup kening dan kedua pipi Annisa. "Eh," Heran Egi saat mendapati air mata mengalir dari kedua sudut mata istrinya.
"Rikaa... ba-bagaimana dengan Rika? Di-dimana dia?" Tanya Annisa menatap sendu.
Seketika Egi terdiam sejenak menegakkan kembali punggungnya untuk duduk berdiri di samping ranjang. Ia menghembuskan napas pelan, membuang muka ke arah lain. "Dia... dia." Tak mampu untuk meneruskan ucapannya.
Alis Annisa berkerut dengan air mata terus mengalir. "Dia kenapa Egi? Katakanlah dengan benar, aku... aku ingin melihatnya."
Gadis cantik itu menyingkap selimut dengan tangan kanan dan hendak bergerak yang ternyata sebelah tangan kirinya terbebat ke depan sulit di gerakkan. "Tangan?" Celetuk Annisa terpaku diam menatap lengannya.
Egi menarik selimut untuk menutupi tubuh Annisa kembali, ia mengusap pipi istrinya dengan lembut. "Kau harus istirahat, Annisa. Jangan terlalu banyak bergerak."
Annisa mencengkram kerah kemeja pria dihadapannya dengan sebelah tangan yang bebas. "Bagaimana dengan Rika? Bagaimana keadaannya? Katakanlah sejujurnya Egi! Aku yang di lindunginya saja terkena patah tulang, lalu bagaimana dengan dia yang mengorbankan tubuhnya untuk melindungi ku? Antarkan aku... untuk melihatnya... hiks... hiks... dimana dia."
"Dia...," terjeda sejenak, Egi menangkup sebelah sisi wajah Annisa dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. "Di ruang ICU."
Ruang ICU? Dia... Rikaa. Seketika cengkraman tangan Annisa di kerah baju melemah terlepas, matanya yang sudah berurai air mata melebar tak berkedip. Hingga seperkian detik keheningan membentang di keduanya.
Egi mengusap air mata di kedua pipi Annisa. "Sayang."
"Ini semua salah ku... aku... aku penyebab dia jadi begini... hiks... hiks seharusnya aku tak mengajak dia keluar waktu itu... mungkin... mungkin dia...," ceracau Annisa menangis sejadinya dan menyalahkan diri.
"Tidak sayang, ini bukan salah mu." Egi memeluk tubuh Annisa.
"Ini salah ku Egi... aku membuat dia terluka... aku jahat Egi, aku tak pantas di bilang sahabat." Lirihnya tersedu, dan memukuli dirinya sendiri.
Egi mempererat pelukannya di kepala Annisa agar tidak terkena bagian tangan yang cedera. Ia mengecup secara bertubi di puncuk kepalanya.
"Bukan salah mu, kau tak tahu apa-apa Annisa. Jika saja sedari awal aku memberitahukan soal musuh kita yang mengincar nyawa mu, kau juga akan lebih hati-hati dan menurut untuk tidak keluar sembarangan. Jadi ini bukan salah mu, ini salah ku yang menyembunyikan soal musuh dari mu."
Musuh, mengincar nyawa ku... tangisan Annisa sedikit mereda, ia mendorong pelan tubuh Egi agar pelukannya terlepas. Lalu ia mendongak menatap tanya. "Siapa mereka semua?"
Egi mengusap kembali air mata di pipi istrinya, ia mendekatkan wajahnya di wajah Annisa dan menangkupnya. "Kau masih ingat dengan kejadian di rumah sakit lima tahun lalu?"
"5 tahun lalu." Annisa tampak termenung berpikir mengingat-ingat. "Windi? Apa... apa dia pelakunya di balik semua ini?"
__ADS_1
Mengangguk mengiyakan. "Keluarganya ingin membalaskan dendam dan mencelakai mu."
Annisa tertegun diam sejenak, ia menundukkan pandangan tersenyum pahit penuh kesedihan. "Aku pikir hidup kita baik-baik saja tanpa ada musuh. Dan kau mengutus pengawal di sisi ku seperti dulu saat kau pergi keluar negeri, aku berpikir mungkin karena aku sedang hamil dan tidak kepikiran ke arah musuh... tapi kenapa kamu tak memberitahukan ku sejak awal jika ada yang mengincar nyawa ku? Mungkin aku... tidak akan bertindak gegabah keluar tanpa pengawalan. Dan seharusnya yang sekarang di ruang ICU adalah aku, bukan sahabat ku yang tidak tahu apa-apa dan tidak ada sangkut pautnya dengan mereka."
"Tidak Annisa." Segera Egi menangkup kedua sisi wajah istrinya. ia menghela napas pelan sebelum meneruskan ucapannya. "Maafkan aku Annisa... aku terlalu menganggap rendah musuh kita sehingga melukai orang terdekat mu." Egi kembali menempelkan keningnya, dan memejamkan mata merasa bersalah.
Annisa terdiam, mereka mengincar nyawaku dan seharusnya aku yang terluka parah bukan Rika... air mata nya kembali mengalir saat teringat kejadian dimana Rika berkorban demi dirinya. Gadis cantik itu menghembuskan napas panjang. "Aku... Aku ingin melihat Rika."
Sontak kedua mata Egi terbuka menatap dingin. "Kau baru bangun, dan belum di periksa."
"Aku ingin melihatnya sekarang... tolong antarkan aku padanya." Menatap melas dengan kedua matanya yang di penuhi air mata.
Egi menghembuskan napas kasar, melabuhkan kecupan di ujung hidung Annisa dan mengusap air mata nya. "Baiklah, tapi setidaknya kau harus di periksa dulu oleh dokter sebelum keluar ruangan."
Annisa mengangguk lemah tanpa berkata apa pun lagi.
-------------------------------
Di ruang ICU.
Pak Adi menepuk pundak pria yang terduduk di sofa. "Nak Ray, Om harus segera pulang sebelum tante curiga. Bisakah Nak Ray menjaga si Neng selama Om tidak ada?"
Mengangguk mantap. "Om tidak perlu khawatir, aku akan menjaganya dengan baik."
Tersenyum kecil, kembali menepuk beberapa kali pundak Ray. "Terimakasih, Nak. Kalau gitu Om pamit. Assalamualaikum." Dan berlalu menuju pintu keluar ruangan.
"Walaikumsalam." Menatap kepergian Pak Adi. Kemudian Ray beralih menatap gadis manis yang terbaring di ranjang, ia beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah ranjang untuk lebih dekat menatap wajah tenang Rika.
"Bangun Maaak. Lo partner berantem gue, hidup gue hampa tanpa lo...," Menatap lesu penuh harap pada wajah yang terlihat damai tersebut.
Ray menghela napas panjang, jemari tangannya tak sengaja menyentuh sebuah benda yang tersemat di jemari lentik gadis manis itu. Ia melirik benda tersebut dan mengusapnya. "Cincin ini sangat cocok untuk lo... tapi asal lo tahu, dengan lo seperti ini... bang Jhon kehilangan arah dan bahkan bisa tenggelam dalam penyesalannya lagi... jadi cepatlah lo bangun, Mak. Jika memang lo benar-benar mencintainya." Ray tersenyum, mengusap lembut jemari tangan Rika.
"Rikaa." Suara wanita yang terdengar serak nan lemah, berasal dari arah pintu masuk.
Gerakan tangan Ray terhenti, ia menoleh ke arah belakang yang mendapati seorang wanita duduk di kursi roda yang di dorong pria tampan baru memasuki ruangan.
"Annisa, kamu sudah sadar?" tanya Ray.
Tatapan mata Annisa tak lepas menatap ke arah ranjang dengan mata yang sudah di penuhi air mata, ia di dorong agar semakin dekat ke sisi ranjang oleh suaminya.
Ray yang merasa di abaikan, ia beralih menatap Egi. Yang ternyata di beri isyarat mata agar dirinya keluar ruangan.
"Hah... baiklah." Gumam Ray, berjalan ke arah pintu keluar.
Egi merunduk mengusap puncuk kepala yang terbalut kerudung. "Annisa aku akan melihatnya dari luar, bersama Ray."
Annisa mengangguk pelan, ia tak lepas menatap wajah tenang Rika yang memejamkan mata damai dalam tidur panjangnya. Sedang Egi keluar ruangan meninggalkannya berdua dalam ruangan.
__ADS_1
"Rika maafkan aku... hiks...hiks," Annisa menggenggam erat jemari tangan yang terasa dingin itu. Dia merundukkan kepala menangis tersedu dengan mencium menempelkan jemari Rika ke pipinya. "Bangunlah Rika, maafkan aku...," oceh Annisa terus mengucapkan kata maaf di iringi tangisan yang penuh penyesalan dan kesedihan menggema dalam ruangan ICU yang tenang.
-----------------------------------
Sementara di Rumah Rika.
kreet.
Pak Adi baru saja membuka pintu kembar memasuki rumahnya, tiba-tiba dirinya langsung di kagetkan dengan seorang wanita yang berdiri tepat di depan pintu, wajahnya terlihat cemas dan gusar.
"Assalamualaikum." Salam Pak Adi.
"Walaikumsalam." Berhambur mendekati sang suami, mengambil jas yang tersampir di lengannya juga tas kantor dari pegangan tangan suami lalu menyalami tangannya. "Pah, Mama dengar dan lihat dari berita kalo Nak Annisa kecelakaan mobil, Apa itu benar Pah?"
Ternyata langsung masuk berita..."Ah, itu i-iya." Pak Adi duduk di sofa tunggal ruangan utama.
Ibu Asih langsung menunduk berjongkok untuk melepaskan sepatu sang suami. Dia mendongak menatap dengan raut wajah masih di penuhi kecemasan dan rasa penasaran. "Dan Papa tahu nggak, itu mobil yang di pakai saat Nak Annisa kecelakaan sama banget kayak mobil si Neng, tapi untungnya Mama lihat di dalam mobil itu tak ada si Neng nya."
"Mobil model kayak gitu kan banyak yang sama, Mah."
"Iya juga sih, si Neng kok belum pulang sedari pagi dan di telepon juga nggak aktif mulu nomernya. Hati Mama rasanya sesak terus, hah... apa mungkin mendengar kabar buruk tentang Nak Annisa di berita itu, jadi Mama sedikit syok." Ibu Asih beranjak dari duduk jongkoknya dan meletakkan sepatu ke lemari kecil tempat sepatu.
"Mama sudah minum obat kan?" Pak Adi bangkit dari duduknya memakai sandal rumah, ia berjalan ke arah belokan ruangan lain.
"Udah, tadi Nak Farhan datang kemari memeriksa Mama."
"Dan soal si Neng, Mama tak perlu cemas. Papa udah dapet telepon dari si Neng tadi siang, kata nya mau nemenin Nak Annisa keluar kota untuk pengobatannya."
Ikut membuntuti langkah kaki sang suami. "Loh kok Mama nggak dapet kabar apa-apa dari si Neng? Terus berapa lama kira-kira keluar kota nya?"
"Kecelakaan yang Nak Annisa alami cukup parah, mungkin sekitar berapa minggu tak tau berapa bulan. Papa nggak tahu Mah." Sampai si Neng terbangun dari tidur panjangnya... Pak Adi melangkah ke arah kamarnya.
Seketika raut wajah Ibu Asih terlihat murung. "Sampai berbulan? Tak bisa lah Pah. Bukannya sekarang Nak Annisa sudah menjadi bagian keluarga Putra, kenapa si Neng juga harus ikut kesana?"
Karena yang terluka parah itu adalah anak kita Mah. Pak Adi tak menjawab lagi, ia memilih mengambil handuk kimono dari lemarinya dan berjalan ke arah pintu kamar mandi.
"Papa, Mama lagi tanya loh. Di jawab dong?"
Blam.
Pak Adi menutup pintu kamar mandi saat telah memasukinya.
Ibu Asih memanyunkan bibirnya sebal. "Pada Papanya aja sempet kasih kabar, sama Mama sendiri malah di matiin terus ponselnya. Hah... sesibuk itukah anak gadis Mama, lihat saja jika pulang kerumah, Mama nggak bakal bikinin lagi sup tomyam kesukaannya, sekali-kali si Neng harus di kasih pelajaran." Ocehnya, sembari berjalan menuju lemari pakaian.
Di dalam kamar mandi.
Pak Adi masih mematung di depan pintu, menyenderkan punggung ke daun pintu dan menghembuskan napas kasar beberapa kali. Mata nya sudah memerah dengan isak yang tertahan. "Neng... cepat bangun dan sehat kembali, Papa nggak bisa berbohong terlalu lama terhadap Mama."
__ADS_1
BERSAMBUNG...
Jangan Lupa LIKE dan Tinggalkan JEJAK Yaaa...